NovelToon NovelToon
The OVERPROTECTIVE Man

The OVERPROTECTIVE Man

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Violet Slavny

TAHAP REVISI
MASIH BANYAK TYPO DAN SALAH EYD, MOHON DIMAAPKEN🥲

Bagaimana jika ternyata selama ini kalian diawasi secara diam-diam. Bahkan saat tidur ternyata seseorang juga datang menemanimu tidur.

Seorang pria misterius yang selama ini ternyata memperhatikan seorang wanita bernama Valerie. Apa yang selanjutnya akan terjadi?

ayo, baca dan tambahkan dalam list favorit kalian.

Bye 😘💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

Tak terasa waktu sudah berjalan menunjukkan waktunya untuk makan siang. Kurenggangkan badanku serta leherku yang kaku. Perutku sudah bergejolak minta diisi sejak tadi. Namun aku harus menemui pria gila itu terlebih dulu.

Aku menghela nafas kasar dan menenangkan diriku sendiri untuk bersabar berhadapan dengan pria seperti Sean. Kututup Macbookku dengan perlahan, lalu beranjak dari tempatku dan keluar dari ruanganku.

Aku memutuskan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu untuk membeli sesuatu yang enak dimakan. Dengan langkah malas, aku menaiki lift menuju kantin dan melangkah menuju mesin minuman.

Kumasukkan uangku dan mengambil sekaleng cola dari sana.

"Vale." kutolehkan kepalaku menatap Melanie yang berlari dengan nafas ngos-ngosan.

"Kamu kenapa harus lari-larian seperti itu?" tanyaku bingung sambil memegang kaleng colaku di tangan kanan.

"Vale, hot news." ucapnya dengan mata melotot antusias, khas seorang Melanie yang always grasak-grusuk dan tak bisa diam jika ingin bergosip ria.

"Apa?" tanyaku malas dengan wajah tak peduli. Sejujurnya aku bukan seorang wanita penyuka gosip yang akan berkumpul disatu tempat hanya untuk membicarakan orang lain. That's truly not my style.

"Angela, kekasihnya Pak Bos datang saat ini." aku langsung melotot dan menganga lebar dengan berita Melanie.

"Kau yakin?" tanyaku memastikan dengan wajah tak percaya. Aku melirik jam tanganku yang menunjukkan 10 menit setelah jam makan siang. Apa aku masih harus menemuinya?

"Vale, kamu pikir aku kudet seperti kamu. Dia Angela, semua orang tau siapa dia." ucap Melanie sambil menatapku kesal.

"Iya... Iya.. Aku kudet." jawabku kesal mendengar ejekkan Melanie.

"Kamu sudah tau kalau Pak Bos sudah memiliki kekasih, seharusnya kamu tidak bermain api Vale." aku terdiam mendengar perkataan Melanie dan menatapnya lekat. Apa aku bermain api dengan Sean? Tetapi dia yang menarikku. Rasanya dadaku sesak entah kenapa.

"Aku tidak ingin bermain api. Dia yang menarikku dan menahanku di sisinya, apa aku salah Mel?" ucapku dengan nada sedih. Sejujurnya, perasaanku campur aduk tak menentu. Rasanya, hatiku seperti ditumbuk oleh benda tak kasat mata.

"Yang harus kamu lakukan hanya menolak Vale." ucapnya sambil mencengkram pundakku.

Kamu pikir mudah? Kamu tidak mengenal betapa mengerikannya dia Melan. Namun kata-kata itu hanya dapat aku katakan di dalam hatiku.

Tiba-tiba ponsel yang ku pegang berdering dan menunjukkan nomor tidak dikenal.

"Halo."

"Sayang, kenapa kamu masih belum datang? Apa kamu masih belum puas berbincang dengan sahabatmu itu?" badanku menegang sempurna. Aku melirik kebarah Melanie yang juga menatapku dengan wajah curiga.

Tidak, Sean adalah pria arogan yang tak ingin dibantah. Semua harus di bawah kekuasaannya. Sean bisa saja menyakiti Melanie saat ini dan Melanie pasti akan sangat marah jika ia tau aku masih berhubungan dengan Sean.

"Ah... Iya Bi, apa? Sendi Nenek sakit lagi? Kenapa tidak dibawa ke Rumah Sakit?" dengan nada dan wajah khawatir yang kubuat-buat, aku melangkah menjauh dengan ponsel di telingaku dan meminta ijin pada Melanie dengan menunjuk-nunjuk ponselku.

Aku melangkah cepat dengan wajah takut ketahuan. Aku menghela nafas lega saat berbelok masuk ke dalam lift yang kosong melompong.

Ponselku masih setia berada di telingaku, sembari kekehan kecil dari seberang sana.

"Apa kau baru saja memanggilku Bibi sayang?" tanya Sean dengan nada gelinya. Aku menatap ponselku kesal, seakan ponsel itu adalah Sean.

"Bukankah kekasihmu datang menemuimu? kenapa kau masih menelfon dan memanggilku sayang sesukamu?" ucapku kesal dengan wajah frustasi.

