NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:80
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CEO

Gaun beludru hitam itu melekat sempurna di tubuh Rania, belahan dadanya rendah, terlalu mencolok untuk seleranya. Tapi ini adalah job terakhirnya malam itu. Ia hanya ingin pulang.

Sampai matanya bertemu dengan pria di ujung ruangan.

Jas hitam. Gelas anggur merah. Tatapan yang tajam dan... tidak sopan. Mata itu menelanjangi dirinya dari jauh, seperti ia tahu setiap inci tubuh Rania tanpa harus menyentuh.

Rania pura-pura tak peduli, tapi kulitnya menggeliat di bawah tatapan itu.

Sialnya, dia tahu siapa pria itu. Raditya Mahendra. CEO Mahendra Group—brand besar yang akan menyelamatkan karier modeling-nya jika ia terpilih.

Acara selesai. Musik berhenti. Para tamu mulai pergi.

Rania baru keluar dari kamar ganti ketika suara berat itu menghentikannya.

“Rania Calista,” suara itu rendah, tegas. “Kita perlu bicara. Di atas.”

Tanpa diberi kesempatan menjawab, Radit menarik tangannya. Tak kasar, tapi kuat. Dominan. Seolah ia terbiasa membawa orang dan dunia tunduk padanya.

Pindah ke suite atas.

Pintu ditutup.

Suasana sunyi. Terlalu sunyi untuk dua orang yang saling membakar udara.

Rania bersandar di dinding, dingin.

“Apa maumu?” tanyanya.

Radit menatapnya, lalu perlahan membuka jasnya. “Kamu tahu kenapa aku membawamu ke sini? Aku ingin tahu apa yang kamu sembunyikan... di balik semua sikap acuh itu.”

Rania mendesis. “Kamu mau bayar tubuhku?”

Radit tersenyum. “Tidak. Aku mau kamu menyerah... tanpa bayaran.”

Ia melangkah mendekat, satu tangan menyentuh dagu Rania, mengangkatnya. Ciuman itu datang tiba-tiba. Panas. Dalam. Penuh kuasa. Dan untuk alasan yang tak bisa dia mengerti—Rania tak mendorongnya.

Tangan Radit turun ke punggungnya. Menyusuri lengkung tubuh Rania. Mendorongnya perlahan ke arah tempat tidur.

Rania mundur setapak. Tapi Radit mengejarnya. Bibir mereka kembali bertemu, kali ini lebih rakus. Jari-jarinya menyusup ke bawah kain gaunnya, menyentuh kulit hangat yang mulai terbakar oleh sentuhan.

Rania terengah. Tapi ia tidak berhenti. Bukan karena terpaksa, tapi karena pikirannya kacau—dan tubuhnya mengkhianatinya.

Radit membaringkannya ke ranjang. Tubuhnya menyusul, menindih ringan, tak memaksa.

“Aku bisa berhenti, kalau kamu mau,” bisiknya di leher Rania. “Tapi kamu belum bilang ‘tidak’.”

Gaunnya sudah tersingkap. Tangan mereka saling mencari. Nafas mereka jadi satu. Suara desahan pelan pecah di ruangan, dibungkus aroma parfum dan adrenalin.

Radit menatap wajah Rania. “Aku bisa berhenti.”

Rania menatap balik. “Jangan.”

Tangannya menarik leher jas Radit, menariknya turun kembali ke tubuhnya. Ia ingin merasakan… ingin tahu bagaimana rasanya kehilangan kontrol.

Lalu—

BRRR… BRRR...

BRRR... BRRR...

Getaran ponsel dari clutch kecil Rania membuat dunia berhenti.

Rania membeku.

BRRR... BRRR...

“Sebentar,” desisnya, napas tersengal.

Ia meraih clutch di lantai, membuka cepat. Layarnya menyala terang.

“Mbak Yani (Pengasuh Aira)”

Dadanya seperti ditusuk.

“Halo?” suaranya gemetar.

Di seberang sana, suara panik terdengar, “Mbak, Aira demam tinggi. Dari sore dia nggak mau makan. Saya takut...”

Rania terduduk. Satu tangan menahan dahi, tubuhnya masih panas, tapi jiwanya dingin seketika. “Aku pulang sekarang.”

Radit masih diam di ranjang, kancing bajunya terbuka, dadanya naik-turun. Ia memandangi Rania.

