NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Sinar matahari siang itu terasa terik, menyengat permukaan kain hitam jaket bomber kepolisian milik Baskara yang kini tersampir rapi di jemuran belakang. Ziva baru saja selesai menyikat noda merah sialan itu dengan sekuat tenaga menggunakan deterjen beraroma lemon, memastikan tidak ada sedikit pun jejak memalukan yang tertinggal. Jemarinya masih sedikit keriput karena terlalu lama terkena air dan busa, namun ia merasa lega.

"Aman. Kalau sudah kering, tinggal gue balikin tanpa perlu bahas insiden 'tembus' itu lagi," gumam Ziva sambil mengelap tangannya ke handuk kecil.

Ziva segera masuk ke kamar, mengganti pakaiannya dengan cardigan rajut berwarna krem dan celana jeans longgar yang nyaman. Ia memoleskan sedikit lipstik agar wajah pucatnya akibat kram perut tadi pagi tidak terlalu kentara. Ia butuh keluar. Ia butuh menghirup udara selain aroma maskulin rumah ini yang perlahan mulai menjeratnya.

Begitu Ziva melangkah keluar kamar dan menuruni tangga, jantungnya hampir copot. Baskara masih berdiri di dekat pintu utama, seolah-olah sedang menunggu seseorang—atau lebih tepatnya, menunggu Ziva.

"Astagfirullah! Kaget gue!" seru Ziva sambil memegangi dadanya. "Lo ngapain masih di sini sih, Kak? Katanya mau piket sore?"

Baskara menoleh, matanya memindai penampilan Ziva dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik khas seorang detektif. "Masih ada waktu satu jam. Kamu mau ke mana?"

"Gue mau cari udara segar. Sumpek di rumah terus," jawab Ziva ketus sambil memakai sepatunya.

"Aku anter?" tawar Baskara pendek.

Ziva mendengus, ia tidak mau kejadian "razia dadakan" seperti kemarin terulang lagi. "Nggak usah. Gue udah janjian sama Mila dan Hani. Gue mau girl's day out, lo nggak diajak!"

Tepat saat itu, suara klakson mobil terdengar dari depan gerbang. Ziva menunjuk ke arah luar dengan wajah penuh kemenangan. "Nah, itu mereka! Bye, Om!"

Ziva berlari kecil menuju gerbang, meninggalkan Baskara yang hanya bisa terdiam menatap punggung istrinya dengan raut wajah kaku. Pria itu menghela napas panjang, lalu merogoh ponselnya, memastikan sesuatu.

"Wuih, yang baru dapet izin keluar rumah!" goda Mila begitu Ziva masuk ke kursi belakang mobil Honda Jazz miliknya. Hani yang duduk di kursi penumpang depan langsung menoleh dengan cengiran lebar.

"Gila ya, Ziv. Gue denger dari Mila, sekarang lo beneran nggak boleh jalan sama cowok? Serius itu si Om Polisi seposesif itu?" tanya Hani sambil menyalakan mesin mobil.

Ziva menyandarkan kepalanya ke jok mobil dengan lesu. "Iya, emang aneh tuh om-om. Pake bikin syarat segala lagi. Katanya demi keamanan gue, halah... bilang aja mau pamer kuasa."

"Tapi jujur ya, Ziv," Mila menimpali sambil mulai melajukan mobil. "Ganteng nggak sih aslinya kalau di rumah? Maksud gue, pas dia lagi nggak pake seragam? Pasti gagah banget kan?"

"Gagah apaan? Kaku kayak manekin toko baju!" bantah Ziva, meski bayangan Baskara yang membalut pinggangnya dengan jaket tadi pagi mendadak terlintas di pikirannya. Wajah Ziva sedikit memanas. "Udah ah, jangan bahas dia. Gue mau healing."

Ting!

Suara notifikasi WhatsApp memecah obrolan mereka. Ziva merogoh tasnya.

"Ciee... dapet chat dari suami ya?" goda Hani yang melihat layar ponsel Ziva menyala.

"Apaan sih, palingan juga urusan paket atau titipan Mama," ketus Ziva. Namun, saat ia membuka kuncinya, matanya melebar melihat deretan pesan dari 'Mas Baskara'.

