NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Jejak Air Mata di Ibu Kota

Langkah kaki Amara beradu cepat dengan lantai beton area penjemputan Bandara Soekarno-Hatta. Napasnya tersengal, dadanya sesak bukan karena lelah berlari, melainkan karena rasa bersalah yang menghimpit.

Bayangan wajah Hannan yang teduh saat membantunya memakai jilbab merah muda semalam terus menghantuinya. Ia tahu ia telah melakukan kesalahan besar dengan pergi tanpa izin, namun setiap kali ia teringat pesan tentang kondisi bundanya di ICU, rasa takut kehilangan itu jauh lebih besar daripada rasa takut akan kemarahan suaminya.

"Taksi! Pak, taksi!" teriak Amara sambil melambaikan tangan dengan panik ke arah barisan mobil biru yang sedang mengantre.

Sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Amara segera masuk ke kursi belakang. "Rumah Sakit Medika, Pak! Tolong, lewat tol saja yang paling cepat. Ibu saya kritis," ucapnya dengan suara serak menahan tangis.

"Baik, Non. Tenang ya, kita berangkat sekarang," sahut sopir taksi itu dengan nada prihatin melihat kondisi penumpang di belakangnya yang tampak sangat berantakan; jilbab yang sedikit miring dan mata yang sembap.

Sepanjang perjalanan menembus kemacetan Jakarta yang mulai memadat di sore hari, Amara hanya menatap kosong ke luar jendela. Gedung-gedung pencakar langit Jakarta seolah mengejeknya. Di kota inilah semua luka bermula, dan di kota ini pula ia kini kembali sebagai orang asing yang mengenakan identitas baru. Ia meraba jilbabnya, lalu teringat bahwa ia telah mematikan ponselnya sejak di Los Angeles.

Dengan tangan gemetar, ia memberanikan diri menyalakan ponselnya sebentar hanya untuk melihat jam. Namun, begitu layar menyala, puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan masuk menghujani layarnya. Semuanya dari satu nama: Mas Hannan.

“Amara, kamu di mana? Kenapa pergi sendiri?”

“Amara, tolong angkat. Jangan buat Mas takut.”

“Mas sudah di jalan pulang, Amara. Kita bicara baik-baik. Jangan tinggalkan Mas.”

Amara menutup mulutnya, tangisnya pecah lagi. Ia segera mematikan ponselnya kembali. "Maafkan aku, Mas... aku tidak ingin kamu terlibat dengan orang-orang jahat di sini lagi. Aku harus menyelesaikan ini sendirian," bisiknya pada diri sendiri.

Satu jam kemudian, taksi berhenti di depan lobi unit gawat darurat Rumah Sakit Medika. Amara membayar ongkos seadanya dan langsung berlari masuk. Bau karbol yang menyengat dan suasana rumah sakit yang dingin menyambutnya.

"Suster, pasien kecelakaan atas nama Ibu Maria? Di mana ruangannya?" tanya Amara di meja administrasi dengan napas memburu.

"Ibu Maria? Sebentar... beliau ada di ruang ICU lantai tiga, Mbak. Kondisinya masih belum stabil pasca operasi," jawab suster itu.

Amara berlari menuju lift, menekan tombol angka tiga berulang kali dengan tidak sabar. Begitu pintu lift terbuka, ia langsung menuju ruang ICU yang dipisahkan oleh kaca besar. Di sana, ia melihat seorang wanita paruh baya yang sangat kurus, terbaring dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Kepalanya diperban tebal, dan bunyi pip-pip dari mesin pendeteksi jantung menjadi satu-satunya suara yang mengisi kesunyian ruangan itu.

"Bunda..." Amara luruh di depan kaca ICU. Ia

menyentuh kaca itu dengan ujung jarinya. "Bunda, Amara pulang... Maafkan Amara yang sudah meninggalkan Bunda sendirian dengan laki-laki kejam itu."

Seorang perawat menghampirinya. "Keluarga Ibu Maria? Tadi hanya ada seorang asisten rumah tangga yang menunggu, tapi beliau sedang pulang sebentar untuk mengambil keperluan. Ibu Maria mengalami benturan hebat di kepala akibat kecelakaan tabrak lari. Beliau terus menggumamkan nama anaknya."

Amara terisak. "Saya anaknya, Sus. Bolehkah saya masuk?".

"Hanya sebentar ya, Mbak. Pasien harus banyak istirahat."

Amara mengenakan baju steril dan masuk ke dalam. Ia menggenggam tangan bundanya yang terasa sangat dingin. Saat itulah, mata Ibu Maria terbuka sedikit. Tatapannya sayu dan kosong, namun saat melihat wajah Amara, ada setitik air mata yang mengalir di sudut matanya.

"A... ma... ra..." suara itu sangat lemah, hampir seperti bisikan angin.

"Iya Bunda, ini Amara. Amara tidak akan pergi lagi. Bunda harus kuat ya," ucap Amara sambil mencium tangan bundanya.

Namun, di tengah momen mengharukan itu, pintu ruang tunggu ICU terbuka kasar. Dua orang pria bertubuh besar dengan pakaian rapi namun berwajah garang masuk ke area tersebut. Mereka adalah orang-orang suruhan kolega bisnis Bastian yang belum tertangkap.

"Jadi benar, burung kecilnya sudah pulang ke sangkar," ujar salah satu pria itu sambil menatap Amara dari balik kaca ICU dengan seringai licik.

Amara tersentak. Ketakutannya kembali memuncak. Ia menyadari bahwa Jakarta adalah jebakan yang jauh lebih berbahaya daripada Amerika. Di sini, ia tidak punya Hannan, ia tidak punya Gus Malik, dan ia tidak punya perlindungan.

Sementara itu, di bandara, Aisyah—adik bungsu Hannan—masih berdiri mematung memegang tasnya. Ia merasa ada yang aneh dengan wanita bernama Amara yang menolongnya tadi.

"Amara... kenapa nama itu terasa sangat akrab?" gumam Aisyah. Ia teringat percakapan panas ayahnya, Kiai Abdullah, di telepon beberapa hari lalu yang menyebut-nyebut nama 'wanita pembawa sial bernama Amara'.

Aisyah segera mengeluarkan ponselnya. Ia bermaksud menghubungi Hannan, kakak yang sangat ia rindukan. Namun, ia justru mendapati pesan dari grup keluarga pesantren bahwa Hannan sedang dalam keadaan darurat karena istrinya hilang di Amerika.

"Mbak Amara tadi... apakah dia orangnya?" jantung Aisyah berdegup kencang. Ia segera mencari taksi.

"Pak, ke Rumah Sakit Medika! Cepat!"

Takdir seolah sedang merajut jaring-jaringnya. Aisyah tidak tahu apakah ia akan menjadi penolong bagi Amara, atau justru menjadi orang pertama yang akan melaporkan keberadaan Amara kepada ayahnya yang sedang murka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!