Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
"Jadi bagaimana? Kau setuju atau tidak?"
"Aku........" Rei tampak masih memikirkan semua itu dengan matang-matang.
"Rei, aku tak punya waktu lagi,"
"Rei, kau bisa tidak?"
Rei pun menghembuskan napasnya berat dan mengangguk. "Ya baiklah nona, aku akan membantumu"
*****
Rei keluar dari dapur dengan wajah yang tak seperti biasanya, ia tampak sedikit linglung sejenak.
"Apa yang sebenarnya ingin di lakukan oleh nona Ivana, mengapa dia mengajakku kabur dari rumah ini?" ucap Rei dalam hati.
"Rei, jangan lupa, kau harus membersihkan kolam sore nanti!" ujar kepala pelayan padanya.
Rei pun tersenyum kepada Kepala pelayan, "Ya baiklah, aku akan membersihkannya nanti."
"Namun sekarang aku harus memberikan surat ini dulu kepada Jane," ujar Rei dalam hati.
"Namun di mana dia? Oh itu dia"
"Jane," Rei melambaikan tangannya ke arah Jane, dan Jane pun menoleh.
"Jane tunggu sebentar!" ujar Rei sambil berlari.
"Ada apa Rei?" tanya Jane, dan Rei pun menyerahkan surat yang ia bawa dari Ivana untuk Jane.
"Ini, ada surat untukmu,"
Jane pun mengambil surat itu dari tangan Rei, "Surat apa ini?"
"Ini dari nona Ivana. Dia menyuruhku memberikan surat ini padamu."
Dengan cepat Jane pun langsung membuka surat itu, ia pun membacanya dengan cepat. Wajahnya seketika berubah menjadi tegang, ia pun langsung lari menuju kamar Ivana.
"Hai Jane, kau mau ke mana?" Jane tak menjawab ucapan Rei.
Saat Jane berlari ke arah kamar Ivana, semua pengawal malah berlari ke arah halaman depan.
"Ada apa ini?" tanya Rei yang bingung melihat para pengawal di rumah itu yang kelabakan berlarian.
Jane yang seharusnya menemui Ivana pun memilih untuk pergi menemui Rei. "Ada apa ini?" tanya Jane dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Rei.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Rei pun menatap Jane, hal yang sama juga di lakukan oleh Rei.
"Kau penasaran?" tanya Jane dan jawab anggukan oleh Rei.
"Tentu saja, siapa yang tak penasaran jika ada hal seperti ini"
Sontak keduanya pun berlari, mereka turun ke lantai 1 dan keluar dari rumah. Rupanya tak hanya mereka, hampir semua pelayan di rumah itu berkumpul setelah mendengar para pengawal berlarian.
"Satu penyusup tertangkap, tinggal 2 lagi," ujar salah seorang pengawal kepada yang lainnya.
Mendengar adanya penyusup membuat tanda tanya besar di benak pelayan.
"Ada apa ini, mengapa tiba-tiba sekali ada penyusup?"
"Hal aneh terus bermunculan sejak beberapa minggu ini."
"Kau benar, bekerja di sini rasanya sudah tak nyaman lagi sejak nona Olivia pergi."
"Nona Olivia, andai saja dia tak datang hari itu. Pasti dia tak akan mati konyol, dan ini semua karena nona Ivana yang penyakitan itu."
Ujar beberapa pelayan, dan ucapan dari orang terakhir itu benar-benar membuat Rei marah. "Bagaimana bisa kau mengatakan hal sepeti itu? Kau adalah pelayan di sini, tapi kau seakan memandang rendah majikanmu sendiri. Itu benar-benar memuakkan. Kematian nona Olivia itu adalah takdir, jadi jangan pernah menyalahkan nona Ivana atas ini!."
"Ayolah Rei, mengapa kau selalu membela nona manja itu, kau bahkan tahu apa yang terjadi pada nona Olivia. Dia pergi ke sana karena mendengar bibi Agnes meneleponnya. Itulah mengapa dia di keluarkan dari sini, apa kau juga mau berakhir seperti dia?”
