andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Aku tiba di SMK Taruna Nusantara saat matahari belum sepenuhnya naik. Sekolah kejuruan kalangan elit ini tampak rapi seperti biasa. Gedungnya bersih, tamannya terawat, dan lorong-lorongnya luas. Sulit membayangkan tempat seindah ini menjadi lokasi kematian seseorang.
Suasana sudah ramai. Beberapa rekan kepolisian berdiri di berbagai sudut, mengatur orang-orang yang mulai berdatangan. Siswa dan guru tampak gelisah, berbisik pelan, seolah takut suara mereka ikut tercatat sebagai saksi.
“Lapor, Pak,” ucap Lukman, anggota timku.
Aku mengangguk. “Kita bisa mulai olah TKP?”
“Siap.”
“Sterilkan lokasi,” kataku.
Aku mengedarkan pandangan. TKP berada di toilet siswa lantai bawah. Garis polisi sudah terpasang rapi, membatasi area masuk. Beberapa siswa masih berusaha mengintip dari kejauhan, namun segera diarahkan menjauh oleh petugas.
Aku mengenakan sarung tangan dan masker. Beberapa rekan sudah mengambil foto kondisi awal, mengabadikan setiap sudut sebelum apa pun disentuh.
Di dalam bilik toilet, tubuh korban masih tergantung pada tiang penyangga. Di bawahnya terdapat sebuah kursi plastik yang terjatuh ke samping. Posisi itu memberi isyarat sederhana tentang apa yang mungkin terjadi. Pakaian korban rapi. Sepatunya masih terpasang sempurna. Tidak ada tanda perlawanan yang mencolok.
Aku berdiri cukup lama, menatap tubuh itu. Di tempat seperti ini, anak-anak seharusnya belajar tentang masa depan, bukan mengakhirinya.
“Kita periksa sidik jari,” ucapku pelan.
Aku menoleh ke arah Rini. “Taburkan serbuk sidik jari.”
Rini bekerja dengan tenang. Serbuk ditaburkan perlahan di kursi plastik, tiang penyangga, dan sekitar bilik. Gerakannya nyaris tanpa suara, seperti tidak ingin mengganggu kesunyian yang menyelimuti ruangan itu.
“Bagaimana?” tanyaku.
“Bersih. Tidak ada sidik jari lain,” jawabnya singkat.
Aku mengamati wajah korban. Pucat. Lehernya hanya menunjukkan bekas jeratan tali. Tidak ada memar lain. Tidak ada luka yang mencurigakan. Bajunya utuh, seolah tubuh itu pergi tanpa sempat berkelahi dengan siapa pun.
“Bagaimana menurut Bapak?” tanya Lukman.
Aku menarik napas panjang. “Turunkan korban. Masukkan ke kantong jenazah. Kita lanjutkan pemeriksaan di kamar mayat.”
Terdengar teriakan histeris saat salah satu rekanku hendak memasukkan jenazah ke dalam kantong mayat.
“Hei, kamu. Cepat tangkap pelakunya.”
Aku mengernyitkan dahi dan memandang seorang lelaki gemuk berpakaian rapi dengan jas mahal. Di sampingnya, seorang wanita berpakaian mewah menangis histeris sambil meremas tasnya.
“Doni,” teriaknya berulang kali.
Pria gemuk itu melangkah mendekat ke arahku. Tatapannya tajam dan napasnya tersengal.
“Cepat tangkap pelakunya,” perintahnya dengan nada tinggi.
“Ini masih dalam proses olah TKP, Pak. Kami belum bisa menentukan siapa pelakunya,” jawabku tenang.
“Dasar bodoh,” teriaknya. “Kamu tidak tahu siapa saya? Saya Ramlan, anggota dewan.”
Aku tetap berdiri di tempat. “Baik, Pak.”
“Nama kamu Andi, kan?” lanjutnya. “Saya akan melaporkan kamu kalau kamu tidak becus bekerja.”
Aku menatapnya lurus. “Memang Bapak tahu siapa pelakunya?”
“Pelakunya Ridwan, Pak,” ucap seorang siswa dengan yakin.
Ramlan langsung menoleh ke arah siswa itu. “Nah, anak kecil saja tahu. Kenapa kamu sebagai polisi tidak tahu?”
Aku menarik napas dalam-dalam. Mereka menuduh terlalu cepat. Dugaan awalku, korban bunuh diri. Tidak tampak tanda penganiayaan sama sekali.
“Cepat tangkap yang bernama Ridwan itu,” teriak wanita di samping Ramlan.
“Kami tidak bisa menangkap seseorang begitu saja. Harus ada bukti yang kuat,” kataku tetap tenang.
“Dasar tidak berguna. Satu orang saksi saja sudah cukup. Ini jelas penganiayaan. Anakku tidak mungkin bunuh diri,” ujar Ramlan dengan suara bergetar menahan amarah.
Aku menghela napas berat, lalu menoleh ke arah siswa yang tadi berbicara. “Kenapa kamu bisa menyebutkan Ridwan sebagai pelakunya?” tanyaku sambil menatapnya tajam.
Siswa itu tampak gugup. Tangannya saling meremas. “Karena kemarin Ridwan berkelahi dengan Doni, Pak. Jadi Ridwan balas dendam karena Doni sempat mengeroyoknya.”
