Mengisahkan perjuangan seorang pemuda yang tadinya hanya seorang pemuda biasa, tapi, kehidupan yang sulit membuatnya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang agen.
Bukan hal yang mudah karena Wawan, tokoh utama di cerita ini sebenarnya adalah seorang penakut yang mengharapkan hidup normal dan santai.
Tapi, lama kelamaan Wawan menjadi terbiasa dengan pekerjaan berbahaya itu dan malah menjadi agen paling hebat di kesatuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang Wawan temukan
Ruangan yang ada di balik pintu ternyata cukup besar dan luas.
Apalagi...
Ruangan ini di pahat dengan sangat rapi seperti ruangan pada rumah-rumah tembok pada umumnya.
"Oh! Ternyata ini gudang senjata ya!?" Kata Wawan ketika ia melihat ada banyak sekali senjata di ruangan ini.
"Sepertinya ini bukan sekadar ruangan untuk menyimpan senjata, tapi juga di gunakan untuk menyimpan berkas-berkas penting!" Balas komandan.
Komandan tak menggubris senjata-senjata yang ada disana tapi lebih memilih melihat isi berkas-berkas yang tersusun rapih di atas rak.
Wawan yang juga penasaran dengan berkas-berkas itu segera menghampiri komandan kemudian bertanya.
"Apa isi berkas itu!?"
"Ini adalah data-data para agen yang sangat hebat pada masa lalu yang mana mereka semua memiliki kontribusi yang besar untuk departemen dan negara!"
"Apa hanya itu?!" Tanya Wawan karena merasa kalau berkas-berkas itu kemungkinan tidak hanya berisi data-data para agen saja.
"Tentu saja tidak. Ada banyak hal penting lain selain data para agen di sini!"
"Seperti contohnya... Ada ruangan rahasia di sini yang menyimpan emas sebagai dana cadangan ketika di butuhkan!" Wawan agak terkejut ketika mendengarnya.
Refleks Wawan celingak-celinguk melihat sekitar. "Ruangan rahasia?... "
"Benar. Ruangan rahasia!" Komandan kemudian berkeliling untuk melihat-lihat apa ada sesuatu yang mencurigakan.
Tapi meskipun semua sudut telah ia periksa, komandan tidak menemukan hal mencurigakan apapun di ruangan ini.
"Aku tidak bisa menemukan jalan atau pemicu ruang rahais dimanapun... Bagaimana denganmu!?" Tanya komandan pada wakilnya.
Wakil komandan juga tidak menemukan apa-apa jadi ia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan bahu sedikit di angkat.
Tiba-tiba saja, terdengar sebuah suara dari arah belakang mereka.
Sreett!!
Suara gesekan itu membuat komandan serta wakilnya menoleh.
Mereka melihat pada saat itu Wawan sedang menggeser sebuah meja besar tempat beberapa berkas di letakan.
"Apa yang kamu lakukan, Wawan!?" Tanya wakil komandan pada Wawan.
Keduanya menghampiri Wawan tepat ketika Wawan menemukan sesuatu setelah menggeser meja tadi.
Yaitu sebuah pintu bawah tanah yang di tutup oleh meja tadi.
"Bisa-bisanya mereka menyembunyikan sesuatu yang begitu berharga di bawah meja seperti ini!" Kata Wawan yang tak habis pikir.
Menurut Wawan...
Menyembunyikan jalan masuk di bawah meja seperti ini sangat ceroboh karena dapat di temukan dengan mudah.
"Jadi di sini, jalan masuk ke ruangan rahasianya di sembunyikan. Ya...!" Bahkan komandan saja mereka heran dengan cara petinggi departemen menyembunyikan harta karunnya.
Pintu di buka oleh Wawan.
Di balik pintu itu ada tangga sempit menuju ke bawah.
Ketiganya menuruni tangga dan akhirnya tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar.
Di sana tampak ada beberapa kotak besi yang mana kemungkinan isinya adalah emas yang di maksud.
"Apa kotak-kotak ini berisi emas?!" Tanya Wawan sambil menyoroti beberapa kotak dengan senter yang ia bawa.
"Kemungkinan tidak semuanya emas. Beberapa berisi peluru RPG atau bahan peledak lainnya yang di simpan terpisah dengan senjata yang di atas!" Jelas komandan.
"Jadi sekarang apa yang akan kita lakukan!?" Wawan bertanya lagi.
"Apalagi? Tentu saja kita harus membawa semua kotak itu ke markas dan memeriksanya di sana!" Wawan terdiam seketika.
Itu karena Wawan tahu kalau dia yang harus memindahkan kotak-kotak itu ke markas karena Wawan adalah yang paling kuat secara fisik untuk sekarang ini.