Mas Baskara: Hati-hati di jalan.

Mas Baskara: Jangan makan pedas dulu, perut kamu baru saja mendingan.

Mas Baskara: Kalau ada apa-apa atau merasa sakit lagi, langsung telepon aku. Aku jemput di mana pun.

Mas Baskara: Jangan pulang terlalu malam.

Ziva tertegun sejenak. Pesan-pesan itu terasa sangat... protektif. Tidak ada kata cinta, memang, tapi perhatian kecil soal perutnya yang kram tadi pagi membuat Ziva merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Namun, ego dan dendamnya segera menekan perasaan itu kembali ke dasar.

"Kenapa, Ziv? Kok bengong? Dia nyuruh pulang ya?" tanya Mila penasaran.

"Enggak. Dia cuma... cerewet. Biasalah, sifat polisinya keluar, berasa lagi ngatur lalu lintas di HP gue," jawab Ziva sambil mematikan layar ponselnya dengan kasar.

"Halah, bilang aja lo seneng diperhatiin," ledek Hani. "Ziv, benci sama cinta itu cuma beda satu garis tipis. Lo hati-hati, jangan sampai garis itu putus terus lo malah jatuh cinta beneran sama dia."

"Gak akan!" tegas Ziva. "Gue nggak akan pernah lupa siapa yang bawa mobil itu malam itu, Han. Perhatian dia sekarang cuma rasa bersalah, bukan apa-apa."

Mila dan Hani saling bertukar pandang. Mereka tahu seberapa keras kepala sahabatnya ini. Mobil pun terus melaju menuju pusat perbelanjaan, membawa Ziva menjauh sejenak dari bayang-bayang Baskara, meskipun di saku tasnya, ponsel Ziva terus bergetar pendek, menandakan sebuah pesan baru masuk:

Mas Baskara: Aku sudah kirim uang ke rekening kamu. Pakai saja untuk jajan sama teman-temanmu.

Ziva mengintip pesan itu dari barisan notifikasi. Ia hanya bisa mendesah pasrah. Baskara benar-benar tahu cara menjeratnya tanpa harus menyentuhnya. Pria itu menggunakan tanggung jawab sebagai senjatanya, dan Ziva merasa semakin sulit untuk melepaskan diri dari barikade yang dibangun oleh suaminya sendiri.

***

Suasana di kantor Polres Jakarta Selatan masih sibuk meskipun jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan malam. Aroma kopi instan dan tumpukan berkas perkara menjadi pemandangan biasa bagi Baskara. Namun, malam ini ada yang berbeda. Perwira kaku itu tidak fokus pada laporan pencurian motor di depannya. Pikirannya melayang ke rumah, lebih tepatnya ke sosok gadis yang tadi siang meninggalkannya dengan kalimat "Bye, Om!".

Baskara menatap layar ponselnya. Tidak ada balasan untuk pesan-pesan perhatiannya tadi siang. Lima detik kemudian, ia kembali menyalakan layar, mengecek status WhatsApp Ziva. Last seen: 15 minutes ago.

"Lo kenapa, Bas? Gelisah amat kayak lagi nunggu hasil tes DNA," celetuk Rio, rekan setimnya, sambil menepuk bahu Baskara dengan keras. "Kangen sama istri lo ya?"

Baskara berdehem, mencoba mengembalikan raut wajah kakunya. Ia buru-buru membalikkan ponselnya ke meja. "Enggak. Gue cuma... mastiin rumah aman. Tadi pagi Ziva sakit."

Rio tertawa kecil, ia menarik kursi di sebelah Baskara. "Halah, alasan klasik. Polisi macem lo kalau udah urusan rumah tangga ternyata cupu juga ya. Kalau kangen ya pulang, Bas. Piket lo udah selesai dari lima belas menit yang lalu."

