kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Bisikan Benang Eterik dan Jiwa yang Terpenjara
Angin musim gugur bertiup melintasi menara tertinggi Istana Cakra, membawa serta bisikan daun-daun kering dan aroma hujan yang segera tiba. Di sana, di balik jendela berlapis kaca mozaik yang tinggi, berdiri Pangeran Ryo. Jubah sutra merah tua dengan sulaman benang emas dan perak rumit, yang menampilkan motif naga berenang di lautan awan, bergerak lembut mengikuti setiap embusan. Jubah itu, simbol kemuliaan dan statusnya sebagai putra mahkota Aethelgard, terasa dingin dan berat di bahunya, seolah memikul beban berabad-abad tradisi dan ekspektasi yang tak terucapkan. Namun, beban yang sesungguhnya ada di tangannya, dalam bentuk boneka kayu kecil berukiran halus. Boneka itu, dengan mata kaca hitam yang kosong dan fitur-fitur sederhana, seolah menjadi satu-satunya pendamping setianya di tengah kemewahan yang mengelilingi.
Jari-jemari Ryo yang panjang dan ramping, dihiasi cincin giok hitam yang sederhana, perlahan menyentuh permukaan boneka itu. Sensasi kayu yang dingin dan licin terasa familiar. Matanya yang merah menyala, kontras tajam dengan rambut hitam pekatnya yang panjang terurai hingga pinggang—seperti malam tanpa bintang—menelusuri keramaian ibu kota Aethelgard di bawah. Dari ketinggian ini, orang-orang tampak seperti titik-titik kecil, bergerak dalam labirin jalanan batu. Mereka adalah kehidupan, suara-suara, tawa dan tangis yang tak pernah Ryo sentuh secara langsung. Atau setidaknya, tidak secara fisik.
Karena Ryo, Pangeran Aethelgard, bukanlah manusia biasa. Ia adalah Dalang Jiwa, sebuah warisan kuno yang telah menjadi kutukan dalam garis keturunannya. Sejak kecil, ia telah merasakan "benang eterik" yang tak terlihat, mengalir dari setiap makhluk hidup—manusia, hewan, bahkan pohon-pohon tua di hutan terlarang. Benang-benang itu adalah pancaran jiwa, penghubung antar keberadaan, dan Ryo memiliki kemampuan untuk merasakannya, bahkan memanipulasinya.
Pagi ini, benang-benang itu terasa lebih gelisah. Ada kegembiraan samar di sektor pasar, mungkin karena festival mendekat, namun ada pula kerutan kecemasan yang mendalam dari arah distrik timur, tempat para prajurit baru dikerahkan. Ryo memejamkan mata, membiarkan aliran benang-benang itu membanjiri kesadarannya. Dia bisa merasakan kehangatan tawa seorang anak, kegeraman seorang pedagang yang ditipu, keputusasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Semua mengalir ke dalam dirinya, membebani jiwanya yang sudah terbebani.
Sebuah benang tiba-tiba menegang, bergetar hebat, lalu putus dengan desingan halus yang hanya Ryo yang bisa mendengarnya. Itu adalah benang milik seorang pedagang buah di pasar. Sebuah kecelakaan kecil yang tak berarti di mata orang lain: keranjang apelnya terguling, isinya berserakan di jalanan becek. Ryo melihatnya, melalui mata seorang prajurit penjaga yang benang kesadarannya terhubung samar kepadanya. Ia tak mengendalikan prajurit itu, hanya menggunakannya sebagai mata-mata jarak jauh. Ryo tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai matanya, hanya sekilas lewat di bibirnya yang pucat. Dia tidak mengendalikan pedagang itu untuk menjatuhkan apelnya. Dia hanya memberi sedikit dorongan halus pada benang kesadaran seorang pejalan kaki yang terburu-buru, membuatnya tanpa sengaja menabrak pedagang itu. Tindakan kecil yang terlihat seperti "kebetulan", namun memiliki dampak yang diinginkan. Cukup untuk mengingatkannya bahwa dia masih ada, masih sanggup memanipulasi takdir-takdir kecil ini.
Boneka di tangannya bukanlah mainan. Itu adalah "boneka ganti", wadah yang menjaga sebagian kecil jiwanya yang paling murni, sekaligus berfungsi sebagai jembatan untuk mengendalikan benang eterik yang lebih kompleks. Itu adalah perwujudan dari "inti geometris" yang ia pahami, meski kekuatannya bukanlah manipulasi geometri, melainkan manipulasi esensi jiwa itu sendiri. Boneka itu, yang selalu bersamanya sejak ia dapat mengingat, terasa dingin namun juga menenangkan. Setiap lekukan kayu, setiap torehan, seolah menyimpan ingatan-ingatan purba, rahasia-rahasia yang tak terucapkan tentang kekuatan yang diwarisinya.
Beban kekuatan ini telah mengasingkannya. Sejak kecil, ia telah diajari oleh ayahnya, Raja Aethelgard, untuk menyembunyikan kemampuan ini. Para leluhur mereka, Dalang Jiwa sebelum Ryo, telah membawa kehancuran dan kebingungan dalam upaya mereka mengendalikan dunia. Raja, yang sangat mencintai Ryo, telah menempatkannya dalam pengasingan di menara ini, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai perlindungan—perlindungan dari dunia, dan perlindungan dunia dari dirinya.
