NovelToon NovelToon
WARUNG TENGAH MALAM

WARUNG TENGAH MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Roh Supernatural / Hantu / Mata Batin
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
​Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
​Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Aroma Arang dan Penumpang Terakhir

Yogyakarta di pukul dua belas malam bukanlah kota yang tidur. Ia hanya memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang, dan membiarkan sisi lain dari dirinya terjaga.

Di sebuah sudut jalan yang sepi di kawasan Kotagede, di bawah rimbunnya pohon beringin tua yang akar gantungnya menjuntai seperti rambut raksasa, sebuah keajaiban kecil terjadi setiap malam. Bukan keajaiban yang meledak-ledak seperti kembang api, melainkan keajaiban yang sunyi.

Sebuah gerobak kayu tua didorong keluar dari ketiadaan.

Pria yang mendorongnya bernama Seno. Usianya mungkin lima puluh, mungkin seratus; sulit menebak umur dari wajah yang penuh guratan tenang namun matanya menyimpan kesedihan purba. Dia mengenakan kaos oblong putih yang sedikit kusam dan celana batik komprang.

Tanpa suara—karena Seno memang bisu—dia mulai merakit dunianya.

Tiang-tiang besi dipasang. Terpal biru-oranye dibentangkan. Bangku-bangku kayu panjang (lincak) disusun membentuk huruf U. Terakhir, dia menyalakan kompor anglo tanah liat.

Bukan gas elpiji yang dia gunakan, melainkan arang kayu asem.

Krek... krek...

Seno memantik api. Bara merah mulai menyala, memakan arang hitam, mengirimkan percikan api kecil yang menari-nari ke udara, lalu lenyap ditelan malam. Asap tipis mulai mengepul, membawa aroma khas: bau tanah basah, bau kayu terbakar, dan bau kerinduan.

Sebuah papan menu digantung. Isinya kosong. Tidak ada daftar harga. Tidak ada nama masakan. Warung ini tidak menjual apa yang kau inginkan, tapi apa yang kau butuhkan.

Seno mengelap piring-piring seng bermotif bunga kangkung dengan kain bersih. Dia menunggu.

Jam di kejauhan berdentang satu kali. Pukul 01.00 dini hari.

Tamu pertama datang.

Bukan dengan mobil mewah atau motor bising. Tamu itu datang dengan suara kriet-kriet rantai sepeda yang berkarat. Sebuah becak tua muncul dari kabut tipis di ujung jalan.

Pengemudinya turun. Seorang bapak tua, kurus kering, kulitnya legam terbakar matahari, memakai caping bambu yang sudah sobek. Dia berjalan tertatih-tatih menuju warung tenda itu. Kakinya tidak menapak tanah. Dia melayang satu sentimeter di atas aspal.

Seno tidak terkejut. Dia hanya mengangguk sopan, mempersilakan tamu itu duduk.

"Sugeng dalu, Mas Seno," suara bapak tua itu terdengar bergaung, seperti suara yang keluar dari dalam sumur dalam.

Seno mengatupkan kedua tangannya di dada, lalu menunjuk ke arah anglo yang sudah panas. Dia menatap mata bapak tua itu. Tatapan Seno menembus fisik transparan si hantu, langsung menyelami memori di dalamnya.

Seno melihat kilasan gambar di kepala si Bapak: Panas terik Malioboro. Keringat yang mengucur deras. Penumpang yang cerewet. Uang receh yang dikumpulkan demi biaya sekolah anak. Dan momen terakhir... serangan jantung mendadak saat mengayuh tanjakan di jembatan Kewek, tanpa sempat pamit pada istri.

Seno tahu apa yang harus dia masak.

Tanpa bertanya, Seno mengambil segenggam mie kuning basah, segenggam nasi putih, dan potongan kol. Dia melemparnya ke dalam wajan besi hitam yang sudah panas di atas bara arang.

Cesssss!

