"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Katanya Tidak Menunggu
"Iya, Ma. Aku akan pulang," jawab Alex lesu. Namun dia tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan sang ibu.
Alex tahu betul, jika malam ini ia tak pulang maka Mama Sandra tak akan segan-segan mencari dan mendatangi apartemennya dengan Dea sekarang. Dan itu adalah hal terakhir yang tak ia inginkan, terutama karena ia tak ingin siapa pun dari keluarganya mengetahui keberadaan Dea dalam hidupnya.
Alex tahu bahwa keberadaan Dea mulai membuatnya merasakan nyaman, tapi Alex sadar betul kenyamanan saja tidak cukup. Jika dilihat dari berbagai sisi Dea bukanlah sosok yang tepat untuk mendampinginya seumur hidup.
Alex harus selalu ingat bahwa bubuhannya dengan Dea hanya untuk bersenang-senang. Alex tak merasa brengsek sedikitpun, karena apa yang dia dan Dea lakukan sekarang atas dasar kesepakatan bersama.
Toh Dea juga menikmati semuanya, bahkan Alex akan terus memanjakannya.
"Jangan iya iya saja, kamu harus benar-benar pulang. Jika tidak Mama akan datang ke apartemenmu," ancam mama Sandra, tepat seperti yang Alex duga.
"Iya, Astaga. Aku akan pulang sebelum makan malam."
"Bagus."
Panggilan ibu dan anak itupun akhirnya berakhir.
Selesai Dea mandi, rambutnya masih basah dan dibalut handuk, Alex menyambutnya dengan senyum seperti biasa. Senyum yang Dimata Dea terlihat seperti senyum nakal.
Dulu saat awal-awal hubungan mereka, Dea merasa sangat terganggu dengan senyuman tersebut. Tapi sekarang dia malah senang, justru katakan seperti itulah tatapan yang dia sukai dari sang boss.
Dea bahkan kini selalu siap andai Alex ingin menyentuhnya.
"Harusnya kamu keluar tanpa memakai handuk," goda Alex setelah Dea berdiri tepat di hadapannya.
"Haruskah aku melepasnya sekarang?" tantang Dea dengan tatapan menggoda.
Alex sampai terkekeh dibuatnya, tak ada lagi Dea sekretarisnya yang pollos. Kini Dea benar-benar berubah jadi kucing nakal.
“Jangan, karena aku harus pergi malam ini."
"Kemana?"
"Pulang sebentar ke rumah kedua orang tuaku, mereka sudah memintaku untuk datang ke sana,” ucapnya s sekaligus menjelaskan. Nada suaranya kembali seperti Alex yang Dea kenal di kantor, tenang, datar, tanpa emosi berlebih.
“Iya,” hanya itu yang keluar dari bibir Dea. Senyumnya samar, nyaris dipaksakan.
Alex mendekat, mengecup kening Dea sekilas gerakan yang terasa hangat, tapi juga mendadak asing. “Istirahatlah, Aku mungkin pulang agak malam atau malah tidak pulang,” ucap Alex, dia sendiri belum bisa memastikannya.
Dea mengangguk pelan. “Iya, nanti jika sudah mengantuk aku akan langsung tidur, tidak menunggumu pulang.”
"Bagus," jawab Alex, sungguh dia tidak ingin membuat hubungan mereka jadi rumit. Alex benar-benar menghindari adanya campur aduk perasaan dalam kesepakatan ini. karena dengan adanya perasaan justru hanya akan memperumit keadaan mereka.
Setelahnya Alex pun pergi, meninggalkan apartemen yang mendadak terasa terlalu sunyi bagi Dea.
Beberapa detik Dea masih berdiri di tempat yang sama, menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Baru saat itu dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang mengendap pelan-pelan, perasaan yang sejak tadi ia hindari Tapi kini tidak mampu dia cegah lagi.
Alex memiliki dunia lain. Keluarga, rumah, kehidupan yang sama sekali tidak melibatkan dirinya.
Dea duduk di tepi ranjang, menatap pantulan wajahnya di cermin. Senyum bahagia yang tadi memenuhi hatinya selama di Swiss perlahan memudar. Ia baru benar-benar sadar, selama ini ia hanya hadir di sela-sela hidup Alex, bukan bagian utamanya.
Ia bukan wanita yang bisa ikut makan malam keluarga.
Bukan wanita yang bisa dikenalkan dengan bangga.
Bukan wanita yang memiliki tempat tetap yang istimewa.
Dia hanyalah sekretaris.
