NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ombak yang Berbicara dalam Bahasa Asing

Langit di atas Parangtritis sore itu tidak berwarna jingga seperti biasanya. Tidak ada gradasi ungu lembut yang sering dijadikan latar foto oleh para turis di atas bendi. Sore ini, langit terlihat memar. Warnanya abu-abu tua dengan semburat kuning kotor, seolah-olah matahari sedang sakit dan memaksakan diri untuk bersinar menembus lapisan debu yang tebal.

Sekar merapatkan jarik batiknya, mencoba menghalau angin yang tiba-tiba terasa menusuk tulang. Sebagai seorang abdi dalem yang masih terhitung muda, baru menginjak dua puluh dua tahun, tugasnya sore ini sebenarnya sederhana. Ia hanya perlu memastikan sisa-sisa sesajen labuhan yang tersangkut di bibir pantai dibersihkan sebelum malam benar-benar jatuh. Orang-orang sering lupa bahwa laut bukan tempat sampah, bahkan untuk doa-doa yang dilarung sekalipun.

Tangannya memungut sebuah keranjang bambu kecil yang sudah penyok terinjak kaki kuda. Isinya—bunga kantil yang sudah layu dan serpihan kemenyan—berhamburan di pasir basah. Sekar menghela napas. Bau laut hari ini berbeda. Biasanya, angin Parangtritis membawa aroma garam yang tajam bercampur dengan sedikit bau amis ikan dan jagung bakar. Tapi hari ini, baunya seperti logam. Seperti besi yang digesekkan paksa hingga memercikkan api, atau bau darah yang samar namun menyengat.

"Nduk, jangan melamun di pinggir air pas sandekala begini."

Suara serak itu membuat Sekar tersentak. Ia menoleh dan mendapati Pak Darto, kusir bendi tua yang biasa mangkal di dekat pos penjagaan SAR, sedang menenangkan kudanya. Kuda putih kurus itu terlihat gelisah. Matanya melotot lebar, menampilkan bagian putih yang terlalu banyak, sementara kaki depannya menghentak-hentak pasir dengan irama yang kacau.

"Kudanya kenapa, Pak?" tanya Sekar, sedikit berteriak mengalahkan suara debur ombak yang semakin keras.

Pak Darto menepuk leher kudanya dengan kasar namun sayang. "Enggak tahu. Dari tadi sore gelisah terus. Kayak... kayak dia mencium bau pejantan lain yang mau ngajak berantem. Padahal di sini cuma dia kuda jantan."

Sekar menatap mata kuda itu. Ada ketakutan purba di sana. Binatang selalu tahu lebih dulu, pikirnya. Insting mereka tidak tertutup logika manusia yang sering menyangkal. Sekar memiliki sedikit kelebihan yang sering ia anggap sebagai kutukan, dan saat ia menatap mata kuda itu, ia tidak melihat pantulan dirinya. Ia melihat bayangan ombak yang bergulung, tapi bukan ombak air. Itu seperti ombak api biru yang menyala di dalam air.

"Mending Sampeyan minggir agak jauhan, Nduk," lanjut Pak Darto, kali ini nadanya lebih serius. Ia menarik tali kekang, memaksa kudanya berbalik arah menjauhi bibir pantai. "Airnya... airnya rasanya aneh. Panas."

Sekar mengangguk sopan, membiarkan orang tua itu pergi terburu-buru. Namun, alih-alih mundur, kaki Sekar justru tertanam di tempatnya berdiri. Ia memandang cakrawala. Garis batas antara langit dan laut itu biasanya tegas, tapi sekarang kabur. Kabut tebal mulai turun, tapi kabut itu tidak bergerak mengikuti arah angin. Kabut itu diam, seolah sedang menunggu perintah.

Dadanya terasa sesak. Bukan sesak karena asma, tapi perasaan terhimpit yang sering ia rasakan jika berada di dekat pusaka keraton yang memiliki aura terlalu kuat. Tapi ini pantai terbuka. Luas, tanpa dinding. Kenapa rasanya seolah ia sedang dikurung di dalam ruangan sempit bersama seseorang yang sedang marah besar?

Sekar memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, mencoba menyelaraskan detak jantungnya dengan ritme ombak Selatan yang biasanya ia kenal.

Satu, dua, tiga...

Ritme itu hilang.

Jantung Sekar berdegup kencang. Ia membuka matanya. Laut Selatan selalu punya irama. Gleerr... byuur... ssshh... Irama yang konstan, lambat, dan penuh wibawa. Seperti napas seorang ratu yang sedang tidur nyenyak. Tapi sekarang, irama itu kacau. Ombak datang susul-menyusul tanpa jeda, saling bertabrakan, buihnya pecah berantakan sebelum sempat menyentuh bibir pantai.

Air laut itu tidak sedang menari. Air itu sedang panik.

"Pulanglah, anak kecil."

Bisikan itu terdengar bukan di telinga, tapi langsung di dalam kepala Sekar. Suaranya lembut, dingin, dan feminin. Suara yang sudah akrab bagi siapa saja yang mengabdi pada Laut Selatan dengan hati tulus. Sekar tahu itu peringatan. Tapi rasa ingin tahunya, bercampur dengan rasa takut yang melumpuhkan, membuatnya tidak bisa bergerak.

Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Bukan guntur dari langit, melainkan dari kedalaman samudra. Para wisatawan yang masih asyik bermain air di kejauhan mulai berteriak, berlarian naik ke daratan. Penjaga pantai meniup peluit panjang, suaranya melengking menyakitkan telinga.

Sekar melihatnya.

Di kejauhan, di mana ombak biasanya mulai pecah, ada sesuatu yang naik ke permukaan. Sebuah gelombang besar terbentuk, tapi bentuknya tidak wajar. Gelombang itu terlalu tinggi, terlalu tegak, dan bergerak terlalu cepat. Puncaknya tidak melengkung lembut, tapi tajam dan bergerigi seperti mahkota raja yang terbuat dari kristal cair.

Dan di dalam gelombang itu, Sekar melihat cahaya keemasan.

Itu bukan pantulan matahari sore, karena matahari sudah tertutup awan tebal. Cahaya itu berasal dari dalam air. Terang, menyilaukan, dan sombong. Cahaya itu memancarkan aura maskulin yang begitu pekat, begitu dominan, hingga membuat perut Sekar mual. Rasanya seperti ada seseorang yang berteriak tepat di depan wajahnya, menuntut perhatian penuh, menuntut ketundukan mutlak.

Energi itu sangat asing. Kasar. Berisik.

Ini bukan energi tanah Jawa. Ini bukan energi lembut yang mematikan milik Kanjeng Ratu. Ini adalah energi perang.

"Minggir!" teriak seorang petugas SAR, menarik lengan Sekar dengan kasar.

Sekar tersentak, kakinya tersandung pasir basah saat ia diseret menjauh tepat sebelum lidah air menyapu tempatnya berdiri tadi. Air itu naik jauh lebih tinggi dari pasang biasa, melahap warung-warung tenda di barisan depan. Kursi plastik hanyut, kelapa muda menggelinding seperti bola bowling yang dilempar sembarangan.

Orang-orang menjerit. Kepanikan pecah seketika.

Namun, di tengah kekacauan itu, Sekar menoleh ke belakang. Petugas SAR itu terus menariknya menjauh, tapi mata Sekar terkunci pada gelombang aneh yang kini mulai surut.

Ia melihat sesuatu di sana. Di antara buih putih yang mendesis marah di atas pasir, ada sosok bayangan yang terbentuk dari air. Bukan sosok wanita berkebaya hijau yang selama ini ia hormati.

Bayangan itu besar. Berotot. Memegang sesuatu yang panjang bercabang tiga.

Bayangan itu hanya terbentuk sekejap, mungkin tidak sampai satu detik, sebelum hancur kembali menjadi air laut biasa. Tapi sisa energinya tertinggal di udara. Udara menjadi berat dan bermuatan listrik statis. Bulu kuduk di leher Sekar berdiri, bukan karena dingin, tapi karena rasa terancam yang primitif.

Ada tamu yang datang. Tamu yang tidak mengetuk pintu, melainkan mendobraknya hingga engselnya patah.

Sekar menggigil. Ia merasakan getaran aneh di telapak kakinya yang masih menapak pasir. Tanah di bawahnya seperti merintih. Bukan gempa tektonik. Ini getaran penolakan. Pasir pantai selatan menolak pijakan kaki asing itu.

"Kamu gila ya, Mbak! Bengong saja pas air naik!" bentak petugas SAR itu setelah berhasil menyeret Sekar ke area parkir aspal yang aman. Napas pria itu memburu, wajahnya pucat.

"Maaf, Pak," cicit Sekar pelan. Ia tidak bisa menjelaskan apa yang ia lihat. Siapa yang akan percaya? Bahwa ia baru saja melihat laut mencoba membentuk wujud seorang pria raksasa?

Petugas itu menggelengkan kepala, lalu berlari kembali ke arah pantai untuk membantu mengevakuasi pedagang yang barang dagangannya hanyut.

Sekar berdiri sendirian di pinggir aspal, basah kuyup dari lutut ke bawah. Air laut yang membasahi jariknya terasa aneh di kulit. Gatal. Panas. Rasanya ia ingin segera mandi kembang tujuh rupa untuk melunturkan sisa air itu dari kulitnya.

Ia menatap kembali ke lautan yang kini tampak mendidih. Langit semakin gelap, tapi bukan gelap malam yang menenangkan. Ini gelap yang menjanjikan badai.

Dan untuk pertama kalinya seumur hidupnya mengabdi pada Keraton dan Laut Selatan, Sekar merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya dari arah samudra.

Ia merasakan ketakutan.

Bukan ketakutan manusia terhadap alam. Tapi ketakutan alam itu sendiri. Lautan di depannya sedang bersiap-siap. Bukan untuk menyambut kekasih, tapi untuk menghalau pemerkosa.

Di telinganya, suara debur ombak berubah. Suaranya tidak lagi byuur, melainkan terdengar seperti derap kaki ribuan kuda yang berlari di atas air, mendekat, semakin dekat, membawa pesan perang dari negeri yang jauh. Sebuah ego raksasa sedang mencoba memaksakan kehendaknya pada ratu yang paling keras kepala di nusantara.

Sekar meremas ujung kebayanya. Perasaannya mengatakan, besok pagi, dunia tidak akan lagi sama. Tamu itu sudah mengetuk, dan dia membawa palu godam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!