Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Kemenangan dan Keresahan Sang Pengkhianat
Berbeda dengan suasana meriah di rumah Valois, ruang kerja Silas berantakan. Ia baru saja melempar vas antik ke dinding. Napasnya memburu, matanya memerah menahan murka sekaligus ketakutan yang mulai menjalar.
"Di mana Marek?! Di mana mereka semua?!" teriak Silas pada ajudannya yang gemetar.
Tiga koloni petinggi yang ia sewa untuk memastikan bom itu meledak lenyap seolah ditelan bumi. Tidak ada mayat, tidak ada laporan, hanya kesunyian yang mencekam. Silas mulai menyadari sesuatu yang mengerikan.
"Eisérre..." gumam Silas sambil mencengkeram pinggiran meja. "Dia bukan sekadar Jenderal yang patuh pada aturan. Dia lebih dari bahaya. Dia melenyapkan orang-orangku tanpa meninggalkan jejak, lalu berpura-pura menjadi pahlawan di depan Raja."
Silas merasa posisinya terhimpit. Geneviève kembali dengan ingatan yang (menurut dugaannya) belum pulih benar, tapi kenaikan pangkat Eisérre adalah tembok besar yang menghalangi langkahnya. "Aku harus lebih hati-hati. Jika Eisérre bisa menyembunyikan Putri selama sebulan, dia pasti punya sesuatu yang bisa menghancurkanku."
Sementara para pria sibuk dengan politik dan rasa bersalah, di kamar Putri, suasananya jauh lebih berisik karena satu orang: Lize.
Pelayan setia itu tidak berhenti bergerak. Ia merapikan tempat tidur, menyiapkan teh, lalu memeluk kaki Geneviève lagi sambil menangis sesenggukan.
"Oh, Putri! Saya pikir saya harus melayani hantu hari ini!" tangis Lize pecah lagi. "Saya merindukan Anda sampai rasanya ingin mati saja! Lihatlah, Anda jadi lebih kurus! Apakah Jenderal itu tidak memberi Anda makan dengan benar? Padahal saya sudah bersedia melamar Jenderal itu untuk Anda, tapi Anda malah hilang!"
Geneviève tertawa kecil, ia duduk di tepi ranjangnya yang empuk sambil mengelus kepala Lize. "Tenanglah, Lize. Aku diberi makan dengan sangat baik. Bahkan terlalu baik."
"Tapi kenapa Putri diam saja? Ceritakan pada saya, apa Jenderal itu setampan yang kita intip dulu? Apa dia baik? Apa dia..." Lize berhenti sejenak, matanya berbinar nakal. "...apa dia mencium Anda?"
Geneviève tersedak tehnya sendiri. Bayangan wajah Eisérre yang mendekat saat "lamaran" itu muncul lagi di benaknya.
"Lize, kau terlalu banyak bicara," tegur Geneviève, wajahnya memerah. "Cepat siapkan air mandi. Aku ingin membersihkan sisa-sisa aroma 'obat' dari tubuhku."
Lize cemberut tapi tetap bangkit. "Baik, Putri. Tapi saya tahu ya, mata Putri tidak bisa bohong. Ada sesuatu yang berbeda setiap kali saya menyebut nama Jenderal itu!"
Setelah Lize keluar, Geneviève terdiam menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia meraba lehernya. Ia tahu Eisérre mencintainya dengan cara yang salah, dan ia tahu Silas adalah orang yang mencoba membunuhnya.
"Permainan baru saja dimulai, Tuan Perdana Menteri," bisik Geneviève pada bayangannya sendiri. "Dan kau, Eisérre... terima kasih atas bintang limanya. Anggap saja itu upah karena telah menjagaku, atau mungkin... biaya karena telah mencuri satu bulan hidupku."
Sementara itu, Di balkon kediaman Valois, Eisérre menatap lencana Bintang Lima yang baru saja ia letakkan di atas meja marmer. Cahaya bulan membuat emas itu berkilau, namun bagi Eisérre, kilauan itu terasa seperti ejekan yang menyakitkan.
"Bintang lima..." bisiknya dengan nada getir.
Ia merasa terhina. Geneviève tidak menghukumnya dengan pedang, melainkan dengan budi pekerti yang luhur. Baginya, kenaikan pangkat ini adalah cara Geneviève mengatakan: "Ini bayaranmu karena sudah menjagaku, sekarang kita impas dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku."