Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Perjalanan ke Barat dan Misteri Hutan Sihir
Seratus hari. Bagi manusia biasa, itu adalah waktu yang cukup untuk memanen padi, namun bagi Ranu dan kawan-kawan, setiap detik yang berdetak di bawah bayang-bayang pohon bambu raksasa itu terasa seperti tetesan air di atas batu panas.
Segel yang mengurung Nadir memancarkan denyut hijau yang stabil, namun Ranu bisa merasakan getaran dingin yang mencoba merayap keluar dari sela-sela serat bambu tersebut. Kehampaan tidak sedang tidur; ia sedang mencoba mencerna kehidupan yang menyegelnya.
Ranu berdiri di dermaga barat Galuh Pakuan, menatap barisan pegunungan yang tampak seperti taring raksasa di cakrawala jauh.
Di belakangnya, Ki Sastro sibuk mengepak perbekalan ke dalam kereta kuda yang telah diperkuat dengan mantra pelindung, sementara Lingga dan Nara memeriksa kondisi senjata mereka.
"Den Ranu, hamba sudah menyiapkan segalanya. Nasi jagung instan, sambal teri awet, dan beberapa ikat bambu kuning cadangan kalau-kalau Den butuh senjata darurat lagi," ucap Sastro sambil mengelap keringat di dahinya yang lebar.
Ranu tersenyum kecil, namun matanya tetap tertuju pada ufuk barat.
"Terima kasih, Sastro. Tapi perjalanan ke Benua Barat tidak akan semudah menyeberangi laut kemarin. Di sana, hukum alam tidak berlaku seperti di sini. Sihir hitam telah merembes ke tanahnya selama ribuan tahun, menciptakan ekosistem yang membenci segala bentuk cahaya surgawi."
Nara mendekat, jari-jarinya yang ramping membelai busur energi yang kini memiliki corak daun hijau di sepanjang lengkungannya.
"Aku pernah mendengar tentang Hutan Sihir Maladewa yang memisahkan perbatasan tengah dengan barat. Konon, hutan itu bisa membaca pikiran pengembaranya dan mengubah kenangan terburuk mereka menjadi kenyataan fisik. Apakah kita benar-benar harus melewati jalur itu?"
Ranu mengangguk perlahan.
"Itu adalah jalur tercepat menuju Puncak Meru. Jika kita memutar lewat jalur laut selatan, kita akan menghabiskan waktu lima puluh hari hanya untuk sampai di dermaga. Kita tidak punya kemewahan itu. Nadir adalah luka yang terus terbuka, dan Tinta Kehidupan adalah satu-satunya obat yang bisa menutupnya secara permanen."
Kereta kuda mereka pun mulai bergerak, membelah padang rumput Galuh Pakuan yang kini mulai kembali hijau. Namun, semakin mereka bergerak ke arah barat, warna hijau itu perlahan berubah menjadi ungu gelap dan kelabu. Langit yang biru cerah di timur perlahan tertutup oleh kabut tebal yang tidak bergerak ditiup angin.
Setelah tiga hari perjalanan tanpa henti, mereka sampai di pinggiran Hutan Sihir Maladewa. Pohon-pohon di sini tidak memiliki daun, melainkan rambut-rambut halus yang bergerak-gerak seperti tentakel kecil. Akar-akarnya menonjol keluar dari tanah, menyerupai tulang-belulang raksasa yang sedang merangkak.
"Hawa di sini benar-benar tidak enak," bisik Lingga sambil menghunus pedang Candra Kirana. "Aku merasa seperti sedang diawasi oleh ribuan pasang mata yang tersembunyi di balik batang-batang pohon itu."
"Jangan menghunus pedangmu kecuali benar-benar perlu, Lingga," peringat Ranu. "Hutan ini memakan energi agresif. Semakin kau menunjukkan niat membunuh, semakin kuat monster yang akan ia ciptakan untuk menantangmu."
Mereka memasuki hutan dengan formasi rapat. Sastro memegang kendali kereta kuda dengan tangan yang gemetar, sementara Nara dan Lingga berjaga di sisi kiri dan kanan. Ranu berada di depan, memegang tongkat bambu kuningnya sebagai penunjuk arah.
Baru beberapa ratus meter melangkah, kabut mendadak menjadi sangat tebal hingga mereka tidak bisa melihat ujung tangan mereka sendiri. Suara bisikan mulai terdengar dari segala arah.
"Ranu... kenapa kau meninggalkan kami di langit?" suara itu terdengar sangat merdu, namun penuh dengan kesedihan.
Ranu terhenti. Itu adalah suara para bidadari pelayannya di masa ia masih menjadi penguasa tunggal Sembilan Langit.
"Jangan dengarkan, Ranu! Itu hanya ilusi!" teriak Nara, namun suaranya sendiri terdengar jauh dan terdistorsi.
Tiba-tiba, dari balik kabut, muncul sosok Ki Garna dan Nyai Sumi. Mereka tampak terluka parah, merangkak di tanah sambil mengulurkan tangan ke arah Ranu.
"Ranu... tolong kami... kenapa kau membiarkan kami menderita demi membela orang asing di Galuh Pakuan?" isak sosok yang menyerupai Nyai Sumi itu.
Sastro yang melihat itu hampir saja melompat dari kereta untuk menolong, namun Ranu menahan dadanya dengan tongkat bambu.
