Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 (Part 2)
Marisa menimbang-nimbang. Pria ini, Dalend, tampak lebih terdampar daripada dirinya. Meskipun dia penipu ulung, dia adalah penipu yang saat ini sama-sama kelaparan dan kehabisan akal. Dan janji lima puluh juta itu, demi ibunya, terlalu menggiurkan untuk ditolak.
Ia menghela nafas panjang, menatap langit biru di atas lorong. Ia baru saja kehilangan segalanya, apa ruginya kehilangan akal sehat sebentar?
"Oke, Dalend. Gue terima tawaran konyol Lo." Marisa merentangkan tangan. "Anggap saja ini balas dendam gue pada kota ini. Tapi ingat, lima puluh juta tunai. Dan gue cuma main peran, nggak lebih. Jangan pernah sentuh gue tanpa izin."
Ia dengan senyum lebar yang tulus. Bukan senyum sayu seperti sebelumnya, tapi senyum lega. "Setuju. Kontraknya dimulai dari sekarang, sweetheart."
Marisa menarik tangannya cepat. "Jangan panggil gue sweetheart!"
"Oke, tunanganku," Dalend mengoreksi, mengedipkan mata. "Sekarang, bisakah tunangan saya yang Cantik ini mentraktir saya sarapan? Gue bisa makan gajah sekarang. Laper banget."
Marisa berdecak kesal, namun ia merasakan denyutan harapan yang sudah lama hilang. "Jalan. Tapi bayar utang Lo malam ini juga, atau kontraknya batal."
Perjalanan ke Market, mereka berjalan berdampingan menuju market terdekat. Marisa membiarkan Dalend berjalan disampingnya. Dia sadar, penampilan mereka sangat kontras. Marisa dengan dress tosca yang sudah lumayan rapi, tampak seperti wanita karier yang sedang santai. Akui ia memang mudah merubah penampilan.
Sementara Dalend, dengan sweater birunya, celana jeans lusuh, dan rambut berantakan khas bangun tidur di lorong, tampak sepertj gelandangan yang baru saja memenangkan lotre.
"Lo yakin nggak ada yang kenal Lo di jalan ini?" Bisik Marisa, sedikit menjauh dari Dalend saat melewati segerombolam anak muda yang menatap Dalend kagum dan aneh.
"Yakin. Kalau didaerah bisnis, iya. Tapi ini kan pinggiran. Gue jarang ke sini. Lagipula, mereka nggak akan mengira seorang Dalend Angkasarapu bisa terdampar segelandangan ini, " jawab Dalend santai, bahkan ia sempat menyapa seorang pengamen jalanan.
"Gelandangan? Lo anak pemilim Angkasa Raga dan Lo bisa tidur di lorong? Kenapa nggak check-in di hotel aja pakai jaminan?"
"Gue nggak mau ngerepotin orang lain. Kalau mereka tahu, pasti mereka lapor ke keluarga gue. Dan KTP gue ah! Kayanya kebawa dan handphone gue yang sekarang udah mati dan gue buang ke kali. Biar nggak terlacak." Dalend mengangkat bahu. "Ini bagian dari escape gue. Dan sekarang, Lo bagian dari itu."
Marisa mendengus. "Pantas saja Lo aneh. Orang kaga yang cari masalah."
"Gue nggak cari masalah. Masalah yang nyari gue. Sama kayak Lo, kan?"
Kalimat Dalend menusuk tepat di ulu hati. Ya, Bara dan kegagalan pernikahannya adalah masalah yang mencari Marisa.
"Kita beli mi instan aja. Uang gue nggak banyak," kata Marisa ketika mereka sudah sampai di depan Market.
"Nggak, dong. Kita tunangan. Kita harus makan enak." Dalend menarik Marisa masuk, berjalan cepat ke bagian makanan beku. "Kita beli steak beku. Nanti kita masak di apartemen. Lo bisa masak, kan?"
"Gue? Hm nanti," Marisa menatap Dalend tak percaya.
Dalend terkekeh. "Oh, jadi tunangan gue best!"
Mereka akhirnya berselisih tentang belanjaan. Marisa bersikeras membeli mi instan dan telur, sementara Dalend mengambil steak beku, keju impor, wine non-alkohol, dan beberapa dessert mahal.
