Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: LANGKAH PERTAMA SEORANG IBLIS
Pagi di Klan Namgung selalu dimulai dengan suara pedang.
Dari halaman latihan utama, terdengar derap kaki para murid yang berlatih jurus dasar. Puluhan pemuda berkeringat mengayunkan pedang kayu mereka, di bawah pengawasan ketat para instruktur. Suara kayu beradu, teriakan semangat, dan sesekali bentakan keras bercampur menjadi simfoni khas dunia persilatan.
Namgung Jin duduk di ambang jendela kamar reotnya, mendengarkan semua itu dengan mata setengah tertutup.
"Dasar sampah."
Bukan penilaian sombong. Fakta. Dari apa yang didengarnya, jurus-jurus yang diajarkan di Klan Namgung adalah jurus dasar tingkat rendah—teknik yang tiga ribu tahun lalu sudah ditinggalkan bahkan oleh sekte terkecil sekalipun. Klan Namgung mungkin salah satu dari Empat Klan Besar sekarang, tapi standar mereka... menyedihkan.
"Tidak heran Murim mundur ribuan tahun. Jika ini yang disebut hebat, aku bisa menghancurkan seluruh klan ini hanya dengan satu jari—dulu."
Dulu.
Kata itu pahit di lidah.
Sekarang, dengan tubuh ringkih ini, bahkan bocah yatim di jalanan mungkin bisa mengalahkannya. Meridiannya tersumbat di tujuh puluh dua titik—hampir seluruhnya. Dantian-nya kosong, seperti padang pasir yang tidak pernah melihat hujan.
"Syukurlah Kitab Sembilan Jurang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik."
Ia menarik napas dalam, menutup mata, dan mulai merasakan aliran energi di tubuhnya.
---
Tiga jam kemudian.
Keringat membasahi seluruh tubuh Namgung Jin. Wajahnya pucat, bibirnya hampir putih, tapi matanya... matanya bersinar terang.
"Titik pertama... terbuka."
Meridian pertamanya—yang tersumbat paling parah—akhirnya berhasil dibersihkan. Hanya satu dari tujuh puluh dua, tapi itu cukup untuk membuat perbedaan. Kini ia bisa merasakan aliran gi (energi kehidupan) yang sangat tipis mengalir di satu jalur kecil.
Proses ini seharusnya memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, untuk kultivator biasa. Tapi Cheon Ma-ryong tidak biasa. Ia tahu persis titik-titik mana yang harus diprioritaskan, urutan yang benar, dan teknik pernapasan yang tepat.
"Masih terlalu lambat."
Ia membuka mata. Di luar, matahari sudah meninggi. Suara latihan dari halaman utama mulai reda—istirahat siang.
Pintu kamarnya diketuk pelan.
"Jin-ah?"
Suara Nyonya Yoon. Lembut, hati-hati, seperti takut mengganggu.
"Masuk, Ibu."
Pintu terbuka. Nyonya Yoon masuk dengan membawa nampan kayu kecil—semangkuk bubur hangat dan beberapa potong kimchi sederhana. Matanya langsung tertuju pada wajah pucat putranya, dan seketika itu juga kerutan cemas muncul di dahinya.
"Jin-ah, kau pucat sekali! Apa kau sakit? Ibu panggil tabib—"
"Tidak perlu, Ibu." Namgung Jin tersenyum—senyum yang ia pelajari dari ingatan Namgung Jin asli, senyum hangat untuk menenangkan ibu. "Aku hanya... berlatih."
"Berlatih? Dengan luka-lukamu?" Nyonya Yoon meletakkan nampan, lalu duduk di samping putranya. Tangannya yang kasar karena bekerja menyentuh dahi Namgung Jin, memeriksa suhu tubuhnya. "Kau belum sembuh total! Jangan memaksakan diri!"
Simma di dada Namgung Jin berdenyut hangat.
Hangat.
Itu kata yang tepat. Perasaan ini... hangat. Seperti api unggun di musim dingin. Seperti sinar matahari setelah badai.
Ia tidak pernah merasakan ini selama ribuan tahun.
"Aku baik-baik saja, Ibu." Suaranya lembut—lembut yang tidak biasa bagi Iblis Murim. "Ibu tidak perlu khawatir."
