Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).
Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.
Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.
---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Remaja
## SELAMAT MEMBACA ##
Waktu berlalu seperti kilat di dunia digital. Sepuluh tahun kemudian, kediaman Satya tidak lagi dipenuhi suara tangisan bayi, melainkan suara perdebatan taktis yang jauh lebih kompleks. Arsen, kini seorang remaja berusia 15 tahun yang jenius namun tetap memiliki aura komando, telah mendirikan sebuah unit rahasia di sekolahnya yang dikenal sebagai *"The Unit"*.
Anggotanya? Tentu saja sang adik, Aurora (10 tahun), yang tumbuh menjadi gadis atletis dengan tatapan mata sedingin ibunya, dan Wira (10 tahun), putra Galih dan Dania yang benar-benar menjadi hacker cilik bertangan dingin. Meskipun masih umur 10 tahun, Aurora dan Wira sudah kelas VII karena menempuh jenjang akselerasi berkat kecerdasan mereka. Arsen juga cerdas, tapi dia tidak ingin kehilangan masa-masa mudanya. Jika Arsen seperti kedua adiknya mungkin sudah menjadi Mahasiswa. Mereka bertiga satu sekolah, alasannya agar mempermudah jika ada 'rapat darurat' (Ya.... apalagi...kalau bukan rapat di unit rahasianya).
*
*
*
Pagi itu, di markas rahasia mereka (yang sebenarnya adalah gudang tua di belakang rumah Satya yang sudah dimodifikasi dengan banyak monitor), Arsen memukul meja dengan penggaris besi.
"Personel, perhatian!" seru Arsen. "Kita punya kasus tingkat tinggi. Anak Kepala Sekolah kehilangan kunci jawaban ujian akhir yang disimpan di dalam server terenkripsi. Dia dituduh mencurinya, padahal dia dijebak oleh geng kelas sebelah."
Aurora sedang melakukan push-up satu tangan di pojok ruangan. "Siapa targetnya, Kak? Perlu aku 'ajak bicara' secara fisik?"
"Jangan dulu, Dek," jawab Arsen. "Kita butuh bukti digital. Wira, bagaimana status bypass firewall sekolah?"
Wira, yang memakai hoodie kebesaran dan kacamata antiradiasi, jemarinya menari di atas keyboard. "Gampang, Kak. Sistem keamanan sekolah kita itu seperti pintu yang tidak dikunci, cuma dikasih tulisan 'Jangan Masuk'. Aku sudah masuk ke log aktivitas server."
Sementara itu, di ruang tengah, Ankara dan Arindi sedang menikmati teh pagi. Ankara melihat ke arah gudang belakang melalui jendela.
"Kau tahu, sayang? Aku merasa sedang membesarkan sebuah sindikat intelijen kecil di halaman belakang kita," gumam Ankara sambil menggelengkan kepala.
Arindi tersenyum tipis, menyesap tehnya. "Selama mereka tidak melanggar hukum dan hanya membela murid yang tertindas, biarkan saja. Lagipula, Galih bilang Wira kemarin membantu divisi siber kepolisian melacak pelaku scamming hanya karena dia bosan."
Tiba-tiba, pintu rumah terbuka dengan kasar. Galih masuk dengan wajah panik, diikuti Dania yang sedang memegang tablet.
"Ankara! Arindi! Apakah anak-anak kalian sedang melakukan operasi?" tanya Galih. "Sistem absensi di kantorku mendadak berubah. Semua polisi di daftar hari ini tercatat 'Izin Menonton Pertandingan Basket SMP 1'."
"WIRA!" teriak Dania gemas. "Dia pasti butuh pengalihan agar Ayahnya tidak lewat di depan sekolah saat mereka melakukan sesuatu!"
Kembali ke markas "The Unit", rencana sedang dijalankan. Aurora menyelinap ke ruang OSIS dengan kelincahan seorang ninja, menggunakan smartwatch yang sudah dimodifikasi Dania untuk menyalin data dari komputer ketua OSIS yang dicurigai sebagai pelaku asli.
"Sektor C aman. Data sudah terunggah," lapor Aurora lewat earpiece.
"Bagus. Wira, kunci sistemnya. Jangan biarkan mereka menghapus jejak!" perintah Arsen.
Namun, operasi mereka hampir gagal saat satpam sekolah melakukan patroli mendadak. Aurora terjebak di balik lemari. Arsen yang memantau lewat drone kecil di luar sekolah mulai berkeringat dingin.
