Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab4
Di luar dugaan, saat alarm jam di meja rias belum sempat berbunyi, Namira sudah mengerjapkan matanya. Mungkin karena efek grogi tidur satu kamar dengan "Kulkas Dua Pintu", atau mungkin karena semangat ingin pamer kalau dia bisa bangun pagi.
Pukul 02.30 dini hari. Suasana kamar masih sangat sunyi dan dingin. Namira melirik ke sampingnya, dan benar saja, Ayyan sudah tidak ada di kasur. Ia mendengar suara gemericik air yang halus dari kamar mandi.
"Wah, Mas Ayyan beneran manusia atau robot sih? Jam segini udah mandi aja," bisik Namira sambil mengucek matanya.
Namira segera turun dari kasur dengan langkah gontai. Saat pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Ayyan dengan wajah yang sangat segar, rambutnya sedikit basah, dan sudah mengenakan sarung serta kaos dalam putih yang memperlihatkan bahunya yang kekar.
Ayyan sempat terhenti di ambang pintu, matanya yang tajam sedikit melebar melihat pemandangan di depannya. Namira berdiri di sana dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
"Sudah bangun?" tanya Ayyan, suaranya terdengar lebih berat di pagi buta seperti ini.
Namira mendongak, mencoba mengumpulkan kesadarannya. "He-eh. Tuh kan, Mas jangan remehin Mira. Gini-gini Mira juga bisa bangun jam setengah tiga, nggak perlu disiram air doa!" ucap Namira dengan suara serak-serak basah, tapi tetap dengan nada sombong yang imut.
Ayyan melirik jam dinding, lalu kembali menatap istrinya yang tingginya hanya sedadanya itu. "Bagus. Saya kira harus pakai pengeras suara masjid buat bangunin kamu."
"Ih! Mana ada! Mira itu kalau udah niat, alarm aja kalah!" balas Namira sambil berlalu masuk ke kamar mandi dengan langkah setengah menyeret.
Sepuluh menit kemudian, Namira keluar sudah dengan mukena pink-nya lagi. Ia melihat Ayyan sudah berdiri tegap di atas sajadah imam, menunggu dalam diam. Ruangan yang remang-remang itu terasa begitu syahdu.
"Sini," panggil Ayyan singkat.
Namira mendekat dan berdiri di belakangnya. "Siap, Mas Imam Galak," bisiknya pelan.
"Saya dengar, Namira," sahut Ayyan dingin, namun sebenarnya ia sedang menahan senyum di wajahnya.
Mereka pun melaksanakan shalat Tahajud bersama. Di tengah keheningan malam Jakarta, hanya terdengar suara merdu Ayyan yang melantunkan ayat suci dan sesekali isakan kecil Namira yang merasa terharu.
Ternyata, bangun jam setengah tiga pagi dan shalat di samping pria yang baru dinikahinya memberikan rasa tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Selesai shalat dan dzikir, Ayyan berbalik. Ia melihat Namira yang masih duduk bersimpuh, tapi kepalanya sudah mulai oleng ke kanan dan ke kiri—rupanya kantuk mulai menyerang lagi.
"Namira, jangan tidur dulu. Sebentar lagi Subuh," ucap Ayyan sambil menyentuh puncak kepala Namira.
Namira tersentak, matanya langsung melotot lebar. "Eh! Siapa yang tidur? Mira lagi meresapi doa tadi, Mas! Merem dikit mah namanya konsentrasi!" elak Namira dengan wajah tanpa dosa.
Setelah shalat Subuh berjamaah, Namira merasa perutnya sudah mulai berisik, minta diisi. Ia segera mengganti mukenanya dengan daster panjang yang sopan dan merapikan rambutnya. Sementara itu, Ayyan sudah terlihat rapi dengan baju koko bersihnya, siap untuk turun ke bawah.
"Mas, laper..." keluh Namira sambil memegangi perutnya, menatap Ayyan dengan tatapan memelas.
Ayyan melirik jam tangan. "Ayo turun. Ummi dan Bunda pasti sudah di dapur. Tapi ingat, Namira..." Ayyan menggantung kalimatnya sambil menatap Namira tajam.
"Apa lagi, Mas Mas?" tanya Namira tak sabar.
"Jangan bahas seblak di depan Abah. Paham?"
Namira memutar bola matanya. "Iya, iya! Mas Ayyan ini kayaknya dendam banget sama seblak, padahal enak lho. Nanti kalau Mas nyobain pasti ketagihan!" ucapnya sambil mendahului Ayyan keluar kamar dengan langkah ceria.
Di ruang makan, aroma nasi goreng dan sambal goreng ati sudah menyeruak. Ummi Fatimah dan Bunda Namira sedang menata piring.
"Eh, pengantin baru sudah bangun. Wah, Mira tumben jam segini sudah rapi?" goda Bunda sambil tersenyum melihat putrinya.
"Iya dong, Bun! Tadi Mira bangun jam setengah tiga, nemenin Mas Ayyan yang kayak robot itu," jawab Namira ceplas-ceplos sambil menarik kursi di meja makan.
Ayyan yang baru sampai di belakangnya hanya bisa beristighfar dalam hati mendengarnya disebut "robot". Ia pun duduk dengan tenang di samping Namira.
"Gimana, Yan? Istrimu bisa bangun pagi?" tanya Abah Kyai yang baru datang dari teras.
