NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

noted: terbagi dua season

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Di tengah hiruk-pikuk halaman SMA Harapan Bangsa, puluhan siswa tampak bergegas menuju kelas. Suara langkah kaki berpadu dengan tawa, bisik-bisik ringan, dan dentingan jam tangan yang tergesa. Semua tampak wajar, terlalu wajar

Hingga dua sosok muncul di antara kerumunan.

Seorang gadis dengan rambut dikepang dua dan kacamata tebal, berjalan berdampingan dengan seorang pemuda tinggi berwajah tegas namun menenangkan. Mereka mencuri perhatian, bukan karena penampilan mereka yang mencolok—melainkan karena kontras di antara keduanya. Satu tampak sederhana, bahkan nyaris tak terlihat. Yang satu lagi... seperti cahaya di tengah ruangan yang redup.

“Selamat pagi, Alice,” sapa Danzel dengan suara rendah namun hangat.

Alice menoleh dan tersenyum kecil. “Pagi.”

Gadis itu belajar menahan gemetar di dadanya setiap kali pria itu memanggil namanya dengan suara selembut itu.

“Tidurmu nyenyak?” tanya Danzel lagi, kali ini dengan nada lebih lembut

Alice mengangguk kecil, membenarkan letak kacamatanya. “Lumayan.”

Danzel tersenyum tipis. “Bagus. Kamu tahu, Al… dunia ini terlalu keras untuk dihadapi dalam keadaan kurang tidur.”

Alice tertawa pelan. Tawanya pendek—tapi nyata. 

Mereka melangkah masuk ke gedung utama. Beberapa siswa menoleh, berbisik pelan, menatap mereka dengan rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan. Wajar saja. Danzel Zaferinno bukan nama yang asing. Ia adalah pusat perhatian di mana pun ia berada—populer, tampan, cerdas, dan misterius.

Sedangkan Alice Catlyn?

Ia gadis yang mudah dilupakan—Selalu sendiri. Kacamata tebal dan rambut kepangnya menjadi —penanda yang membuatnya lebih sering dijadikan bahan olok-olok daripada teman berbicara.

**

Sesampainya di dalam kelas, 

Suasana kelas sangat ramai di penuhi dengan kegembiraan dan keceriaan. beberapa siswa berkumpul dengan antusias yang tinggi, berbincang-bincang dan tertawa bersama. sebagian siswa tampak duduk di bangku masing-masing mengerjakan tugas mereka yang terlupa. 

Di salah satu sudut kelas, empat siswa—dua laki-laki dan dua perempuan—tengah berkumpul di sebuah bangku. Mereka tertawa dan bersandar santai, seolah bangku itu milik mereka.

"Menyingkirlah bung, pemilik bangku sudah datang." ujar Danzel, nada suaranya tenang tapi cukup untuk membuat keempatnya menoleh.

“Siap, yang mulia,” canda salah satu dari mereka, tertawa sambil memberi jalan.

Yang lainnya hanya tersenyum menyambut Danzel, tapi tidak ada yang benar-benar berniat pergi.

Danzel mengernyit. “Bukankah sudah kubilang kalian pergi? Kenapa masih di sini? Pergi ke bangku kalian masing-masing!”

Salah satu dari mereka, Rey, mengangkat bahu santai. “Kenapa? Bangkumu sudah kosong, kan? Kau bisa duduk sekarang.”

Danzel menghela napas panjang, jelas menahan kesal. Lalu ia berkata dengan nada lebih tegas.

“Bangku ini bukan cuma milikku. Ini juga milik Alice.”

Suasana seketika hening.

Alice yang sejak tadi berdiri di samping Danzel hanya menunduk, tak berkata apa-apa.

Rey menoleh padanya dengan senyum mengejek. “Hei, cupu. Mau duduk?”

Alice menggeleng cepat, suaranya nyaris tak terdengar. “T-tidak... kalian duduk saja. Aku tidak apa-apa berdiri sampai jam pelajaran dimulai.”

“Dengar, tuh.” Rey menyeringai. “Dia saja tidak mau duduk.”

“Rey.”

Nada suara Danzel berubah. Tajam. Tegas. Mata pria itu menatap Rey dengan sorot peringatan yang tak bisa disalahartikan.

Rey tertawa kecil. “Ho-oh, santai, Bung. Baiklah, kami pergi.”

Sebelum benar-benar beranjak, salah satu dari mereka menghentakkan sepatunya ke atas bangku—meninggalkan jejak kotor yang jelas terlihat di permukaan kayu.

Alice memandangi bekas sepatu itu. Namun, seperti biasa… ia hanya diam. Tak mengeluh. Tak menuntut.

Tapi Danzel tidak tinggal diam. Rahangnya mengeras. Ia menatap bangku itu sejenak, lalu menoleh ke arah teman-temannya.

Wajahnya masih sama—tenang di permukaan. Tapi sorot matanya…menyimpan kemarahan yang belum sempat diucapkan.

bukannya merasa bersalah, salah satu dari mereka yang mengotori bangku Alice justru tertawa mengejek, seolah puas dengan aksinya. Gelak tawa pun menyusul dari ketiga temannya.

Keempat siswa itu akhirnya beranjak, hendak kembali ke bangku masing-masing. Namun sebelum benar-benar pergi, Danzel dengan cepat menarik ujung baju salah satu dari mereka dan menahannya.

“Bersihkan,” ucap Danzel tajam, suaranya penuh peringatan.

“Suruh saja pemilik bangkunya yang bersihin sendiri,” balas gadis yang bernama Stella, matanya melirik Alice dengan tatapan meremehkan.

