Menikahi Majikan Ibu — Season 2
Genre : Komedi Romantis
Perjalanan rumah tangga Barata Wirayudha, pemilik BW Group yang menikahi putri dari pembantunya sendiri, Bella Cantika.
Perbedaan umur, latar belakang dan karakter membuat rumah tangga keduanya menjadi berwarna.
Bara yang temperamen, arogan dan mudah terpancing emosi, tetapi ia seorang yang penyayang keluarga dan daddy terbaik untuk putra-putrinya.
Bella yang lemah lembut dan dewasa, terkadang suka ketus pada suaminya berusaha menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya di usia yang masih muda.
Keduanya tidak romantis tetapi bercita -cita memiliki kehidupan rumah tangga yang romantis. Apakah rumah tangga mereka tetap berjalan mulus di tengah perbedaan?
Ikuti kisah rumah tangga Bara dan Bella bersama putra putrinya, Rania Wirayudha, Issabell Wirayudha dan The Real Wirayudha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Pria di depan gerbang sekolah
“Ada apa denganmu, Bella Cantika? Mereka yang berpacaran, kenapa kamu yang bahagia?” tanya Bara, tergelak.
Bella tersipu, pipinya merona semerah buah persik di musim semi. Jengah saat Bara memandangnya begitu lekat. Menyembunyikan malu dengan kepala tertunduk. Bella tidak mungkin mengaku kalau ia bahagia saat mengetahui Donita dan Dion adalah sepasang kekasih. Setidaknya, tidak ada yang menganggu suami tampan dan matangnya.
“Aku hanya ikut berbahagia dengan hubungan mereka, Mas.” Bella melempar alasan. Terlalu gengsi mengakui perasaan bahagianya yang membuncah saat mendapati Donita bukan duri di dalam rumah tangganya.
“Mereka cocok ... yang perempuan cantik, yang lelakinya tampan. Apalagi umur mereka juga sepertinya tidak terlampau jauh,” lanjut Bella.
“Maksudmu ... secara tidak langsung mengatakan kalau kita tidak cocok, Bell?” Bara mengerutkan dahi, menelaah kembali sepenggal kalimat istrinya.
“Ti-tidak, Mas. Aku tidak membahas masalah kita. Sejak tadi kita membahas Dion dan Donita, kan?” Bella kembali menyanggah pernyataan Bara.
“Bukannya tadi kamu mengatakan kalau mereka cocok karena seumuran, bukankah sama saja kita tidak cocok karena umur kita terpaut jauh,” serang Bara.
Bella menghela napas. “Terserah padamu saja, Mas.”
“Aku tidak membandingkan dengan hubungan kita, Mas,” ucap Bella, menutup pembicaraan.
Memilih menyudahi topik yang sebentar lagi akan berakhir dengan perdebatan panjang tak berkesudahan, Bella kembali menemani Real. Menjaga jarak aman lebih baik untuk saat ini. Menikah dengan Bara, memang mereka lebih banyak menghabiskan waktu berdebat untuk hal-hal tidak penting, meskipun akhirnya berdamai.
Itulah gambaran rumah tangganya. Saling menyerang, terkadang sama-sama mengalah. Saling berdebat mulut untuk hal sederhana, bahkan masalah anak pun sering jadi pemicu. Di awal, Bella menganggap ini masalah besar, namun semakin ke sini ia mulai membiasakan diri. Cekcok dalam perjalanan rumah tangga bagi Bella seperti bunga di tepi jalan, bukan batu sandungan di tengah jalan.
Bara membawanya menjelajah dunia yang bahkan ia tidak bisa menebak isi di dalamnya. Semuanya terlihat abu-abu, perlu keberanian menyibaknya untuk mendapatkan pelangi tujuh rupa.
“Bell, Kakak sudah pulang sekolah? Kenapa tidak ikut sekalian ke sini?” tanya Bara, masih memangku Issabell. Setelah lama berkutat dengan pikiran masing-masing, Bara mengalah.
“Belum Mas,” sahut Bella, datar. Ia masih terpikir dengan masalah kepercayaan yang dibahas Bara sebelumnya. Lebih tepatnya sedikit tidak terima akan pernyataan Bara tentang kepercayaan.
“Kamu kenapa lagi, Bell? Wajahmu menunjukan ada yang tidak kamu sukai,” tanya Bara tiba-tiba.
“Tidak ada, Mas.”
“Yakin?” tanya Bara lagi. Memilih menurunkan Issabell dari pangkuannya.
“Ca, duduk saja. Daddy mau bertengkar dengan Mommy sebentar,” ucapnya pada sang putri.
“Yakin, Mas.”
“Aku kurang yakin, Bell. Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dariku. Wajahmu tidak bisa bohong, Sayang.” Bara berjalan mendekat, berdiri di hadapan Bella dengan kedua tangan menyelip di saku celana.
“Tidak ada. Aku serius, Mas. Jangan memulai perdebatan lagi. Aku sedang tidak mood beradu argumen sekarang,” ucap Bella, berusaha tersenyum.
“Kamu tidak bohong, kan?” todong Bara. Menjatuhkan bokong di sofa, tepat di sisi sebelah kanan. Pasangan suami istri itu sedang mengapit putra kesayangan mereka yang masih fokus dengan mainannya.