Hanya istri di atas kertas.
Hanya pengisi waktu.
Dea memeluk tubuhnya sendiri dan menunduk. Untuk pertama kalinya sejak kembali dari Swiss air matanya jatuh juga.
“Dea… jangan bodoh,” bisiknya lirih pada diri sendiri.
Tapi hatinya terlanjur jatuh terlalu dalam. Dan ia tahu, jika suatu hari Alex pergi meninggalkannya, maka yang akan hancur hanyalah dirinya seorang.
Alex tiba tepat ketika makan malam hampir dimulai. Pelayan rumah segera membukakan pintu, aroma masakan rumah yang hangat langsung menyambutnya.
“Akhirnya pulang juga,” suara Mama Sandra terdengar dari ruang makan.
Alex melepas jasnya dan langsung bergabung di meja makan. Papa Gio sudah duduk di ujung meja, kacamata baca masih bertengger di hidungnya, ekspresinya tenang namun penuh wibawa seperti biasa.
“Kamu kelihatan capek,” ujar Papa Gio sambil menyesap supnya. “Dengar-dengar kamu baru dari Swiss?”
Alex mengangguk ringan. “Iya. Ada klien lama di sana. Sekalian cek beberapa peluang kerja sama.”
“Perjalanan bisnis mendadak sekali,” timpal Mama Sandra. “Kamu ini benar-benar terlalu sibuk bekerja, Lex. Dari dulu sampai sekarang isinya cuma kantor.”
Alex tersenyum tipis. “Itu memang tanggung jawabku, Ma.” Alex sebenarnya memiliki dua adik, tapi kedua adiknya kini kuliah di luar negeri. Sang ayah memilih pensiun dini dan menyerahkan semua urusan kantor pada Alex.
Mama Sandra kemudian meletakkan sendoknya. Tatapannya berubah jadi lebih serius. “Justru karena itu. Bukankah sudah waktunya kamu memikirkan pernikahan? Masa hidupmu hanya dihabiskan untuk kerja dan kerja.”
Alex menghela napas pelan. Topik ini selalu muncul, cepat atau lambat.
“Kebetulan,” lanjut Mama Sandra seolah tak memberi celah, “Mama ingin mengenalkanmu dengan Anita. Anak sahabat Mama. Perempuan baik, pendidikannya bagus, keluarganya jelas.”
Papa Gio ikut mengangguk kecil, seakan menyetujui rencana itu tanpa perlu banyak kata. Lagipula tahun ini Alex genap 35 tahun, sudah waktunya Alex memikirkan tentang keturunan.
Alex bersandar di kursinya. Ia tidak ingin debat, tidak ingin pusing. “Atur saja, Ma. Kalau memang harus bertemu, aku akan datang.”
Wajah Mama Sandra langsung berbinar.
“Tapi,” Alex menambahkan dengan nada datar, “kalau aku tidak cocok, aku akan langsung pergi. Aku tidak mau dipaksa.”
Mama Sandra terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Yang penting kamu mau mencoba.”
Alex kembali fokus pada makanannya, seolah topik itu sudah selesai. Baginya, pertemuan semacam itu hanyalah formalitas, satu lagi hal yang harus ia lalui tanpa melibatkan perasaan.
Sementara itu di apartemen, Dea duduk di sofa dengan selimut tipis melilit tubuhnya. Lampu ruang tengah sengaja dibiarkan menyala, televisi menyala tanpa benar-benar ia tonton. Jam di dinding terus bergerak, jarum panjangnya terasa terlalu berisik.
Ia teringat kata-katanya sendiri tadi, tidak akan menunggu Alex pulang malam ini.
Namun kenyataannya, ia menunggu.
Setiap bunyi dari luar membuatnya menoleh. Setiap getar ponsel membuat dadanya berdebar, berharap nama Alex yang muncul di layar. Tapi layar itu tetap gelap.
Dea memeluk bantal, menahan perasaan yang makin menyesakkan. Ia tahu di saat seperti ini Alex sedang duduk nyaman bersama keluarganya, tertawa kecil, makan malam hangat, sebuah dunia yang tak pernah ia masuki.
Akhirnya Dea berdiri, mematikan televisi, lalu berjalan ke kamar. Ia merebahkan diri, memunggungi sisi ranjang yang biasanya ditempati Alex.
“Katanya tidak menunggu,” bisiknya lirih, pahit pada diri sendiri.
lupe you pull😍😍
biar bang Al tantrum sdri🤣
tapi sayang tak digubris🤭..