Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Udara pagi di Cisaat selalu basah oleh kabut teh.
Aroma daun muda yang baru dipetik melayang pelan di antara rumah-rumah berdinding triplek dan bilik bambu.
Galuh menuruni jalan tanah sambil membawa ember berisi alat kebersihan ... lap, sabun cair, dan sebotol karbol. Jaket lusuh milik almarhum ayahnya masih menempel di bahunya, melindungi tubuhnya dari dingin yang menusuk tulang.
Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, ia akan pergi bekerja ke rumah Bu Lastri Rukmiati, istri pejabat daerah sekaligus juragan kebun teh yang kaya raya: Zainal Buana.
Galuh tahu, langkahnya menuju rumah itu seperti melangkah ke dunia lain, dunia yang wangi sabun mahal dan lantai marmer dingin, tempat orang-orang berbicara lembut tapi menatap rendah ke arah orang miskin seperti dirinya.
"Galuh!" Suara ibunya: Titin, terdengar dari kejauhan. Perempuan itu sedang memanggul keranjang besar di punggungnya, bersiap menuju perkebunan. "Pulangnya jangan terlalu sore, Nak. Kasihan Galih sendirian di rumah."
Galuh tersenyum samar. "Iya, Bu. Paling sebelum asar sudah pulang. Nanti Galuh beliin kue pisang buat Galih."
Titin membalas dengan anggukan. Ia tahu anak gadisnya tak pernah ingkar janji.
Mereka berdua hidup dari keringat yang sama, Titin menjadi pemetik teh, dan Galuh bekerja jadi tukang bersih-bersih di rumah orang.
Di jalan menuju rumah keluarga Buana ... Galuh berpapasan dengan Safwan Haidar: kakak kelasnya waktu di SMP. Kini Safwan sudah menjadi mahasiswa, sedangkan Galuh hanya tamat SMA. Itu pun SMA terbuka.
"A Safwan ... kapan pulang dari kota?" sapanya pada Safwan yang menepikan sepeda motornya di sebelah Galuh.
"Kemarin, Galuh. Kamu mau ke mana?" tanya Safwan sembari mematikan mesin motornya.
"Biasa, A. Aku mau kerja. Mau ke rumah Bu Lastri, bersih-bersih."
Safwan tersenyum samar. "Ayo aku antar?" tawar Safwan.
Galuh menggeleng cepat. "Tidak usah, A. Aku mau pakai jalan pintas. Biar lebih cepat. Aku duluan ya, A." Galuh membungkukkan tubuh, melanjutkan langkahnya meninggalkan lelaki berkaos abu-abu itu.
Safwan memandangi kepergian Galuh dengan lekat, hatinya bergumam lirih. "Galuh ... aku menyukaimu. Tapi aku belum punya nyali untuk mengutarakan perasaanku ini."
Galuh memandang jauh ke depan. Benaknya tiba-tiba penuh dengan bayangan wajah Safwan Haidar. "A Safwan ... mungkin aku terlalu tidak tahu diri karena punya perasaan suka kepadamu. Tapi mau bagaimana lagi A, perasaan ini sudah ada sejak lama. Sejak aku SMP." Galuh menyudahi gumaman batinnya, dia menepis semua perasaan itu. "Sadar diri, Galuh. A Safwan itu anak Pak Lurah, dan kamu ..." Galuh tak melanjutkan perkataan itu. Ia memilih melanjutkan langkahnya menuju rumah keluarga Buana.
Rumah itu berdiri megah di atas bukit kecil. Pagar besinya tinggi, gerbangnya dilapisi cat hitam yang mengkilap. Begitu Galuh mengetuk pintu, seorang penjaga membuka pintu tanpa banyak bicara.
"Langsung saja ke dapur, Galuh. Ibu lagi di belakang," katanya datar.
"Iya, Pak."
Galuh masuk dengan langkah hati-hati, selalu seperti itu. Seolah yang ia pijak adalah kaca, bukan lantai.
