NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeda logika

"Ini konyol, Ayunda! Data tidak pernah berbohong, katamu? Proyek miliaran ini hancur justru karena kau terlalu memuja data-datamu itu!” Suara Radya Maheswara memecah keheningan kabin Mercedes S-Class miliknya, tajam dan dingin seperti bilah es. Di seberang telepon, ia bisa membayangkan Ayunda, rekan bisnisnya yang selalu tampil sempurna, mengernyitkan dahi di balik kacamata berbingkai tipis.

“Bukan begitu, Radya. Ada faktor lain yang tidak terprediksi. Fluktuasi pasar global…” cicit wanita cantik itu.

“Faktor lain?” Radya tertawa sinis, satu tangannya mencengkeram kemudi dengan erat sementara mobil melaju membelah malam Jakarta yang tak pernah tidur.

“Faktor Lain atau kau yang terlalu lama berkutat dengan analisis SWOT sampai lupa caranya mengambil risiko? Ini bisnis, bukan disertasi doktoral!”

“Aku sudah memperingatkanmu tentang volatilitas pemasok dari Eropa Timur. Semua ada di laporan halaman tujuh belas,” balas Ayunda, suaranya tetap tenang meski tersirat nada defensif.

“Persetan dengan laporanmu! Aku membayarmu untuk intuisi, bukan untuk menjadi pustakawan! Ini adalah kesialan ketiga dalam dua minggu, Ayunda. Ketiga! Pertama, server data kita jebol tepat sebelum presentasi tender. Kedua, satu kontainer penuh produk kita jatuh ke laut karena badai aneh. Sekarang ini. Apa selanjutnya? Gedung kantor kita ditelan bumi?”

Napas Radya memburu, campuran antara amarah dan kelelahan yang mulai menggerogoti logikanya. Ia melirik spion, lampu-lampu jalanan tampak seperti lelehan emas yang kabur. Ada getar aneh di tengkuknya, perasaan yang tidak bisa ia definisikan dengan angka atau grafik.

“Itu hanya rentetan kebetulan yang tidak menguntungkan, Dya. Jangan jadi seperti kakekmu, menyalahkan bintang jatuh untuk secangkir kopi yang tumpah.”

Ucapan Ayunda menusuk egonya.

“Jangan bawa-bawa Eyang dalam hal ini.”

“Aku hanya mengatakan, kita harus tetap logis. Kita analisis kesalahannya, kita perbaiki, kita jalan lagi. Jangan biarkan emosi mengambil alih.”

Radya mendengus. Logis. Kata itu adalah agamanya. Namun, malam ini, imannya goyah.

“Mungkin memang ada sesuatu yang salah. Mungkin memang ini bukan sekadar nasib sial…”

"Aaah... !!!"

BRAAAKKK!

Dunia Radya terbalik dalam sepersekian detik. Sebuah benturan keras dari belakang mendorong mobilnya ke depan dengan sentakan brutal. Kepalanya terantuk sandaran kursi, dan suara decit ban yang mengerikan merobek udara malam. Ponsel di tangannya terlepas, jatuh ke lantai mobil dengan bunyi gedebuk pelan. Semuanya berhenti. Hening yang memekakkan telinga, disusul oleh klakson panjang dari mobil di belakangnya.

Asap tipis mulai tercium, bau karet terbakar yang menusuk hidung. Di seberang sana, suara Ayunda yang panik terdengar dari ponsel yang tergeletak.

“Radya? Radya, kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?!”

Radya tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, ke jalanan yang kini macet total karena insidennya. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sebuah kesadaran dingin yang merayap di tulang punggungnya.

Kecelakaan itu terjadi tepat saat ia selesai mengucapkan kalimat, “Mungkin memang ini bukan sekadar nasib sial.”

Jeda logika itu terasa seperti jurang yang menganga di hadapannya. Semuanya terasa seperti sangat nyata.

***

Beberapa jam kemudian, Mercedes-nya yang kini memiliki bemper belakang ringsek terparkir di garasi luas kediaman Cokrodinoto. Radya melangkah keluar dengan langkah gontai, jasnya sudah ia sampirkan di lengan. Wajahnya pias, bukan karena cedera, ia hanya mengalami sedikit memar, tetapi karena pertarungan sengit yang terjadi di dalam kepalanya.

Polisi sudah membereskan semuanya. Pengemudi truk kecil di belakangnya mengaku remnya blong. Sebuah penjelasan yang sangat logis dan bisa diterima. Kasus ditutup. Namun, bagi Radya, kasus di dalam benaknya baru saja terbuka lebar.

Tiga kali dalam dua minggu.

