Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nafas Terakhir
Alarm tanda bahaya itu melengking, memekakkan telinga. Lampu merah berputar liar di lorong laboratorium bertekanan tinggi itu, menciptakan bayangan-bayangan mengerikan di dinding yang biasanya steril.
Panas.
Hanya itu yang bisa dirasakan oleh Profesor Dr. Sekar Ayu Prameswari.
Bukan hangatnya matahari pagi yang ia rindukan, melainkan jilatan api dari ledakan reaktor bio-kimia di depannya.
Gelombang kejut itu telah melempar tubuhnya menghantam dinding kaca anti peluru hingga retak.
Darah segar merembes dari pelipisnya, mengaburkan pandangan.
Aroma bahan kimia yang terbakar, campuran ozon tajam dan plastik meleleh, menusuk indra penciumannya.
"Profesor! Sistem gagal! Kita harus evakuasi!" teriak asistennya dari balik interkom yang kini terdengar seperti dengungan lebah dari kejauhan.
Sekar tersenyum miris. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Tulang rusuknya terasa remuk, menekan paru-paru hingga setiap tarikan napas terasa seperti menelan pisau silet.
Inikah akhirnya?
Tiga puluh lima tahun hidupnya, ia habiskan di dalam kotak putih ini.
Mengejar gelar doktor di usia dua puluh lima. Menjadi profesor termuda di bidang bio-hayati.
Menciptakan varietas tanaman yang bisa bertahan di tanah gersang demi menyelamatkan pangan dunia. Dunia memujanya sebagai jenius.
Namun, di detik-detik terakhir ini, saat nyawanya ditarik paksa dari raga, otak jeniusnya justru memutar data yang tak relevan.
Ia belum pernah merasakan jatuh cinta.
Ia belum pernah pulang ke rumah yang hangat, disambut oleh seseorang yang peduli apakah ia sudah makan atau belum.
"Menyedihkan," batinnya lirih. Suaranya hilang ditelan gemuruh api yang semakin mendekat.
Pandangannya menggelap.
Sensasi panas yang membakar kulitnya perlahan memudar, digantikan oleh kehampaan mutlak.
Hitam. Sunyi.
Selamat tinggal, dunia.
Dingin.
Kenapa tiba-tiba begitu dingin?
Apakah neraka sedingin ini? Bukankah seharusnya ada api abadi?
Sekar tersentak. Rasa dingin itu bukan sekadar ilusi.
Itu nyata, basah, dan menggigilkan tulang.
Matanya terbuka lebar.
Bukan langit-langit laboratorium putih bersih yang menyambutnya, melainkan anyaman bambu yang sudah lapuk dan bolong di sana-sini.
Tes. Tes. Tes.
Air dingin menetes tepat di keningnya.
Suara gemuruh di luar sana bukan lagi ledakan reaktor, melainkan guntur yang menggelegar membelah langit malam.
Angin kencang menderu, menampar dinding gubuk reyot tempatnya berbaring hingga berderit nyaring, seolah merintih minta ampun.
Aroma tanah basah, jamur, dan kayu busuk menyeruak masuk ke hidungnya. Sangat kontras dengan aroma antiseptik yang biasa ia hirup.
"Analisis situasi," bisik batinnya secara refleks. Kebiasaan lamanya sebagai ilmuwan tak bisa hilang begitu saja.
"Suhu lingkungan di bawah 20 derajat celcius. Kelembapan udara 90 persen. Hipotermia stadium awal."
Sekar mengangkat tangannya untuk menyeka air hujan di wajah. Gerakannya terhenti di udara. Ia menatap tangan itu.
Kurus. Kering. Pucat.
Jari-jarinya kasar dengan kuku-kuku yang tidak terawat.
Pergelangan tangannya begitu kecil hingga tampak seperti tulang berbalut kulit.
Ini bukan tangannya.
Tangan Prof. Dr. Sekar Ayu Prameswari memang tidak sehalus model iklan sabun, tapi tangan itu terawat dan berisi.
Tangan di depannya ini adalah tangan seseorang yang menderita malnutrisi kronis.
"Siapa..." suaranya keluar parau. Tenggorokannya kering kerontang.
Tiba-tiba, rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya lagi.
Kali ini bukan fisik, melainkan serbuan informasi yang memaksa masuk ke dalam memori otaknya seperti air bah yang menjebol tanggul.
Gambar-gambar asing berputar cepat seperti roll film yang rusak.
Seorang gadis kecil menangis di pojok kamar.
Wanita paruh baya dengan sanggul ketat menunjuk wajahnya dengan tongkat kayu. "Anak pembawa sial! Gara-gara kamu lahir, rezeki ayahmu jadi seret!"
Seorang pria yang berbalik pergi, membawa koper besar tanpa menoleh sedikitpun pada gadis kecil yang memegangi ujung celananya.
Dan sebuah nama. Sebuah identitas yang melekat erat pada rasa sakit itu.
Sekar Wening.
Usia 18 tahun.
Tinggal di lereng bukit Menoreh, Kulon Progo.
Putri dari Radityo Adhiwijaya, seorang pejabat terpandang di keraton yang kini hidup mewah di kota.
Namun, Sekar Wening tidak hidup mewah. Ia dibuang.
Disembunyikan di gubuk belakang rumah neneknya seperti aib yang harus ditutupi. Dianggap sampah. Dianggap kutukan.
"Argh!" Sekar mencengkeram kepalanya. Napasnya memburu.
Ingatan gadis itu menyatu dengan ingatannya sendiri.
