NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Zivara

Saat yang lain masih terlelap dalam tidur, Zivara telah terbangun. Seperti biasa, ia mengawali hari dengan mandi sebelum memulai seluruh pekerjaan rumah. Usai membersihkan diri, ia keluar dari kamar dan langsung memasukkan pakaian kotor yang telah ia kumpulkan sejak malam ke dalam mesin cuci.

Setelah itu, Vara menuju dapur.

Ia menyiapkan sarapan untuk keluarga bibinya, tugas yang tak pernah boleh terlambat. Dengan cekatan, Vara membersihkan dan memotong bumbu, menyiapkan bahan-bahan untuk memasak nasi goreng, menu sarapan pagi ini. Sarapan harus sudah tersaji sebelum bibinya turun. Jika tidak, amukan akan menjadi hal yang tak terhindarkan.

Tak lama kemudian, aroma masakan memenuhi ruangan. Nasi goreng dan menu pelengkap telah tersaji rapi di meja makan, bertepatan dengan turunnya Serli dan Boby dari lantai atas.

“Sarapan sudah siap?” tanya Serli, pertanyaan yang hampir selalu ia lontarkan setiap pagi.

“Sudah, Bi. Sarapannya sudah siap,” jawab Vara pelan sambil meletakkan piring di atas meja.

“Cepat bangunkan Kiran,” perintah Serli tanpa menoleh.

Vara mengangguk pelan. Sebenarnya, ia sangat tidak menyukai tugas ini. Setiap kali membangunkan Kiran, ia hampir selalu dimarahi. Entah dianggap terlalu cepat atau terlalu lambat, selalu saja ada alasan bagi Kiran untuk meluapkan kekesalannya. Namun Vara tak pernah berani membantah perintah bibinya.

Ia mengetuk pintu kamar Kiran dengan hati-hati.

Ada yang berbeda pagi ini.

Kiran tak memarahinya seperti biasa. Pintu kamar terbuka, dan Kiran keluar dengan wajah ceria. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya berseri seolah membawa kabar baik.

Vara sempat tertegun. Ada rasa heran, namun terbersit sebuah harapan kecil di hatinya, semoga hari ini akan berjalan lebih baik.

“Selamat pagi, Mama. Papa,” sapa Kiran riang begitu tiba di meja makan.

“Pagi, sayang. Kamu kelihatan bahagia sekali. Ada apa?” tanya Serli sambil tersenyum lembut, sikap yang tak pernah ia tunjukkan pada Vara.

“Enggak kenapa-kenapa,” jawab Kiran singkat sambil duduk di kursinya.

“Papa,” panggil Kiran dengan suara lembut, nan manja.

“Hm?” Boby menoleh sambil menyeruput minumnya. Ia sudah hafal betul nada suara putri semata wayangnya itu. Pasti ia ingin sesuatu.

“Bulan ini jatah belanja Kiran ditambah ya, Pa. Sebentar lagi Kiran mau wisuda, jadi banyak pengeluaran. Masa harus bolak-balik minta uang nya,” pintanya manja.

“Iya, nanti Papa transfer lebih. Kamu tenang saja,” jawab Boby santai.

“Terima kasih, Pa,” ucap Kiran bahagia. Ia tahu, permintaannya tak akan pernah ditolak.

Baik Boby maupun Serli memang tak pernah menolak keinginan putri semata wayang mereka. Karena itulah Kiran tumbuh menjadi anak yang manja, terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan, dan merasa dunia harus selalu berpihak padanya.

Mereka pun mulai sarapan sebelum menjalani aktivitas masing-masing. Seperti biasa, Vara tidak ikut duduk bersama. Ia baru akan makan setelah semua pekerjaan pagi selesai.

Mesin cuci telah berhenti. Piring-piring kotor sudah dibersihkan dan disusun rapi. Vara lalu melanjutkan mengepel lantai.

Saat itulah ia melihat Kiran bersiap berangkat ke kampus. Dengan segala keperluan telah disediakan

Hatinya terasa perih.

Vara teringat kembali bagaimana dulu dirinya harus berjuang sendiri, saat ingin melanjutkan kuliahnya. Bibinya mengizinkan Vara melanjutkan pendidikan. Tapi dengan syarat semua pekerjaan rumah harus selesai tepat waktu, dan untuk segala keperluan kuliah Bibinya tidak mau tau. Sebenarnya itu hanya akal-akalan Serli agar Vara menyerah untuk tidak melanjutkan kuliah, tapi dengan tekad dan kemauan untuk memperbaiki hidup nya Vara berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan biaya kuliah nya. Berkat kerja keras dan kepintaran Vara ia mendapatkan beasiswa dan bekerja sambilan menjadi asisten dosen sehingga segala keperluan bisa Vara penuhi dan tanpa sepengatahuan bibinya Vara sudah memiliki tabungan. Vara bersyukur ia tidak satu kampus dengan Kiran, jadi Kiran tidak perlu tau apa yang Vara kerjakan. Sampai akhirnya Vara lulus dengan nilai yang cemerlang.

