Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ornamen Akhir Tahun
Bulan Desember hampir mencapai separuhnya, beberapa bangunan mulai menampilkan ornamen-ornamen natal, menghias berbagai sudutnya, seolah semua telah dipersiapkan untuk menyambut salju yang belum ada tanda-tanda akan turun dalam waktu dekat.
Namun suka cita itu tak berlaku bagi Khalila, gadis itu harus terus bersembunyi di antara tumpukan sampah, di salah satu sudut pusat perbelanjaan yang sudah tutup tengah malam itu.
Deru napasnya tercekat, saat sekuat tenaga ia harus membungkam mulutnya sendiri dan menahan napas, 'Tolong! Tolong pergilah!' teriaknya dalam hati, matanya melebar dengan rasa takut.
Bau udara basi dan sampah memenuhi hidungnya, membuat perutnya bergolak. Dia mencoba menyusut lebih dalam ke dalam bayang-bayang, berusaha menyembunyikan diri saat ia kembali mendengar langkah berat yang semakin mendekat.
Kemudian siulan pun terdengar dari mulut pria asing yang akhirnya duduk di bangku, tak jauh dari tempat Khalila bersembunyi.
Klek
Terdengar jelas bunyi pematik api dimainkan, kemudian pria itu mengepulkan asap rokoknya ke udara, membuat ketegangan semakin nyata bagi Khalila.
"Kau... adalah hiasan natal yang kupilih." Pria itu bergumam lirih, kemudian bangkit.
Suara pria itu, rendah dan serak, mengirimkan rasa dingin di sepanjang tulangnya. Kata-kata itu terasa seperti racun, membuat kulitnya merinding. Pikiran Khalila dipenuhi dengan kepanikan dan rasa takut saat pria itu menariknya ke atas, genggamannya seperti penjepit di sekitar pergelangannya.
Beberapa langkahnya yang lebar, cukup ia ambil hingga akhirnya berdiri tepat di depan Khalila yang terkejut.
Tubuh gadis itu gemetar hebat, "Ampun! Ampuni aku... tolong!" pekiknya.
Tapi pria itu hanya tertawa, suaranya terdengar semakin dingin tanpa emosi, saat dia menariknya lebih dekat, “Kau milikku,” bisiknya, napas panas di telinganya, membuat kulit Khalila merinding.
Pria itu, semakin erat merangkul pinggang ramping Khalila, membuat gadis itu hanya bisa pasrah. Dengan langkah setengah terseret, ia terpaksa mengikuti si pria hingga berakhir di sebuah pondok tak jauh dari pusat perbelanjaan itu. Pintu pondok yang sudah lapuk terbuka dengan derak, memperlihatkan interior yang gelap dan penguh. Pria itu menarik Khalila masuk, dan dengan sekali tendang, pintu itu tertutup, membuat Khalila terjebak dalam kegelapan.
Pria itu mengikat dua tangan dan kaki Khalila dengan tali yang kasar, membuatnya tak bisa bergerak. Kemudian, dia meninggalkan Khalila sendirian di dalam pondok gelap itu. Tak lama kemudian, pria itu kembali membawa secangkir kopi, dan duduk di sudut ruangan, menatap keluar jendela dengan tatapan kejam, gelap, dan kosong.
"Natal tahun ini, akan kusajikan daging panggang yang lezat untuk kalian," ujarnya dengan suara yang membuat darah Khalila membeku.
Tepat setelah pria itu berucap, terdengar lolongan anjing dari arah hutan, membuat suasana semakin mencekam. Khalila mencoba melawan ikatan talinya, tapi semakin dia bergerak, semakin kuat ikatan itu. Pria itu masih duduk di sudut, tidak menoleh ke arah Khalila, tapi senyum jahatnya masih terukir di wajahnya...
…………
Di salah satu sudut pasar tua, di kota yang sama, seorang pria paruh baya, mengenakan topi santa dan baju yang telah usang, terlihat sibuk dengan pekerjaannya di sebuah bengkel tua, tepat ia membuat berbagai ornamen natal.
Kemudian dua pelanggan memasuki bengkel itu dengan ekspresi galak, bahkan tanpa mengucapkan permisi.
"Kau yakin kan, pesananku akan selesai tepat waktu? Pastikan semua selesai sebelum putriku pulang!" gertak salah satu pelanggan itu.
"Jangan khawatir, lihatlah aku sedang mengerjakannya." jawab datar si pemilik toko tanpa menoleh dari meja kerjanya. Jari-jarinya yang mulai keriput, tak henti-hentinya bekerja.
"Jangan terlalu galak suamiku, kau tak lupa kan, dia itu mantan pembunuh. Aku khawatir...." kata istri pelanggan itu, suaranya sedikit merendah.
"Dia sudah tua, dia tak mungkin punya kemampuan untuk melakukan hal-hal seperti itu. Kau juga lihat kan, ada gembok dengan chip di kakinya, yang artinya dia bebas dengan syarat, dan petugas masih mengawasinya," jawab suami itu, mencoba menenangkan istrinya.
Pria paruh baya itu tetap fokus pada pekerjaannya, tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tapi, matanya yang tajam, sejenak melirik jam di tangannnya, sebelum kembali ke pekerjaannya. Dia mengambil sebuah ornamen natal yang setengah jadi, dan kembali mengukir detail-detail halus di atasnya.
"Baiklah, aku percaya padamu," kata pelanggan itu akhirnya, setelah istri dan dirinya bertukar pandang. "Tapi, jika tidak selesai tepat waktu, aku tidak akan ragu untuk mengambil tindakan."
Pria paruh baya itu hanya mengangguk, tidak menunjukkan emosi yang berarti. Namun saat pelanggan itu pergi, sesuatu mulai bergemuruh dalam benaknya.
"Benar, aku memang seorang pembunuh...." gumamnya mengambang, lalu bangkit, menyeduh kopi dan berdiri menatap keluar jendela dengan memegang gelas kopi ditangannya. Pikirannya melayang pada tangis dan tawa seorang bocah kecil. "Ayah!" panggil bocah perempuan itu. Dan ingatan itu membuat si pria tua itu menitikkan air mata.
"Ah, aku harus kembali bekerja." Ucapnya kemudian menyeruput kopi, meletakkan gelas di kisi jendela dan kembali duduk fokus dengan pekerjaannya.
Pria tua itu duduk kembali di meja kerjanya, tapi pikirannya masih melayang di masa lalu. Dia mengambil pahat dan kayu, mulai mengukir dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya. "Benar, aku memang seorang pembunuh...." gumamnya lagi.
Pria tua itu terus mengukir, mencoba mengusir kenangan-kenangan dan penyesalan yang membuat hatinya semakin terasa berat.
...****************...
Bersambung