Wawan pun bekerja keras memindahkan kotak-kotak itu satu persatu ke markas tanpa bantuan siapapun.
Setelah semua kotak itu berhasil di pindahan, orang-orang berkumpul di ruangan tempat Wawan meletakkan kotaknya.
Mereka tampak penasaran dengan isi kotak yang Wawan bawa.
"Kotak apa yang kamu bawa itu?... Sepertinya sangat berat!?" Raisya bertanya pada Wawan yang sedang duduk kelelahan.
Dan karena sangat kelelahan, Wawan tidak punya tenaga sama sekali untuk menjawab pertanyaan Raisya.
Untungnya komandan datang dan menjelaskan pada semua orang apa yang telah mereka temukan di goa tadi.
"Beruntung sekali kita. Dengan begini kita punya senjata untuk melawan balik para kriminal itu!" Kata agen Kepala Botak.
"Ya, tapi ini belum lah cukup!"
"Kalau kita mau menghentikan para kriminal itu kita harus mengumpulkan orang terlebih dahulu karena kita kalah jumlah!" Kata komandan.
Raisya bertanya. "Memang kita masih punya orang yang bisa di mintai bantuan di sini, komandan!?"
Tak cuma Raisya saja yang ingin menanyakan hal tersebut.
Tapi Wawan dan para agen yang lain juga sama.
"Saya tidak bisa bilang mereka yang akan kita mintai bantuan akan bersedia membantu kita. Tapi tidak ada salahnya mencoba!"
"Tunggu dulu. Mereka yang anda maksud ini siapa, komandan!?" Tanya agen Kepala Botak.
"Para agen lama yang telah pensiun. Mereka semua lebih senior dari saya jadi mereka sudah pensiun duluan sebelum kalian kenal mereka!"
"Paling-paling yang tahu soal para agen terdahulu itu cuma saya, wakil saya dan juga agen Penembak Jitu yang telah gugur!"
"... Kalau mereka lebih senior dari anda, berarti usia mereka rata-rata sudah kakek-kakek!?" Kali ini yang bertanya adakah Wawan.
Semua orang menoleh ke arah Wawan yang masih duduk karena kelelahan.
"Benar. Mereka semua rata-rata sudah kakek-kakek!" Mendengar itu semangat semua orang seketika redup.
Bukannya mereka meremehkan para orang tua itu, tapi....
Jika mereka mau berperang dengan para kriminal maka yang mereka butuhkan tidak hanya orang ahli dan berpengalaman.
Melakukan juga orang yang punya tubuh kuat untuk berjuang dalam baku tembak.
"... Saya tahu apa yang kalian pikirkan, tapi... Meksipun mereka sudah tua dan pada encok tapi mereka bisa sangat membantu dalam perang nanti...!"
"... Mungkin...!" Bahkan komandan sendiri tampak tidak begitu yakin di sini.
Hal itu membuat semua orang makin putus asa saja.
Berbekal informasi yang terdapat di berkas-berkas lama, mereka semua mulai menelusuri di mana lokasi terakhir para agen itu.
Berkasnya memang sudah lama jadi informasi keberadaan para agen itu kemungkinan sudah tidak valid lagi.
Tapi meksipun begitu, mereka masih bisa melacak kemana perginya para agen terdahulu itu.
Sejenak kita beralih ke tempat lain.
Yaitu ke sebuah pelabuhan dimana di pelabuhan itu tampak sekelompok orang berjas hitam berkumpul membentuk sebuah barisan.
Mereka berbaris seakan sedang menyambut seseorang yang akan segera keluar dari kapal yang berlabuh.
Dan orang yang di tunggu-tunggu pun akhirnya keluar.
Ia adalah Yanto Si Raja Tega yang kini telah bebas penjara dengan cara 'khusus'.
Karena kalau tidak pakai cara khusus dia mana mungkin akan bebas dari penjara itu dengan mudahnya.
"Selamat datang kembali! Tuan!" Orang-orang tadi berkata serentak ketika Yanto keluar dari kapal.
Yanto dengan angkuhnya berjalan di hadapan orang-orang yang berbaris itu dengan anak buah kepercayaannya yang mengikuti dari belakang.
Yaitu Kipli.
"Bagiamana kabar soal para agen itu!?" Tanya Yanto acuh.
"Sudah di hancurkan. Hampir semua orang yang ada di dalamnya telah di singkirkan, namun... Ada beberapa yang lolos!"
"Tapi sepertinya mereka tidak akan jadi masalah karena sudah tidak memiliki rekan ataupun senjata!" Kata Kipli dengan penuh kesopanan.
"Sebaiknya begitu!" Kata Yanto dengan wajah datar dan acuh.