“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Tanda Jejak Reinkarnasi
Lampu ruang rapat lantai tiga puluh dua memantulkan cahaya dingin seperti mata pisau. Meja kaca di tengah ruangan tampak terlalu bersih, terlalu sempurna seolah menertawakan dua perempuan yang kini berhadapan dengan sosok di ujung meja.
“Apa maksud Anda… denda pengunduran diri sebesar itu? Sejak kapan terdapat nominal sebesar ini dalam kontrak kerjanya. Aku baru menanda tanganinya kemarin dan aku ingat jelas bahwa didalam kontraknya tidak ada pembayaran denda dengan jumlah sebesar ini,” suara Ivory tercekat, namun matanya tetap menantang.
Di sampingnya, kakak perempuannya, Elena, menarik napas panjang. Wajahnya tenang, tetapi urat di pelipisnya berdenyut keras. “Angka ini tidak masuk akal. Kontrak kerjanya bahkan tidak pernah mencantumkan—”
“Kontraknya sudah tercantumkan semuanya,” potong Ragnar yang duduk santai di kursi kebesarannya. Senyumnya tipis, nyaris ramah.
“Sudah aku katakan, kalian yang tidak teliti dalam membacanya sebelum tanda tangan diberikan.”
Ivory melempar kontrak kerja itu. “Tidak mungkin? Jelas-jelas kontraknya tidak seperti ini?”
Ragnar kembali menggeser berkas itu kembali ke tengah meja. Kertasnya mengilap, tinta hitamnya terasa… hidup. “Lalu seperti apa kontrak yang kau maksud, hmm? Bahkan salinannya kalian masih memegangnya, bukan?”
Ivory menelan ludah. Ragnar benar, bahkan salinannya juga menunjukkan nominal denda yang sama. Nama di bagian atas kontrak itu sama persis dengan milik mereka, tanda tangan mereka pun ada di sana. Terlalu sempurna. Terlalu rapi, seperti kontrak yang tidak pernah diubah sama sekali. Karena jika ada perubahan, maka mau tidak mau mereka harus mendapatkan tanda tangan yang baru.
“Ini sihir,” bisik Elena, lirih namun tajam.
Elena ingat sekarang. Dalam mimpinya Denzel Hetherington adalah seorang penyihir hebat yang selalu menjaga buku ramalan dan juga pedang Asteria. Manusia dengan kekuatan sihir luar biasa yang mampu membuatnya hidup abadi seperti para vampire dan kaum werewolf. Denzel adalah tangan kanan Ragnar, orang yang paling dipercaya selain Dorian dan Theron.
Elena terus menatap ke arah Denzel yang juga menatapnya dengan senyum misterius. Hingga detik berikutnya, Elena diperlihatkan sosok aslinya seorang pria berkulit pucat dengan jubah putih dengan senyum lebar menyindirnya. Matanya hijau neon, seperti cahaya racun. Ia mengangkat tongkatnya sedikit, seakan memberi salam.
“Pujian yang menyenangkan. Aku hanya… memperbarui beberapa detail. Dan senang bertemu denganmu lagi… Elena Rosalia.”
Kedua mata Elena membulat sempurna seketika itu juga. Ia sungguh tidak menyangka bahwa mimpinya selama ini rupanya memang benar-benar nyata. Sosok yang selalu berada dalam mimpinya, kini benar-benar berada dihadapannya… dengan rencana yang tidak bisa dia tebak sama sekali. Namun yang pasti, mereka menginginkan Ivory.
“Ternyata benar dugaanku sejak awal. Mereka bukan manusia biasa, tetapi… sosok yang pernah kami temui dikehidupan sebelumnya. Maka baik aku maupun Ivory tidak bisa lolos begitu saja dari cengkeraman mereka.” Kata Elena dalam hatinya.
“Bayar dendanya dan kalian boleh berhenti bekerja di sini. Namun, jika kalian tidak sanggup membayarnya, maka tetap bertahan sampai jangka waktu kontrak kerjanya habis.” Ucapan Ragnar kembali menyadarkan Elena, begitu juga Denzel yang segera menarik kekuatannya.
Sunyi jatuh. Berat. Mencekik. Akhirnya Elena duduk kembali. “Kalau begitu… kami ingin negosiasi. Tukar posisi. Kami bersedia dipindahkan ke divisi lain. Jauh dari—” ia melirik Denzel dan Ragnar secara bergantian, “…. Kalian berdua.”
Ragnar terkekeh pelan. “Ditolak.”
“Kenapa bisa begitu?” Ivory menatapnya lurus.