"Mama... aku butuh taktik pengalihan tingkat tinggi," bisik Arsen ke arah earpiece cadangan yang terhubung ke ponsel Arindi (karena ia tahu Mamanya pasti sedang memantau aktivitas mereka).
Di ruang tengah rumah Satya, Arindi menghela napas, lalu mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan singkat ke satpam sekolah tersebut—yang ternyata adalah mantan anak buahnya dulu di kepolisian.
"Yudha, cek gerbang belakang. Aku melihat ada kucing liar yang membawa lari tas makan siangmu."
Satpam itu langsung berlari ke gerbang belakang, memberi jalan bagi Aurora untuk keluar lewat jendela dengan gaya parkour yang sempurna.
*
*
*
Sore harinya, kasus selesai. Bukti dikirim secara anonim ke meja Kepala Sekolah. Pelaku asli tertangkap, dan anak Kepala Sekolah yang difitnah bersih dari tuduhan.
Ketiga remaja itu pulang ke rumah Satya dengan wajah penuh kemenangan. Namun, mereka disambut oleh empat orang dewasa yang berdiri dengan tangan bersedekap di ruang tamu.
"Laporannya, Jenderal Arsen?" tanya Ankara dengan nada sarkastik namun bangga.
Arsen berdeham, mencoba tetap berwibawa. "Misi sukses, Papa. Tidak ada korban jiwa, hanya beberapa sistem sekolah yang perlu di-patch ulang oleh Tante Dania."
Galih mendekati putranya, Wira. "Wira, Ayah bangga kau membantu orang. Tapi tolong, jangan ubah status absensi satu polsek lagi hanya untuk kencan... eh, maksud Ayah, untuk operasi sekolahmu."
Dania tertawa dan merangkul mereka semua. "Sepertinya 'The Unit' butuh pendanaan baru. Bagaimana kalau kita buatkan ruang kontrol yang lebih canggih di bawah tanah?"
Arindi dan Ankara saling berpandangan. Mereka tahu, kehidupan mereka yang sekarang bukan lagi tentang "Switching Sides", tapi tentang memandu generasi baru ini agar tetap berada di sisi yang benar meski dengan cara yang sedikit nakal dan sangat jenius.
"Baiklah," ucap Arindi sambil merangkul Aurora. "Tapi syaratnya satu: nilai matematika kalian tidak boleh di bawah 95, atau aku yang akan membubarkan unit ini sendiri."
"Siap, Komandan Mama!" seru ketiga remaja itu serempak, memberikan hormat militer yang membuat seluruh rumah kembali dipenuhi oleh tawa dan semangat masa muda.
---
Suasana di Markas Besar "The Unit" mendadak berubah menjadi canggung. Arsen, sang Jenderal yang biasanya tidak pernah gentar menghadapi firewall paling rumit sekalipun, kini hanya duduk terpaku menatap layar monitor yang menampilkan profil media sosial seorang gadis bernama Clara.
"Dia suka astronomi, Kak. Dan menurut data algoritma yang aku jalankan, dia sering menghabiskan waktu di perpustakaan setiap hari Selasa saat jam istirahat kedua," lapor Wira sambil mengunyah permen karet.
Aurora yang sedang mengasah keterampilan lempar pisau (menggunakan pulpen dan papan gabus) mendengus. "Kakak sudah memantau profilnya selama tiga hari. Kalau ini adalah misi infiltrasi, Kakak sudah gagal karena terlalu lama jadi tukang stalking. Langsung saja datangi, tanyakan apakah dia mau belajar bersama, selesai. Kakak saja suka ribet, padahal cowok lho!"
"Ck....Ini beda, Aurora!" bantah Arsen dengan wajah sedikit memerah. "Ini membutuhkan pendekatan psikologis yang presisi. Aku tidak bisa sembarangan masuk ke radarnya tanpa alasan yang logis."
Wira dan Aura memutar bola matanya, malas.
Di tengah perdebatan taktis itu, pintu gudang terbuka. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 11 tahun masuk dengan gaya yang sangat energik. Dia adalah Arkanza Narumi Sagara, putra kedua Alan dan Reyna, sekaligus adik kesayangan Aira . Berbeda dengan Aira yang tenang dan destruktif secara diam-diam saat menginjak remaja, Arkan seperti bola energi yang tidak bisa diam padahal dulu yang pendiam adalah sang adik .
"Kak Sen! Wira! Rora!" seru Arkan sambil melompat ke kursi putar Wira. "Kak Aira bilang kalian sedang ada misi rahasia! Aku mau ikut! Bagian jadi mata-mata tidak apa-apa! Hehehehe...."