"Masa ibu tidak perlu khawatir?" Nyonya Yoon menghela napas, matanya berkaca-kaca. "Kau satu-satunya yang ibu punya, Jin-ah. Jika sesuatu terjadi padamu..."
Ia tidak melanjutkan. Tapi Namgung Jin mengerti.
Simma di dadanya berdenyut lagi—lebih kuat. Rasa sakit, rindu, dan cinta yang bercampur aduk.
Untuk sesaat, Cheon Ma-ryong ingin mengatakan sesuatu yang kasar. Sesuatu seperti "Wanita bodoh, aku bukan putramu" atau "Jangan buang air matamu untukku". Tapi kata-kata itu tidak keluar.
Yang keluar adalah:
"Aku janji, Ibu. Aku tidak akan mati."
Nyonya Yoon menatapnya, lalu tersenyum—senyum yang membuat kerutan di wajahnya tampak indah. "Bocah bodoh. Janji sembarangan."
Tapi ia memeluk putranya, dan Namgung Jin—Cheon Ma-ryong—membiarkannya.
---
Setelah Nyonya Yoon pergi (dengan paksa menyuruhnya makan bubur habis), Namgung Jin kembali merenung.
"Ini... mengganggu."
Simma ini terlalu kuat. Setiap kali berinteraksi dengan ibunya, emosi asing itu membanjiri pikirannya, mengaburkan penilaiannya. Ini berbahaya. Dalam dunia Murim, emosi adalah kelemahan. Dan kelemahan adalah kematian.
Tapi...
"Mungkin... tidak selalu."
Ia ingat sesuatu. Sesuatu yang dikatakan gurunya—guru sejatinya, bukan guru dalam kehidupan ini—ribuan tahun lalu.
"Cheon Ma-ryong, kau jenius. Tapi kau tidak akan pernah mencapai puncak sejati selama hatimu hampa."
"Apa maksud Guru?"
"Kekuatan tanpa ikatan adalah kehampaan. Kehampaan bisa menghancurkan, tapi tidak bisa menciptakan. Untuk menciptakan sesuatu yang abadi, kau butuh ikatan."
Saat itu ia mengabaikan kata-kata itu. Ia pikir gurunya bodoh. Tapi sekarang...
"Mungkin Guru benar."
Ia menggeleng, membuang pikiran itu. Nanti. Urusan filosofi bisa nanti. Sekarang, ada target satu bulan yang harus dipenuhi.
---
Malam harinya, Namgung Jin menyelinap keluar dari paviliunnya.
Gerakannya hati-hati, memanfaatkan bayangan dan menghindari para penjaga. Tubuhnya masih lemah, tapi pengetahuan tentang pola jaga dan titik buta lebih dari cukup untuk menghindari pengawal biasa.
Tujuannya: Perpustakaan Klan Namgung.
Bukan untuk membaca buku-buku ilmu pedang—ia yakin isinya tidak lebih baik dari yang ia ketahui. Tapi untuk mencari informasi. Informasi tentang struktur klan, tentang hubungan antar anggota, tentang kelemahan-kelemahan yang bisa dimanfaatkan.
Perpustakaan itu terletak di kompleks timur, dekat dengan kediaman tetua. Bangunan dua lantai dengan arsitektur kuno, dijaga dua pengawal di pintu depan. Tapi Namgung Jin tidak masuk lewat depan.
Ia memutar ke belakang, menemukan jendela kecil di lantai dua—jendela gudang penyimpanan yang tidak pernah dikunci. Dengan susah payah (tubuh ini benar-benar lemah), ia memanjat tiang kayu dan masuk melalui jendela itu.
Di dalam, gelap. Hanya sinar rembulan yang masuk melalui celah-celah jendela.
Namgung Jin turun ke lantai satu, tempat rak-rak buku berjajar rapi. Matanya menyapu ruangan, mencari bagian tertentu.
"Catatan klan... catatan klan..."
Ia menemukannya di sudut paling belakang—rak besar berisi gulungan-gulungan tua. Catatan tahunan Klan Namgung, termasuk daftar anggota, pernikahan, kelahiran, dan kematian.
Ia mengambil beberapa gulungan dari sepuluh tahun terakhir, lalu duduk di sudut gelap membacanya.