"Lo gila! Ini bisa habis seratus ribu lebih!" Marisa berbisik panik saat Dalend memasukkan sebotol selai stroberi ke keranjang.
"Tenang aja. Kalau nggak ada makanan mewah, mana mungkin kita bisa bilang ini makanan di apartemen Angkasa Raya," Dalend menyenggol Marisa. "Uang Lo, Marisa. Ingat. Lo akan jadi kaya."
Mau tidak mau, Marisa menyerah. Di kasir, Marisa harus merogoh dompetnya dalam-dalam. Total belanjaan mereka mencapai Rp 325.000,00. Itu adalah hampir semua sisa uang didompet Marisa, uang yang seharusnya ia gunakan untuk bus jarak jauh.
Marisa menatap Dalend dengan mata berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena marah bercampur putus asa.
"Jangan nangis," bisik Dalend, melihat ekspresi Marisa. Ia meletakan tangan di punggung Marisa, pura-pura bersikap romantis layaknya pasangan. "Gue janji, malam ini, uang Lo kembali, plus tiga kali lipat. Trust me."
"Gue pegang janji Lo, " desis Marisa, tangannya mencengkeram tas belanjaan.
Setelah keluar dari market, Dalend membawa Marisa ke sebuah taksi yang mangkal tak jauh dari sana.
"Kita ke apartemen gue," kata Dalend pada supir taksi, menyebutkan nama sebuah gedung pencakar langit mewah di pusat kota.
Selama di perjalanan, Dalend menjelaskan rencana mereka.
"Apartemen itu baru dibeli nyokap gue. Belum ada yang tahu kalau gue tinggal di sana, kecuali nyokap gue yang berniat menjadikan itu hadiah kalau gue mau pergi ke London. Kuncinya sudah dikirim ke rumah. Jadi, kita harus ke rumah gue dulu untuk ambil kunci itu."
"Ke rumah Lo? Gila ya? Lo bilang nggak mau ketemu keluarga Lo, tapi Lo malah mau bawa gue ke sarang mereka?"
"Tenang. Rumah gue ada di kawasan elit, banyak pintu masuk dan pos penjagaan. Kita masuk lewat pintu belakang yang dijaga Pak Ujang. Dia tahu gue anak bandel, dan dia nggak akan lapor nyokap gue. Kita hanya ambil kunci, nggak lebih. Lo harus siap-siap, Marisa. L¥ harus terlihat tenang, percaya diri, dan jelas-jelas lebih baik dari cewe London yang mereka jodohkan dengan gue."
"Bagaimana kalau ada nyokap Lo?"
"Mungkin ada. Tapi nyokap gue nggak akan curiga. Dia tahu gue suka bawa cewe. Lo tinggal diam, perkenalkan diri sebagai Marisa, bilang Lo teman kuliah gue, terus kabur. Itu kalau Lo ketemu. Harus berani. "
Dalend menarik napas. "Lo harus tunjuka kalau Lo adalah wanita yang bisa membuat putra kesayangan mereka menolak London. Bisa, kan?"
Marisa menelan ludah. Ia baru saja melalui krisis terbesar dalam hidupnya, dan sekarang ia harus berpura-pura menjadi wanita tangguh di depan keluarga bangsawan? Ini lebih menakutkqn daripada masalahnya
"Gue akan coba," kata Marisa, memejamkan mata. Ia membayangkan wajah Bara dan Anya. Tidak, ia tidak boleh terlihat lemah lagi. Ia harus mendapatkan lima puluh juta itu demi ibunya.
Setidaknya, Dalend membuat pikirannya sibuk. Marisa tidak lagi menangis. Marisa kini sedang merencanakan kebohongan besar bersama seorang anak konglomerat yang sama-sama tersesat.
Ketika taksi berhenti di depan gerbang megah, Marisa merasa jantungnya berdebar kencang. Inj bukan lagi lorong gelap, ini adalah dunia yang sangat berbeda.
"Siap, Tunangan?" Dalend tersenyum licik.
"Siap, Pria Gelandangan," balas Marisa, memasang kacamata hitamnya, siap menghadapi drama yang baru saja ia setujui.
...