Wira menghela napas. "Kak Ark, ini misi tingkat tinggi. Misi hati. Anak kecil belum mengerti."
"Gak kebalik tuh? Mentang - mentang sudah SMP! Pokoknya ikut!" bantah Arkan sambil mengeluarkan sebuah permen karet dari saku celananya. "Aku sering lihat Kak Aira diam-diam melihat.... foto inisial 'W.I.R.A' di ponselnya! Itu juga misi hati, kan?" sambil meledek ke arah Wira.
Wira seketika tersedak permen karetnya, sementara Aurora tertawa terbahak-bahak. "Nah, Wira, sepertinya senjatamu makan tuan."
Arsen akhirnya memutuskan untuk memulai "Operasi Cupid". Strateginya: Arsen akan berpura-pura sedang membaca buku astronomi yang sama dengan Clara di perpustakaan. Namun, tantangan muncul saat Arkan bersikeras ingin membantu.
"Aku bisa jadi pengalih perhatian!" usul Arkan. "Aku akan lari ke arah Kak Clara, lalu pura-pura jatuh. Nanti Kakak datang jadi pahlawan!"
"Terlalu drama," tolak Arsen.
Namun, saat di sekolah, Arkan yang sedang ikut menjemput Aira malah benar-benar beraksi. Saat melihat Arsen berdiri kaku lima meter dari meja Clara di perpustakaan umum sekolah, Arkan berlari masuk.
"KAK CLARA!" teriak Arkan dengan suara cemprengnya. Seluruh perpustakaan menoleh.
Clara mendongak, bingung. "Iya? Adik siapa?"
Arkan menunjuk Arsen yang pura-pura sibuk membaca buku (terbalik). "Itu Kak Arsen! Dia bilang Kak Clara lebih cantik dari bintang Sirius! Dia mau ajak Kakak lihat teleskop, tapi dia malu karena ketiaknya berkeringat!"
Arsen merasa dunianya runtuh seketika. Wira yang memantau lewat mikrofon tersembunyi di kerah Arkan langsung menepuk jidatnya. "Batalkan misi! Batalkan misi! Personel Arkan telah menghancurkan seluruh protokol! Gila nih anak, padahal usianya lebih tua dia daripada aku!"
Namun, di luar dugaan, Clara justru tertawa kecil. Dia menatap Arsen yang wajahnya sudah semerah tomat. "Sirius? Itu bintang paling terang di langit malam, lho. Pujian yang berat."
Arsen, dengan sisa-sisa wibawa jenderalnya, akhirnya mendekat. "Maafkan adik sepupuku, dia... imajinasinya terlalu liar. Tapi, soal teleskop itu... aku memang punya satu yang cukup bagus di rumah."
"Benarkah? Aku sedang mencari referensi untuk tugas esai astronomi," jawab Clara ramah. "Mungkin kita bisa diskusi?"
Di balik rak buku, Aurora memberikan jempol ke arah Arkan. Arkan melakukan tarian kemenangan kecil. "Misi sukses! Kak Arsen dapat teman kencan!"
Sore harinya, di rumah keluarga Rumi, Alan dan Reyna sedang mendengarkan laporan dari Aira tentang ulah Arkan di sekolah tadi.
"Arkan benar-benar melakukan itu?" tanya Alan sambil tertawa bangga. "Anakku memang punya bakat 'dobrak pintu' yang luar biasa."
"Dia terlalu berani, Yah," keluh Aira yang pipinya masih memerah karena bocoran rahasianya oleh Arkan tadi pagi.
Arindi dan Ankara yang datang berkunjung hanya bisa menggelengkan kepala. "Setidaknya Arsen sekarang tidak lagi bicara soal algoritma di depan komputer," ujar Arindi. "Dia sedang sibuk membersihkan lensa teleskopnya."
Ankara merangkul Arindi, menatap Arkan yang sedang dikejar-kejar Wira di halaman karena telah membocorkan rahasia Aira. "Keluarga kita memang tidak pernah normal, tapi setidaknya kita punya 'unit' cadangan yang cukup berisik untuk memastikan hidup kita selalu penuh warna."
Malam itu, "The Unit" merayakan kesuksesan misi dengan memesan pizza besar. Arkan diangkat menjadi "Agen Kehormatan" berkat keberaniannya menghancurkan protokol, sementara Arsen akhirnya belajar satu hal penting: dalam urusan cinta, terkadang taktik paling efektif adalah taktik yang paling tidak terduga dan sedikit bantuan dari adik sepupu yang super aktif.
---
Bersambung...