Suara itu terdengar seperti musik. Seno menuangkan sedikit minyak bawang putih. Aromanya langsung meledak, memenuhi tenda kecil itu. Aroma gurih yang menusuk hidung, membuat air liur menetes meski kau sudah mati.

Tangan Seno bergerak lincah. Tring-tang-tring! Suara sutil besi beradu dengan wajan adalah satu-satunya bahasa yang dia miliki. Dia memasukkan kecap manis, sedikit sambal terasi, dan suwiran ayam kampung.

Magelangan. Nasi goreng campur mie. Makanan berat, murah, dan mengenyangkan. Makanan para pekerja keras.

Lima menit kemudian, sepiring Magelangan panas dengan telur dadar di atasnya tersaji di depan bapak tua itu. Asapnya mengepul, membawa aroma bawang goreng dan arang yang khas.

Si hantu becak menatap piring itu dengan mata berkaca-kaca. Air matanya bukan air, melainkan butiran cahaya redup.

"Istriku..." bisik hantu itu, suaranya bergetar. "Dulu... setiap aku pulang narik subuh-subuh, dia selalu membelikanku ini di pasar. Katanya biar aku kuat."

Hantu itu mengambil sendok. Dia menyuapkan nasi dan mie itu ke mulutnya.

Tentu saja, secara fisik dia tidak makan. Tapi esensi makanan itu—rasa cinta, rasa lelah yang terbayar, rasa syukur—terserap ke dalam jiwanya.

Setiap suapan membuat tubuh hantu itu semakin terang. Kerutan di wajahnya menghilang. Rasa sakit di dadanya (sisa serangan jantung) lenyap.

"Enak, Mas Seno. Enak tenan," hantu itu tersenyum lebar, senyum yang lepas tanpa beban. "Rasanya persis buatan Yu Jum di pasar."

Hantu itu meletakkan sendoknya. Piring itu masih penuh secara fisik, tapi "rasa"-nya sudah habis.

"Terima kasih," kata hantu itu. "Aku sudah kenyang. Sekarang aku kuat untuk perjalanan jauh."

Bapak tua itu berdiri. Tubuhnya mulai pudar, berubah menjadi butiran cahaya emas yang terbang ke atas, menembus atap terpal, menyatu dengan bintang-bintang. Becak tuanya pun ikut lenyap.

Seno tersenyum tipis. Satu jiwa telah tenang.

Dia mengambil piring bekas makan itu. Tidak ada sisa makanan yang terbuang sia-sia di sini. Seno membuang sisa fisik makanan itu ke dalam lubang biopori khusus di belakang gerobak—mengembalikannya ke bumi.

Seno baru saja hendak mencuci piring ketika dia mendengar suara langkah kaki lain.

Kali ini langkah kaki yang berat. Seretan sepatu kets di aspal.

Bukan hantu. Manusia.

Seno menoleh. Di pintu masuk tenda, berdiri seorang gadis remaja.

Rambutnya kusut masai, dipotong pendek asal-asalan. Dia memakai hoodie hitam kebesaran dan celana jeans sobek-sobek. Di punggungnya ada tas ransel yang terlihat berat.

Wajah gadis itu cantik, tapi matanya... mata itu mati. Ada lingkaran hitam tebal di bawahnya. Bibirnya pucat dan pecah-pecah. Di pergelangan tangannya, terlihat perban yang sedikit merembeskan darah merah segar.

Gadis itu menatap Seno, lalu menatap warung tenda itu dengan bingung.

"Warung ini..." suaranya parau. "Buka?"

Seno terdiam. Manusia biasa tidak seharusnya bisa melihat warung ini. Kecuali mereka punya bakat indigo, atau...

Seno melihat aura gadis itu. Auranya abu-abu gelap, nyaris hitam. Aura seseorang yang sudah menyerah pada hidup. Aura seseorang yang berdiri tepat di tepi jurang kematian.

