Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sisa Lilin di Ambang Badai
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun, memuntahkan cahaya terik yang membakar kulit. Di bawah naungan langit yang tak berbelas kasih itu, Boqin Tianzun berdiri mematung. Bocah berusia sepuluh tahun itu memiliki tatapan mata yang kosong—seolah-olah jiwa di dalamnya telah lama padam sebelum api hidupnya benar-benar habis.
Pandangannya tertuju jauh ke depan, ke arah lapangan luas tempat para murid luar berlatih. Di sana, mereka yang memiliki bakat biasa saja namun fisik yang sehat sedang berjuang demi akses terbatas dari sekte. Sementara itu, Boqin bahkan tidak pernah tahu seperti apa rupa megah Paviliun Utama, tempat para Murid Dalam dan Murid Inti menempa takdir mereka. Baginya, kemegahan itu adalah dunia lain yang terlarang.
"Haha! Lihat itu! Bukankah dia si 'Tuan Muda' penyakitan?" Seorang murid menghentikan ayunan pedang kayunya, menunjuk dengan tawa meremehkan.
Kerumunan murid luar mulai mendekat, mengepung Boqin seperti kawanan serigala yang mengintimidasi domba yang sekarat.
"Apa yang kau lakukan di sini, aib sekte?" timpal murid lain dengan nada jijik. "Tempatmu bukan di sini, melainkan di liang kubur!"
Boqin Tianzun tidak bergeming. Bibirnya terkunci rapat. Ia hanya memperhatikan mereka dengan mata yang mati, seolah hinaan itu hanyalah angin lalu yang tak mampu menyentuh kulitnya.
"Berani sekali kau mengabaikan kami!" Salah satu dari mereka meradang, merasa terhina oleh keheningan Boqin. "Apa kau tuli, hah?! Kalau bukan karena kau anak Pemimpin Sekte, kami sudah memastikan tulang-tulang rapuhmu itu remuk saat ini juga!"
Melihat tidak ada reaksi, mereka meludah ke tanah dan pergi dengan dengusan sinis. Boqin tetap diam di sana, mematung beberapa saat sebelum akhirnya berbalik pelan. Kakinya yang lemah menyeret langkah menuju kediaman pelayan—satu-satunya tempat ia diizinkan bernapas. Ayahnya sendiri, Boqin Ming, telah membuangnya dari kediaman utama. Baginya, Boqin Tianzun bukanlah seorang putra, melainkan noda hitam yang harus disembunyikan.
Dikutuk oleh penyakit aneh sejak lahir, emosinya tumpul. Tabib sekte telah menjatuhkan vonis mati: Boqin tidak akan pernah melihat usianya yang ke dua puluh enam.
"Hei, anak penyakitan! Kenapa kau berkeliaran saja?" Seorang wanita paruh baya, kepala pelayan yang galak, membentaknya begitu ia menginjakkan kaki di dapur. "Cepat kerjakan tugasmu! Cuci semua piring ini sampai kau bisa melihat bayangan buruk rupa di atasnya!"
Boqin menatap tumpukan piring kotor yang menggunung. Tanpa sepatah kata pun, ia duduk di kursi kayu kecil dan mulai menggosok perabotan itu satu per satu. Di tengah kesunyian yang menyesakkan, sebuah tangan kecil yang gemetar ikut terjulur ke dalam air cucian yang dingin.
"B-biar aku membantumu, Tuan Muda..."
Suara itu milik Sua Mei, seorang pelayan kecil yang seusia dengannya. Ia menunduk dalam, pipinya merona karena gugup. Sejak Boqin pernah membelanya dari gangguan murid luar beberapa waktu lalu, Sua Mei menyimpan rasa syukur yang mendalam di hatinya.
"Terima kasih." sahut Boqin dengan nada sedatar permukaan air tenang.
Mereka bekerja dalam diam. Namun, di saat tugas mereka hampir selesai, tangan Sua Mei yang licin karena sabun tak sengaja melepaskan sebuah piring porselen.
PRANG!
Suara pecahan itu membelah kesunyian dan seketika mengundang kedatangan kepala pelayan. Wanita itu menatap pecahan di lantai dengan mata melotot murka. "Siapa yang memecahkan ini?! Jawab!"
"Aku." sahut Boqin cepat, sebelum Sua Mei sempat membuka mulut.
Namun, Sua Mei yang biasanya penakut, kali ini menengadah dengan keberanian yang dipaksakan. Ia tidak ingin Boqin dipukul lagi gara-gara dirinya. "Bukan... bukan Tuan Muda. Aku yang melakukannya."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Sua Mei hingga ia tersungkur. Tanpa belas kasihan, kepala pelayan menyeret rambutnya. "Dasar anak rendahan! Apa kau tahu harga piring ini lebih mahal dari nyawamu?!"
Boqin Tianzun hanya diam. Ia memperhatikan Sua Mei yang disiksa di depan matanya tanpa ekspresi. Di dalam dadanya yang sakit, ia tidak tahu harus merasa apa.
Sembilan tahun berlalu dalam siklus penindasan yang tak kunjung usai. Sua Mei tumbuh menjadi gadis yang penuh memar, namun hatinya tetap semurni salju.
"H-hei, Boqin... a-apa kau mau ini?" Sua Mei, yang kini berusia sembilan belas tahun, menyodorkan sepotong roti kering dengan tangan yang gemetar karena kelelahan. Wajahnya pucat, namun ia tersenyum.
Boqin menatap roti itu, lalu menatap gadis di depannya. "Makanlah. Aku tidak lapar."
Kruyuuukk...
Perut Boqin mengkhianati kata-katanya. Sua Mei tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat kontras dengan penderitaan mereka. "Haha! Kau... kau pandai berbohong sekarang. Ayo, kita bagi dua."
Dengan telaten, ia menyuapi Boqin. Namun seiring berjalannya waktu, tubuh Sua Mei mulai menyerah. Kerja paksa dan kekerasan bertahun-tahun membuatnya jatuh sakit parah.
Suatu malam, Boqin duduk di samping tempat tidur Sua Mei yang sedang terengah-engah dalam tidurnya.
"Sua Mei... kenapa di dadaku terasa seperti ada api yang membara?" gumam Boqin pelan. Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Tidak ada jawaban. Boqin tidak menyadari bahwa rasa panas itu adalah kemarahan—kemarahan luar biasa karena satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang gelap sedang meredup. Rasa takut kehilangan mulai merayap, menghancurkan ketumpulan emosinya selama ini.
Ia tahu, satu-satunya cara menyelamatkan Sua Mei adalah mendapatkan obat langka di Paviliun Herbal, tempat yang hanya bisa diakses oleh mereka yang berdiri di puncak sekte.
Boqin berdiri, menatap langit malam dengan sorot mata yang kini menyala hebat.
"Aku hanya punya enam tahun tersisa untuk bernapas," bisiknya dengan suara rendah yang penuh tekad. "Aku akan menantang sang waktu dan merangkak menuju puncak! Demi satu-satunya orang yang berharga bagiku! Aku tidak peduli siapa ayahku atau siapa saudara-saudaraku... tapi aku bersumpah, akan kubalas setiap tetes air mata dan darah ini kepada kalian semua!"