NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPLP 1

“Hati-hati ya, Nak. Bagaimanapun… Mama minta kamu pulang dengan selamat. Tugas memang harus dijalankan, tapi ingat selalu waspada dan jangan pernah lengah,” nasihat Bunga dengan suara lembut, namun sarat kecemasan.

“Iya, Mama sayang,” jawab Zaidan sambil tersenyum. “Doakan Zaidan, ya. Biar kegiatan hari ini lancar dan Zaidan bisa pulang tanpa kurang apa pun.”

Laki-laki itu memeluk sang mama erat sejenak, seolah ingin menyimpan kehangatan itu lebih lama.

“Mau langsung berangkat, Dan?” tanya Fadi yang baru saja masuk ke kamar dan mendapati keduanya tengah duduk di atas ranjang.

“Iya, Pa. Masih ada briefing pagi. Anak-anak sudah nunggu di kantor,” jawab Zaidan mantap.

Fadi menepuk pelan pundak anak bungsunya itu. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Jika dulu Zaidan adalah bocah yang kerap bertengkar dengan kakaknya, Aqilla, kini pemuda itu telah tumbuh menjadi lelaki dewasa dengan tanggung jawab besar di pundaknya.

“Sukses operasinya hari ini,” ucap Fadi.

“Aamiin,” sahut Bunga dan Zaidan hampir bersamaan.

“Zaidan berangkat dulu. Assalamualaikum.”

Ia menyalami kedua orang tuanya bergantian, mencium tangan mereka dengan penuh takzim, sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar.

Zaidan berjalan menuju depan rumah. Motor Kawasaki Ninja 250 berwarna hitam metalik sudah terparkir rapi, seolah siap menemaninya menghadapi hari yang penuh risiko.

Udara subuh yang masih dingin membuatnya mengencangkan resleting jaket kulit hitam yang membungkus kaus polo polos senada. Helm full face ia kenakan, memastikan pengaitnya terpasang sempurna. Setelah yakin semuanya siap, Zaidan menyalakan mesin motor dan perlahan keluar dari halaman rumah.

Jalanan masih lengang. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang sedikit lembap. Zaidan memacu motornya dengan kecepatan sedang, pikirannya fokus pada agenda hari ini.

‘Operasi.’

Bukan operasi medis seperti yang sering dilakukan mamanya di rumah sakit. Operasi yang akan ia pimpin hari ini adalah operasi penggerebekan kampung narkoba—wilayah rawan yang sudah lama menjadi target Ditresnarkoba.

Zaidan yang berpangkat IPTU dan dipercaya menduduki posisi Kanit Operasional Ditresnarkoba. Jabatan yang tidak datang begitu saja, melainkan hasil dari kerja keras, disiplin, dan sederet operasi berisiko yang berhasil ia pimpin selama beberapa tahun terakhir.

Tamat dari SMK, keputusan Zaidan untuk mendaftar AKPOL sempat mengejutkan kedua orang tuanya. Ia tidak pernah banyak bercerita. Hanya tiba-tiba datang dengan tekad bulat, menyatakan ingin mengabdi sebagai anggota kepolisian. Sejak kelas dua SMA, Zaidan memang terlihat lebih sering berolahraga dan menjaga fisik, namun tak ada yang menyangka ia tengah mempersiapkan diri secara serius.

Lulus sebagai salah satu lulusan terbaik dan menyandang pangkat Ipda kala itu, Zaidan langsung ditempatkan di kesatuan narkoba. Kini, dengan pangkat IPTU, ia menjadi kebanggaan keluarga, terlebih sebagai cucu laki-laki satu-satunya.

Tak lama kemudian, gerbang besar bertuliskan Direktorat Reserse Narkoba terlihat di depan mata. Zaidan memperlambat laju motornya, lalu berhenti di pos penjagaan. Setelah memberi salam dan menunjukkan identitas, ia memarkir motornya di area khusus anggota.

Zaidan melepas helmnya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke gedung. Wajahnya kembali dingin dan profesional. Di dalam ruang briefing, timnya sudah menunggu.

Hari ini, ia bukan lagi sekadar anak bungsu di rumah.

Ia adalah IPTU Zaidan, Kanit Opsnal Subdit Narkoba—pemimpin timnya dalam operasi yang akan menentukan jalannya penegakan hukum hari ini.

“Semua sudah siap?” tanya Zaidan dengan suara tegas, menatap satu per satu anggota tim yang telah berkumpul di ruang briefing.

“Siap, Dan,” jawab salah seorang anggota mewakili yang lain.

“Baik. Langsung ke lapangan untuk persiapan apel pagi,” perintahnya singkat.

“Siap, Dan!”

Mereka keluar dari ruangan itu satu per satu, langkah kaki terdengar serempak menyusuri lorong menuju lapangan depan Mapolda. Udara pagi masih menyisakan dingin, namun ketegangan sudah terasa menggantung sejak awal.

