Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATA BATIN
Kata orang dilarang tidur saat senja, atau menjelang maghrib begitu, bisa menjadi gila katanya. Bahkan orang tua dulu selalu mengunci pintu, jendela, dan anak-anak dilarang bermain saat menjelang maghrib, takut dibawa wewe gombel. Sekarang Salsa paham kondisi itu, bukan sekedar mitos belaka tapi nyata.
Salsa pulang dari kampus sekitar setengah 4 sore, badannya sangat lelah karena hari ini dua kali praktikum di lab. Sudahlah kalau praktik di lab tuh butuh tenaga ekstra, satu jam melakukan percobaan bisa tak terasa. Otomatis saat pulang, badan sudah lelah, dia tak sempat ganti baju, bahkan untuk cuci kaki saja tidak. Langsung merebahkan diri dan merem. Bangun-bangun mendengar teriakan mama dari luar, tanya sudah sholat apa belum, dengan bergumam Salsa hanya menjawab belum ma.
Begitu bangun, nyawa masih belum terkumpul, sambil mengucek mata, samar terlihat seseorang duduk di jendela kamarnya. "Gusti Allah," sebut Salsa kaget, karena seorang gadis duduk di jendela, dan kakinya tampak berayun.
"Hey, siapa kamu?" tanya Salsa penasaran. Gadis itu menoleh, wajahnya pucat, dan masih memakai seragam abu-abu putih dan membuat mata Salsa terbelalak ketika melihat noda darah di ujung seragam putihnya.
Gadis itu menoleh sembari tersenyum, lalu dia turun dari jendela, melewati meja kamar Salsa. "Lo hantu?" tanya Salsa kaget, karena tadi ia melihat kaki gadis itu menyentuh meja tapi tak terlihat menapak. Sampai Salsa mengucek mata kembali.
Gadis itu mengangguk sembari tersenyum, malah sekarang duduk di ujung tiang tas. Salsa merinding seketika dan langsung lari keluar kamar.
"Ma, di kamarku ada hantu!" teriaknya mencari sang mama.
"Apa sih, Sal?" tanya mama gemas dengan putri bungsunya ini. "Makanya kalau pulang dari kampus itu cuci kaki, mandi, sholat baru rebahan. Sukurin, ada penampakan!" mama masih menganggap sang putri berhalusinasi, dan membiarkan dia mandi di kamar mandi dekat dapur. Mama semakin ngomel saat Salsa keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk saja. Rasanya sang mama ingin melempar centong sayur pada anak gadisnya itu, untung saja di area dapur hanya ada mama dan Bik Yem saja. Papa dan Mas Rafly belum pulang kerja.
"Ayo, Ma. Anterin aku ke kamar. Salsa takut pol!" rengeknya manja, sumpah takut juga. Mama hanya menghela nafas pelan, meski diiringi omelan tapi beliau tetap menemani putrinya masuk kamar dan sholat ashar injury time, bahkan saat dia salam adzan maghrib langsung terdengar.
"Mana ada hantu?" tantang mama menyisir setiap sisi kamar sang putri, dan tidak ada hal mistis yang beliau rasa. Salsa tak menggubris, dia malah melanjutkan sholat maghrib saja.
Selepas salam, Salsa menelan ludah kasar karena si hantu masih di ujung tiang tasnya, dan mama tak melihatnya. Fix sih, hanya Salsa yang bisa melihat. "Salsa nanti tidur sama mama, titik. Salsa gak mau tidur di kamar ini."
"Gak ada. Kamu sudah besar, anak kuliah semester 4 kok masih ngetek sama mama," ucap beliau akan beranjak pergi, namun Salsa gak mau ditinggal. Bahkan memakai pakaian dalam saja minta ditemani sang mama.
"Kamu ini habis kesambet apa sih kok jadi penakut, biasanya juga gak pernah kayak gini?" tanya mama saat keduanya keluar dari kamar Salsa. Mama jadi takut sendiri, mungkin sekarang beliau percaya kalau di kamar sang putri memang ada hantu, dan hanya Salsa yang bisa melihat.