“Ternyata ini yang di maksud dengan nyonya Ema, namun maaf nyonya, aku tidak akan sejahat itu sebagai manusia.” Ujar Jane dalam hati.
Jane menghampiri mereka, ia pun memisahkan keduanya agar tak saling beradu mulut. “Sudahlah, jangan bertengkar lagi,”
“Jane, dia benar-benar menyebalkan,”
“Cih, kau bahkan sekarang berteman dengan pembantu baru itu?”
“Terserah akulah, memangnya kau siapa mengaturku hah?”
“Kedua penyusup itu tak di temukan,” ujar salah seorang pengawal, hal itu pun seketika membuat mereka berhenti bertengkar.
“Ada apa ini, mengapa tiba-tiba ada penyusup di sini?.” ujar Jane dalam hati.
Ia kemudian teringat harus menemui Ivana di kamarnya, Ia pun meninggalkan mereka di halaman depan.
Ivana kini sudah berada di kamarnya, ia mendengar keributan dari halaman depan. Ivana pun pergi ke balkonnya, ia menatap keramaian di bawah sana. “Ada apa ini?”
Ivana kemudian teringat bahwa ia sempat melihat seorang yang mencurigakan di depan rumahnya. “Jangan-jangan benar lagi, ada penyusup yang mengintai rumah ini?”
“Tebakanmu sangat benar sekali nona,” Penyusup itu rupanya telah menyusup ke dalam rumah saat mereka semua lengah ke depan.
“Siapa kau?”
Ivana lalu melihat pintu kamarnya yang tak di kunci, ia bahkan lupa saat ia masuk tadi sama sekali tak ada satu pun pengawal yang berjaga di depan kamarnya. “Ikut aku!” ucap penyusup itu dengan cepat membungkam Ivana dengan sebuah sapu tangan yang sudah di berikan obat pingsan.
Ivana pun pingsan, salah seorang pelayan melihat penyusup itu membawa Ivana. “Lihat ke atas, dia naik ke kamar nona Ivana,” ucap salah seorang pelayan sebari menunjuk ke kamar Ivana. Setelah mengetahui itu, semua pengawal dan pelayan pun masuk, mereka langsung pergi ke kamar Ivana.
“Sial, aku ketahuan.” Pria itu mencoba membawa Ivana lari, namun rupanya ada Jane yang sudah tiba lebih dahulu.
“Nona Ivana,” ucap Jane yang kemudian menatap ke arah pria itu.
“Kau benar-benar ya, mau kau bawa ke mana majikanku?” pria itu tak menjawab, ia pun mengambil sebuah vas bunga yang berada di meja Jane.
Pria itu melemparkannya ke arah Jane, gadis itu dengan cekatan menangkis vas itu dengan kakinya dan membuatnya pecah terkena tembok. “Lepaskan nona Ivana!”
“Sial,” ujar pria itu yang sudah terpojok, ia pun menurunkan Ivana dan mencoba pergi dari sana. Namun hal itu tak di biarkan begitu saja oleh Jane, ia menggenggam baju pria itu, membuatnya tertarik ke belakang, dan saat itu juga, Jane menarik tangannya, membantingnya ke lantai.
Pria itu mengeram kesakitan, saat suara langkah kaki para pengawal mulai mendekat pria itu dengan cepat pergi. Ia bangun, dan kembali berhadapan dengan Jane. “Maju kau penjahat, jangan kau pikir aku takut padamu.”
“Ow, tak kenal takut rupanya anak ini. Baiklah.” Pria itu berlari ke arah Jane, mereka berkelahi, kedua tangan Jane di pelintir ke belakang, namun wanita ini tak hilang akal. Ia menggunakan kakinya, ia menginjak pria itu sehingga membuatnya melepaskan tangannya.
Namun pria itu sudah dekat dengan balkon kamar, pria itu ingin lari, namun Jane menarik tangannya. “Kau tak boleh pergi, kau harus ku bawa ke kantor polisi.”
“Hai anak kecil, lepaskan aku!”
Tangan Jane di tepis, namun ia tak menyerah. Ia kembali menariknya, namun kali ini bukannya tangan yang kena, malah topeng yang ia buka. Hal itu pun membuat Jane membeku seketika.