Informasi berharga bermunculan.
Nyonya Kim—istri utama—ternyata berasal dari Klan Kim, salah satu klan bangsawan kecil di wilayah timur. Tapi yang menarik, Klan Kim ternyata memiliki hubungan dagang dengan Sekte Bunga Merah (Jeokhwamun), sebuah sekte kecil yang... diam-diam terafiliasi dengan Sapa.
"Menarik."
Bukan bukti, tapi petunjuk. Jika Nyonya Kim punya koneksi ke dunia hitam, bukan tidak mungkin ia menggunakan koneksi itu untuk membayar Yuhyanggok.
Namgung Jin terus membaca. Satu jam... dua jam...
Lalu ia menemukannya.
Sebuah catatan kecil, hampir tidak mencolok, di bagian akhir gulungan tahun lalu.
"Nyonya Kim mengirim lima puluh nyang perak ke Yuhyanggok. Alasan: donasi untuk kuil."
Namgung Jin tersenyum.
"Dasar bodoh."
Mencatat transaksi gelap di buku resmi? Nyonya Kim mungkin pintar dalam politik internal, tapi dalam hal konspirasi pembunuhan, ia amatiran.
Ini bukan bukti langsung, tapi cukup untuk memulai. Dengan informasi ini, ia bisa menekan Nyonya Kim, atau setidaknya membuatnya gugup.
Ia menggulung catatan itu dan menyimpannya di balik bajunya. Waktunya kembali.
Tapi saat ia berbalik...
"Kau mencari sesuatu?"
Suara itu datang dari belakang.
Namgung Jin berbalik perlahan. Di ambang pintu perpustakaan, berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah abu-abu sederhana. Wajahnya biasa saja, tidak mencolok. Tapi matanya... mata itu tajam. Sangat tajam.
Dan ia tidak terdengar sama sekali saat masuk.
Namgung Jin mengenali pria ini. Tetua Namgung Pyo—tetua pendiam yang kemarin hadir di altar leluhur.
"Tetua Pyo." Namgung Jin tidak panik. Tidak ada gunanya panik. "Aku hanya ingin membaca."
"Membaca?" Tetua Pyo melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Di tengah malam? Masuk lewat jendela belakang?"
"Aku tidak punya izin akses perpustakaan." Bahunya santai. "Jadi aku ambil jalan alternatif."
Tetua Pyo menatapnya lama. Lalu, tiba-tiba, ia tersenyum.
"Kau bocah yang aneh."
"Terima kasih?"
"Bukan pujian." Tetua Pyo duduk di salah satu kursi baca, menyilangkan kaki. "Tadi malam, kau berbicara di depan kepala klan dan dua tetua seolah kau setara dengan mereka. Kau membuat taruhan bodoh dengan Tetua Kang. Dan sekarang kau menyelinap ke perpustakaan tengah malam untuk mencari... apa? Informasi tentang siapa yang ingin membunuhmu?"
Namgung Jin tidak menjawab.
Tetua Pyo mengangguk sendiri. "Kau tahu, saat kau menyebut nama Yuhyanggok, aku langsung curiga. Karena hanya sedikit orang yang tahu tentang Yuhyanggok di luar kalangan tertentu. Dan kau, anak selir yang tidak pernah ke mana-mana, tahu nama itu dengan mudah."
"Aku banyak mendengar."
"Ya, kau bilang begitu. Tapi aku tidak percaya." Tetua Pyo mencondongkan tubuh. "Jadi, siapa kau sebenarnya, Namgung Jin?"
Keheningan.
Namgung Jin menatap Tetua Pyo. Pria ini berbeda dari tetua lain. Ia tidak mudah terprovokasi, tidak mudah marah, dan matanya... matanya seperti sedang membedahnya.
"Aku adalah diriku sendiri." Jawaban itu aman. "Apa yang Tetua inginkan?"
"Aku ingin tahu apakah kau sekutu atau musuh." Tetua Pyo terus terang. "Karena aku sudah lama mengamati klan ini. Dan aku tahu, klan ini sedang membusuk dari dalam. Korupsi, intrik, perebutan kekuasaan. Namgung Cheon adalah kepala klan yang baik, tapi ia terlalu sibuk dengan urusan luar untuk melihat apa yang terjadi di dalam."
