NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senjata

Matanya berat, nyaris tak ingin terbuka.

Tubuhnya terasa remuk, menahan dirinya untuk tetap diam di tempat.

Namun pikirannya tak memberi ampun.

Ia terus menariknya kembali—

pada satu kenyataan yang, bahkan untuk diingat pun terasa menyakitkan.

Tangannya mencengkeram sesuatu tanpa sadar.

Matanya terbuka perlahan, napasnya sempat tertahan oleh rasa kaget yang tiba-tiba datang.

Ia menunduk, menatap apa yang menjadi alas kepalanya—

sepasang kaki, yang terasa hangat.

Pandangannya bergerak pelan, mencoba memahami keadaan.

Mobil.

Seketika ia tersentak. Tubuhnya dipaksa bangun, meski nyeri langsung menjalar.

Dan di hadapannya—

Arka tertidur, masih dalam posisi duduk.

Dadanya naik turun perlahan, wajahnya terlihat lelah.

Aluna terdiam.

Baru sekarang ia menyadari…

ia menghabiskan waktu entah berapa lama, tertidur di pangkuan pria itu.

Aluna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa malu menjalar di wajahnya.

Ia menyenderkan punggungnya di jok mobil, menatap wajah pria yang sedang tertidur disampingnya.

"Terima kasih atas perhatiannya."

Ucapnya lirih.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Baru kali ini ia melihat Arka sedekat ini—dalam keadaan tertidur.

Padahal, jarak di antara mereka selama ini tak pernah benar-benar jauh.

Namun entah kenapa… kali ini terasa berbeda.

Tidak direncanakan, tidak pula disengaja.

Semuanya terjadi begitu saja—tanpa ia sempat menolak.

Saat Aluna menatap wajah Arka, tiba-tiba mata yang terpejam itu kini terbuka.

Membuat mata mereka saling menatap.

Hening mengudara diantaranya.

"Apa aku begitu tampan? sampai mata mu tidak berpaling."

Ucap Arka tiba-tiba.

Aluna tertawa kecil, lalu menundukkan wajahnya.

"Jangan menunduk," kata Arka tiba-tiba.

Aluna mengangkat wajahnya kembali.

Hening.

Kedua mata itu saling menatap cukup lama.

Sampai akhirnya Arka yang pertama menyerah, ia menundukkan pandangannya.

"Pak Arka... Terima kasih atas bantuannya malam ini," ucap Aluna. "Tapi sepertinya saya harus pergi."

"Kamu akan kemana malam ini?"

Tanya Arka pelan.

"Mungkin untuk sementara, saya akan di hotel."

Aluna mengusap-usap punggung tangannya.

"Sampai kapan?"

"Sampai saya menemukan keputusan yang tepat."

Setelah itu Arka mengantar Aluna ke sebuah hotel yang tidak jauh dari perusahaan.

Aluna ingin menjauh untuk sesaat dari Gavin, ia butuh waktu untuk memikirkan bagaimana selanjutnya.

Namun ia tidak bisa menghindar dari Helena.

Di kantor... Kini menjadi tempat yang paling Aluna benci karena ia harus berinteraksi pada perempuan yang telah mengkhianatinya.

Beberapa kali Aluna berusaha menghindarinya, tapi tuntutan pekerjaan dan sikap profesional harus ia genggam erat.

Rasanya seperti kembali lagi pada kejadian silam.

Saat bosnya merenggut harga dirinya, tapi ia harus kembali menelan luka itu dan bersikap profesional.

Baginya...

Tidak ada lagi tempat yang benar-benar nyaman.

Rumah, kantor.

Semuanya sama.

Revan sudah mengetahui masalah diantara Aluna dan Helena.

Membuatnya pun ikut menjaga jarak dengan Helena.

Revan berusaha menjadi satu-satunya orang yang tetap berdiri disamping Aluna.

Memastikan perempuan itu tidak sendirian.

"Aluna.. aku antar kamu ke hotel ya."

Kata Revan sambil membawakan beberapa barang kerja Aluna.

"Nggak usah kak."

Aluna mengambil barang yang Revan pegang.

"Kakak pulang aja. Aku juga mau langsung istirahat."

Setelah Aluna tahu dibalik alasan Helena berbuat seperti itu, karena Revan.

Ia ingin menjaga jarak dengan Revan, ia tidak ingin menambah masalah lagi dengan memberikan harapan pada seseorang, karena Aluna tahu jika Revan menyukainya.

***

Aluna menatap gemerlap kota dari balkon hotel.

Pikirannya tidak pernah lepas dari Gavin.

Pernikahan kita baru berjalan empat tahun...

Haruskah berakhir?

Hatinya masih bertahan, memohon untuk memaafkan.

Namun logikanya tak henti-henti berbisik—melepaskan adalah satu-satunya jalan.

Aluna tidak siap untuk perpisahan.

