Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.
Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.
Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13
Pegunungan Seribu Iblis - Wilayah Terlarang.
Waktu berlalu tanpa ampun. Tiga bulan bagi manusia biasa mungkin hanya pergantian musim, tapi bagi para kultivator Sekte Asura, itu adalah sembilan puluh hari penyiksaan hidup dan mati.
Shen Yu tidak mengajar dengan kata-kata manis. Dia mengajar dengan melemparkan murid-muridnya ke dalam mulut kematian dan berkata: "Merangkaklah kembali jika ingin hidup."
Lokasi 1: Lembah Badai Petir (100 Li di Utara Sekte).
Tempat ini adalah anomali alam di mana awan hitam tidak pernah pergi dan petir menyambar tanah setiap tiga napas. Pohon-pohon di sini hangus, tanahnya menjadi kaca karena panas ekstrem.
Di tengah badai itu, sesosok pria bertelanjang dada sedang berdiri di atas batu runcing. Dia memegang pedang besi biasa (bukan Bintang Polaris).
Ye Qing.
"Terlalu lambat!" teriak Ye Qing pada dirinya sendiri.
DUAR!
Sebuah petir biru menyambar lurus ke kepalanya.
Ye Qing tidak menghindar. Dia menebas.
SWUSH!
Pedangnya bertemu petir. Namun, kecepatan petir itu lebih cepat seperseribu detik. Bahu Ye Qing hangus, kulitnya melepuh. Asap mengepul dari tubuhnya.
"Lagi!"
Ye Qing mengabaikan rasa sakitnya. Matanya menatap langit dengan obsesi gila.
Shen Yu memberinya tugas mustahil: "Potong seribu petir sebelum petir itu menyentuh tanah. Jika gagal, jangan kembali."
Hari ke-89. Tubuh Ye Qing penuh luka bakar. Qi nya hampir habis.
KRAAAAAK! Petir merah (Petir Yang Murni) turun. Ini lebih cepat dan lebih mematikan.
Mata Ye Qing tiba-tiba menjadi kosong. Dia tidak berpikir. Dia menjadi angin.
"Seni Pedang: Kilatan Dewa Petir."
Pedangnya bergerak sebelum petir itu muncul.
ZRRRT-SLASH!
Petir merah itu terbelah dua di udara, buyar menjadi percikan api yang tidak berbahaya di kiri kanan Ye Qing.
Ye Qing mendarat. Pedang besi di tangannya hancur menjadi debu karena tidak kuat menahan kecepatan tebasannya sendiri.
Dia tersenyum lebar, gigi putihnya kontras dengan wajahnya yang gosong.
"Satu."
Dia akhirnya memahami Niat Pedang Kecepatan Cahaya.
Lokasi 2: Kawah Gunung Berapi Aktif (Selatan Sekte).
Di dalam kawah yang berisi magma mendidih, gelembung-gelembung lava meletup, melepaskan gas beracun.
Di tengah danau lava itu, Feng Jiu sedang bermeditasi.
Tubuhnya terendam sepenuhnya dalam cairan batu pijar itu. Pakaiannya sudah lama terbakar habis, digantikan oleh jubah yang terbuat dari Api Phoenix miliknya sendiri.
"Panas... Sakit..." batin Feng Jiu menjerit.
Api Phoenix nya berwarna Emas. Tapi magma ini mengandung Api Inti Bumi yang berat dan kotor. Shen Yu menyuruhnya memurnikan api buminya dengan cara menyerapnya, membakarnya, dan membuang kotorannya.
"Jika kau ingin menjadi Ratu Burung, kau harus bisa membakar neraka sekalipun," kata gurunya.
Feng Jiu menggertakkan gigi. Keringatnya langsung menguap.
Dia membakar esensi darahnya lagi.
"Bangkit!"
BOOM!
Lava di kawah itu meledak ke langit. Dari dalam ledakan itu, warna api Feng Jiu berubah.
Warna emasnya memudar, digantikan oleh warna Putih Pucat.
Api Putih Tulang (Bone White Flame). Api yang tidak hanya membakar fisik, tapi juga membakar jiwa.
Feng Jiu terbang keluar dari kawah, sayap apinya membentang indah dan mematikan. Dia telah terlahir kembali.
Lokasi 3: Hutan Kematian (Barat Sekte).
Ini adalah wilayah Binatang Buas tingkat Inti Emas.
Cang Wu sedang berlari. Dia dikejar oleh seekor Macan Kumbang Besi (Inti Emas Awal).
Cang Wu tidak memiliki Qi untuk terbang atau menyerang jarak jauh. Dia hanya punya Tulang Iblis dan pedang beratnya.
"Grah!" Macan itu menerkam, cakarnya merobek punggung Cang Wu.
Cang Wu terpental, menabrak pohon hingga tumbang. Darah mengucur deras.
Sakit. Sangat sakit.
Tapi Cang Wu tidak takut. Rasa sakit adalah teman lamanya.
"Makan..." desis Cang Wu.
Dia bangkit. Matanya menyala merah. Tulang-tulang di tubuhnya berderak, memadat.
Saat macan itu menerkam lagi, Cang Wu membuang pedangnya. Dia membuka tangannya.
Dia membiarkan cakar macan itu menembus perutnya.
SPLAT!
"Dapat kau," bisik Cang Wu.