Vara sadar, mengeluh tak akan mengubah apa pun.

Ia harus kuat.

Ia menunduk, menggenggam erat gagang pel, berusaha menelan kesedihan yang mengendap di dadanya.

Suatu hari nanti, ia yakin, semua ini akan terlewati.

---

“Zivaraaaa!”

Teriakan nyaring itu menggema dari ruang makan.

Vara yang sedang berada di dapur langsung tergopoh-gopoh menghampiri. Ia berhenti di ambang pintu ruang makan dengan kepala tertunduk, menahan napas.

“Iya, Tante,” ucapnya pelan.

“Kamu tahu ini sudah jam berapa?” bentak Serli sambil berkacak pinggang. “Kenapa makanan belum siap juga?”

“Maaf, Tante. Tadi Kiran minta Vara menyetrika bajunya lebih dulu,” jawab Vara lirih. Ia sempat mengangkat wajahnya, namun segera menunduk kembali.

“Alasan!” potong Serli ketus. “Cepat siapkan makan malam. Sebentar lagi pamanmu turun.”

Tanpa menunggu jawaban, Serli berlalu meninggalkan Vara.

Vara kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Tangannya bergerak cekatan, meski dadanya terasa sesak, perasaan yang sudah terlalu sering ia rasakan sejak tinggal di rumah ini.

Tak lama kemudian, makan malam siap. Vara menghidangkannya di meja makan. Paman dan bibinya telah duduk. Tak berselang lama, Kiran turun dari lantai atas dengan mengenakan pakaian yang tadi disetrika Vara.

“Mau ke mana kamu, sayang? Cantik sekali,” puji Serli sambil mengambilkan lauk untuk suaminya.

“Kiran mau keluar sama teman-teman, Ma. Pa, boleh, kan?” ucap Kiran manja, melirik sekilas ke arah Vara yang berdiri tak jauh dari meja.

“Tentu boleh, sayang. Iya, kan, Pa?” sahut Serli cepat.

“Iya, tapi jangan pulang terlalu malam,” ujar Boby singkat.

Mereka makan dengan lahap. Tak satu pun dari mereka mengajak Vara duduk atau sekadar menawarinya makan.

Selesai makan, Kiran segera pergi bersama teman-temannya. Vara kembali ke dapur, mengemasi piring-piring kotor dan sisa makanan. Seperti biasa, ia baru boleh makan setelah semua pekerjaan rumah selesai.

Malam itu, Vara duduk sendirian di kamarnya yang sempit. Dinding kusam dan lampu temaram menjadi saksi bisu saat air matanya akhirnya jatuh. Perlahan Vara merebahkan tubuhnya yang begitu lelah.

“Ayah… Ibu… Vara rindu,” isaknya tertahan.

Kenangan itu kembali menyeruak, kenangan terakhir saat ia masih bersama kedua orang tuanya.

Saat itu Vara masih duduk di kelas tiga SMP.

“Vara,” ujar ayahnya sambil tersenyum hangat, “kalau Vara lulus dengan nilai terbaik, Papa dan Mama janji akan mengajak Vara liburan.”

“Benarkah?” mata Vara berbinar. “Vara janji akan berusaha.”

"Benar dong, masa Papa dan Mama bohong, Vara mau kemana, nanti kita pergi." Mamanya membenarkan ucapan suaminya.

Dan Vara menepati janjinya.

Ia belajar dengan giat, mengerjakan setiap tugas tanpa mengeluh. Bahkan tanpa janji itu pun, ia tetap ingin membuat kedua orang tuanya bangga.

Hari pengumuman kelulusan akhirnya tiba.

Vara berdiri di halaman sekolah, menunggu dengan perasaan campur aduk. Matanya terus menyapu kerumunan orang tua murid, mencari dua sosok yang paling ia nantikan. Namun hingga acara selesai, Ayah dan Ibunya tak kunjung datang.

Padahal Vara ingin sekali memperlihatkan hasil kelulusannya—ia lulus dengan nilai terbaik.

Dengan langkah tergesa, Vara keluar dari gedung sekolah. Ia ingin segera pulang. Namun baru saja sampai di gerbang, langkahnya terhenti.

Seseorang menghampirinya.

Kabar itu datang seperti petir di siang bolong.

Kedua orang tuanya mengalami kecelakaan.

Apa yang Vara pegang terlepas begitu saja. Tubuhnya gemetar saat ia berlari menuju rumah sakit tempat kedua orang tuanya dibawa. Namun yang ia temukan hanyalah dua jasad yang terbaring kaku, tertutup kain putih.

Dan…

mereka tidak tertolong.

Sejak saat itu, dunia Zivara runtuh seketika.

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!