Baskara terdiam. Ucapan Rio benar. Ia segera menyambar kunci mobilnya, berpamitan singkat, dan melajukan SUV hitamnya menembus kemacetan malam. Di sepanjang jalan, pikirannya berkecamuk. Ia teringat noda merah di celana Ziva tadi pagi, rintihan sakitnya, dan bagaimana jaketnya masih tergantung di jemuran belakang. Ada rasa protektif yang semakin membesar, sebuah tanggung jawab yang perlahan mulai tercampur dengan rasa takut kehilangan.

Begitu sampai di depan pagar rumah, Baskara melihat lampu ruang tamu masih menyala. Ia mematikan mesin mobilnya, menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang anehnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Baskara masuk ke dalam rumah. Ia mendapati Ziva sedang duduk di meja makan, baru saja hendak meneguk segelas air. Rambutnya dicepol asal, mengenakan piyama panjang yang menutup seluruh tubuhnya—sangat jauh dari "baju dinas" yang dibelikan ibunya kemarin.

"Ziva," panggil Baskara pelan.

Ziva tersentak, hampir menjatuhkan gelasnya. Ia menoleh dengan tatapan ketus andalannya. "Apa sih tuh om-om. Dateng-dateng ngagetin aja. Baru pulang lo?"

Baskara tidak menjawab. Ia melangkah mendekat. Ia melihat wajah Ziva yang masih sedikit pucat, mungkin karena kelelahan jalan-jalan dengan Mila dan Hani tadi siang. Tanpa peringatan, tanpa kata-kata pembuka, Baskara merengkuh tubuh Ziva ke dalam pelukannya.

Ziva mematung. Seluruh otot tubuhnya menegang seketika. Aroma maskulin khas Baskara—campuran antara parfum kayu cendana dan aroma udara malam—menyeruak masuk ke indra penciumannya. Ini bukan pelukan formalitas di pelaminan. Ini pelukan yang erat, seolah Baskara sedang memastikan bahwa Ziva benar-benar ada di sana, nyata dan aman.

"Lo... apaan sih, Kak? Le... lepasin gue!" suara Ziva terdengar tidak stabil. Ia mencoba mendorong dada bidang Baskara, namun kekuatannya tidak sebanding dengan lengan kokoh sang polisi yang melingkar di punggungnya.

"Sebentar saja, Ziva. Biarkan seperti ini sebentar," bisik Baskara tepat di telinga Ziva. Suaranya serak, terdengar sangat lelah dan sarat akan emosi yang tertahan.

Ziva terdiam. Perlawanannya perlahan mengendur bukan karena ia menyerah, tapi karena ia merasakan getaran halus dari tubuh Baskara. Ia merasa seolah pria kaku ini sedang menyandarkan seluruh beban dunianya pada bahu mungil Ziva.

"Lo kenapa sih? Tadi siang galak, sekarang malah jadi manja begini. Lo habis kena tilang juga ya?" ejek Ziva, meski suaranya melembut.

Baskara melepaskan pelukannya perlahan, namun kedua tangannya tetap bertumpu di bahu Ziva, menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Terima kasih sudah pulang tepat waktu. Aku tadi khawatir kamu pingsan lagi di jalan."

Ziva memalingkan wajah, tidak kuat menatap sorot mata Baskara yang begitu intens. "Gue bukan anak kecil, Om. Gue udah minum obat tadi siang, makanya kuat jalan-jalan."

Baskara mengusap puncak kepala Ziva sekilas—sebuah gerakan yang sangat tidak "kaku" untuk ukuran seorang Baskara—sebelum ia berbalik menuju dapur untuk mengambil minum. "Jaket aku sudah kamu cuci?"

Ziva tersentak, teringat insiden memalukan tadi pagi. Wajahnya kembali memerah. "Udah! Udah bersih, nggak ada noda sedikit pun! Jadi jangan bahas itu lagi, atau gue bakar jaket lo!"

Baskara hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak terlihat oleh Ziva namun sangat tulus. Malam itu, di dapur yang tenang, meskipun dendam dan rahasia masih menyelimuti mereka, ada satu dinding transparan yang mulai retak. Ziva kembali ke kamarnya dengan jantung yang masih berisik, sementara Baskara tetap di bawah, merasa untuk pertama kalinya rumah ini benar-benar terasa seperti "pulang".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!