"Kamu cemburu?" tanyanya dengan nada geli dan aku yakin dia sedang memasang senyum miringnya, sama seperti senyum yang selalu ia tampilkan padaku.

"In your dream." aku menutup sambungan telfonnya kesal, lalu membuka cola di tanganku dengan kasar.

Kuteguk colaku hingga setengahnya habis, sampai akhirnya lift berhenti tepat di lantai ruangan Presdir. Aku melangkah cepat masih dengan cola di tanganku, lalu masuk ke dalam ruangan Sean setelah mengetuk beberapa kali.

Kutatap seorang wanita cantik, sangat cantik duduk dengan anggun di atas sofa ruangan Sean. Sedangkan Sean duduk di kursi kebesarannya sambil menatapku lekat.

"Permisi Sir." ucapku sopan sambil menundukkan kepala. Kusembunyikan colaku di belakang punggung, karena tak mungkin seorang karyawan berani membawa makanan dan minuman ke ruangan Presdir.

"Apa dia wanita yang membuatmu memutuskan hubungan kita Sean?" aku terkaku sambil menatap Sean yang senantiasa menatapku lekat. Bahkan tak menoleh saat Angela berbicara padanya.

"Sejak awal kita tidak pernah berpacaran Angela, di antara kita hanyalah sebuah hubungan yang saling menguntungkan." ucap Sean sambil menoleh melihat Angela, lalu perlahan Sean kembali menatapku dengan mata elangnya. Tajam dan Menusuk.

"Aku butuh wanita penghangat ranjang dan kau butuh popularitas." pria berengsek ini berkata seperti itu pada Angela, namun matanya menatapku lekat dan diakhir kalimat jelas sebuah senyum miring tercetak di bibirnya.

"Pergilah dari sini! Kau membuang waktuku bersama wanitaku." ucap Sean sambil menatap Angela tajam. Kulihat tangan Angela menggenggam erat seakan ingin memukul sesuatu. Angela meraih tasnya kasar, lalu melangkah melewatiku dengan tatapan tajamnya.

Dengan sengaja wanita itu menabrak bahuku keras, sehingga cola yang kupegang di belakang tubuhku terjatuh membasahi lantai dan heelsku.

BRAK!

"Shit." aku mengumpat pelan sambil menatap punggung Angela yang melenggang ke luar tak peduli. Bahkan ia sama sekali tak berbalik menatap ke arahku, setelah perbuatan kekanak-kanakannya.

"Bi*ch." umpatku kesal. Untung saja yang basah hanya heelsku. Andai saja rokku, mungkin aku sudah mengumpat kasar sekasar-kasarnya.

"Kemarilah! Aku sudah memanggil CS untuk membersihkannya." aku menoleh menatap Sean yang melangkah ke arah sofa dan duduk di sana dengan sangat tampan dan berwibawa.

Aku melepas heelsku di lantai, lalu berjalan ke arah Sean. Setelah sampai di depan pria itu, Sean langsung menarik pinggangku menimpa tubuhnya dan menjatuhkan dirinya berbaring di sofa.

Wajahku dan wajahnya yang sangat dekat, ditambah tangan kirinya yang merenggut lembut rambutku, membuat tubuhku memanas dan jantungku berdebar kencang.

Aku tak munafik, Sean benar-benar sosok tampan yang sangat mudah dicintai hanya dengan tatapan lembutnya. Dia berlipat kali lebih tampan dengan jarak sedekat ini. Terlihat jelas setiap garis wajahnya dan mata indahnya membuatku ingin mengelusnya lembut.

Namun Sean hanya menganggapku salah satu mainannya. Akan ada saat di mana dia membuangku setelah dia bosan padaku. Ada saat di mana dia akan melewati diriku seperti tak pernah mengenalku. Karna itu, aku tak boleh mencintainya! Aku harus menunggu saat di mana dia bosan dan pergi dari hidupku dengan sendirinya.

Namun perasaanku seakan goyah saat betapa hangatnya senyum yang ia lemparkan padaku dengan jarak sedekat ini. Betapa lembutnya tatapan yang ia berikan padaku. Perasaan hangat seakan dicintai menjalar ke seluruh tubuhku. Bahkan sampai detik ini, aku tak memberontak dari atas tubuhnya. Tubuhku nyaman mendapatkan elusan di rambut serta remasan tangannya di pinggulku.

Remasan tangan kanannya di pinggulku menghantarkan getaran listrik ke seluruh tubuhku. Tetapi ini salah, tidak seharusnya aku merasakan perasaan seperti ini. Perasaan nyaman dan hangat saat berada di dekat Sean. Tidak— aku yakin aku akan tersesat jika semua ini masih berlanjut.

"Aku sudah sangat merindukanmu secepat ini." ini sudah kesekian kalinya kata-kata itu terucap dari mulut Sean. Kutatap lekat wajahnya karena tak tau harus melakukan apa.

Tok.. Tok... Tok

"Masuk!" aku ingin beranjak dari atas tubuh Sean sesaat setelah bunyi ketukan pintu. Namun tangan Sean dengan kuat mencengkram pinggangku hingga aku tak bisa beranjak dari atas tubuhnya.