Gadis itu masuk, menjatuhkan dirinya di bangku kayu panjang. Dia meletakkan kepalanya di atas meja, di samping toples kerupuk.

"Aku lapar," gumam gadis itu. "Tapi aku tidak punya uang. Dan aku mau mati besok pagi. Boleh minta racun?"

Seno menghela napas panjang tanpa suara.

Malam ini akan panjang.

Seno mengambil gelas belimbing. Dia menyeduh teh tubruk panas dengan gula batu. Aroma melati yang menenangkan menguar.

Dia meletakkan teh itu di dekat kepala si gadis.

Gadis itu—Alya namanya—mengangkat kepalanya sedikit. Dia menatap teh panas itu, lalu menatap Seno.

"Bapak bisu ya?" tanyanya datar tanpa rasa sopan santun.

Seno mengangguk, lalu menunjuk dadanya sendiri, kemudian menunjuk teh itu. Minumlah.

Alya menyeruput teh itu. Panas dan manis. Rasa hangat menjalar ke kerongkongannya, sedikit melelehkan beku di dadanya.

Dia mulai menangis. Tanpa suara, air mata mengalir deras membasahi meja kayu yang lengket.

Di sudut warung yang gelap, di luar cahaya lampu senthir, sesosok bayangan tinggi dengan mata merah menyala sedang mengintai. Sosok itu menjilat bibirnya, menatap Alya.

Jiwa muda yang putus asa... santapan lezat.

Seno menyadari kehadiran makhluk itu.

Dengan gerakan cepat, Seno mengambil segenggam garam kasar dari toples bumbu. Dia melemparnya ke sudut gelap itu.

Wuussh!

Terdengar suara mendesis kesakitan. Bayangan itu mundur, menghilang ke dalam kegelapan malam.

Seno kembali menatap Alya.

Dia mengambil pisau dapur. Bukan untuk mengusir gadis itu.

Dia mengambil tempe. Bawang. Cabai.

Jika gadis ini ingin mati besok pagi, setidaknya Seno akan memastikan dia tidak mati dalam keadaan lapar.

Karena di Warung Tengah Malam, tidak ada yang boleh pergi dengan perut kosong. Baik yang hidup, maupun yang mati.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
Jenk Sry
👍👍👍👍👍👍👍
ny.KimJeongLee
😭😭 ada bawangnyaa yg epesodeini 😭😭😭
ny.KimJeongLee
pokoknyaa keren deh
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
petualangan seru dan menegangkan
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
ny.KimJeongLee
IHH kerenn
ny.KimJeongLee
uwow kerenn
tanty rahayu: terima kasih kaka sudah mampir baca novel ku
total 1 replies
☠ SULLY
mungkin pak Seno
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
☠ SULLY
yg baca mulai deg degan
alya 😂
Fitri Yama
go Alya go Seno go go go go,,kalian pasti menang
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
3 hari penuh pelajaran berharga
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
ikutan master chef aja mas seno😂👍
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.

kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
tanty rahayu: aamiin .... alhamdulillah seneng nya jangan lupa di promosiin ya ka 😍
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
/Heart//Heart/ ceritanya unik, menarik /Good/
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
kalau jadi tontonan pasti seru ini,
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
tanty rahayu: siap ka... terima kasih banyak kaka 😍
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak jaksa yg gak punyaa hidung 🙊🙊
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
malam malam kaca mata hitamnya gak dilepas oom /CoolGuy/
Fitri Yama
mantul thorrrr
Fitri Yama
kkkkkeeerrrreeennnnnnnnn
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
oh ada legenda kepala siapa gitu yang ditanam di tangga menuju makam raja raja imogiri.

adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
takutnya pak seno ini juga hantu😁.
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.
tanty rahayu: cari tau di episode selanjut nya ka 🤭
total 1 replies
Yulia Lia
ceritanya bagus
tanty rahayu: terima kasih kaka sudah baca karya ku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!