Dengan macan itu tertancap di perutnya, Cang Wu menggunakan kesempatan jarak nol itu untuk menghantamkan kepalanya ke kepala macan.
DUG! DUG! DUG!
Tengkorak Cang Wu yang diperkuat Tulang Iblis jauh lebih keras dari baja. Tengkorak macan itu retak.
Macan itu meraung, mencoba lepas. Tapi Cang Wu memeluknya erat. Dia menggigit leher macan itu, merobek arteri utamanya, dan meminum darah panasnya.
Darah Inti Emas yang kaya energi mengalir ke tenggorokan Cang Wu, memperbaiki luka-lukanya seketika.
Sepuluh menit kemudian.
Hening.
Cang Wu berdiri di atas bangkai macan itu. Dia membelah dada macan itu dengan tangan kosong, mengambil Inti Monster nya, dan menelannya bulat-bulat.
Tulangnya bergetar. Dia telah menembus batas fisik. Kekuatannya kini setara Pembentukan Pondasi Puncak, murni dari kekuatan fisik.
Lokasi 4: Ruang Rahasia Bawah Tanah (Puncak Asura).
Di ruangan yang diterangi oleh cahaya ungu dari akar Pohon Dunia Bawah, suasana jauh lebih tenang, namun tekanannya paling mencekam.
Shen Yu duduk bersila, bertelanjang dada. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang penuh dengan tato rune iblis yang bergerak-gerak.
Di depannya, Su Ling duduk berhadapan. Kedua telapak tangan mereka bersentuhan.
Shen Yu sedang berada di fase kritis: Penyelarasan Jantung Iblis.
Energi dari Jantung Iblis terlalu liar. Setiap detaknya mencoba menghapus kesadaran Shen Yu dan menggantinya dengan insting pembunuh murni.
"Tahan, Shen Yu..." suara Su Ling lembut namun tegas.
Mata Iblis Surgawi Su Ling (Ungu & Hitam) bersinar terang. Dia menggunakan kekuatan jiwanya untuk masuk ke dalam Lautan Kesadaran Shen Yu, menuntun benang-benang kekacauan itu agar menjadi teratur.
"Argh..." Shen Yu mengerang. Urat-urat hitam menjalar ke lehernya. "Su Ling... Mundur... Aku bisa melukaimu..."
"Tidak," tolak Su Ling. "Aku tidak akan membiarkanmu tenggelam."
Su Ling mendekatkan wajahnya. Dia menempelkan dahinya ke dahi Shen Yu.
"Lihat aku. Fokus padaku."
Jiwa mereka bersentuhan.
Shen Yu merasakan kehangatan yang luar biasa di tengah badai dingin jiwanya. Perasaan cinta, pengorbanan, dan ketenangan mengalir dari Su Ling, menjadi jangkar yang menahan kewarasannya.
Perlahan, urat-urat hitam itu surut. Detak Jantung Iblis menjadi stabil, berirama dengan napas Shen Yu.
Shen Yu membuka matanya. Mata kanan merah dan mata kiri hitamnya kini terlihat jernih, tajam, dan terkendali sepenuhnya.
Dia berhasil menstabilkan ranah Nascent Soul Puncak.
Shen Yu menarik napas, lalu menatap Su Ling di depannya. Wajah gadis itu pucat, darah menetes dari hidungnya. Membantu menekan Jantung Iblis memberikan beban berat pada jiwanya.
"Kau bodoh," bisik Shen Yu, suaranya bergetar. Dia segera menyalurkan Qi murni untuk memulihkan Su Ling.
Su Ling tersenyum lemah, menyeka darah di hidungnya.
"Aku baik-baik saja. Selama 'Raja'-ku kembali, sedikit darah bukan masalah."
Shen Yu tidak menjawab. Dia menarik Su Ling ke dalam pelukannya, memeluknya erat seolah takut gadis itu akan menghilang.
"Suatu hari nanti..." bisik Shen Yu di telinga Su Ling. "Aku akan menjadi begitu kuat hingga Langit pun tidak berani membuatmu berdarah."
Su Ling membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada bidang Shen Yu.
"Aku percaya."
(Tapi jauh di lubuk hatinya, Mata Iblis Surgawi Su Ling melihat bayangan samar masa depan... bayangan dirinya yang terbaring dingin di pelukan Shen Yu. Dia menyembunyikan penglihatan itu, tidak ingin merusak momen ini).
Pagi Hari - Akhir Bulan Ketiga.
Gerbang Sekte Asura.
Lima sosok berdiri siap berangkat.
Shen Yu (Patriark) dengan jubah hitam bersulam naga perak. Su Ling (Wakil) dengan jubah ungu dan cadar tipis. Ye Qing (Tetua Pedang) dengan aura yang lebih tajam dan tenang. Feng Jiu (Tetua Api) dengan aura dingin yang mematikan. Cang Wu (Murid Utama) yang diam seperti patung batu, memanggul pedang besarnya. Long Tu (Penjaga Gunung) tetap tinggal untuk menjaga markas.
"Ibukkota Awan Selatan," kata Shen Yu, menatap ke arah utara.
"Kita datang bukan untuk berpartisipasi."
"Kita datang untuk memberi tahu dunia bahwa Raja baru telah lahir."
Mereka melompat ke udara (kecuali Cang Wu yang digendong oleh pedang terbang Ye Qing), melesat menuju cakrawala.
10 bab sehari kek pelit bener