Ia menurunkan kain hitam yang tadi sempat membalut wajah pria itu, ia menatap pria itu dan tampak terpesona pada ketampanannya. Dan pria itu adalah Danuel, melihat Jane yang tersenyum menatapnya seperti itu membuatnya juga menatap Jane.
Namun hal itu tak berselang lama saat para pegawai di rumah itu telah sampai ke depan pintu kamar Jane. “Sial,” Danuel kembali menatap Jane, ia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.
“Kita pasti akan bertemu lagi nona cantik, selamat tinggal.” Danuel melompat dari lantai 2 rumah itu dengan mudahnya.
Jane pun baru sadar, ia kemudian menatap kepergian pria itu dari atas balkon. Pria itu berlari memanjat pagar dan dua lainnya juga turut pergi.
Jane tampak masih terdiam, ia tampak terpesona akan pria itu. “Sial, perasaan apa ini, ibu apa anakmu ini jatuh cinta?” ujar Jane kepada dirinya sendiri.
Jane tersenyum, ia benar-benar masih dalam keadaan setengah sadar. Bagaimana dia bisa goyah pada Danuel.
“Nona Ivana,” ujar Rei yang mendekat ke arah Ivana.
“Di mana penyusup itu, Jane kau tadi lihat dia kan,” ujar pengawal yang berjaga di depan kamar Ivana.
Jane pun berbalik badan menatap mereka semua, ia tersenyum, badannya luruh ke lantai. “Ibu, pria itu sangat tampan”
“JANE,” ujar semua orang saat Jane mengatakannya.
“Jane, kau kenapa si?”
Para pengawal itu pergi ke balkon untuk melakukan pengecekan, namun mereka tak menemukan apa pun.
“Jane, beri tahu kami, seperti apa rupanya.” Tanya salah seorang pengawal kepada Jane. Dan senyuman lebarnya, Jane pun menggenggam dadanya, ia tersenyum tanpa henti.
“Dia, sangat tampan. Seperti pangeran dari surga. Ibu, pada akhirnya aku menemukan pangeranku.”
Para pelayan menertawakan kelakuan Jane, “Jane, akhirnya kau bertindak sesuai umurmu.”
“Itu benar.”
Jane menoleh ke belakang, ia menatap tembok yang tadi sempat di lalui oleh Danuel.
Di sisi lain, Danuel dan kedua anak buahnya berada di mobil. Ia tersenyum menyeringai, ia juga rupanya sama halnya dengan Jane, ia terus memikirkan Jane dan tersenyum seperti orang bodoh karenanya.
“Gadis cantik itu, berapa umurnya ya?”
“Sial Danuel, apa ini efek karena kau tak pernah punya pacar?”
*****
Evaluasi tiba-tiba di lakukan, Emalia mengumpulkan mereka semua di ruang kerjanya. Baik pelayan maupun pengawal bahkan hingga tukang kebun dan satpam rumah, mereka smeua di kumpulkan.
“Jadi, di mana penyusup itu?” tanya Emalia kepada Jane.
“Maaf nyonya, saya tidak sempat mencegahnya untuk pergi.” Jane tak berani menatap Emalia setelah dia gagal mencegah pria itu.
“Kau bilang, kau jago taekwondo, namun kenapa kau bisa kalah dengannya.”
Jane yang mendengar itu pun langsung menatap Emalia, “Nyonya, itu bukan jaminan. Pria itu benar-benar tinggi, tegap, dan juga”
“Tampan,” ujar Jane dalam hati.
“Dan juga apa Jane?”
“Dan juga dia sangat pandai berkelahi. Lagi pula nyonya, bukankah seharunya yang salah di sini bukan saya, tapi pengawal ini. Mereka yang tak becus menjaga keamanan di rumah ini.”
Mendengar hal itu sontak semua pengawal langsung menatap ke arah Jane, “Kau ada benarnya juga Jane.”
Sontak Emalia pun langsung berteriak kepada mereka semua, “KALIAN SAMA SAJA, SEMUA SAMA, KALIAN SAMA-SAMA TIDAK BECUS.”
Thor