Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga yang Terluka
Matahari sore di Aeryon City tampak seperti luka yang menganga, menyiram langit dengan warna merah keunguan yang dramatis. Di area belakang kampus—sebuah lorong sempit yang terjepit di antara gedung laboratorium tua dan tembok tinggi pembatas wilayah Upper-East—suasananya jauh dari kata damai.
Dareen Christ berdiri tenang, meskipun di depannya ada lima pria bertubuh kekar mengenakan jaket kulit gelap. Mereka bukan mahasiswa. Dari tato di leher dan cara mereka memegang pemukul kasti, Dareen tahu mereka adalah orang suruhan Julian yang disewa dari distrik kumuh di pinggiran Uptown.
"Pesan dari Tuan Muda Julian," desis salah satu pria yang hidungnya pesek. "Dia bilang, kau terlalu sombong untuk ukuran seorang anjing penjaga."
Dareen melepaskan kacamata peraknya, melipatnya dengan rapi, dan menyimpannya di saku kemeja putihnya. Dia tidak ingin merusak aset yang diberikan Seldin untuk pendidikannya. "Julian seharusnya mengirim lebih banyak orang jika ingin membuatku terkesan," jawab Dareen datar, tanpa riak emosi sedikit pun.
Serangan itu datang secara bersamaan. Pria pertama mengayunkan pemukul kasti ke arah kepala Dareen. Dengan refleks yang lahir dari medan perang, Dareen merunduk, membiarkan kayu itu menghantam angin, lalu membalas dengan pukulan uppercut yang telak ke rahang lawan hingga terdengar suara gemertak tulang.
Dareen berkelahi dengan efisiensi yang mengerikan. Dia tidak banyak bergerak, namun setiap serangan yang dia lepaskan bersifat melumpuhkan. Dia sengaja tidak mengeluarkan senjata api atau pisau taktisnya; dia tidak ingin meninggalkan jejak yang bisa menarik perhatian polisi kampus atau otoritas Aeruland. Ini harus menjadi perkelahian "mahasiswa" yang biasa.
Namun, jumlah lawan yang banyak membuatnya harus menerima satu-dua pukulan. Sebuah hantaman keras dari arah samping mengenai sudut bibirnya, membuatnya terhuyung sejenak. Rasa anyir darah segera memenuhi mulutnya. Dareen menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, menatap noda merah itu dengan dingin sebelum kembali menyerang dengan lebih beringas.
Lima menit kemudian, lima pria itu tergeletak di aspal yang lembap, mengerang kesakitan. Dareen merapikan kemejanya yang sedikit kusut, meskipun ada noda tanah dan bercak darah kecil di sana. Dia mengambil napas panjang, menenangkan jantungnya, lalu berjalan kembali menuju gedung utama seolah-olah dia baru saja menyelesaikan tugas di perpustakaan.
Seraphina Aeru sudah menunggu di dalam kelas seminar yang hampir kosong. Dia terus melirik arlojinya, merasa gelisah karena Dareen menghilang setelah jam kuliah berakhir. Begitu pintu terbuka dan sosok tinggi itu muncul, Sera langsung berdiri.
"Kau ke mana saja—" Kalimat Sera terhenti. Matanya membelalak saat melihat sudut bibir Dareen yang pecah dan membiru, serta noda darah yang mengering di kemejanya. "Dareen! Apa yang terjadi?"
Dareen berjalan menuju kursinya, hendak mengambil tas. "Hanya kecelakaan kecil di area parkir, Nona. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Kecelakaan tidak membuat bibirmu pecah seperti itu! Itu perbuatan Julian, kan?" Sera mendekat, jemarinya yang gemetar mencoba menyentuh wajah Dareen, namun pria itu menghindar dengan sopan.
"Jangan di sini," bisik Sera tegas. "Ayo ke mobil. Aku punya kotak P3K di sana. Sekarang, Dareen!"
Dareen terpaksa mengikuti langkah cepat Seraphina menuju parkiran VIP yang sepi. Di dalam kabin sedan mewah yang kedap suara, suasana terasa jauh lebih intim. Sera menarik kotak medis dari bawah kursi dan segera mengeluarkan kapas serta cairan antiseptik.
"Duduk di kursi belakang bersamaku," perintah Sera.
Dareen menurut, duduk kaku di samping gadis itu. Sera mulai membersihkan luka di bibir Dareen dengan sangat hati-hati. Wajah mereka sangat dekat, hingga Sera bisa mencium aroma keringat dan adrenalin yang masih menguar dari tubuh Dareen.
"Kenapa kau tidak melawan dengan serius? Kau bisa saja menghabisi mereka dalam sekejap," gumam Sera sambil menekan kapas ke bibir Dareen.
"Aw," Dareen mendesis pelan, otot rahangnya menegang. "Saya tidak ingin membuat keributan yang bisa merusak reputasi Anda di kampus, Nona. Tugas saya adalah menjaga semuanya tetap tenang."
Sera berhenti mengobati. Matanya menatap bibir Dareen yang bengkak, lalu naik menatap mata gelap pria itu. Ingatannya kembali ke perpustakaan kemarin—tentang ciuman yang menghancurkan dunianya.
"Tugasmu adalah menjagaku," bisik Sera, jemarinya kini tidak lagi memegang kapas, melainkan mengelus rahang Dareen yang tegas. "Tapi kenapa aku merasa kaulah yang paling butuh dijaga sekarang?"
Sera mencondongkan tubuhnya, bibirnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Dareen. "Cium aku lagi, Dareen. Seperti di perpustakaan. Anggap saja ini sebagai obat bius agar bibirmu tidak terasa sakit lagi."
