Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendadak di lamar.
Seorang gadis, dengan riang gembira berjalan sembari berloncatan di jalan. Dengan seragam tercintanya, sembari menyanyikan lagu lucu milik gadis kecil bernama Inu No Omawari San.
"Maigo no maigo no koneko-chan
Anata no ouchi wa dokodesu ka
Ouchi o kiite mo wakaranai
Namae o kiite mo wakaranai."
Begitu ceria, hingga terhenti karena melihat barisan mobil terparkir di depan rumahnya.
"Waduh, siapa itu? Kok, ada mobil sama Bapak-bapak pake jas item?" tanya Ais, yang berhenti diujung jalan.
"Apa, Mama mau di lamar Bosnya? Atau, itu orang-orang yang nagih utang? Terus, Aku mau di jadiin sebagai tebusan, begitu?" gerutunya.
Ia pun berbelok arah, menyusuri jalanan sempit yang tembus ke daerah belakang rumahnya. Mengendap-endap, lalu duduk di pojokan dapur mendengar percakapan mereka.
"Kalian, utusan Tama?" tanya Mama Linda.
"Ya... Saya rasa, Nyonya sudah tahu apa tujuan kami. Tuan Tama, hanya mau memenuhi janjinya pada kelurga kalian." jawab Pak Wil.
"Anak saya masih sekolah. Masih SMA."
"Kami tahu, bahkan dia nyaris di skors gara-gara kenakalannya. Seupuluh kali keluar masuk sekolah, dan suka berkelahi dengan teman-temannya."
"Sedetail itu, kalian mencari berita? Apalagi?" tanya Bu Linda, menantang info dari mereka.
"Tuan tama sakit. Dalam fikirannya saat ini adalah, memenuhi janjinya pada sang sahabat." jelas Pak Wil.
Dua puluh tujuh tahun yang lalu, Tuan Tama dan sahabatnya pernah berjanji. Mereka akan menikahkan anak-anak mereka jika telah tiba waktunya. Dan kini, Tuan Tama yang takut jika dapat memenuhi janjinya tepat waktu.
Pyarrrrr! Sebuah benda kaca jatuh dan pecah. Terdengar jelas, meski bunyinya dari dapur.
"Ais dibelakang?" panggil Mama Linda.
"Iya, Ma. Maaf, Ais lewat belakang." ucapnya.
Ia pun keluar dengan perlahan, menemui sang Mama yang tengah bersama rombongan berjas hitam.
"Ini Aishwa?" tanya Pak Wil dengan ramah.
"Iya, saya Ais." jawab gadis itu dengan sopan.
Pak Wil tersenyum, gadis kecil itu telah mencuri hatinya. Tapi, membuat Ais takut dan berburuk sangka.
"Apa, Bapak yang mau lamar Ais?" tanya nya.
"Ya, saya datang untuk lamar kamu."
"Mama punya hutang? Kenapa Ais yang harus menikahi Bapak tua ini?" tanya Ais pada sang Mama.
Semua lantas tertawa terbahak-bahak, mendengar celoteh gadis manis yang telah salah faham itu.
"Ais, saya melamar kamu, untuk Tuan saya. Dia, yang nanti akan menikahi kamu."
"Tuan, masih muda? Tapi, Ais masih remaja."
"Semua bisa di atur, asalkan kamu bersedia. Itu, adalah perjanjian Papa mu dan Tuan Tama. Beliau kini sedang terbaring di Rumah Sakit karena serangan jantung." jawab Pak Wil.
Ais hanya bisa menatap Mamanya, tatapan mata itu penuh tanya. Sang Mama hanya bisa diam, entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini. Ia ingin memenuhi permintaan sang suami, karena Ia tahu perihal janji tersebut. Di satu sisi, Ia tak tega melihat anaknya menikah di usia belia. Bahkan, belum lulus dari sekolahnya.
"Ais ganti baju dulu, yang rapi. Kita akan jenguk Om Tama. Calon mertuamu." jawab Mama Linda.
Dengan ucapan itu, Ais langsung faham. Jika, Mama nya akan memberikan Ais pada keluarga itu untuk di nikahkan dengan sang Tuan muda.
"Ais tahu, Ais nakal. Ais berandal, Ais merepotkan Mama. Tapi, jangan dengan menikah, Ma. Ais belum siap." rengeknya.
"Ikuti kata Mama, Ais. Gantilah pakaianmu." pinta sang mama, lagi.
biar je...