Angka itu terus berputar di otaknya. Server yang jebol. Kontainer yang tenggelam. Mobil yang ditabrak. Semua memiliki penjelasan rasional. Human error. Bencana alam. Kerusakan mekanis. Tapi rentetan dan waktunya terasa terlalu… terdesain. Terlalu sempurna dalam ketidaksempurnaannya.

Ia menolak gagasan itu. Menolaknya mentah-mentah. Ia adalah Radya Maheswara, lulusan terbaik dari sekolah bisnis ternama, seorang CEO yang membangun reputasinya di atas data, analisis, dan keputusan terukur. Takdir, itungan weton, kutukan,semua itu adalah dongeng pengantar tidur untuk orang-orang yang terlalu malas mencari akar masalah yang sebenarnya.

Namun, perasaan dingin di tengkuknya tak kunjung hilang. Perasaan diawasi. Perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang menariknya ke bawah, perlahan tapi pasti.

Alih-alih masuk ke bangunan utama rumahnya yang megah, kakinya tanpa sadar membawanya ke sebuah paviliun kayu jati yang berdiri agak terpisah di sudut taman.

Paviliun Tua. Tempat Eyang Putra, kakeknya, biasa menghabiskan waktu untuk bermeditasi. Tempat yang selalu ia hindari karena dianggapnya sebagai pusat takhayul dalam keluarga modernnya.

Aroma dupa yang pekat langsung menyergap indra penciumannya. Wangi cendana dan kemenyan bercampur, menciptakan atmosfer sakral yang terasa asing di tengah kompleks rumah bergaya Eropa itu. Di sanalah ia melihatnya.

Eyang Putra duduk bersila di atas sebuah amben rendah, punggungnya lurus seperti penggaris meskipun usianya sudah senja. Ia mengenakan beskap Jawa berwarna hitam kelam, kepalanya dibalut blangkon. Pria tua itu tidak bergerak, matanya terpejam, seolah menyatu dengan bayang-bayang di sekelilingnya. Beberapa batang dupa menyala di sebuah anglo kecil di depannya, asapnya mengepul tipis, meliuk-liuk seperti ular tak kasatmata.

Radya berhenti di ambang pintu, ragu-ragu. Ia ingin berbalik, kembali ke dunianya yang konkret dan bisa dijelaskan. Tapi sesuatu menahannya.

“Bagaimana keadaan mu, Dya? Kali ini tidak terlalu parah sepertinya, tapi Eyang rasa lain kali tidak ... Akan lebih parah.”

Suara Eyang Putra terdengar tanpa pria itu membuka matanya. Suaranya serak dan berat, seolah berasal dari kedalaman sumur tua. Tidak ada nada terkejut atau khawatir di dalamnya. Hanya sebuah konfirmasi yang mengerikan.

Radya tertegun.

“Bagaimana Eyang tahu?”

Perlahan, kelopak mata keriput itu terbuka. Sorot mata Eyang Putra tajam, menembus pertahanan logika Radya seperti anak panah. Tidak ada kehangatan di sana, hanya kebijaksanaan kuno yang dingin dan tak terbantahkan. Pria tua itu menatap cucunya dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah sedang memindai auranya.

“Aku tidak perlu tahu. Aku merasakannya,” jawab Eyang, nadanya datar.

“Semesta sudah memberimu tiga peringatan. Kau terlalu tuli untuk mendengarnya.”

Radya mengepalkan tangannya.

“Itu hanya kebetulan, Eyang. Truknya mengalami rem blong…”

“Tidak ada yang namanya kebetulan jika sudah menyangkut garis takdirmu.” Eyang Putra menghela napas, asap dupa di sekelilingnya seolah bergetar. Ia menunjuk ke arah anglo dengan dagunya.

“Tanda-tandanya sudah lengkap. Sudah waktunya.”

“Waktunya untuk apa?” tanya Radya, nada tidak sabar mulai menyusup ke dalam suaranya.

“Waktunya Eyang menceramahiku lagi tentang primbon dan tahayul-tahayul itu?”

Eyang Putra sama sekali tidak terpengaruh oleh sarkasme cucunya. Tatapannya menjadi lebih dingin, lebih menusuk, seolah mampu melihat ketakutan yang coba Radya sembunyikan di balik topeng arogansinya. Ia bangkit perlahan, setiap gerakannya penuh wibawa. Asap dupa melingkari tubuhnya, membuatnya tampak seperti sosok dari dunia lain.

Ia melangkah mendekati Radya, berhenti hanya beberapa senti di depan cucunya yang menjulang tinggi. Aroma dupa kini terasa menyesakkan.

“Wetonmu sedang dipanggil pulang, Dya,” bisik Eyang, suaranya terdengar seperti gemerisik daun kering, sarat akan sebuah keniscayaan yang tak bisa ditawar.

“Kita harus segera bertindak.”

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!