Rasa sakit hati Sekar Wening, rasa diabaikan, rasa lapar yang tak berkesudahan, rasa rindu pada ayah yang tak pernah pulang, kini menjadi miliknya.
Sekar, sang Profesor, mencoba mengatur napas.
Logikanya berjuang keras merasionalkan fenomena ini.
Transmigrasi jiwa? Perpindahan kesadaran kuantum?
Apapun istilah ilmiahnya, faktanya adalah satu: Ia masih hidup. Ia tidak mati terbakar di laboratorium itu.
Tuhan, atau mungkin semesta, memberinya kesempatan kedua.
Tapi... kenapa harus di tubuh yang menyedihkan ini?
Sekar mencoba duduk, bersandar pada dinding anyaman bambu yang lembap.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling gubuk.
Lantai tanah yang becek karena air hujan merembes masuk. Sebuah dipan kayu tua dengan kasur kapuk yang sudah tipis dan bau apek.
Di sudut ruangan, ada meja kecil dengan lampu minyak yang hampir mati tertiup angin dari celah dinding.
Benar-benar definisi kemiskinan struktural.
Mata Sekar terhenti pada jari manis tangan kirinya.
Di sana, samar-samar di bawah cahaya kilat yang menyambar, terdapat sebuah tanda lahir.
Bentuknya unik. Seperti bulir padi yang utuh, berwarna sedikit kemerahan.
Ingatan Sekar Wening memberitahunya bahwa tanda lahir inilah sumber malapetakanya.
"Lihat itu!" Eyang Marsinah, neneknya yang kejam, pernah berteriak histeris saat Sekar baru lahir.
"Tanda merah di jari manis! Itu tanda wanita yang akan memakan keberuntungan keluarganya!
Buang dia!
Atau keluarga Adhiwijaya akan hancur!"
Sekar mendengus kasar. Tawa sinis lolos dari bibirnya yang pecah-pecah. "Takhayul bodoh," gumamnya dengan nada dingin.
Sorot matanya berubah. Tak ada lagi ketakutan gadis desa 18 tahun di sana. Yang ada hanyalah tatapan tajam seorang ilmuwan yang terbiasa membedah masalah rumit.
"Tanda lahir hanyalah hiperpigmentasi kulit akibat penumpukan melanin.
Bagaimana bisa sekelompok sel kulit menentukan nasib ekonomi sebuah keluarga?"
Ia menggelengkan kepala, merasa prihatin dengan kebodohan yang telah menghancurkan hidup gadis malang pemilik tubuh ini.
Angin kencang kembali menghantam gubuk.
Atap rumbia di atas kepalanya bergeser, membuat air hujan semakin deras mengguyur bahu kirinya.
Sekar menggigil hebat. Gigi-giginya bergemeretuk. Tubuh ini terlalu lemah. Jika ia tidak segera mencari kehangatan, ia akan mati konyol karena hipotermia di malam pertamanya hidup kembali.
Ia memaksakan kakinya untuk menapak ke lantai tanah. Lututnya goyah.
"Ayolah, Sekar. Kau sudah memetakan genom padi yang paling rumit.
Masa berdiri saja tidak bisa?" umpatnya pada diri sendiri.
Ia menyeret kakinya menuju sudut ruangan, tempat tumpukan kain jarik lusuh berada.
Ia melilitkan kain-kain itu ke tubuhnya, berlapis-lapis, mencoba memerangkap panas tubuh yang tersisa.
Matanya menangkap sebuah cermin retak yang tergantung miring di tiang bambu.
Sekar mendekatkan wajahnya ke cermin itu.
Dalam keremangan cahaya kilat, ia melihat pantulan dirinya yang baru.
Wajah itu tirus. Tulang pipinya menonjol karena kurang gizi. Kulitnya kusam, terbakar matahari. Rambut hitamnya kusut masai seperti sarang burung.
Namun, di balik semua kekusaman itu, Sekar bisa melihat struktur tulang yang tegas.
Mata yang bulat dan jernih, hidung yang mancung, dan bibir yang, meski pucat, memiliki bentuk yang indah.
Jika saja gadis ini dirawat dengan nutrisi yang cukup dan sedikit perawatan kulit, ia akan menjadi wanita yang sangat cantik. Potensinya tertutup oleh penderitaan.
"Baiklah, Sekar Wening," bisiknya pada pantulan di cermin. Suaranya terdengar lebih tegas sekarang.
"Maafkan aku karena kau harus pergi dengan cara menyedihkan. Tapi karena aku sekarang menempati tubuhmu, aku tidak akan membiarkan hidupmu berakhir sebagai lelucon."
Suara guntur menggelegar lagi, seolah alam semesta sedang menantang janjinya.
Perutnya berbunyi nyaring. Rasa perih melilit lambungnya. Asam lambung naik, memberikan sensasi mual yang menyiksa.
Ingatan terakhir Sekar Wening muncul: Gadis ini belum makan nasi selama dua hari.
Jatah makannya diambil paksa oleh Rendi, sepupu laki-lakinya yang gemuk dan rakus, sementara Eyang Marsinah hanya menonton sambil mencemooh.
Rahang Sekar mengeras.
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Profesor Sekar Ayu Prameswari. Orang-orang harus membuat janji sebulan sebelumnya hanya untuk bertemu dengannya. Perusahaan multinasional berebut mendanai risetnya.
Dan sekarang, ia kelaparan di gubuk bocor karena ditindas oleh keluarga yang percaya takhayul?