NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percikan api

Sesosok bayangan berdiri membeku di ambang pintu ruang keluarga, diam-diam mengamati segalanya.

Jantung Darian serasa berhenti berdetak, naluri protektifnya langsung menyala. Ia siap bergerak, siap menjadi perisai bagi Queenora yang tertidur pulas dan Elios yang bernapas damai, ketika sosok itu melangkah sedikit ke dalam cahaya remang dari lampu jalanan di luar.

Adreine. Ibunya berdiri di sana, mengenakan jubah tidur sutra, rambutnya yang biasa tersanggul rapi kini tergerai di bahunya. Matanya tidak menunjukkan keterkejutan atau penghakiman.

Sebaliknya, saat tatapannya beralih dari kepala Queenora yang bersandar di bahu Darian ke wajah putranya sendiri, seulas senyum tipis yang sarat akan pemahaman terukir di bibirnya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengangguk sekali, sebuah gerakan kecil yang seolah memberi restu, sebelum berbalik dan menghilang kembali ke dalam keheningan koridor, meninggalkan Darian dengan janji yang baru saja ia bisikkan dan kehangatan yang kini terasa jauh lebih nyata.

.

.

.

.

Keesokan paginya, kehangatan itu menguap, digantikan oleh lapisan es tipis kecanggungan yang membekukan setiap interaksi.

Queenora terbangun sendirian di kamarnya, dengan ingatan samar tentang bahu yang kokoh dan bisikan yang menenangkan, tetapi ia tidak yakin apakah itu mimpi atau bukan.

Saat ia turun untuk sarapan, Darian sudah duduk di meja makan, matanya terpaku pada tablet di tangannya, seolah laporan keuangan adalah hal paling menarik di dunia.

“Selamat pagi, Tuan,” sapa Queenora pelan, sambil menyiapkan botol susu untuk Elios, meskipun ia tahu bayi itu akan lebih memilih air susunya.

“Pagi,” balas Darian tanpa mengangkat kepala. Suaranya datar, kembali menjadi suara majikan yang menjaga jarak.

Keheningan yang menyiksa menyelimuti mereka. Bahkan suara Elios yang mengoceh riang di kursinya tidak mampu mencairkan suasana. Queenora bergerak di sekitar dapur seperti hantu, mengambil sereal, menuangkan susu, setiap gerakannya terasa diawasi, meskipun Darian sama sekali tidak melihat ke arahnya.

Ia bisa merasakan tatapan pria itu, bahkan ketika matanya tertuju ke tempat lain. Semalam terasa seperti sebuah pelanggaran, sebuah batas yang telah mereka langkahi dalam tidur, dan kini di bawah terang benderang matahari pagi, tak satu pun dari mereka tahu bagaimana harus kembali.

“Nanti siang… apa Elios ada jadwal imunisasi?” Darian bertanya tiba-tiba, masih menatap layar tabletnya.

“Tidak, Tuan. Jadwalnya baru minggu depan,” jawab Queenora. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.

“Kenapa, Tuan?”

“Tidak apa-apa. Hanya bertanya.”

Dan keheningan itu kembali, lebih tebal dari sebelumnya. Queenora merasa ingin berteriak. Ia ingin bertanya apa yang terjadi semalam, ingin tahu apakah bisikan itu nyata, tetapi lidahnya terasa kelu. Ia takut jawabannya akan menghancurkan harapan rapuh yang mulai tumbuh di hatinya.

Setelah sarapan yang terasa seperti berlangsung selama seratus tahun, Queenora membawa Elios ke ruang bermain. Ia menggelar matras empuk di lantai dan menata beberapa mainan berwarna-warni di sekeliling bayi itu.

Elios, dengan semangatnya yang tak terbatas, langsung meraih sebuah jerapah karet dan mencoba memasukkannya ke dalam mulut. Queenora tertawa kecil, rasa tegang di bahunya sedikit mengendur.

Di sini, bersama Elios, dunianya terasa sederhana.

Beberapa saat kemudian, Darian masuk ke ruangan itu. Ia tidak lagi membawa tabletnya. Ia hanya berdiri di ambang pintu, bersandar di kusen, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ia mengamati interaksi antara Queenora dan putranya, ekspresinya sulit dibaca.

“Dia sudah bisa duduk tegak sekarang,” kata Darian, lebih seperti pernyataan pada diri sendiri daripada pertanyaan.