Dareen memalingkan wajahnya sedikit, mencoba mempertahankan benteng pertahanannya yang mulai retak. "Nona, ini tidak benar. Bibir saya sedang luka, dan saya ... saya sedang tidak ingin melakukan kesalahan kedua hari ini."
"Kesalahan?" Sera tertawa kecil, suara tawanya terdengar parau dan menggoda. "Kau menyebut hal terindah itu sebagai kesalahan? Kau sangat menyedihkan, Dareen Christ."
Sera sengaja memainkan kancing kemeja Dareen, memutar-mutarnya dengan manja. "Kau tahu, aku ini gadis yang haus kasih sayang. Seldin tidak pernah ada, dan orang tuaku sudah tiada. Jika pengawalku sendiri menolak untuk menyentuhku, mungkin aku harus mencari pria lain. Mungkin aku harus memanggil Julian kembali, atau mungkin mahasiswa baru di kelas ekonomi itu ...."
Mendengar nama pria lain disebut, sesuatu di dalam diri Dareen seolah meledak. Dia adalah seorang prajurit, dan dia tidak pernah suka jika wilayah kekuasaannya diganggu—terutama jika wilayah itu adalah Seraphina Aeru.
"Jangan pernah menyebut pria lain di depan saya," desis Dareen, suaranya rendah dan penuh ancaman.
"Kenapa? Kau tidak punya hak untuk melarangku, kecuali jika kau mau melakukannya sendiri—"
Belum sempat Sera menyelesaikan kalimatnya, Dareen sudah mencengkeram tengkuknya. Pria itu membungkam bibir Sera dengan ciuman yang jauh lebih brutal daripada di perpustakaan. Dareen seolah melupakan luka di sudut bibirnya sendiri; dia hanya ingin membuktikan dominasinya.
Sera mengerang di tengah ciuman itu, merasakan rasa anyir darah Dareen bercampur dengan rasa haus mereka yang tak terpuaskan. Ciuman itu tidak memiliki ritme; itu adalah perebutan kekuasaan, sebuah ungkapan kecemburuan yang gelap yang telah lama dipendam Dareen di bawah jas hitamnya.
Tangan Dareen yang tadinya berada di tengkuk Sera, perlahan turun. Seolah kehilangan kesadaran akan protokol dan kontrak kerja, tangannya merayap masuk ke balik jaket tipis yang dikenakan Sera. Gerakannya kasar namun penuh gairah saat telapak tangannya yang hangat dan kapalan mulai meraba area dada Sera di balik kain gaunnya yang halus.
"Ah—Dareen ..." Sera mengerang kecil, tubuhnya melengkung saat merasakan sentuhan nakal tangan Dareen. Ini adalah wilayah yang belum pernah disentuh siapa pun, dan fakta bahwa Dareen-lah yang melakukannya membuat jantungnya berdegup hingga ke ujung jari kaki.
Dareen terus menyerang bibir Sera, sementara tangannya memberikan tekanan yang membuat napas gadis itu semakin memburu. Di dalam mobil yang tertutup itu, udara terasa terbakar. Dareen seolah ingin melumat seluruh eksistensi Seraphina, menandainya sebagai miliknya agar tidak ada pria lain di Aeruland yang berani mendekat.
Namun, saat tangan Dareen mencoba meraba lebih jauh ke bawah, sebuah suara klakson mobil lain di kejauhan menyadarkan mereka dari kegilaan itu.
Dareen tersentak. Dia menarik tangannya dengan cepat seolah baru saja menyentuh bara api. Dia menjauhkan wajahnya, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari maraton. Dia menatap tangannya sendiri dengan tatapan ngeri, lalu menatap Sera yang rambutnya kini berantakan dan bibirnya merah membara.
"Saya ... saya benar-benar minta maaf," suara Dareen terdengar pecah, penuh dengan rasa bersalah yang amat sangat. Dia segera bergeser ke pojok kursi, menjaga jarak sejauh mungkin dari Seraphina.
Sera terduduk diam, mencoba menata napasnya yang kacau. Jantungnya masih berdegup kencang, dan sensasi sentuhan Dareen di dadanya masih terasa membekas, memberikan rasa hangat yang aneh sekaligus mendebarkan.
Keheningan yang sangat canggung menyelimuti kabin mobil. Tidak ada lagi godaan, tidak ada lagi ejekan. Hanya ada dua orang yang baru saja menyadari bahwa mereka telah melewati batas yang tidak mungkin bisa ditarik kembali.
"Dareen," panggil Sera lirih, suaranya masih bergetar.
"Jangan bicara, Nona," potong Dareen, matanya terpaku pada kaca jendela. "Saya akan mengantar Anda pulang. Dan tolong... lupakan apa yang baru saja terjadi. Ini adalah penghinaan terbesar bagi profesi saya."
Seraphina tidak menjawab. Dia membenahi gaunnya dan duduk tegak, menatap punggung kepala Dareen yang kini kembali kaku. Dareen memasang kembali topeng profesionalnya, namun Sera tahu, di bawah kemeja putih yang bernoda darah itu, ada seorang pria yang baru saja kalah dalam perang melawan perasaannya sendiri.
Dan Sera? Dia justru semakin menyukai permainan ini. Dia tahu sekarang, dia telah berhasil membakar sistem operasi si "robot", dan dia tidak akan membiarkan api itu padam begitu saja.
"Jalanlah, Dareen," ujar Sera dengan nada yang kembali tenang, namun ada kilatan kemenangan di matanya. "Kita tidak ingin Seldin menunggu, bukan?"
Dareen mengangguk kecil tanpa suara, lalu menghidupkan mesin mobil. Saat kendaraan mewah itu meluncur keluar dari area kampus, keduanya tahu bahwa mulai besok, segalanya akan menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar tugas kuliah atau intimidasi pada Julian.