Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Aku tidak pernah tahu kapan pertama kali hidup terasa berat. Seingatku, dunia memang selalu seperti ini—sunyi, dingin, dan tak pernah benar-benar memelukku. Sejak kecil aku belajar bahwa menangis tidak selalu mengundang pelukan, dan berharap sering kali hanya berakhir pada kekecewaan.
Aku tumbuh melihat kebahagiaan dari kejauhan. Dari tawa orang lain yang terdengar begitu mudah. Dari cerita-cerita sederhana tentang keluarga yang hangat dan mimpi yang perlahan menjadi nyata. Semua itu terasa seperti milik dunia lain, bukan duniaku.
Setiap malam, sebelum memejamkan mata, aku selalu bertanya pada diriku sendiri—bukan dengan suara, melainkan dengan hati yang lelah:
Apakah kebahagiaan benar-benar ada? Dan jika ada… kapan giliranku?
Aku tidak meminta hidup yang sempurna. Aku hanya ingin satu hari saja tanpa rasa sesak di dada. Satu hari di mana aku bisa tersenyum tanpa pura-pura. Namun sampai hari itu datang, aku memilih satu hal yang masih tersisa: bertahan.
Karena meski hatiku rapuh, aku masih hidup. Dan entah mengapa, harapan kecil itu belum sepenuhnya mati.
Sejak dulu aku selalu iri melihat orang-orang di sekelilingku yang hidupnya dihiasi kebahagiaan—mereka yang memiliki keluarga utuh dan ekonomi yang berkecukupan.
Berbeda denganku. Aku terlahir dari keluarga yang sangat miskin. Ibuku hanyalah seorang penjual gorengan, dan ayahku seorang penjahit yang bekerja di kota jauh dari desa terpencil tempat kami tinggal.
Keluarga kami kerap menerima hinaan dari saudara-saudara ibu yang hidupnya lebih berada. Ayahku sering dilempari kata-kata kotor saat melewati gang rumah mereka. Bukan hanya itu, ayahku bahkan pernah disiram air kotor—seolah harga dirinya tak berarti apa-apa.
Apakah sehina itu orang miskin, ya Allah?
Setiap hari kami dihina dan diusir dari rumah tua peninggalan paman dari pihak ibu. Rumah yang sebenarnya dibangun almarhum paman untuk ibu, namun saudara-saudaranya tidak menerima jika ibu dan anak-anaknya tinggal di sana.
Ayah pun tak lagi dihargai oleh mereka. Bahkan nenek ikut mengusir kami dari rumah tersebut.
Ibu hanya bisa diam mendengar cacian dari saudara kandungnya. Ia tak mampu melawan, karena sebagai anak pertama, ibu selalu diajarkan untuk mengalah pada adik-adiknya—meski itu berarti menelan luka sendirian.
Pada saat aku berumur 5 tahun adik-adik ibu dan juga nenek kami datang ke rumah kami dengan membawa parang dan juga ada yang membawa cangkul untuk mengusir ibu dari rumah itu. Tapi ibu tidak menyerah dengan sekuat tenaga melawanya. Abang-abang ku juga ikut serta membantu ibu untuk mempertahankan rumah peninggalan paman ibu yang secara adat sudah di berikan kepada ibu.
Pada saat perkelahian itu nahas ayah yang baru pulang bekerja mengendari vespa buntutnya di kadang dan dipukuli sampai kaki ayah patah.
Ibu berteriak sekuat-kuatnya sambil menangis kami anak-anak perempuan ibu juga menangis sejadinyanya agar mengundang orang kampung untuk melihat kejadian ini. Stelah beberapa menit berbondong bondong orang kampung untuk melihat kejadian ini dan akhirnya perkelahian ini diselesaikan secara adan dan kekeluargaan
karena pada tahun itu belum ada hukum dan melapor ke polisi.
Hasil dari musyawarah itu ibu tetap berhak tinggal dirumah itu karena peninggalan daei pamannya dan adik-adiknya tidak berhak untuk mengusir ibu dari rumah itu. Dan biaya pengobatan ayah di tanggu oleh mereka yang telah mencelakai ayah sampai sembut.