Setiap sudut rumah itu terasa asing baginya, tapi ia tahu letak setiap ubin yang berdebu, setiap jendela yang jarang dibuka, setiap vas bunga yang dibiarkan kering. Ia hafal semua ... karena tangannya yang membersihkannya setiap hari.
"Galuh, itu kamar tamu tolong lantainya dipel, ya. Pitaloka mau kumpul sama teman-temannya sore ini!" Suara Bu Lastri menggema dari dapur.
"Iya, Bu," jawab Galuh sopan, menunduk.
Ia memanggil wanita itu dengan panggilan Ibu bukan nyonya, karena itu atas permintaan Lastri sendiri.
Saat ia sedang mengepel, suara langkah terdengar menuruni tangga. Galuh menoleh sekilas. Seorang lelaki berparas tampan turun, mengenakan kaos dan celana santai rumahan. Dialah Lingga Buana, putra sulung Zainal Buana dan Lastri Rukmiati ... lelaki yang kini berumur dua puluh dua tahun, seorang mahasiswa jurusan hukum yang sebentar lagi akan lulus.
Lingga tersenyum ... senyum yang sering membuat pembantu lain terkesima, tapi tidak bagi Galuh. Senyum Lingga terlihat biasa saja, masih manisan senyum Safwan Haidar, begitulah anggapan Galuh.
Lingga berhenti di ambang pintu kamar tamu, menatap Galuh dengan pandangan yang membuat darahnya dingin tanpa sebab. "Kamu masih kerja di sini, ya, Galuh?" Suaranya santai, tapi entah kenapa membuat dada Galuh sesak.
"Iya, Aden," jawabnya pelan.
Lingga tersenyum samar, bibirnya melengkung nyaris seperti ejekan. "Rajin sekali. Padahal kamu masih belia, tapi telaten juga bersihin rumah orang."
Galuh tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan terus mengepel lantai yang sudah mengkilap.
Tapi dari pantulan ubin, ia bisa melihat sorot mata lelaki itu ... tajam, memeriksa, dan tidak sopan.
Dan entah kenapa, pagi yang semestinya biasa itu tiba-tiba terasa berat.
Langit di luar mendung. Udara berubah pengap.
Galuh menggenggam erat gagang pel, berharap waktu berjalan lebih cepat dari biasanya.
_____
"Galuh ... kamu masih ingat sama si Elis, tidak?"
Galuh yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya menoleh pada rekan sesama pembantu di rumah keluarga Buana itu. Mereka sedang menyantap makan siang berupa nasi dan tempe goreng yang dibalur tepung di halaman belakang rumah megah itu. "Ingat, Nunik. Yang dulu waktu SMP pernah berantem dengan anaknya kepala sekolah ya?"
Nunik, si gadis berkulit sawo matang mengangguk cepat. "Iya, dia."
"Memangnya kenapa?" tanya Galuh.
"Kemarin sore, aku bertemu dengan dia di toko bajunya Teh Sri. Wiih ... penampilan dia sekarang cetar membahana, mirip artis ibu kota. Putih, cantik ... seksi lagi. Terus, kita ngobrol-ngobrol sambil makan mie ayamnya Mang Tamrin. Dia ngajak aku kerja bareng dia ke ibu kota. Gajinya lumayan besar, Galuh ..." Nunik mengangkat kelima jarinya di depan mata Galuh.
"Lima juta? Sebulan?" Galuh terbelalak.
"Iya. Belum lagi uang bonus yang didapat setiap hari. Jumlah totalnya bisa sampai sepuluh juta, bahkan lebih, katanya." Nunik bercerita dengan penuh semangat.
"Ya ampun!" Kening Galuh mengernyit. "Kenapa gajinya besar sekali? Memangnya Si Elis kerja apa?"
"Katanya sih, jadi LC ... yang suka nemenin orang berkaraoke," jelas Nunik.
"Berarti harus bisa nyanyi dong?" tebak Galuh.
