Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang Tidak Pernah Diucapkan
Malam itu, rumah aman terasa lebih kecil dari biasanya.
Tidak ada suara selain jam dinding tua yang berdetak pelan, seolah menghitung sesuatu yang tak terlihat. Carmela duduk di tepi ranjang, mantel masih menempel di tubuhnya. Amplop dari Lorenzo tergeletak di meja kecil—tidak dibuka, tapi cukup nyata untuk mengisi ruangan dengan ketegangan.
Matteo berdiri di dekat jendela, membelakangi Carmela.
Tidak ada kemarahan yang meledak. Tidak ada teriakan. Justru itulah yang paling menyakitkan.
“Kau bertemu dengannya,” kata Matteo akhirnya.
Itu bukan pertanyaan.
Carmela mengangguk pelan. “Ya.”
“Apa yang ia katakan?”
“Hal-hal yang ingin membuatmu marah,” jawab Carmela jujur. “Dan beberapa hal yang… masuk akal.”
Matteo menoleh cepat. “Masuk akal?”
Carmela menghela napas. “Tentang perang ini. Tentang siapa saja yang akan terseret.”
Matteo tertawa pendek, tanpa senyum. “Dia selalu pandai membungkus racun dengan logika.”
“Aku tahu,” balas Carmela. “Itulah sebabnya aku tidak langsung menolaknya.”
Keheningan jatuh lagi.
Matteo mendekat beberapa langkah, tapi berhenti—seolah ada garis tak terlihat di antara mereka.
“Apa yang ia tawarkan?” tanya Matteo, suaranya rendah.
Carmela ragu. Bukan karena takut pada Matteo—tapi karena ia tahu kebenaran ini akan melukai.
“Jarak,” katanya akhirnya. “Bukan perpisahan. Tapi cukup jauh untuk melemahkanmu.”
Wajah Matteo mengeras.
“Dan kau mempertimbangkannya,” katanya.
Carmela tidak menyangkal. “Aku mempertimbangkan semua kemungkinan.”
“Itu berarti kau mempertimbangkan hidup tanpaku,” ucap Matteo pelan—dan kalimat itu lebih tajam dari pisau.
Carmela berdiri. “Tidak. Aku mempertimbangkan hidup bersamamu tanpa melihat orang lain mati karena kita.”
Matteo memejamkan mata. Rahangnya mengeras.
“Aku sudah hidup dengan darah di tanganku sejak lama,” katanya. “Aku tidak butuh kau menanggungnya.”
“Aku tidak meminta darah itu,” balas Carmela, suaranya mulai bergetar. “Tapi aku tidak bisa menutup mata sekarang. Aku sudah melihatnya.”
Matteo menatapnya—benar-benar menatap.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan yang tidak bisa ia lindungi dengan senjata.
—
Malam semakin larut.
Mereka tidak tidur bersama.
Bukan karena marah, tapi karena jarak yang tiba-tiba terasa perlu.
Carmela berbaring di ranjang, menatap langit-langit. Matteo duduk di ruang depan, senjatanya tergeletak di meja, tangannya kosong.
Ia membenci dirinya sendiri karena satu hal:
Ia ingin memaksa.
Ingin melarang.
Ingin menarik Carmela kembali ke belakangnya.
Dan justru karena ia mencintainya, ia tidak melakukannya.
—
Pagi datang dengan udara dingin.
Carmela keluar lebih dulu, menyeduh kopi. Tangannya gemetar saat menuang air panas.
Matteo masuk beberapa saat kemudian. Mata mereka bertemu singkat, lalu sama-sama berpaling.
“Aku akan pergi sebentar,” kata Matteo. “Ada jalur yang harus kuperiksa.”
“Dengan Ricardo?”
“Tidak.”
Carmela menoleh cepat. “Matteo—”
“Aku tidak akan melakukan hal bodoh,” potong Matteo. “Aku hanya perlu berpikir.”
Carmela mengangguk. Ia ingin mengatakan jangan, tapi tahu kata itu tidak akan menghentikannya.
“Jangan lama,” katanya pelan.
Matteo berhenti di ambang pintu. “Kau juga.”
—
Carmela membuka amplop itu akhirnya.
Isinya hanya satu lembar kertas.
Kadang cinta bukan tentang bertahan.
Tapi tentang tahu kapan harus menjauh untuk menyelamatkan sesuatu.
—L
Tidak ada ancaman. Tidak ada paksaan.
Dan justru itu yang paling menakutkan.
Carmela melipat kertas itu, menyimpannya kembali.
Ia tahu satu hal dengan pasti:
Keputusan yang akan ia ambil nanti—apa pun itu—akan mengubah mereka.
—
Di tempat lain, Matteo berdiri di pinggir jalan kecil, memandang pegunungan jauh di depan. Ricardo berdiri di sampingnya, diam.
“Kau tidak bisa mengendalikannya,” kata Ricardo akhirnya.
“Aku tahu,” jawab Matteo.
“Lalu kenapa kau terlihat seperti akan hancur?”
Matteo tersenyum pahit. “Karena untuk pertama kalinya… aku takut ia akan memilih dunia tanpa aku.”
Ricardo menepuk bahunya pelan. “Atau mungkin ia memilih dunia di mana kau harus belajar berjalan bersamanya, bukan di depannya.”
Matteo menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berdoa—bukan untuk kemenangan.
Tapi untuk kesempatan kedua.