Ia berhenti, menatap Namgung Jin.
"Kau muncul tiba-tiba. Bocah yang seharusnya mati, tapi malah bicara seperti ahli strategi. Aku ingin tahu: apakah kau bagian dari masalah, atau bagian dari solusi?"
Namgung Jin diam sejenak. Lalu ia tertawa—tawa kecil, tawa yang sama seperti saat di altar kemarin.
"Tetua Pyo, kau menarik." Ia berjalan mendekat, duduk di kursi seberang Tetua Pyo. "Aku bukan bagian dari masalah. Juga bukan bagian dari solusi. Aku hanya... seseorang yang punya hutang pada klan ini."
"Hutang?"
"Ibuku tinggal di sini. Dan klan ini—meskipun memperlakukannya seperti sampah—telah memberinya atap. Itu cukup."
Tetua Pyo mengamatinya. "Kau bicara seperti orang tua, bukan bocah enam belas tahun."
"Mungkin aku memang tua di dalam."
Pernyataan itu ambigu. Sengaja.
Tetua Pyo menghela napas. "Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Tapi ingat ini, Namgung Jin. Aku akan mengawasimu. Jika kau berniat jahat pada klan ini..."
"Tetua bisa membunuhku." Potong Namgung Jin datar. "Tapi aku tidak akan berniat jahat. Justru sebaliknya."
Ia berdiri.
"Sekarang, jika tidak ada lagi yang ingin Tetua tanyakan, aku harus kembali. Ibuku akan cemas jika tahu aku pergi."
Tetua Pyo tidak menghentikannya.
Tapi saat Namgung Jin mencapai pintu, suara tetua itu terdengar lagi.
"Kau tahu, Yuhyanggok bukan satu-satunya masalah."
Namgung Jin berhenti.
"Seminggu lagi, akan ada pertemuan antar sekte di sini. Delapan Sekte Besar akan mengirim utusan. Dan salah satu agendanya adalah... evaluasi kekuatan Klan Namgung."
"Evaluasi?"
"Ada desas-desus bahwa klan kita melemah. Beberapa sekte ingin... menguji." Suara Tetua Pyo berat. "Jika kita gagal menunjukkan kekuatan, posisi kita sebagai Empat Klan Besar bisa terancam."
Namgung Jin menoleh. "Kenapa Tetua memberitahuku ini?"
"Karena kau bilang kau ingin melindungi klan ini. Mungkin kau bisa membantu."
"Aku? Dengan tubuh lemah ini?"
"Otakmu, bocah. Otakmu." Tetua Pyo tersenyum tipis. "Pergilah. Nanti ketahuan."
Namgung Jin melangkah keluar, meninggalkan Tetua Pyo sendirian di perpustakaan.
Pria tua itu menatap kepergiannya, lalu bergumam pada diri sendiri.
"Siapa kau sebenarnya, Namgung Jin?"
---
Kembali di paviliun reot, Namgung Jin duduk termenung.
Informasi baru: pertemuan antar sekte dalam seminggu. Delapan Sekte Besar akan datang. Dan Klan Namgung sedang dievaluasi.
"Ini bisa jadi bencana... atau peluang."
Jika Klan Namgung terlihat lemah, mereka bisa diserang. Tapi jika mereka terlihat kuat, posisi mereka akan menguat.
Dan di tengah semua itu, ia—anak selir tanpa kekuatan—harus menemukan cara untuk memenuhi sumpahnya.
"Bocah Namgung Jin, kau benar-benar memberiku pekerjaan rumah yang menyebalkan."
Tapi di sudut hatinya—sudut yang mulai terpengaruh Simma—ia merasa... tertantang.
Membangun sesuatu dari nol. Membesarkan klan kecil ini menjadi kekuatan yang disegani. Itu bukan sesuatu yang pernah ia lakukan sebagai Iblis Murim. Dulu ia hanya menghancurkan.
Sekarang, untuk pertama kalinya, ia harus membangun.
"Mungkin ini... tidak terlalu buruk."
Ia menatap gulungan catatan klan di tangannya. Langkah pertama sudah jelas.
Besok, ia akan mulai menekan Nyonya Kim.
Perlahan, hati-hati, seperti ular merayap.
---