NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Sore itu, suasana rumah yang biasanya hanya diisi oleh suara bising Ryan, mendadak berubah menjadi haru. Sebuah mobil hitam terparkir di depan pagar, dan sosok pria paruh baya dengan koper di tangannya melangkah masuk. Papa akhirnya pulang. Dua bulan bertugas di luar kota membuatnya melewatkan banyak momen, termasuk malam-malam penuh peluh Amara saat belajar UTBK.

Begitu melihat Amara berdiri di ambang pintu, Papa langsung merentangkan tangannya. Amara berlari kecil dan menghambur ke pelukan pria yang sangat ia rindukan itu.

"Anak bungsu Papa... sudah selesai berjuangnya, ya?" bisik Papa sambil mengelus rambut Amara.

Amara mengangguk di dada Papanya, merasakan beban di pundaknya seolah menguap begitu saja. "Ifa udah lakuin yang terbaik, Pa."

"Papa tahu. Tadi Bunda sudah cerita semua di telepon. Kamu hebat," puji Papa bangga.

Bunda muncul dari arah dapur dengan celemek yang masih terikat. "Sudah, kangen-kangenannya nanti lagi. Papa mandi dulu, setelah itu kita rayakan! Bunda sudah masak nasi rames spesial buat Ifa dan teman-teman."

Malam harinya, rumah Amara berubah menjadi sangat ramai. Meja makan besar di ruang tengah sudah penuh dengan piring-piring berisi nasi rames lengkap: sambal goreng ati, ayam goreng lengkuas, serundeng, telur balado, hingga kerupuk udang yang melimpah.

Teman-teman Ryan—Arga, Deno, dan tentu saja Nicholas—sudah hadir. Sarah juga datang dengan hebohnya, langsung memeluk Amara begitu sampai. Yang mengejutkan, Daffa juga hadir memenuhi undangan Ryan. Daffa tampak sedikit canggung, terutama saat matanya berserobok dengan Nicholas yang duduk tenang di sudut sofa.

"Ayo, ayo! Jangan malu-malu. Papa senang rumah ini ramai," seru Papa menyambut mereka semua dengan hangat.

Amara sibuk membantu Bunda menata piring. Saat ia melewati Nicholas, pria itu menatapnya dengan isyarat mata yang seolah bertanya, 'Capek?'. Amara hanya tersenyum tipis dan menggeleng kecil.

Nicholas di Hadapan Sang Penguasa Rumah

Momen yang paling mendebarkan bagi Nicholas sebenarnya bukan saat ujian Teknik, melainkan saat ia harus duduk berhadapan langsung dengan Papa Amara di meja makan.

"Jadi, kamu Nicholas?" tanya Papa sambil menyendok nasi ramesnya.

Nicholas meletakkan sendoknya sejenak, duduk dengan tegap namun tetap sopan. "Iya, Om. Saya Nicholas, teman seangkatan Ryan."

"Bunda bilang, kamu yang sering antar jemput Ifa sekolah dan bantu dia belajar matematika? Terima kasih ya, sudah jaga anak bungsu Om selama Papa nggak di rumah," ucap Papa dengan nada yang berwibawa namun bersahabat.

Nicholas mengangguk hormat. "Sama-sama, Om. Amara anak yang pintar, saya hanya membantu sedikit."

Ryan yang duduk di sebelah Arga menyenggol bahu temannya itu sambil berbisik, "Liat tuh si Macan Teknik, mendadak jadi kucing anggora di depan bokap gue." Arga tertawa tertahan, hampir saja tersedak sambal goreng ati.

Di sisi lain meja, Daffa hanya diam, lebih banyak memperhatikan interaksi antara Amara dan Nicholas. Ia menyadari sesuatu; cara Nicholas menatap Amara bukan sekadar cara teman menatap temannya. Ada rasa memiliki yang sangat kuat, namun kini terlihat jauh lebih halus dan dewasa.

"Ra, sumpah ya, lo harus liat grup angkatan! Semua orang bahas gimana Kak Nick nungguin lo di depan gerbang ujian tadi siang," bisik Sarah sambil menyuap nasinya.

Amara langsung menyenggol lengan Sarah. "Sar, pelanin suara lo! Ada Papa di depan!"

"Lho, kan bagus! Berarti Kak Nick tuh gentleman banget," goda Sarah tanpa rasa berdosa.

Papa yang ternyata memiliki pendengaran tajam itu berdehem. "Nungguin di depan gerbang? Berjam-jam, Nicholas?"

Nicholas tersedak sedikit air putihnya. Ia berdehem, mencoba menetralkan suaranya. "Iya, Om. Sekalian saya ada tugas mandiri yang bisa dikerjakan di sana, jadi tidak terasa lama."

Papa manggut-manggut, lalu menatap Amara yang sudah menunduk dalam karena malu. "Papa dulu juga gitu waktu dekatin Bunda. Rela nungguin di depan perpus sampai tutup. Kayaknya sejarah berulang ya, Bun?"

Bunda tertawa renyah, membuat suasana yang tadinya tegang menjadi sangat cair. Nicholas merasa satu beban berat di pundaknya terangkat; Papa Amara sepertinya memberikan sinyal hijau secara tersirat.

Setelah makan besar selesai, para tamu mulai berpindah ke teras samping untuk menikmati teh hangat dan udara malam. Nicholas berdiri di dekat pagar pembatas taman, menatap bintang-bintang. Amara mendekat, membawa dua cangkir teh.

"Buat Kakak," ucap Amara menyerahkan salah satu cangkir.

"Makasih," jawab Nick. Ia menatap Amara lama. "Gimana? Udah lega?"

"Lega banget. Apalagi Papa pulang. Rasanya lengkap," sahut Amara. Ia melirik ke arah dalam rumah, memastikan tidak ada yang memperhatikan. "Kak... makasih ya udah berani ngobrol sama Papa tadi."

Nicholas menarik napas panjang. "Jujur, jantung gue lebih kencang pas ditanya Papa lo daripada pas nungguin pengumuman kuis Kalkulus. Tapi demi lo, gue bakal hadapi sepuluh Papa sekalipun."

Amara tertawa kecil. "Gombalnya keluar lagi."

Tiba-tiba, Daffa berjalan mendekat ke arah mereka. "Ra, gue pamit duluan ya. Udah malem."

Amara menoleh. "Oh, iya Daff. Makasih ya udah dateng. Hati-hati di jalan."

Daffa mengangguk, lalu ia menatap Nicholas sebentar. "Jagain Amara ya, Kak. Dia... dia berharga banget."

Nicholas menatap Daffa dengan pandangan yang tidak lagi memusuhi. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Gue tahu. Dan gue nggak akan biarin dia sedih lagi."

Setelah Daffa pergi, Nicholas dan Amara kembali terdiam dalam kenyamanan. Malam itu, di tengah aroma masakan Bunda yang masih tertinggal dan suara tawa teman-teman Ryan di ruang tengah, Amara merasa dunianya sudah berada di tempat yang tepat.

Ia menoleh ke arah Nicholas yang masih setia berdiri di sampingnya. "Kak, kalau nanti hasilnya keluar dan aku lulus..."

"Lo pasti lulus, Amara," potong Nick mantap. "Dan kalau hari itu datang, gue bakal jadi orang pertama yang traktir lo keliling Jakarta sepuasnya."

Amara tersenyum, menyandarkan kepalanya sejenak di lengan jaket Nicholas. Sebuah perayaan sederhana yang menandai berakhirnya satu babak perjuangan, dan dimulainya babak baru yang jauh lebih berwarna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!