Aku terdiam sejenak. Rupanya korban dikenal suka membully. Dalam hatiku muncul pertanyaan lain. Mungkinkah seorang pembully justru mengakhiri hidupnya sendiri.
Belum sempat aku berbicara, seorang siswa bertubuh kekar mendorong seorang anak laki-laki bertubuh tinggi dan kurus ke depan. Anak itu mengenakan kacamata tebal dan tampak ketakutan.
“Pak, ini Ridwan.”
Ramlan tampak hendak menerjang ke arahnya. “Kurang ajar kamu. Kenapa kamu membunuh anak saya?” bentaknya.
Wanita di samping Ramlan kembali menangis histeris.
“Tunggu, Pak,” ucapku tegas. “Bapak tidak bisa main hakim sendiri.”
Aku menatap Ridwan. Wajahnya pucat, matanya bergetar.
“Saya tidak tahu apa-apa, Pak,” katanya terbata-bata. “Sejak pagi saya di kelas, tidak ke mana-mana. Lagipula di sekolah ini ada CCTV, Pak. Silakan dicek.”
Aku menoleh ke sudut lorong. Benar, sebuah kamera CCTV terpasang menghadap area toilet.
“Tidak usah lihat CCTV. Tangkap saja anak ini,” teriak Ramlan dengan penuh amarah.
“Tidak bisa begitu, Pak. Menuduh tanpa bukti juga melanggar hukum,” jawabku.
“Kalau saya melanggar hukum memang kenapa? Saya hanya ingin keadilan untuk anak saya.”
Aku terdiam. Aneh sekali. Ia bicara tentang keadilan, tetapi bersikap tidak adil terhadap orang lain.
“Andi, saya akan melaporkan kamu ke atasanmu supaya kamu dipecat,” teriaknya.
Aku hanya bisa menghela napas. Di dunia ini, terlalu banyak orang yang merasa kebal hukum karena kekuasaan.
“Pak Andi, ini rekaman CCTV,” ucap Rani yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekatku.
Aku melihat layar ponselnya. Rekaman dimulai pukul 08.00 sampai 08.45. Terlihat Doni berjalan sendiri di lorong sambil membawa kursi plastik dan seutas tali. Ia masuk ke bilik toilet, mengikat tali ke tiang penyangga, lalu naik ke kursi plastik. Setelah itu, ia memasukkan lehernya ke dalam jeratan dan menendang kursi tersebut.
Beberapa detik kemudian, tubuhnya terdiam.
“Silakan lihat, Pak,” ucapku pada Ramlan.
Wajah Ramlan memerah, bukan karena marah, melainkan malu. “Dari rekaman CCTV ini jelas bahwa korban melakukan perbuatannya sendiri. Tidak ada penganiayaan.
“Doni,” teriak istri Pak Ramlan dengan suara parau.
Pak Ramlan memeluk istrinya erat, seolah tubuh itu satu-satunya penyangga agar mereka tidak roboh. Wanita itu terisak, suaranya pecah oleh tangis.
“Doni kurang apa, Mah, sama kamu? Kemarin Mamah baru belikan mobil balap buat kamu. Kenapa kamu senekat ini?” ucapnya sambil mengguncang bahu suaminya.
Aku memperhatikan mereka dari kejauhan. Dalam benakku muncul banyak pertanyaan. Anak ini dikenal sebagai pembully, dimanja dengan materi, dan secara psikologis tidak menunjukkan tanda depresi berat. Ia tidak tampak seperti seseorang yang merencanakan akhir hidupnya. Namun fakta di TKP berkata lain.
Rekanku bersiap memasukkan jenazah ke dalam kantong mayat.
“Kalian semua bodoh,” teriak Pak Ramlan tiba-tiba. “Jenazah putra saya akan saya urus sendiri.”
Ia menjauh sejenak, lalu menelpon seseorang. Tak lama kemudian, ponselnya disodorkan kepadaku.
“Andi, ini saya, Haris,” suara atasanku terdengar di seberang.
“Siap, Pak,” jawabku.
“Kamu tutup kejadian ini. Bilang saja korban kecelakaan.”
“Tapi, Pak,” ucapku tertahan.
“Sudah. Ikuti perintah.”
Sambungan terputus. Aku menghela napas berat. Padahal jika dilakukan autopsi, kemungkinan lain seperti racun atau zat tertentu masih bisa ditelusuri. Namun perintah tetaplah perintah.
Aku mengembalikan ponsel itu kepada Pak Ramlan. Ia menatapku tajam. “Ingat, kalau ini sampai menyebar, kamu yang bertanggung jawab.”
Ia lalu berjalan menuju ruang manajemen sekolah. Aku tahu, ia ingin memastikan semuanya terkubur rapi.
“Bagaimana, Pak?” tanya Lukman pelan.
“Kasus ditutup,” jawabku.
“Laporannya bagaimana, Pak?”
Aku terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kecelakaan di kamar mandi.”
Aku duduk di kursi dekat taman sekolah, aku melihat foto-foto korban
Dilehernya aku temukan hal yang janggal ada tulisan “1721200”
“apa ini” ucapku dalam hati