“Aira?” tanyanya pelan.

Rania berdiri, merapikan gaun sekenanya. “Anakku.”

Radit terdiam, “Jadi benar... Kamu seorang ibu... sendiri?”

Rania menatapnya dengan luka yang tak bisa disembunyikan. “Dan kamu bukan siapa-siapa dalam hidupku. Jadi jangan tanya lebih dari itu.”

Tapi Radit tetap duduk di sana, tak lagi menggoda. Wajahnya menunjukkan sesuatu yang asing—bukan nafsu, bukan kuasa. Tapi... rasa.

“Anakmu butuh ibu yang kuat. Dan kamu...” Dia berdiri, meraihkan clutch ke tangannya. “Kamu baru saja membuatku ingin mengenalmu... lebih dalam. Bukan hanya tubuhmu.”

Rania menahan napas, matanya tajam.

“Aku tidak butuh dikasihani.”

“Bukan kasihan.” Radit membuka pintu. “Tapi penasaran. Dan itu jauh lebih berbahaya.”

Rania keluar tanpa bicara lagi. Tapi tubuhnya masih hangat. Bukan karena hasrat semata. Tapi karena... ada sesuatu yang lebih dari itu.

----

Mobil online yang ditumpangi Rania melaju cepat di jalan tol malam. Lampu-lampu kota berkelebat, tapi pikirannya masih tertinggal di suite hotel tadi.

Kancing-kancing gaunnya belum sempat dirapikan sempurna. Bibirnya masih terasa panas. Lehernya pun masih meninggalkan jejak samar ciuman—luka kecil dari pertemuan singkat yang terlalu membekas.

Namun yang membuat dadanya sesak bukan Radit. Tapi suara Aira tadi. Lirih, pelan, menahan tangis karena demam yang kembali datang seperti malam-malam sebelumnya.

Rania meremas clutch-nya kuat-kuat.

“Jangan jatuh, Rania. Jangan lemah.”

Itu mantra yang ia bisikkan tiap malam sejak Aira hadir di dunia.

Sesampainya di rumah kontrakan kecilnya, ia langsung masuk ke kamar. Bau minyak kayu putih dan tubuh kecil yang terbaring di atas kasur tipis menyambutnya.

"Aira sayang..." Rania mencium kening putrinya.

Mata kecil itu membuka sedikit. “Mama... pulang…”

“Maaf, Mama terlalu lama ya?” bisiknya, menahan air mata.

Aira mengangguk lemah dan kembali memejam. Rania duduk di tepi kasur, mengusap pelan rambut anaknya. Dadanya sesak. Malam tadi nyaris kehilangan makna, hanya demi memenuhi kebutuhan hidup... dan secuil ambisi yang mungkin sudah tak sepadan.

---

Keesokan harinya, ponselnya ramai. Banyak dari manajer dan rekan modeling yang mengiriminya DM dan chat:

“Kamu bikin CEO Mahendra turun tangan langsung? Hebat juga, Ran.”

“Katanya kamu bakal jadi wajah utama kampanye sosial mereka. Ceritain dong!”

Rania membeku. Jadi Radit tidak hanya menginginkan tubuhnya... ia juga benar-benar mewujudkan ucapannya.

Notifikasi lain masuk.

[Email: Mahendra Group Official – Invitation for Campaign Kick-Off Meeting]

Tangannya gemetar saat membaca isi undangan.

Lokasi: Mahendra Tower, Lantai 42

Waktu: Besok, pukul 10.00 WIB

Subject: “Exclusive Model Briefing with CEO”

Bersamaan dengan email itu, muncul pesan pribadi.

Bukan dari sekretaris. Bukan dari tim kreatif. Tapi dari nomor asing yang hanya berisi satu pesan:

 “Pastikan kamu datang. Aku ingin lihat, apakah kamu masih bisa menatapku setelah tadi malam.” – R

Rania membanting ponsel ke sofa. Ia terengah. Bukan karena takut. Tapi karena ia sadar—permainan ini baru saja dimulai.

Ia berdiri di depan cermin. Menatap bayangannya sendiri.

Bibirnya masih bisa merasakan ciuman panas itu. Tubuhnya masih bisa mengingat berat tubuh Radit di atasnya. Tapi matanya... kosong. Karena jauh lebih dalam dari hasrat, Rania tahu ada luka yang tak pernah tidur.

