Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"laut itu mengajariku memberi tanpa gemuruh badai cukup dengan kedalaman yang menyimpan terang di bawah permukaan"
Suasana koridor sekolah mulai ramai dengan siswa-siswi yang sedang berpindah kelas setelah jam istirahat. Elona sedang berjalan menuju kelasnya dengan langkah santai, sambil membaca catatan yang dibuatnya saat pelajaran matematika tadi pagi.
Tiba-tiba, seseorang menarik lengan jaket pramukanya dengan kuat, membuatnya berhenti dan hampir menjatuhkan buku yang dia pegang. Dia melihat ke belakang dan menemukan Luna yang berdiri dengan wajah yang tegas dan penuh kemarahan.
“Mahira Elona, ada sesuatu yang harus aku bilang padamu,” ujar Luna dengan suara rendah namun penuh dengan ancaman. “Mari kita bicara di tempat yang lebih sepi saja.”
Tanpa menunggu jawaban, Luna menarik Elona ke arah lorong belakang gedung yang jarang dilalui siswa. Setelah mereka sampai di tempat yang cukup sepi, Luna berhenti dan menghadap Elona dengan pandangan yang tajam.
“Aku sudah melihat bagaimana kamu sering dekat dengan Biru akhir-akhir ini,” ujar Luna dengan nada yang tidak bisa ditawar. “Aku ingin kamu menjauh darinya dan tidak pernah lagi mendekatinya.”
Elona mengerutkan kening dengan bingung. “Kak Luna, saya tidak mengerti apa yang kamu maksud. Saya hanya berinteraksi dengan Pak Ketua seperti halnya dengan rekan sekolah lain saja. Apalagi kita baru saja bermain voli bersama pada pelajaran olahraga tadi.”
“Jangan berpura-pura tidak mengerti!” seru Luna dengan suara yang sedikit meningkat. “Aku tahu kamu pasti menyukainya dan mencoba untuk merebutnya dariku! Tapi kamu harus tahu bahwa Biru dan aku sudah tunangan! Hanya saja kita merahasiakannya agar tidak mengganggu pekerjaan kita sebagai pengurus OSIS!”
Elona terkejut mendengar kata-kata itu. Dia menatap Luna dengan mata yang penuh dengan ketidakpercayaan. “Tunangan? Tapi mengapa saya tidak pernah mendengarnya dari siapapun? Bahkan Rekai dan Kalash yang merupakan teman dekat Pak Ketua juga tidak pernah menyebutkannya.”
“Itu karena kita sengaja merahasiakannya!” jawab Luna dengan cepat. “Orang tuanya dan orang tuaku sudah sepakat tentang pernikahan kita sejak lama. Kita hanya menunggu sampai lulus sekolah saja untuk mengumumkannya secara resmi.”
Elona terdiam sejenak, mencoba memproses apa yang baru saja dia dengar. Meskipun di dalam hatinya dia merasa ada sesuatu yang tidak benar dengan klaim Luna, dia tetap menjaga sikapnya yang sopan.
“Kalau itu benar, saya mohon maaf Kak Luna,” ujar Elona dengan suara tenang. “Saya tidak pernah memiliki niat untuk merebut siapapun dari orang lain. Saya hanya melihat Pak Ketua sebagai pemimpin yang baik dan teman sekolah yang saya hormati saja.”
Namun ekspresi Luna tidak menunjukkan sedikit pun rasa lega. Dia semakin mendekat ke arah Elona dengan wajah yang penuh kemarahan. “Jangan berpura-pura sopan saja padaku! Aku melihat bagaimana dia memperhatikanmu dan bahkan memberikanmu perlakuan istimewa! Kamu pasti melakukan sesuatu agar dia memperhatikanmu!”
“Saya tidak melakukan apa-apa, Kak Luna!” jawab Elona dengan suara yang lebih tegas. “Saya hidup dengan jujur dan tidak akan pernah melakukan hal yang menyakitkan orang lain. Jika memang Pak Ketua sudah tunangan denganmu, saya akan menjaga jarak dan tidak akan pernah lagi mendekatinya.”
Sebelum Luna bisa menjawab lagi, terdengar suara yang akrab dari arah lorong utama. “Elona! Luna! Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”
Mereka berdua menoleh dan melihat Rekai yang sedang berlari mendekat dengan wajah yang khawatir. Di belakangnya, Kalash dan Biru juga muncul dengan ekspresi yang penuh dengan kekhawatiran.
“Kak Luna mengaku bahwa dia dan Pak Ketua sudah tunangan, Kak Rekai,” ujar Elona d “Dan dia memintaku untuk menjauh dari Pak Ketua.”
Rekai langsung menatap Luna dengan ekspresi tidak percaya, sementara Kalash membuka mulutnya dengan terkejut. Biru yang berdiri di belakang mereka segera melangkah maju dengan wajah yang dingin dan penuh dengan kemarahan.
“Siapa bilang kita tunangan, Luna?” tanya Biru dengan suara yang tegas dan jelas terdengar di lorong yang sepi itu. “Saya tidak pernah menyetujui hal semacam itu dan tidak akan pernah menyetujuinya!”