Hari itu bukan hanya tim Zaidan yang bergerak. Operasi ini merupakan operasi gabungan besar yang melibatkan Polri, Badan Narkotika Nasional Provinsi, Koramil, Pom AD dan AU, serta Satpol PP. Sebuah operasi terpadu yang telah dipersiapkan matang selama berbulan-bulan.

Di tengah lapangan, seluruh personel gabungan telah berbaris rapi sesuai instansi masing-masing. Zaidan berdiri di baris depan timnya, memperhatikan sekeliling dengan mata waspada. Arahan terakhir disampaikan langsung oleh Kepala BNNP selaku pimpinan operasi gabungan.

“Tidak ada toleransi. Utamakan keselamatan, pegang SOP, dan jangan lengah,” suara pimpinan itu menggema tegas.

Briefing terakhir usai. Satu per satu kendaraan dinas mulai bergerak meninggalkan Mapolda, membelah jalanan kota yang mulai ramai.

Target mereka jelas.

Sebuah wilayah yang selama ini dikenal dengan julukan kampung narkoba.

Konvoi kendaraan berhenti di beberapa titik strategis di sepanjang jalan keluar-masuk kampung. Zaidan ikut menghentikan mobilnya di salah satu titik yang telah ditentukan. Begitu mesin dimatikan, ia langsung turun.

“Turun! Ikuti saya. Tetap formasi!” perintahnya.

Anggota timnya sigap mengikuti, senjata dan perlengkapan taktis siap digunakan. Kehadiran mereka langsung menyita perhatian warga sekitar. Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi, waktu di mana sebagian warga mulai berangkat kerja, anak-anak berjalan menuju sekolah, dan para ibu bersiap ke pasar.

Bisik-bisik terdengar. Tatapan penasaran bercampur waswas mengiringi langkah aparat masuk ke dalam perkampungan.

Satu per satu rumah diperiksa. Lahan kosong, bangunan semi permanen, hingga sudut-sudut sempit yang tampak mencurigakan tak luput dari penggeledahan. Sebagian warga bersikap kooperatif, membuka pintu dengan wajah tegang dan tangan gemetar.

Namun tidak semuanya berjalan mulus.

“Ini rumah kami! Kalian nggak punya hak masuk sembarangan!” bentak seorang pria dengan nada tinggi.

Zaidan maju selangkah, suaranya tetap tenang namun berwibawa.

“Kami bertindak sesuai prosedur. Silakan bekerja sama, atau kami ambil tindakan tegas.”

Pria itu terdiam, memilih mundur di bawah sorot mata aparat bersenjata.

Zaidan menarik napas pendek. Ia tak habis pikir, bagaimana barang haram itu bisa merusak begitu banyak hal, termasuk akal sehat dan nurani. Tidak hanya yang masih tua, bahkan beberapa orang yang sudah berumur pun diketahui dengan hasil positif.

Waktu terus berjalan. Hingga akhirnya, setelah beberapa jam penggeledahan, target utama mereka berhasil ditemukan.

Seorang pemasok besar narkotika dengan nama yang selama ini hanya muncul dalam laporan intelijen, kini berdiri tak berkutik di hadapan mereka. Barang bukti ditemukan lengkap, tak terbantahkan.

“Target utama diamankan,” lapor salah satu anggota.

Zaidan mendekat. Dengan satu gerakan pasti, borgol dikaitkan di pergelangan tangan pria itu. Klik logam terdengar jelas, seolah menjadi penanda berakhirnya pelarian panjang.

Beberapa anggota bersenjata laras panjang mengawal tersangka keluar dari perkampungan. Warga hanya bisa menonton dalam diam. Zaidan berjalan di samping tersangka itu, tangannya menuntun lengan pria tersebut.

“Nggak bisa mengelak lagi kau sekarang,” gumam Zaidan pelan, namun sarat tekanan.

Tersangka tidak menjawab. Kepalanya tertunduk, langkahnya gontai mengikuti iring-iringan aparat hingga mereka tiba di lokasi kendaraan terparkir.

Sembari menunggu anggota lain yang masih membawa tersangka tambahan, pria itu didudukkan di depan sebuah ruko tua dengan pintu tertutup rapat. Borgol di tangannya berkilat terkena pantulan cahaya matahari pagi.

Zaidan berdiri tak jauh darinya, pandangannya tajam namun wajahnya tetap dingin.

Sampai titik ini, semua berjalan dengan baik seperti yang mereka harapkan. Namun ternyata, sesuatu hal yang tidak pernah mereka sangka-sangka terjadi dan membuat Zaidan beserta timnya terkejut bahkan berhenti napas beberapa saat.

****

Karya baru author lagi. Tolong diramaikan, ya 🥰🥰

Kisah lanjutan dari keluarga Fadi-Flo.

Kenapa Zaidan selanjutnya? Kenapa nggak Aqilla?

Aqillanya belum mau nikah. Masih mau main tomboy-tomboy an dulu 🤭🤭

Selamat membaca, semoga suka ya 😍😍

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!