Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
Bukannya bersedih, Shafira malah merasa senang dan lega setelah Aris menceraikan dirinya.
Sedangkan dari tempatnya, pandangan Aris selalu tertuju pada Shafira, mantan istrinya yang baru saja ia ceraikan itu.
Mantan istrinya itu duduk dengan anggun, mengenakan dress yang membuatnya terlihat sangat cantik. Aris baru menyadari kalau Shafira begitu cantik ketika ia sudah bukan istrinya. Tadi ia tidak memperhatikan Shafira karena ia begitu terkejut dan gelisah karena Shafira tahu kalau ia akan menikah lagi, ditambah suasana yang sempat kacau karena orang-orang tahu kalau ia menikah tanpa sepengetahuan istri pertamanya.
Tatapan Shafira tidak menunjukkan rasa marah, sedih atau kecewa. Justru ada ketenangan yang membuat Aris merasa tidak nyaman.
Ketika ijab kabul berlangsung, ia sempat melirik kearah Shafira, berharap menemukan jejak emosi. Namun yang ia lihat hanyalah senyum tipis. Aris merasa hatinya dihantui perasaan bersalah.
"Mas, selamat ya atas pernikahan kamu, semoga pernikahan kamu yang kedua ini langgeng. Dan terima kasih untuk satu tahun ini. Kamu gak perlu capek-capek urusin masalah perceraian kita. Nanti biar aku yang daftar dan urus semuanya. Kamu tinggal datang aja saat persidangan nanti." ujar Shafira saat akan berpamitan pada Aris sekaligus mengucapkan selamat pada mantan suaminya itu.
Terlihat Fela tersenyum penuh kemenangan sambil bergelayut manja pada Aris, seakan ingin memanasi Shafira dan mengatakan kalau ialah pemenangnya.
Tidak tahu saja kalau saat ini Shafira merasakan kebebasan karna sudah terlepas dari suami pelit model Aris!
"Ra, apa kamu tidak bisa memaafkan dan kembali menerima mas. Mas akan bersikap adil untuk kalian berdua. Mas masih sayang sama kamu Ra." ujar Aris memelas, menghiraukan Fela yang sudah melotot mendengar ucapannya.
"Mas! Kamu ngomong apa sih! Aku gak mau ya kamu kembali sama mantan istri kamu ini." seru Fela melotot.
Shafira tersenyum sinis mendengar Aris yang masih mencoba membujuknya untuk kembali, padahal belum satu jam Aris menjatuhkan talak untuk dirinya.
"Kamu jangan serakah mas, aku sudah memperingatkan kamu dari dulu, kalau aku menolak untuk dimadu. Dan kamu, aku dengan senang hati menyerahkan mas Aris untuk kamu beserta bonus sebagai istri dari mas Aris." ujar Shafira.
"Bonus apa yang kamu maksud." ujar Fela berbinar membayangkan kejutan yang akan ia dapat jadi istri dari Aris.
Tidak tahu saja bonus yang dimaksud Shafira adalah menjadi babu gratisan dirumah Aris. Hahaha.
"Akhirnya keinginan ibu melihat kamu diceraikan Aris sekarang sudah terwujud. Kamu jangan coba-coba rayu anakku lagi. Ibu gak sudi punya menantu mandul seperti kamu lagi." seru bu Ratna yang tiba-tiba muncul.
"Bu Ratna tenang aja, aku gak mungkin mau kembali pada keluarga toxic seperti kalian. Justru sekarang aku bahagia bisa bebas dari anak ibu." ujar Shafira sinis.
"Jangan sombong kamu, dasar menantu tidak tahu diri." seru bu Ratna melotot.
"Eitt.. Aku bukan menantu bu Ratna lagi ya, jadi jangan sebut aku menantu lagi." ujar Shafira mengejek.
"Oh iya, ini kunci rumah ibu. Tenang aja, aku cuma bawa baju-baju lusuh aku aja. Lagian dirumah gak ada barang berharga kan." ujar Shafira lagi sambil menyerahkan kunci rumah pada bu Ratna.
Bu Ratna mendengus kesal mendengar ucapan mantan menantunya itu. Apalagi Shafira tidak terlihat sedih saat Aris menceraikannya. Tidak seperti keinginannya, ia berharap melihat Shafira menangis meraung-raung dan memohon untuk tidak diceraikan oleh Aris.
"Ya udah diskusinya sampai disini aja. Sekali lagi selamat ya mas Aris." Shafira pun berjalan meninggalkan sepasang pengantin dan mantan mertuanya yang masih bengong.