"Kata si Elis mah nggak perlu. Tugasnya tuh cuma menemani saja. Palingan ngambilin minum, sama memegangi mic. Gitu katanya, gampang banget kan. Dan aku udah memutuskan untuk ikut dia, Galuh. Aku ingin merubah nasib. Nggak mau jadi babu terus, Galuh. Apalagi kita digaji sama Bu Lastri nggak sepadan sama keringat kita. Masa satu minggu cuma digaji dua ratus ribu," bisik Nunik mengeluhkan pekerjaan mereka. "Kamu mau ikut aku dan Elis tidak? Kalau mau, nanti sore, kita sama-sama pergi ke rumah si Elis untuk mengonfirmasi keikutsertaan kita."
Galuh tertegun. Dia tidak menampik semua omongan Nunik. Kerja di kampung gajinya memang tidak seberapa. Jujur, dia juga tergiur dengan gaji besar yang ditawarkan Elis, tapi ... apa benar pekerjaan seorang LC itu hanya menemani yang berkaraoke saja. Sedangkan banyak tetangga yang berbisik-bisik jika jadi LC sama dengan jual diri.
"Nggak tahu, Nik. Aku harus bicara dulu sama Ibuku. Takutnya dia tidak mengizinkan," sahut Galuh.
"Oh ... ya sudah. Kamu bicarakan saja dengan ibumu dulu. Kalau aku mah mau bicarain sama siapa, Galuh. Orang tuaku saja sudah tidak ada. Paman dan Bibi ... mereka mah tidak akan peduli. Palingan senang-senang saja karena beban mereka berkurang."
Galuh menatap Nunik dengan wajah iba. Nasib rekan kerjanya memang jauh lebih malang dari dirinya.
Langit mulai berubah menjadi jingga ketika Nunik dan Galuh keluar dari rumah keluarga Buana.
Nunik mengambil jalur kiri, karena dia akan langsung pergi ke rumah Elis, sementara Galuh ... melewati jalan biasa. Menyusuri perkebunan teh yang sejuk.
Di saat Galuh sedang menikmati langkahnya yang pelan karena lelah, suara deru motor terdengar menghampirinya dari arah belakang diikuti bunyi klakson.
Galuh menghentikan langkahnya. Menepi di pinggir pohon teh. Motor itu ikut berhenti di sebelahnya.
"Galuh ... kamu baru pulang?"
Galuh mengangguk canggung. "Iya, A Safwan. Aa mau ke mana?"
Safwan mengangguk. "Mau ke rumah kamu."
"Ke rumahku?" beo Galuh kaget.
"Iya, tapi kebetulan aku bertemu kamu di sini. Bisakah kita bicara sebentar, Galuh?"
Tubuh Galuh menegang, matanya bergerak liar. Menatap wajah tampan Safwan yang membuat hatinya bergetar, juga keadaan sekitar yang cukup sepi. "A Safwan mau membicarakan apa denganku?" tanyanya ragu-ragu.
"Mmm ..." Safwan bergumam pelan. "Bagaimana kalau kita bicara di bawah pohon besar itu?" ajak Safwan malu-malu.
Galuh mengangguk meski sedikit ragu.
Safwan tersenyum kecil. Dia turun dari motornya. Mengajak Galuh ke balik pohon besar yang berjejer di sela pohon teh itu.
Keduanya duduk saling bersisian di atas rumput.
Galuh memeluk lututnya, bersiap mendengarkan apa yang akan diucapkan Safwan.
"Galuh ... aku tidak akan berbasa-basi. Aku ingin mengatakan kepadamu ... bahwa sejak dari SMP ... aku sudah jatuh hati kepadamu. Aku mencintaimu, Galuh. Maukah kamu menjadi pacarku?"
Jantung Galuh mendadak berhenti berdetak, napasnya tercekat dan matanya menyiratkan kekagetan yang luar biasa. Hingga membuatnya hanya bisa menganga.