Bahkan, memikirkannya saja terasa seperti sesuatu yang asing.

Seumur hidupnya, ia hanya percaya pada satu hal—Menikah sekali, lalu menua bersama orang yang sama.

Tapi kini…

keyakinan itu perlahan runtuh.

Ia baru menyadari bahwa, bahkan sebuah pernikahan pun tidak selalu menjamin akhir yang utuh.

Ponselnya terus berdering.

Gavin menghubunginya setiap saat, mengirimi pesan.

Aluna, aku minta maaf..

Aluna ayo kita perbaiki..

Aku khilaf.. aku akan berubah..

Jangan pergi..

Aku menyayangimu...

Aku berjanji kita akan hidup lebih baik..

Kalimat-kalimat yang meruntuhkan pertahanan Aluna.

Setelah memikirkannya berulang kali, Aluna memutuskan untuk menghubungi Gavin dan membicarakan kembali.

Namun jemarinya berhenti pada sebuah pesan yang datang dari nama yang ia benci,

Helena—

Beberapa foto masuk.

Aluna membukanya tanpa curiga.

Lalu seketika, dunia seolah berhenti.

Ponselnya jatuh begitu saja dari tangannya.

Ia mundur, langkahnya goyah,

hingga punggungnya menabrak dinding.

Tangannya mencengkeram dada, seolah jantungnya tiba-tiba terasa terlalu sakit untuk berdetak.

Tubuhnya perlahan luruh, jatuh terduduk di lantai.

Air matanya pecah—

deras, tanpa jeda, tanpa suara yang bisa menjelaskan apa yang ia rasakan.

Layar ponsel yang masih menyala, menampilkan beberapa foto dan video saat Gavin dan Helena sedang bersenggama.

Bukan hanya sekali dua kali, ternyata mereka sudah melakukannya berkali-kali.

Dan yang paling membuat dada Aluna terasa terbakar, hubungan mereka sudah berjalan selama dua tahun.

Malam itu... Aluna kembali menangisi hal yang sama. Alih-alih ingin memperbaiki namun justru kenyataan berbicara lebih pahit.

Dua Minggu telah berlalu sejak terakhir kali Aluna menangis di kamar hotel.

Hari ini kakinya berhenti didepan pintu yang dulu pernah menjadi bagian dari ia tumbuh bersama seseorang yang ia cintai.

Aluna mengetuk pintu itu.

Tak lama pintu pun terbuka, sosok pria berdiri dibaliknya.

Gavin—

Matanya terbelalak, perasaan haru tergambar jelas di wajahnya.

Sudah hampir sebulan ia tidak melihat wajah istrinya.

"Aluna."

Gavin langsung memeluk erat tubuh Aluna.

Perempuan itu tidak melepaskannya, ia hanya diam dengan tatapan kosongnya.

"Aku ingin masuk."

Kata Aluna singkat.

Gavin menuntunnya masuk kerumah.

Aluna menyapu seluruh ruangan itu, matanya berkaca-kaca. Rumah yang dulu menjadi tempat ia menghabiskan waktu bersama Gavin, tawa, canda itu masih melekat disetiap sudut ruangan.

Foto-foto pernikahan yang berjejer ditembok, membuatnya semakin sesak.

Ia menatap Gavin dengan begitu dalam, sampai...

"Aku datang untuk memberikan ini."

Tangannya menyodorkan secarik kertas.

Gavin membuka kertas itu, membacanya dengan wajah cemas.

Sebuah surat gugatan perceraian.

"Aluna. Ini apa? Kamu mau mengakhiri pernikahan kita?"

Gavin menatap tajam Aluna.

"Kamu yang lebih dulu mengakhiri pernikahan kita," jawab Aluna dengan lantang.

Gavin membungkuk, tangannya meraih tangan Aluna.

"Aluna.. aku minta maaf," ia menciumi punggung tangan perempuan itu. "Kasih aku kesempatan." Ia memohon.

Aluna menepis tangannya, "Maaf.. sudah terlambat."

Aluna melangkah ke kamarnya, ia mengambil beberapa baju miliknya dan menatanya ke dalam koper.

Lalu pergi meninggalkan Gavin.

Pada akhirnya keputusan inilah yang ia ambil.

Memberikan kesempatan pada orang yang berkali-kali meniduri perempuan lain tanpa memikirkan perasaan istrinya...

Adalah hal yang bodoh.

Aluna menoleh sekali lagi, melihat rumah itu untuk yang terakhir kalinya.

Lalu pergi dengan senyuman paling jujur di wajahnya.

Terima kasih, Pak...

Dari sekian banyak keraguan, justru satu kalimat itu yang menuntunnya—

hingga akhirnya ia berani memilih.

"Tetaplah menjadi bodoh, agar hidupmu terus menyedihkan".

Sebuah ejekan yang pernah dilontarkan Arka padanya.

Kini menjadi senjata untuknya.

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!