“Tentu bisa, karena perusahaan ini milikku.” Tatapan Ragnar berubah mengeras saat beralih menatap Elena. “Mulai hari ini, kau juga akan berada dalam pengawasan langsung Denzel.”
Denzel melangkah maju satu langkah. “Dengan senang hati, Tuan!”
Elena hanya mampu mengepalkan tangan untuk melampiaskan amarahnya. Tidak ada pilihan. Tidak ada celah. Denda itu adalah rantai. Rapat selesai, Ragnar beranjak pergi lebih dulu diikuti oleh Dorian yang menyuruh Ivory untuk sekalian pergi bersamanya. Setelahnya satu persatu karyawan juga kembali ke posisi masing-masing meninggalkan Elena dan Denzel yang masih berdiam diri di ruangan tersebut.
“Rapatnya selesai, kau harus kembali bekerja seperti yang lainnya. Ingat, aku sendiri yang akan mengawasimu, Elena Rosalia!” ujar Denzel seolah menyatakan bahwa mereka akhirnya kembali berhadapan seperti di kehidupan sebelumnya.
Elena tidak membalas, dia memilih diam menatap tajam kepergian Denzel. Kini Elena jelas menyadari bahwa lawannya bukan manusia biasa, melainkan para vampire dan juga seorang penyihir. Belum lagi, jika kaum werewolf dan penyihir hitam juga ikut terlibat seperti dalam mimpinya. Mungkinkah peperangan akan kembali terjadi?
“Tidak!” Elena tersadar, “Aku bukan pemilik murni sihir hitam seperti dalam mimpiku. Sekarang aku hanya manusia biasa dan Kakak dari Ivory. Apapun yang terjadi, aku harus mencari cara agar bisa menjauhkan Ivory dari Raja vampire itu.”
“Aku harap Ivory benar-benar menyembunyikan tanda itu dengan baik,” gumamnya memberikan kepercayaan penuh kepada sang adik.
...****************...
Sementara di dalam ruangan Ceo terlihat senyuman Ragnar terus merekah penuh kemenangan. Rupanya ada banyak keuntungan juga ia mengenal musuh dari kehidupan masalalu, sehingga dia bisa sedikit menebak apa yang dipikirkan Elana dan membuat persiapan.
Senyuman itu tiba-tiba menghilang saat pandangan tertuju pada Ivory yang tengah melakukan serah terima pekerjaan dengan Dorian. Ia berdiri dan berjalan mendekat ke Ivory. Terlalu dekat sampai udara di sekitarnya berubah dingin.
“A-apalagi sekarang? Kenapa kau mendekat padaku?” cecar Ivory segera memasang sikap waspada.
“Apa kau penasaran?” katanya lembut, “aku hanya ingin memastikan sesuatu.”
“Memastikan apa?” Ivory memundurkan langkahnya.
“Jangan bergerak.”
Sebelum Ivory sempat memprotes, Ragnar mencondongkan tubuh, menatap area lehernya dengan serius. Lalu dengan tidak tahu malunya, Ragnar berniat membuka pakaian yang Ivory kenakan saat itu. Spontan Ivory langsung menepis tangannya kasar.
“HEY!” seru Ivory. “APA YANG INGIN KAU LAKUKAN, HAH?!”
Ragnar berkedip polos. “Tidak ada di area leher. Jadi, aku harus memeriksanya di punggungmu?”
“Kurang ajar! Dasar Bos gila dan mesum!” umpat Ivory marah.
Namun, Ragnar terlihat tak peduli dengan umpatan tersebut. Ia beralih ke pergelangan tangan Ivory, mengangkatnya perlahan. Lalu memperhatikan dengan seksama lekuk tangan putih nan mulus itu. Sampai Ragnar tiba-tiba kembali mengecup punggung tangannya.
Cupp….
Ivory refleks menarik tangannya, kesal setengah mati. “BERHENTI! Ini sudah termasuk tindak pelecehan terhadap karyawan. Apa kau mau aku laporkan ke polisi, Hah?”
“Menarik,” gumamnya, mengabaikan protes itu.
“Tidak di sana juga, berarti ada dibagian lain.”
“Kalau kau berani menyentuhku sekali lagi—”
Perkataan Ivory langsung terpotong ketika Ragnar kembali menarik tubuhnya secara paksa, hingga kini ia dalam pelukan pria tersebut. Tampak Ragnar menatap bahu Ivory dengan sangat dekat, terlalu dekat, hingga deru napasnya bisa Ivory rasakan dengan jelas.
Bersambung …
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