“Iya, Tuan. Punggungnya sudah sangat kuat,” jawab Queenora, sambil membantu Elios menyeimbangkan tubuhnya.

“Sebentar lagi juga pasti merangkak.”

Darian tersenyum tipis. Ia melangkah masuk dan duduk di lantai, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk menjadi bagian dari lingkaran kecil mereka. Sebuah langkah yang beberapa minggu lalu tak akan pernah ia lakukan.

“Sini, jagoan Ayah,” Darian mengulurkan tangannya.

Elios menoleh, matanya yang besar dan bulat berbinar melihat ayahnya. Ia tertawa, memamerkan gusinya yang belum bergigi, lalu dengan gerakan yang mengejutkan, ia mendorong tubuhnya ke depan, mencoba meraih tangan Darian.

Namun, keseimbangannya goyah. Tubuhnya oleng ke samping. Refleks keduanya bergerak bersamaan. Queenora meluncur ke depan untuk menahan tubuh Elios, sementara tangan Darian terulur untuk melakukan hal yang sama. Tangan Queenora berhasil menahan dada mungil Elios, tetapi tangan Darian mendarat di tempat lain. Di punggung bawah Queenora. Itu bukan sentuhan singkat yang tidak disengaja.

Telapak tangannya yang besar dan hangat menekan punggung Queenora dengan lembut, jari-jarinya sedikit melengkung mengikuti lekuk tubuhnya.

Sentuhan itu seharusnya berakhir dalam sedetik, sebuah kontak yang tidak berarti dalam kepanikan kecil untuk menyelamatkan seorang bayi dari benturan kecil.

Tapi tangan itu tidak beranjak. Darian membeku. Ia bisa merasakan kehangatan kulit Queenora menembus lapisan tipis kaus yang dikenakannya. Ia bisa merasakan getaran kecil dari napas gadis itu.

Otaknya memerintahkannya untuk menarik tangannya, untuk meminta maaf, untuk mengembalikan jarak aman di antara mereka. Tetapi ototnya menolak.

Rasanya… benar. Melindungi mereka berdua, putranya dalam dekapan Queenora, dan Queenora dalam jangkauan tangannya, terasa seperti hal paling alami di dunia.

Queenora menahan napas. Seluruh tubuhnya menegang. Sentuhan itu… berbeda. Tidak seperti sentuhan kasar ayahnya atau sentuhan menjijikkan para monster itu. Sentuhan ini terasa kokoh. Aman.

Sebuah gelombang kejut yang aneh menjalar dari punggungnya, menyebar ke seluruh tubuhnya, membangunkan setiap saraf yang telah lama tertidur, setiap perasaan yang ia kira telah mati selamanya.

Jantungnya mulai berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang terasa seperti… harapan.

Elios, yang tidak menyadari drama sunyi di atas kepalanya, tertawa terbahak-bahak, mengira semua itu adalah bagian dari permainan. Tawa itu memecah mantra.

Darian menarik tangannya dengan cepat, seolah baru saja menyentuh bara api. Queenora juga buru-buru menegakkan tubuhnya, memalingkan wajahnya agar Darian tidak melihat rona merah yang pasti menjalari pipinya.

“Ma-maaf,” Darian tergagap, suaranya serak.

“Aku tidak…”

“Tidak apa-apa, Tuan,” potong Queenora cepat, suaranya nyaris berbisik.

Kecanggungan yang tadi pagi terasa seperti lapisan es tipis, kini telah berubah menjadi dinding beton yang tebal. Mereka kembali menjadi dua orang asing, tetapi kali ini, mereka sama-sama sadar akan percikan api yang ada di balik dinding itu.

Darian berdeham, bangkit berdiri dan membersihkan celananya yang tidak kotor. Ia tampak gelisah, berjalan mondar-mandir sejenak sebelum berhenti dan menatap ke luar jendela.

“Udara di luar… sepertinya bagus,” katanya tiba-tiba, suaranya masih terdengar canggung.

Queenora menatapnya bingung.

“Iya, Tuan. Cerah sekali.”

“Elios…. emm, bukankah baik jika kita ajak dia keluar, dia butuh udara segar,” lanjut Darian, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Lalu, ia berbalik dan menatap lurus ke arah Queenora. Tatapan matanya intens, seolah ada pertarungan yang sedang terjadi di dalam dirinya.

“Kita… kita juga butuh udara segar.”