Aris menatap sendu kepergian Shafira. Ia masih tidak percaya kalau Shafira sudah bukan istrinya lagi.
"Lo gak pa pa kan Ra?" Tanya Nita, walau Shafira terlihat tenang, tapi ia ingin memastikan sahabatnya baik-baik saja. Ia juga pernah di posisi seperti ini, diceraikan karna suaminya memilih menikah dengan selingkuhannya.
"Gue gak pa pa, lo tenang aja Nit. Gue malah lebih lega dan ngerasa beban gue udah terangkat semua sejak mas Aris ceraiin gue." ujar Shafira tersenyum lebar.
"Lo tadi keren banget, baru ngeliat gue ada yang ngucapin hamdalah saat dijatuhkan talak." seru Vinna yang tadi sempat melongo melihat reaksi sahabatnya yang diluar nurul saat dijatuhkan talak.
"Ya kali gue nangis guling-guling, gak lah. Yang ada mereka semua malah menertawakan gue kalau gue sampai nangis-nangis.
"Selamat ya bestie, sekarang lo udah terbebas dari keluarga toxic itu. Lo tenang aja, pasti nanti banyak yang antri sama lo, secara lo cantik gini." ujar Vinna.
"Gue gak mau pikirin itu dulu, gue mau fokus sama urusan perceraian gue dulu supaya cepat beres."
"Kita jalan-jalan ke mall yuk, nanti gue traktir lu pada, anggap aja sebagai syukuran karena gue sekarang udah jadi janda." ujar Shafira cengengesan sambil merangkul kedua sahabatnya yang sudah ia anggap saudara itu.
Ia bersyukur karna masih mempunyai kedua sahabatnya yang selalu ada untuknya disaat keluarganya sudah tidak ada.
"Let's go." seru keduanya kompak.
Mereka menuju sebuah restoran yang ada didalam mall tersebut. Ketiganya memesan banyak makanan sebelum mereka lanjut berkeliling.
"Waah.. Makanannya banyak sekali, ini sih benar-benar lagi syukuran." seru Nita saat semua makanan yang mereka pesan sudah tersaji di atas meja.
"Pokoknya ini harus habis ya, awas aja kalau ada yang nyisa." ujar Shafira mendengus melihat kedua sahabatnya memesan begitu banyak makanan.
"Hehehe.. Tenang aja, ini semua pasti akan habis, kan mumpung ditraktir bos." celetuk Vinna cengengesan bersama Nita. Shafira hanya memutar bola matanya melihat kedua sahabat yang ia sayangi itu.
"Auto tekor ini."
"Mumpung formasi lengkap, gimana kalau kita sambil bahas rencana soal buka usaha itu. Gue udah gak sabar pengen punya usaha sendiri." ujar Vinna yang paling semangat untuk segera memiliki usaha bersama kedua sahabatnya.
"Iya gue juga pengen punya usaha, supaya ada kerjaan selain menulis dan jualan online. Kita juga kan gak selamanya bisa kerja secara online."
"Tapi gue gak punya modal, lo berdua kan tahu kalau gue cuma karyawan biasa yang baru kerja. Gue juga baru belajar nulis novel kayak kalian." cicit Nita.
Karna Nita dulu tinggal di jogja ikut bersama suaminya, mereka jadi putus kontak. Dan mereka bertemu kembali saat Nita kembali ke kampung halaman orang tuanya ketika sudah bercerai. Jadilah Nita tidak seperti Shafira Dan Vinna yang dari dulu saling support untuk mencari cuan lewat online. Ketika mereka berdua bertemu dengan Nita lagi, keduanya baru mengajari bagaimana selama ini mereka bisa menghasilkan cuan dari rumah ditengah kesibukan mereka mengurus suami dan rumah.
"Lo gak perlu keluarin modal, cukup tenaga lo aja nanti siapin saat kita udah mulai buka usaha."
"Tapi kan gak adil, masak kalian berdua aja yang keluar modal. Gue jadi karyawan kalian aja deh nanti." ujar Nita yang tidak enak karna ikut kerjasama tapi tidak mengeluarkan modal.
"Lo ngomong apa sih, kita ini kan bestie rasa saudara. Jadi lo gak perlu ngerasa gak enak gitu." ujar Shafira.
"Iya, kayak sama siapa aja. Kita nanti harus sukses sama-sama. Lo gak usah kecil hati gini." timpal Vinna yang diangguki Shafira.