"Sean." ringisku pelan, karena takut siapapun yang masuk akan mengetahui betapa murahannya diriku saat ini.

Kulirik seorang CS wanita yang masuk dengan kepala menunduk. Ia sempat melihat ke arah kami dan aku dengan cepat menyembunyikan wajahku di dada bidang Sean.

"Permisi Tuan." ucapnya. Aku masih mencengkeram jas Sean sambil bersembunyi di dadanya.

"Lakukan saja pekerjaanmu, lalu ke luar setelah selesai!" ucap Sean dingin.

Telingaku dengan jelas mendengar setiap bunyi-bunyian alat pembersih. Aku mengangkat wajahku menatap Sean yang tersenyum geli sambil mengelus punggungku.

Aku menatapnya marah, sambil menutupi sebelah wajahku dengan rambut panjangku agar CS itu tidak mengenali wajahku. Kupukul pelan dadanya dan memberontak kecil.

"Lepas Sean!" bisikku dengan suara sangat kecil namun dengan nada mengancam serta raut wajah geram.

"Tidak mau." jawabnya santai sambil tersenyum mengejekku.

"Bagaimana jika dia mengenalku?" bisikku kesal. Tangan Sean perlahan naik dan berhenti tepat di pipiku. Mengelusnya dengan lembut.

"Itu bagus, artinya rencanaku semakin menemukan titik terang." aku terdiam mencoba menelaah. Apa ini semua salah satu rencana Sean? Ah... Pastinya. Tapi tujuannya untuk apa? Apa untuk membuatku terlihat murahan saat aku terciduk dengannya. Tidak... Tidak boleh.

"Masih ingin melepaskan diri sayang?" tanyanya dengan senyum miring meledekku. Aku tersentak saat tangannya mencoba mendorong tubuhku dari atasnya. Sontak aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya sambil menggeleng dengan wajah cemberut.

Dengan jelas, saksinya adalah kedua telinga dan kedua mataku serta seorang wanita di ruangan ini. Sean tertawa dengan senyum manisnya. Bukan kekehan kecilnya selama ini. Dia jelas tertawa, aku bahkan terperangah dengan senyum serta suara tawanya.

Aku menyukai Sean yang bersikap manis, namun Sean tetaplah Sean. Ia bisa sangat mengerikan di waktu yang sama. Namun aku suka tawanya, aku suka senyumnya, aku suka tatapan lembutnya, aku suka ia bersikap hangat padaku, aku suka sikapnya yang seolah mencintaiku.

Tidak... Sean hanya terobsesi padaku. Dan tugasku saat ini, hanya tidak boleh jatuh pada seluruh perannya, membuatnya bosan secepat mungkin padaku.

bersambung....

hay... hay... hay..

ketemu lagi nih sama sean dan valerie. sean yang penuh misteri dan valerie yang sangat menjaga perasaaan agar tidak jatuh dalam pesona kepura-puraan sean. 😊

Aku ngebaca komen kalian dan banyak banget yang berimajinasi, kalau sean adalah suami vale dan vale lupa ingatan. lucu loh ngebaca bagaimana kalian berimajinasi sebagai author dalam cerita ini.

tapi,,,, apa seorang suami akan meniduri wanita lain disaat ia berjuang untuk memulihkan ingatan istrinya lagi. bisa2 istrinya minta cerai setelah semua ingatannya kembali 😂

ayo tuangkan kreatifitas kalian dikolam komentar, dan siapa yang kira2 akan dapat memecehkan teka-teki ini. 😊

jangan lupa like, share dan komen.❤️

bye... 😘💕

21082019

1
Sanjaria Abubakar
kau kejam Thor
Sanjaria Abubakar
aku sedih 😭😭😭😭😭
namia khira
luar biasa,,keren ceritanya autor /Good//Good/
lily
Sean udh lama suka dri kapan
lily
baru pertma ketemu ,jngan nyosor dlu haha
Erni Sasa
eleeek terlalu kasar mukanya gk lembut ini mah kaya karakter jal*ng yg terobsesi dengn hot daddy😂😂
Asri Ernawati
Novel super kerennn...istimewaahhhh👍♥️
Tuti Handayani
Lumayan
Tuti Handayani
Kecewa
HANAMI DEWATI
Luar biasa
devaloka
sebenernye ada misteri apaan sih ya Allah kan aku penasaran
devaloka
bagus, tapi kurang suka yg POV aku huh
Lutfatul Azizah
Luar biasa
Rini Maryani
aaah gk ngerti baca nya gk d jelasin ceritanya sean itu spa
Lilis Nurhayati
wah wah apa artinya ini.
jgn jgn yg bikin merah leher kamu jg pk direktur nih
Oras Karoma
ceritanya bagus Thor ! sukses ya buat karya selanjutnya
dewi
mkasih ceritany, suka banget. ditunggu cerita2 lainy
dewi
aamiin, semoga berhasil
dewi
semangat...
Ririn Nursisminingsih
thor kereennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!