“Tidak apa-apa, Danzel… biar aku saja yang bersihkan,” sahut Alice pelan, mencoba meredakan ketegangan.

Tapi Danzel tak menoleh. Ia tidak menanggapi ucapan Alice sedikit pun.

“Aku bilang bersihkan, ya bersihkan! Apa kau tidak dengar Stella!?” bentaknya, kali ini suaranya mengguncang seisi kelas.

Suasana mendadak hening.

Semua mata menoleh ke arah mereka. Bahkan keempat teman dekat Danzel sekalipun terkejut,melihat Danzel semarah itu—terlebih karena seseorang seperti Alice.

Rey akhirnya angkat suara, memerintahkan temannya untuk segera membersihkan bangku itu.

“Bersihkan saja,” desisnya dengan wajah kesal, tapi nadanya kalah oleh kemarahan Danzel yang belum mereda.

Stella dengan enggan mengelap bangku itu menggunakan tisu bekas dari sakunya. Gerakannya cepat dan asal, tapi cukup untuk menghapus jejak sepatunya.

Danzel kemudian menoleh pada Alice, nada suaranya kembali tenang. “Duduklah, Alice.”

Alice menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.

“Terima kasih, Danzel,” ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun tulus.

Keempat teman Danzel akhirnya kembali ke bangku mereka masing-masing, tapi gumaman tidak menyenangkan segera menyusul setelahnya.

“Lihat tuh… lagi-lagi Danzel membela si cupu itu.”seru gadis yang bernama Megan 

“Sebenarnya mantra apa yang dipakai gadis itu? Sampai Danzel membela nya seperti itu”timpal Stella 

“Entahlah. Padahal dia tidak menarik sama sekali.”lanjut pria bernama Mike 

“Ya benar. gadis kayak dia tuh… tidak pantas di temani,”balas Megan sekali lagi

Sedangkan Rey hanya terdiam 

Jam pelajaran dimulai, seorang guru memasuki ruangan kelas dan mulai menjelaskan pelajaran.

1
Mundri Astuti
preeet lah danzel, kesalahan terberat kamu mengabaikan Alice saat Alice butuh bantuan kamu tuk bawa papanya ke RS, hingga papanya Alice meninggal dunia
Ophy60
Susah y Alice melupakan masa lalu..
Ophy60
Danzel jangan menemui Alice lagi. Yg ada nanti Rachel salah paham dan mengganggu Alice.
Nurhayati
ngapain jg dy dket2 sm kamu danzel, dy udh berdamai dgn diri sendiri. klo bs jgn ganggu dia deh ntar pcar mu tau rachel mlah ganggu alice. kan bahaya
Sari Nilam
up nya lama
Mundri Astuti
nih ya danzel klo kamu beneran nikah sama Rachel, kamu akan kehilangan harga dirimu, Krn kamu dibawah kuasa Rachel dan keluarganya, suatu saat kamu bermasalah sama Rachel, bisa abis harga dirimu diinjak" , secara kamu kerja di perusahaan keluarga rachel
Ophy60
Bingung kan Danzel.Ninggalin Rachel kerjaan dr keluarga Rachel,sama Rachel tapi ga benar² cinta sama Rachel.
partini
sekarang dulu masa bodoh,, mending balik deh yg dulu masih cinta biar ga terlalu banyak drama nanti kamu kerja aja lagi
Ophy60
Semangat pak Dokter...
Meski masih mengingat masa lalu paling tidak Alice sudah mulai berusaha menerima orang baru.
Ophy60
Maunya Alice sama orla thor.Enak saja udah ninggalin Alice,bahkan saat Alice dalam kondisi sangat terpuruk juga ga ada masa mau sama Alice lagi.
partini
si dokter tamvan mau bertempur dengan masa lalu ,cape loh dok harus siap kan mental dan kesabaran seluas samudra dan patah hati
Nurhayati
sperti komen ku yang eps kmrn ato yg eps sblumnya, aq gak rela klo Alice berjodoh sm danzel. klopun berjdoh aq berharap alice sm orang lain dlu bru ktemu danzel lg. klo bisa danzel lah yg berjuang u mndapatkan hati alice kmbli. bru impas pnderitaannya
partini
ye elah zel kamu jadi kacung keluarga pacar mu ,, penyesalan datang di Ahir kalau awal itu pendaftaran nama nya
hemmmm masa lalu itu berat bersaing dengan masa lalu melelahkan,jarang sih novel yg bisa move on jadi aku tebak pemenang nya masa lalu
Sari Nilam: aku sih timbya alice dengan doker ..lupakan danzel yang dengan mudah melupakanmu .
jadi pelayan kel pacar sendiri biarpun punya jabatan ...miris .tp itu pulihanmu zel..nikmatilah.
total 1 replies
Ophy60
Alice jangan sama Danzel y thor....buat Danzel menyesal.
Ophy60
Danzel cowo jd cowo ga tegas.
Mundri Astuti
yg berikutnya buat Alice bahagia dng dunia barunya thor, lebih sukses dan mandiri Thor, buat danzel tau Rachel yg aslinya
partini
S2 apa kaya gini juga Thor mengseddih terus
Nurhayati
aku kcewa smga alice tdak bejdoh sm danzel. wlo ibu danzel yg mnolong pun aq tak rela klo alice berjdoh sm danzel
partini
kamu akan menyesal seumur hidup mu zel.,semoga yg di katakan ayahmu betul nanti ada seseorang yg begitu sayang dan cinta padamu
Sari Nilam
kak othor sebenarnta ceritanya bagus...sayang kk uonya lama dan sedikit kl up
wnd ayn: terimakasih kakak, baik mulai sekarang author akan lebih sering update
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!