Queenora hanya bisa mengangguk, terlalu terkejut untuk berkata-kata.

Setengah jam kemudian, mereka berjalan berdampingan di sebuah taman yang tidak terlalu ramai.

Darian mendorong kereta dorong Elios, langkahnya mantap dan penuh tujuan. Queenora berjalan di sisinya, menjaga jarak beberapa senti, tangannya saling bertaut di depan tubuhnya dengan gugup.

Ini adalah pertama kalinya mereka keluar bersama, bukan sebagai majikan dan pegawai, tetapi… seperti sesuatu yang lain. Sesuatu yang menyerupai sebuah keluarga.

Orang-orang yang berpapasan dengan mereka melemparkan senyum ramah.

Seorang ibu muda dengan balitanya menyapa, “Putranya lucu sekali, Pak, Bu.” Darian hanya mengangguk kaku, sementara Queenora merasakan wajahnya memanas.

Bu

Kata itu terdengar begitu asing sekaligus begitu tepat di telinganya.

“Jangan dengarkan mereka,” kata Darian pelan, seolah bisa membaca pikiran Queenora.

“Saya tidak apa-apa,” jawab Queenora lirih.

Mereka menemukan sebuah bangku kosong di bawah pohon rindang yang menghadap ke sebuah danau kecil. Darian memarkirkan kereta dorong di samping bangku dan mereka duduk dalam keheningan, membiarkan suara tawa anak-anak lain dan kicau burung mengisi kekosongan di antara mereka.

“Queenora,” Darian memulai, memecah keheningan tanpa menoleh padanya.

“Tentang semalam… kau tertidur di bahuku.” Jantung Queenora mencelos. Jadi itu bukan mimpi.

“Maaf, Tuan. Saya… saya sangat lelah, maaf saya lancang.”

“Bukan itu,” Darian akhirnya menoleh, dan Queenora terkejut melihat kelembutan di matanya.

Tidak ada kemarahan, tidak ada penghakiman. Hanya… sesuatu yang tulus.

“Aku hanya ingin kau tahu… janjiku semalam, itu nyata.”

Napas Queenora tercekat.

“Janji?”

Darian mengangguk

“Bahwa aku tidak akan meninggalkanmu,” katanya pelan, suaranya nyaris tertelan oleh angin sepoi-sepoi.

“Setidaknya, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian lagi.”

Air mata menggenang di pelupuk mata Queenora. Ia tidak tahu harus berkata apa. Semua pertahanannya, semua dinding yang ia bangun dengan susah payah, runtuh di hadapan ketulusan pria itu.

“Kenapa?” hanya itu kata yang berhasil keluar dari bibirnya yang bergetar.

“Kenapa, Tuan, setelah semua kebohongan saya?”

Darian menatapnya, sebuah tatapan yang dalam dan menusuk, tatapan yang seolah mampu melihat langsung ke dalam jiwanya yang terluka, tatapan yang membuat jantung Queenora berhenti berdetak. Perlahan, ia mengulurkan tangannya melintasi celah di antara mereka di bangku taman itu, jari-jarinya yang panjang dan hangat terulur, hendak…

1
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
Realrf
ma aciwww 😘
Indah MB
bacanya kayak makan permen nano nano ... manis asam asin rame rasanya .... selalu penasaran
Indah MB
lanjut ya thor... jgn berenti sampai di sini
Indah MB
atau jangan jangan , si Luna yg g pernah melahirkan, dan anaknya queenora yg diambil menggantikan anak luna yg meninggal... bisa aja kan?
Nar Sih
jgn ,,foto yg dilihat queenora adalah poto org di msa lalunya
Indah MB: mungkin foto org yg melecehkannya.. kan dia hamil
total 1 replies
Nar Sih
semagatt ya queenora💪
Realrf
hasek 💃💃💃💃
Nar Sih
kak thor sbr nya aku msih bingung dgn cerita queenora yg tiba,,keguguran trus msa lalu nya siapa ayah dri byi nya
Realrf: 🤭🤭🤭 pelan pelan ya ... pelan kita buka siapa dan mengapa
total 1 replies
Nar Sih
sabarr queenora yaa,hti mu yg bersih dan niat mu yg tulus demi nyawa seorang byi yg hampir dehidrasi smoga kebaikan mu dpt blsn bahagia
Indah MB
tajam tajam kata katamu.... seram seram perbuatanmu, tak tahan mata dan telinga .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!