Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Di tengah hiruk-pikuk halaman SMA Harapan Bangsa, puluhan siswa tampak bergegas menuju kelas. Suara langkah kaki berpadu dengan tawa, bisik-bisik ringan, dan dentingan jam tangan yang tergesa. Semua tampak wajar, terlalu wajar
Hingga dua sosok muncul di antara kerumunan.
Seorang gadis dengan rambut dikepang dua dan kacamata tebal, berjalan berdampingan dengan seorang pemuda tinggi berwajah tegas namun menenangkan. Mereka mencuri perhatian, bukan karena penampilan mereka yang mencolok—melainkan karena kontras di antara keduanya. Satu tampak sederhana, bahkan nyaris tak terlihat. Yang satu lagi... seperti cahaya di tengah ruangan yang redup.
“Selamat pagi, Alice,” sapa Danzel dengan suara rendah namun hangat.
Alice menoleh dan tersenyum kecil. “Pagi.”
Gadis itu belajar menahan gemetar di dadanya setiap kali pria itu memanggil namanya dengan suara selembut itu.
“Tidurmu nyenyak?” tanya Danzel lagi, kali ini dengan nada lebih lembut
Alice mengangguk kecil, membenarkan letak kacamatanya. “Lumayan.”
Danzel tersenyum tipis. “Bagus. Kamu tahu, Al… dunia ini terlalu keras untuk dihadapi dalam keadaan kurang tidur.”
Alice tertawa pelan. Tawanya pendek—tapi nyata.
Mereka melangkah masuk ke gedung utama. Beberapa siswa menoleh, berbisik pelan, menatap mereka dengan rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan. Wajar saja. Danzel Zaferinno bukan nama yang asing. Ia adalah pusat perhatian di mana pun ia berada—populer, tampan, cerdas, dan misterius.
Sedangkan Alice Catlyn?
Ia gadis yang mudah dilupakan—Selalu sendiri. Kacamata tebal dan rambut kepangnya menjadi —penanda yang membuatnya lebih sering dijadikan bahan olok-olok daripada teman berbicara.
**
Sesampainya di dalam kelas,
Suasana kelas sangat ramai di penuhi dengan kegembiraan dan keceriaan. beberapa siswa berkumpul dengan antusias yang tinggi, berbincang-bincang dan tertawa bersama. sebagian siswa tampak duduk di bangku masing-masing mengerjakan tugas mereka yang terlupa.
Di salah satu sudut kelas, empat siswa—dua laki-laki dan dua perempuan—tengah berkumpul di sebuah bangku. Mereka tertawa dan bersandar santai, seolah bangku itu milik mereka.
"Menyingkirlah bung, pemilik bangku sudah datang." ujar Danzel, nada suaranya tenang tapi cukup untuk membuat keempatnya menoleh.
“Siap, yang mulia,” canda salah satu dari mereka, tertawa sambil memberi jalan.
Yang lainnya hanya tersenyum menyambut Danzel, tapi tidak ada yang benar-benar berniat pergi.
Danzel mengernyit. “Bukankah sudah kubilang kalian pergi? Kenapa masih di sini? Pergi ke bangku kalian masing-masing!”
Salah satu dari mereka, Rey, mengangkat bahu santai. “Kenapa? Bangkumu sudah kosong, kan? Kau bisa duduk sekarang.”
Danzel menghela napas panjang, jelas menahan kesal. Lalu ia berkata dengan nada lebih tegas.
“Bangku ini bukan cuma milikku. Ini juga milik Alice.”
Suasana seketika hening.
Alice yang sejak tadi berdiri di samping Danzel hanya menunduk, tak berkata apa-apa.
Rey menoleh padanya dengan senyum mengejek. “Hei, cupu. Mau duduk?”
Alice menggeleng cepat, suaranya nyaris tak terdengar. “T-tidak... kalian duduk saja. Aku tidak apa-apa berdiri sampai jam pelajaran dimulai.”
“Dengar, tuh.” Rey menyeringai. “Dia saja tidak mau duduk.”
“Rey.”
Nada suara Danzel berubah. Tajam. Tegas. Mata pria itu menatap Rey dengan sorot peringatan yang tak bisa disalahartikan.
Rey tertawa kecil. “Ho-oh, santai, Bung. Baiklah, kami pergi.”
Sebelum benar-benar beranjak, salah satu dari mereka menghentakkan sepatunya ke atas bangku—meninggalkan jejak kotor yang jelas terlihat di permukaan kayu.
Alice memandangi bekas sepatu itu. Namun, seperti biasa… ia hanya diam. Tak mengeluh. Tak menuntut.
Tapi Danzel tidak tinggal diam. Rahangnya mengeras. Ia menatap bangku itu sejenak, lalu menoleh ke arah teman-temannya.
Wajahnya masih sama—tenang di permukaan. Tapi sorot matanya…menyimpan kemarahan yang belum sempat diucapkan.
bukannya merasa bersalah, salah satu dari mereka yang mengotori bangku Alice justru tertawa mengejek, seolah puas dengan aksinya. Gelak tawa pun menyusul dari ketiga temannya.
Keempat siswa itu akhirnya beranjak, hendak kembali ke bangku masing-masing. Namun sebelum benar-benar pergi, Danzel dengan cepat menarik ujung baju salah satu dari mereka dan menahannya.
“Bersihkan,” ucap Danzel tajam, suaranya penuh peringatan.
“Suruh saja pemilik bangkunya yang bersihin sendiri,” balas gadis yang bernama Stella, matanya melirik Alice dengan tatapan meremehkan.
“Tidak apa-apa, Danzel… biar aku saja yang bersihkan,” sahut Alice pelan, mencoba meredakan ketegangan.
Tapi Danzel tak menoleh. Ia tidak menanggapi ucapan Alice sedikit pun.
“Aku bilang bersihkan, ya bersihkan! Apa kau tidak dengar Stella!?” bentaknya, kali ini suaranya mengguncang seisi kelas.
Suasana mendadak hening.
Semua mata menoleh ke arah mereka. Bahkan keempat teman dekat Danzel sekalipun terkejut,melihat Danzel semarah itu—terlebih karena seseorang seperti Alice.
Rey akhirnya angkat suara, memerintahkan temannya untuk segera membersihkan bangku itu.
“Bersihkan saja,” desisnya dengan wajah kesal, tapi nadanya kalah oleh kemarahan Danzel yang belum mereda.
Stella dengan enggan mengelap bangku itu menggunakan tisu bekas dari sakunya. Gerakannya cepat dan asal, tapi cukup untuk menghapus jejak sepatunya.
Danzel kemudian menoleh pada Alice, nada suaranya kembali tenang. “Duduklah, Alice.”
Alice menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Terima kasih, Danzel,” ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun tulus.
Keempat teman Danzel akhirnya kembali ke bangku mereka masing-masing, tapi gumaman tidak menyenangkan segera menyusul setelahnya.
“Lihat tuh… lagi-lagi Danzel membela si cupu itu.”seru gadis yang bernama Megan
“Sebenarnya mantra apa yang dipakai gadis itu? Sampai Danzel membela nya seperti itu”timpal Stella
“Entahlah. Padahal dia tidak menarik sama sekali.”lanjut pria bernama Mike
“Ya benar. gadis kayak dia tuh… tidak pantas di temani,”balas Megan sekali lagi
Sedangkan Rey hanya terdiam
Jam pelajaran dimulai, seorang guru memasuki ruangan kelas dan mulai menjelaskan pelajaran.