"Terima kasih ya bestie, lo berdua baik banget." ujar Nita yang terharu sambil mencium pipi kedua sahabatnya.
"Iihh.. Lo apa an sih pake cium-cium. Lo bisa buat orang-orang salah paham markonah." kesal Vinna mengusap pipinya sambil celingak-celinguk berharap tidak ada yang melihat aksi Nita.
"Lo kebiasaan banget main cium-cium." sungut Shafira yang juga kesal melihat Nita yang malah cengengesan.
"Hehehe.. Abisnya gue terhura, gue makin sayang sama lo berdua." seru Nita cengengesan.
Keduanya bergidik melihat tingkah Nita.
Saat ketiganya tengah asyik berdebat, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa.
"Loh, ini mbak Nita yang bekerja di pabrik konveksi kan." sapa seseorang yang kebetulan lewat dan melihat Nita yang sedang cengengesan.
Nita terkejut dengan suara yang tiba-tiba terdengar menyapanya dan melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Lho, pak Satria, pak Kenzo. Selamat siang pak." ucap Nita sambil berdiri dari duduknya dan menunduk hormat pada pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Selamat siang juga, saya kebetulan lewat dan melihat mbak Nita sedang duduk disini." ujar Satria ramah, Kenzo hanya mengangguk untuk membalas sapaan Nita.
"Iya, kebetulan saya sedang makan siang dengan teman-teman saya. Bapak ingin makan siang juga." Tanya Nita berbasa-basi.
"Iya, saya dan pak Kenzo sedang mencari makan siang. Hallo.. " sapa Satria pada Shafira dan Vinna yang sedari tadi terdiam.
"Haii.. " balas Shafira dan Vinna sambil mengangguk.
Mendengar suara yang tidak asing ditelinganya membuat Kenzo mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk melihat ponselnya.
Kenzo dan Shafira yang saling melihat pun terdiam, tidak menyangka akan bertemu untuk yang ketiga kalinya.
"Loh, mbak roti kan?" seru Kenzo keceplosan membuat Satria menyenggol lengannya.
"Eh, maaf maaf, maksudnya mbak yang waktu itu bertemu di supermarket waktu beli roti itu kan."
ulang Kenzo mendadak salah tingkah.
"Iya, saya Shafira, yang waktu itu bertemu bapak di supermarket." ucap Shafira canggung.
"Saya Kenzo, salam kenal mbak Shafira."
Vinna menyenggol lengan Shafira ketika mengingat siapa yang ada di depannya ini.
"Ra! Bukannya dia yang dulu pernah nabrak bahu kamu ya." bisik Vinna tapi bisikannya terdengar oleh Kenzo.
"Iya saya yang waktu itu tidak sengaja nabrak bahu mbak Shafira. Sekali lagi saya minta maaf ya mbak. Waktu itu saya lagi buru-buru sehingga tidak terlalu memperhatikan jalan." ujar Kenzo
"Kalau mau berbisik itu suaranya yang kecil markonah, lo bikin gak enak aja." seru Shafira yang gemas dengan Vinna yang berbisik tapi suaranya masih keras sehingga bisa didengar semuanya.
Vinna cengengesan apalagi melihat muka Shafira yang sudah memerah.
Sedangkan Nita dan Satria malah asyik berbicara berdua layaknya sedang reuni. Malah sekarang Satria sudah duduk manis didepan Nita mengabaikan Kenzo yang masih berdiri.
'Bener-bener definisi teman laknat lo, malah asyik sendiri. Tawarin duduk kek.' batin Kenzo geram karna Satria benar-benar melupakan dirinya.
"Silahkan kalau mau gabung pak." ujar Shafira kasihan melihat Kenzo yang sedari tadi hanya berdiri.
'Gue emang gak salah pilih, cuma kamu yang bisa ngerti.' batin Kenzo mesem-mesem.
Baru ditawari duduk aja Kenzo sudah kesemsem, haha.
"Eh maaf bos, gue malah lupa kalau lo ada di sini, hehehe. Kita gabung disini aja ya bos, biar rame." ujar Satria cengengesan.
Kenzo mendengus melihat Satria yang asik ngerumpi mengalahkan emak-emak.
Sesekali Kenzo mencuri-curi pandang ke arah Shafira dan Vinna menyadari tatapan Kenzo pada sahabatnya itu. Seketika Vinna tersenyum penuh arti.
'Tenang bestie, lo gak akan lama kok jadi janda.' batin Vinna cekikikan.