Ayyan melirik Namira yang sudah siap menyendok nasi goreng. "Alhamdulillah, Bah. Meskipun tadi hampir ketiduran pas dzikir, tapi Namira semangat," jawab Ayyan datar, yang langsung dibalas injakan kaki pelan oleh Namira di bawah meja.
"Aduh!" ringis Ayyan tertahan, wajahnya tetap mencoba tenang meski kakinya sakit kena injak kaki mungil Namira.
"Kenapa, Nak Ayyan?" tanya Bunda khawatir.
"Nggak apa-apa, Bun. Ada... semut besar lewat tadi," bohong Ayyan sambil menatap Namira dengan tatapan 'awas kamu nanti'.
Namira justru asyik menyuap nasi gorengnya dengan lahap. "Enak banget nasi gorengnya, Mi! Oiya, Mi, Mas Ayyan ini emang beneran galak ya kalau di pesantren? Tadi aja Mira mau nelfon temen soal dres malah mau disita hp-nya," adu Namira tanpa beban.
Ummi Fatimah tertawa kecil. "Ayyan itu cuma disiplin, Mira. Tapi aslinya dia sayang kok. Kalau dia galak, kamu bawelin aja terus, nanti juga luluh."
Namira langsung menyeringai lebar ke arah Ayyan yang sedang mengunyah dengan sangat anggun. "Tuh denger Mas! Kata Ummi, Mas harus sering-sering Mira bawelin biar luluh!"
Ayyan hanya bisa menghela napas panjang. "Selesaikan makannya, Namira. Setelah ini kita harus siap-siap ke pesantren, santri-santri sudah menunggu kedatangan kita."
"Hah?! Sekarang?! Mas, dres Mira yang baru kan belum dicuci!" teriak Namira heboh, membuat satu meja makan tertawa melihat tingkah laku istri mungil ustadz galak tersebut.
Baru saja Namira hendak menyuap sendokan nasi goreng terakhirnya, tiba-tiba suara bel rumah berbunyi berkali-kali dengan sangat heboh.
Ting tong! Ting tong! Ting tong!
"Siapa sih pagi-pagi begini bertamu kayak mau nagih utang?" gerutu Namira sambil berdiri. Ia langsung berlari kecil ke arah pintu depan tanpa mempedulikan teriakan Bundanya.
"Namira! Pakai kerudungnya yang bener dulu!" teriak Bunda, tapi Namira sudah terlanjur membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Namira nyaris terjungkal ke belakang. Di depannya sudah berdiri gerombolan anak muda—pasukan teman-teman SMA-nya yang berjumlah 13 orang. Ada 7 perempuan berhijab, 3 perempuan non-muslim dengan rambut tergerai cantik, dan 3 teman laki-lakinya yang paling rusuh.
"SURPRISE!!! MIRA UDAH JADI ISTRI ORANG!!!" teriak mereka serempak sampai tetangga sebelah mungkin kaget.
"Bila! Rara! Dio! Ngapain kalian ke sini?!" Namira melotot, tapi wajahnya penuh kegembiraan. Ia langsung berhamburan memeluk teman-teman perempuannya.
"Ya mau lihatlah! Mana suaminya? Katanya Ustadz ganteng yang mirip orang Arab itu? Mana-mana?" sahut Bila dengan mata jelalatan ke dalam rumah.
Tiba-tiba, suasana yang tadinya super berisik seperti pasar malam itu mendadak hening seketika. Seolah-olah ada udara dingin yang lewat. Namira menoleh dan melihat Ayyan sudah berdiri tepat di belakangnya.
Sosok Ayyan yang tinggi besar, tegap, dengan wajah tegas dan tatapan dingin yang berwibawa, benar-benar membuat teman-teman Namira menciut. Apalagi teman-teman laki-laki Namira yang tadinya mau bercanda, langsung berdiri tegak seperti sedang ikut upacara bendera.
"Astagfirullah..." gumam Ayyan pelan saat melihat keramaian di depan pintunya, terutama saat matanya menangkap teman-teman Namira yang berpakaian santai.
"Eh... Mas... ini... teman-teman Mira," ucap Namira sedikit gugup, ia sadar suaminya ini sangat menjaga pandangan.
Salah satu teman laki-laki Namira, Dio, mencoba memberanikan diri. "Halo Pak Ustadz, saya Dio teman sekelas Mira..."
Ayyan hanya mengangguk singkat, sangat kaku. "Silakan masuk. Tapi tolong suaranya dijaga, ada orang tua di dalam," ucap Ayyan dengan suara bariton yang berat dan dingin.
Teman-teman Namira langsung masuk dengan langkah pelan, sangat kontras dengan saat mereka datang tadi. Teman perempuan yang non-muslim—Sisil, Maya, dan dinda—sampai berbisik ke Namira.
"Mir, suami lo serem banget! Ganteng sih, tapi aura-auranya kayak mau ngajak kita tahlilan tujuh hari tujuh malam," bisik Sisil sambil merinding.
Namira cuma bisa nyengir kuda. "Emang! Dia itu kulkas dua pintu berjalan! Tapi tenang, ada gue yang bakal jadi penghangatnya," ceplas-ceplos Namira yang terdengar sampai ke telinga Ayyan.
Ayyan yang mendengar itu hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Baru satu malam menikah, ujian kesabarannya sudah datang dalam bentuk 13 anak SMA yang super berisik.