___

Pukul sepuluh, Rania berdiri di depan Mahendra Tower, mengenakan setelan hitam minimalis yang membungkus tubuhnya dengan anggun. Make up tipis, rambut digelung rapi, dan sepatu hak sedang yang tak berisik. Ia ingin terlihat profesional, tapi tetap waspada.

Karena pagi ini bukan hanya soal pekerjaan.

Ini soal masuk ke dalam sarang singa.

Singa bernama Raditya Mahendra.

Pintu lift terbuka. Ia melangkah masuk, sendirian. Angka 42 menyala, dan jantungnya ikut berdetak bersamaan dengan naiknya lantai demi lantai.

Ding.

Pintu terbuka langsung ke ruangan elegan penuh jendela kaca. Sekretaris menyambutnya sopan, namun dengan tatapan penuh tanya. Seolah ingin mencari tahu apa istimewanya Rania sampai CEO sendiri yang meminta pertemuan privat.

"Silakan, Mbak Rania. Pak Radit sudah menunggu."

Rania melangkah masuk ke ruang CEO. Ruangan luas, interior mewah, dan aroma kopi hangat. Di dekat jendela, berdiri pria itu—jas rapi, kancing atas terbuka, dan senyum kecil di sudut bibirnya.

“Datang juga,” gumam Radit, tanpa berbalik.

“Bukan karena kamu. Tapi karena kontrak,” jawab Rania, tenang.

Radit perlahan menoleh. Matanya menyapu penampilan Rania dari ujung kepala hingga tumit. “Lucu. Kamu pikir kamu masih bisa membatasi profesional dan personal setelah tadi malam?”

Rania menarik kursi dan duduk tanpa diminta. “Aku ibu tunggal, Pak. Aku sudah ahli berpura-pura baik-baik saja di depan banyak laki-laki.”

Radit berjalan mendekat. “Tapi kamu tidak pura-pura semalam, Ran. Kamu menikmatinya... sampai ponselmu bergetar tiga kali berturut-turut.”

Jantung Rania mencelos. “Berhenti, Radit.”

“Aku hanya ingin tahu... seandainya tidak ada panggilan itu, apa kamu akan benar-benar menyerahkan dirimu?”

Rania menatap tajam. “Kamu sedang menguji aku, atau hanya menikmati kekuasaanmu?”

Radit menyenderkan diri ke tepi meja. Dekat. Terlalu dekat. “Kamu tahu jawabannya.”

Keheningan menggantung. Sampai akhirnya Radit menarik map di mejanya dan melemparkannya pelan ke hadapan Rania.

"Kontrak kerja. Termasuk kampanye sosial tentang 'Perempuan dan Daya Juang'. Kamu wajah utamanya."

Rania membuka halaman pertama, membacanya cepat. "Ini... proyek besar."

"Ya. Dan kamu cocok," jawab Radit pelan. "Kamu tahu luka. Tapi kamu tidak membiarkan luka itu membuatmu lemah. Itu seksi sekali, Rania."

Rania berdiri. “Kamu harus berhenti mencampur aduk profesional dan pribadi.”

Radit ikut berdiri. Tapi kali ini ia melangkah lebih dekat. Napas mereka nyaris bertemu.

“Aku tidak pernah melihat batas, Rania. Apalagi saat kamu sendiri… belum menutup pintu sepenuhnya.”

Tangan Radit menyentuh pinggang Rania—hanya sebentar, hanya sentuhan ringan. Tapi cukup untuk membuat tubuhnya menegang, ingat pada panas ranjang hotel malam itu.

Rania menatapnya. Dingin. Tapi lehernya berdenyut.

“Kalau kamu sentuh aku lagi, aku keluar dari proyek ini.”

Radit tersenyum kecil. “Kalau kamu keluar, aku akan datang ke rumahmu... bukan sebagai CEO, tapi sebagai pria yang belum selesai denganmu.”

“Kamu tidak tahu apa pun tentang hidupku.”

Radit menatapnya dalam. “Aku tahu cukup banyak... termasuk nama anakmu. Dan aku bukan pria yang berhenti di tengah jalan.”

Suasana mendadak sunyi. Rania mundur setapak.

“Ini hanya kontrak kerja,” katanya pelan. “Dan aku akan memperlakukannya seperti itu.”

Radit mengangguk. “Baiklah. Mari kita lihat kedepannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!