"Pangeran Ryo," suara pelayan setianya, seorang wanita tua bernama Nana, memecah kesunyian. "Sudah waktunya santap siang Anda."
Ryo menghela napas, bisikan benang-benang itu mereda saat ia membuka matanya. Matanya yang merah masih menyimpan duka yang dalam, beban dari kekuatan yang telah mengasingkannya dari dunia nyata, menguncinya dalam penjara kemewahan yang sunyi ini. Nana, seorang wanita sederhana dengan kulit keriput dan mata penuh kebaikan, adalah salah satu dari sedikit orang yang berani mendekatinya tanpa rasa takut. Dia tahu bahwa di balik mata merah itu ada seorang pemuda yang terluka, yang terbebani oleh anugerah sekaligus kutukan. Nana tidak tahu detail kekuatan Ryo, tapi ia merasakan aura yang berbeda dari sang pangeran. Ia sering melihat Ryo berbicara sendirian, atau menatap kosong ke kejauhan, seolah-olah berada di dunia lain.
"Aku tidak lapar, Nana," jawab Ryo, suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi. "Aku hanya ingin... kedamaian."
Nana menghela napas. Ini bukan hal baru. Sudah bertahun-tahun Ryo hidup seperti ini, terputus dari hiruk pikuk istana, dari intrik politik, dari tawa dan tangis yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan seorang pangeran. Ia menghabiskan hari-harinya membaca gulungan-gulungan kuno, mempelajari asal-usul kekuatannya, dan mengasah kemampuannya dalam kesendirian yang pahit. Gulungan-gulungan itu, yang ditemukan di perpustakaan tersembunyi istana, menceritakan tentang Dalang Jiwa terdahulu: ada yang menjadi tiran, mengendalikan seluruh kerajaan dengan kehendak tunggal mereka; ada yang menjadi dewa pelindung, membimbing takdir rakyat mereka menuju kemakmuran; namun ada pula yang hancur, akal mereka pecah karena terlalu banyak jiwa yang mereka rasakan, terlalu banyak takdir yang mereka coba ubah.
Ryo merasakan benang eterik Nana. Benang itu hangat, sederhana, dipenuhi dengan kekhawatiran yang tulus terhadapnya. Ada keinginan untuk melayani, untuk melindungi, dan sedikit kesedihan karena melihat pangeran yang seharusnya bersinar, kini meredup dalam bayangan. Ryo menekan keinginan untuk memanipulasi benang itu, untuk membuatnya merasa bahagia, untuk menghapus kesedihan di hatinya. Tidak. Itu adalah perbuatan yang paling dia benci. Dia telah bersumpah untuk tidak pernah lagi mengendalikan kehendak seseorang yang tidak bersalah, setelah... setelah insiden itu. Ingatan pahit melintas di benaknya, sebuah kilasan wajah yang dicintai, senyum yang kini hanya ada dalam kegelapan mimpinya.
"Pangeran," kata Nana lembut, "dunia di luar menara ini sedang bergejolak. Kekosongan itu... semakin dekat. Yang Mulia Raja membutuhkan Anda."
Kekosongan. Nama itu bergema di benak Ryo. Bukan lagi hanya bisikan di benang eterik, tetapi raungan yang semakin keras. Sudah beberapa bulan terakhir, laporan-laporan tentang fenomena aneh mulai berdatangan. Kabut hitam yang merangkak dari pegunungan terlarang di utara, melahap hutan, desa, bahkan danau. Tidak ada yang tahu apa itu, atau bagaimana menghentikannya. Beberapa mengatakan itu adalah kutukan kuno, yang lain menganggapnya sebagai tanda akhir zaman.
Ryo melangkah ke meja kerjanya, yang penuh dengan peta-peta tua dan gulungan-gulungan diagram bintang. Dia menunjuk ke sebuah titik di peta, jauh di utara Aethelgard. "Kekosongan ini, Nana, bukan sekadar kabut. Ia memiliki tujuan. Ia memiliki... kehendak."
Nana menatap peta itu dengan kening berkerut. "Maksud Anda, ia hidup?"
Ryo tidak menjawab. Dia memutar boneka di tangannya. Melalui benang-benang yang terhubung dengan kesadaran para prajurit dan pengintai, dia telah merasakan lebih dari sekadar kabut. Ada dingin yang mencengkeram jiwa, rasa hampa yang menusuk. Dan yang paling mengkhawatirkan, ada pola dalam gerakannya, sebuah strategi yang membuat Kekosongan itu terasa seperti musuh yang cerdas, bukan bencana alam buta.
"Bagaimana cara menghentikan sesuatu yang tidak memiliki jiwa untuk dikendalikan, Nana?" Ryo bertanya, suaranya lebih seperti gumaman pada dirinya sendiri.
Nana tidak punya jawaban. Ia hanya mengamati Pangeran Ryo, yang tampak semakin kurus dan letih setiap harinya. Beban dunia, beban kekuatan, dan beban kesepian menimpanya. Ia tahu, di balik dinding-dinding kokoh istana ini, sang pangeran sedang berjuang dalam perangnya sendiri, perang melawan dirinya, dan perang melawan takdir yang mungkin sudah tertulis untuknya—menjadi Dalang Jiwa terakhir yang mengikat atau melepaskan semua.