“Tidak, Mas. Hanya saja tadinya aku sempat terkejut saat mengetahui Mas mengirim uang lima puluh juta ke rekening Donita. Itu bukan uang yang sedikit. Bagaimana aku tidak curiga. Bahkan tabunganku juga tidak sebanyak itu,” jelas Bella, dengan wajah cemberut.
“Hahaha ... masalah itu. Memang sejak kapan kamu memiliki tabungan, Bell? Bagaimana kamu bisa tahu jumlah tabunganmu, bahkan kamu sendiri tidak pernah melihatnya.”
“Tentu aku tahu, setiap awal bulan bukannya Mas selalu mengirimkan uang padaku. Setelah dikurangi pengeluaran, belanja kebutuhan sehari-hari, biaya pekerja rumah dan uang sekolah anak-anak. Sisanya tinggal sedikit. Bahkan selama aku menikah denganmu, belum pernah menyentuh angka lima puluh juta,” ungkap Bella, terus terang.
“Wajar saja. Itu memang untuk dihabiskan, Bell. Kalau masih ada sisa berarti kamu terlibat penggelapan dana. Harusnya itu untuk biaya operasional dan kebutuhan keluarga. Bukan untuk ditabung.” Bara terkekeh, sebaliknya Bella melotot.
“Jadi ... jadi maksudnya aku bisa belanja sepuasnya dengan uang itu. Tidak perlu menyisikan untuk ditabung. Begitu maksud, Mas?” tanya Bella memastikan.
Bara mengangguk. “Ya, itu untuk biaya hidup kita sehari-hari. Aku memintamu mengaturnya, karena kamu nyonya rumah. Yang bertanggung jawab untuk semua kebutuhan dan pekerja di rumah,” jelas Bara.
Bella mengangguk pertanda paham. Namun, sedetik kemudian ia protes kembali. “Lalu aku tidak punya pegangan sama sekali, Mas?” todongnya tiba-tiba. Memandang suami yang masih saja menertawakannya.
“Kemari ikut aku!” ajak Bara, menyodorkan tangannya. Mengajak sang istri berjalan menuju jendela besar di salah sudut ruangan.
Terdengar helaan napas kasar sebelum Bara memulai. “Bell, aku memang bukan tipe suami yang menyerahkan keuangan dipegang istriku. Aku hanya mempercayakanmu mengatur keuangan untuk rumah tangga. Namun bukan berarti, aku tidak menyiapkan segala sesuatu untukmu dan anak-anak.”
Bella menoleh ke arah suaminya. Keduanya berdiri bersisian, saling menggengam tangan. Menatap keluar jendela, memandang gedung-gedung tinggi di pusat kota. Bangunan bertingkat menjulang itu seakan berlomba-lomba, beradu siapa yang akan mencapai awan terlebih dulu,
“Semua milikku adalah milik istri dan anak-anakku. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu dan anak-anak. Jangan khawatir mengenai itu. Anak-anak di sini, artinya Rania dan Caca juga termasuk di dalamnya. Bagiku mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti Real.” Bara berhenti sejenak, mengeratkan genggaman tangannya.
“Menjadi orang tua untuk Kakak dan Caca itu bukan hanya berat secara kasih sayang yang harus adil, tetapi juga suatu saat masalah harta akan diperdebatkan.” Bara membuka suara.
“Mas, kamu sudah memikirkan sejauh itu?” tanya Bella, heran.
“Ya, Bell. Mereka semua putra-putriku. Tentu saja aku harus memikirkan bagaimana ke depannya. Apalagi pekerjaan rumah kita semakin berat, karena Rania dan Caca bukan putri kandung kita. Sedangkan yang bersaudara kandung saja masih bisa berebutan harta, apalagi dalam kondisi seperti kita sekarang.”
“Aku ingin anak-anakku akur sampai tua. Saling menyayangi, sampai kita menua bahkan hanya tinggal sebuah nama. Kesuksesan seorang Barata Wirayudha bukan hanya dinilai dari perusahaan yang semakin tahun semakin berkembang. Namun, aku juga harus memastikan anak-anakku yang semakin hari semakin dewasa dan tetap bersama, saling menyapa sampai di hari tua mereka.”
Genggaman tangan itu terurai, Bara meraih pundak Bella mendekat padanya dan mendekapnya erat.
“Bantu aku, menjaga anak-anak tetap bersama sampai mereka dewasa dan menjadi tua. Aku ingin mereka tetap seperti sekarang. Jangan sampai mereka bertengkar hanya untuk harta yang tidak seberapa ini. Dan aku akan mengatur segala sesuatunya, adil untuk semua.
***
Seorang pria tampan tampak turun dari mobil hitam yang terparkir di depan sebuah gedung SMA. Dengan setelan casual dan kacamata hitamnya, ia membuang pandangan ke sekitar. Mencari tahu kapan gadis pujaannya akan keluar dari gerbang.
“Teo ....”
bacaan ringan disaat wsktu luang
hiburan bukan bacaan spiritual 🙏🙏🤭
pemahaman rumahtangga bara pasca penghianatan brenda sang mantan istri membuat ruang bella terbatas. kalau bara suamiku sudah ku tukar tambah
bara masih agak jauh dari perfeksionis seorang pimpinan dan kepala keluarga.