"Diam di tempatmu, Sastro! Itu bukan ibu dan bapakku," ucap Ranu dengan suara yang dalam dan bergetar karena emosi yang ia tahan.
"Tapi Den! Lihat darah itu! Itu asli!" Sastro meronta.
Ranu memejamkan matanya, memfokuskan Bintang Kedelapan di dalam sukmanya.
"Ibu dan bapakku adalah manusia yang paling bangga jika aku membela kebenaran. Mereka tidak akan pernah meminta bantuan dengan cara menghancurkan tekadku. Hutan ini mencoba menyerang fondasi kemanusiaanku."
Ranu menghentakkan bambu kuningnya ke tanah. Sebuah gelombang energi hijau menyapu kabut di sekitar mereka. Sosok palsu Ki Garna dan Nyai Sumi meledak menjadi ribuan kupu-kupu hitam yang kemudian menghilang.
Namun, hutan itu tidak menyerah begitu saja. Tanah di bawah mereka bergetar, dan dari akar-akar pohon yang menonjol, muncul makhluk-makhluk tanpa wajah yang mengenakan zirah yang persis sama dengan milik Lingga.
"Penjaga Bayangan," desis Lingga. "Mereka meniru kekuatanku!"
Pertempuran pun pecah di tengah kegelapan hutan. Lingga harus berhadapan dengan salinan dirinya sendiri yang memiliki teknik pedang yang sama persis. Nara dipaksa melakukan duel panah dengan bayangan yang bergerak secepat kilat di antara pepohonan.
Ranu tidak ikut campur dalam pertarungan mereka. Ia tahu bahwa ini adalah ujian bagi Lingga dan Nara untuk menaklukkan sisi gelap dalam diri mereka masing-masing. Ia terus berjalan maju, mengikuti denyut energi dari Puncak Meru yang mulai terasa di kejauhan.
Tiba-tiba, seorang pria tua dengan jubah hitam panjang menghalangi jalannya. Pria itu memiliki janggut putih yang menjuntai hingga ke tanah dan memegang sebuah cermin besar.
"Wira Candra, sudah lama sekali sejak kau membuang kedudukanmu demi segenggam nasi jagung," ucap pria tua itu dengan senyum sarkastik.
Ranu berhenti, matanya menyipit.
"Penatua Maladewa. Aku tidak menyangka kau masih hidup setelah pengkhianatanmu di masa lalu. Apakah kau yang mengatur hutan ini untuk menghambatku?"
Penatua Maladewa tertawa, suaranya seperti gesekan batu nisan.
"Aku tidak menghambatmu, aku hanya ingin menunjukkan cermin kebenaran padamu. Apakah kau benar-benar berpikir bahwa Tinta Kehidupan akan menyelamatkan dunia ini? Ataukah kau hanya sedang mencari alasan untuk kembali menjadi dewa karena kau menyadari betapa lemahnya menjadi manusia?"
Pria tua itu memutar cerminnya ke arah Ranu. Di dalam cermin itu, Ranu melihat dirinya sendiri yang sedang duduk di singgasana langit, namun di bawah kakinya, bumi telah hancur dan orang-orang yang ia cintai telah menjadi debu.
"Lihatlah takdirmu yang sebenarnya, Ranu. Kau adalah penghancur yang menyamar sebagai penyelamat," bisik Maladewa.
Ranu menatap cermin itu dengan tenang. Ia tidak berpaling, tidak pula marah.
"Cerminmu hanya menunjukkan apa yang kau takuti, Maladewa. Kau takut akan kehancuran karena kau tidak memiliki apa pun untuk dicintai. Tapi aku... aku memiliki alasan untuk kembali."
Ranu melangkah maju dan menyentuh permukaan cermin itu dengan tangan kosong. Seketika, cermin itu retak dan hancur berkeping-keping. Sosok Penatua Maladewa membelalak tidak percaya, tubuhnya perlahan mulai memudar.
"Bagaimana mungkin... kau tidak memiliki keraguan sedikit pun?!"
"Keraguan itu ada," jawab Ranu sambil terus berjalan melewatinya. "Tapi rasa laparku akan masa depan yang damai jauh lebih besar daripada rasa takutku akan kegagalan."
Hutan Sihir Maladewa perlahan mulai menipis. Kabut ungu memudar, digantikan oleh udara pegunungan yang segar dan tajam. Di depan mereka, menjulang sebuah gunung yang puncaknya menembus awan emas—Puncak Meru, tempat bersemayamnya sang Naga Langit.
Lingga dan Nara muncul dari belakang dengan napas terengah-engah, namun mata mereka memancarkan kekuatan baru. Mereka telah berhasil mengalahkan bayangan mereka sendiri.
"Kita sudah hampir sampai, Ranu," ucap Lingga sambil menyarungkan pedangnya yang kini bersinar lebih jernih.
Ranu mengangguk, menatap ke puncak gunung yang agung tersebut.
"Bersiaplah. Guru lamaku, Sang Naga Langit, tidak akan memberikan Tinta Kehidupan hanya karena aku adalah mantan muridnya. Baginya, keadilan adalah hukum yang kaku, dan kita harus membuktikan bahwa kasih sayang manusia mampu melunakkan hukum tersebut."
Perjalanan menuju puncak dimulai, namun di lereng gunung itu, mereka melihat ribuan patung manusia yang membeku dalam berbagai posisi. Ranu tahu, mereka adalah para pendekar yang gagal melewati ujian sang naga selama ribuan tahun terakhir.
......................