"Makanya jangan sok-sok an lihat film horor!" omel Rafly, saat mereka makan malam. Salsa cemberut, perasaan dia sudah lama tidak melihat film horor.
"Lagian kamu tuh sholat, ngapain takut. Mereka juga makhluknya Allah," ini si papa juga berusaha menasehati ala ustadz. Makin membuat Salsa berdecak sebal, tak ada yang percaya bahwa Salsa sekarang takut masuk kamar.
Bahkan sampai tidur pun, Salsa tak berani, terpaksa malam ini dia tidur bersama kedua orang tuanya, bahkan sang papa mengalah tidur di sofa kamar. Saat ganti baju buat berangkat kuliah, dia kembali menarik mama untuk menemaninya di kamar.
Agak lucu saat mama menyebarkan garam di area kamar Salsa, malah diketawain sama si hantu yang masih nangkring di ujung tiang tas. "Bilang sama mama kamu, gak mempan, karena aku gak mau nakutin kamu. Aku cuma mau minta bantuan kamu!"
Salsa pura-pura tak dengar, merinding juga mendengar ucapan si hantu, tapi matanya penasaran juga dengan penampakannya, tak menyeramkan hanya pucat dan bikin merinding saja.
Salsa buru-buru keluar, dan segera berangkat ke kampus mengendarai motor. "Sumpah, sampai kapan aku diikuti sama dia, hi!" ucap Salsa sembari merinding, dan melajukan motor menuju kampus.
Sampai di lampu merah, kurang beberapa menit saja sampai kampus, mata Salsa membelalak kaget. Si hantu malah sudah duduk di jok motor seseorang, menatap Salsa dengan senyum dan melambaikan tangan. "Asyem, dia ikut ke mana aku pergi," gumam Salsa sembari mengalihkan pandangan. Berusaha tak melihat dia, berharap si hantu dibawa oleh pemilik motor itu.
"Gak ada kan ya?" gumam Salsa sembari melihat spion, keberadaan si hantu tak terlihat, tentu saja membuatnya lega. Ia bisa ke kampus dengan tenang. Begitu Salsa selesai parkir sepeda motor, malah si hantu sudah berdiri di depan motornya. Untung saja Salsa tak menjerit keras, kaget setengah mati.
"Kenapa harus ikut aku lagi sih?" tanya Salsa dengan melirik ke kanan dan ke kiri, khawatir dia dilihat orang seperti ngomong sendiri.
"Gak usah takut sama aku, beneran aku gak ganggu kamu. Aku cuma minta tolong ke kamu, habis itu aku beneran pergi."
"Kenapa aku harus menolong kamu?" tanya Salsa yang kini pura-pura menelepon padahal sedang mengajak omong si hantu, ya biar gak dianggap gila, apalagi lorong kampus menuju kelasnya cukup ramai.
"Karena aku butuh ketenangan biar masuk ke alam baka!" ucap si hantu yang kini berjalan beriringan dengan Salsa. Jelas saja Salsa kaget, dan langsung menatap si hantu. "Kamu kuliah dulu saja, aku cuma ikut kamu. Setelah kamu tenang aku akan jelaskan kenapa aku bisa memilih kamu buat dimintai tolong!"
Salsa menelan ludah kasar, dan berusaha mengikuti kuliah dengan fokus. Cuma beberapa kali, ia melirik pada si hantu yang sedang asyik mengganggu Tobi, teman Salsa yang bangku pojok dan sedang memejamkan mata. Ingin tertawa tapi Salsa berusaha tak membuat gaduh, bisa ramai nanti kalau dia sampai menertawakan Tobi.
Si hantu sedang mengangkat kelopak mata Tobi agar bangun dan mendengar penjelasan dosen, namun Tobi terus menyibakkan gangguan itu, sungguh lucu, tapi Salsa tak bisa tertawa, ia sedang memikirkan nasibnya setelah hatinya dianggap tenang oleh si hantu.
Ini mata batinku terlalu tajam atau bagaimana ya, sampai hantu pun memilih aku, batin Salsa.