NovelToon NovelToon
Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.

Claire mendapatkan sebuah notifikasi..

[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]

Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.

Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terasa Asing

Di tengah keheningan ruang tamu yang terasa menyesakkan, suara Marco--- pemeran orang tua sang Protagonis pecah, menggelegar menghantam dinding-dinding kaca yang dingin. Pria berusia separuh baya itu berdiri dengan napas memburu, menatap tajam ke arah putrinya, Liora.

Marco berdiri mematung, suaranya naik satu oktav hingga memenuhi ruangan. "Sampai kapan kau mau seperti ini, Liora?! Sampai kapan kau akan membiarkan dirimu terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang sudah mati? Julian bukan lagi milikmu, dia sudah milik wanita lain. Dia sudah menikah, Liora! Sekalipun kita semua tahu, pernikahan mereka sejak awal adalah kesalahan besar yang dipaksakan."

Liora memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menahan sesak yang menghantam dadanya. Suaranya pelan namun bergetar. "Pah, aku tahu batasan yang aku miliki. Aku tidak buta. Aku sangat sadar bahwa hubunganku dan Julian tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu. Keadaan sudah hancur berkeping-keping."

Liora menarik napas panjang, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. " Tapi tolong pahami satu hal... aku datang ke rumah itu bukan untuk merebutnya kembali. Aku datang karena aku tidak tega melihat kedua anaknya. Mereka masih kecil, Pah, tapi mereka selalu mendapatkan kekerasan dari ibunya sendiri. Bagaimana aku bisa diam saja melihat darah daging pria yang pernah sangat berarti bagiku menderita di tangan wanita kejam itu?"

Marco melangkah mendekat, raut wajahnya yang keras perlahan melunak oleh rasa iba, namun tetap tegas. "Papah tahu... Papah sangat tahu kalau kau dan Julian masih saling mencintai. Papah tahu bahwa karena ambisi dan kelicikan wanita itu, kalian terpaksa berpisah di saat cinta kalian sedang kuat-kuatnya. Tapi dengarkan Papah, Liora..."

Marco memegang kedua bahu putrinya, menatapnya lurus-lurus. "Papah tidak mau kau menjalin hubungan terlarang. Papah tidak akan membiarkan putri kebanggaan Papah dicap sebagai 'pelakor' oleh dunia. Papah ingin melindungimu dari hinaan orang-orang. Karena itu... Papah sudah memutuskan. Papah sudah menjodohkanmu dengan seseorang yang jauh lebih baik, seseorang yang bisa membawamu keluar dari lubang penderitaan ini."

Liora menggelengkan kepala dengan cepat, melepaskan tangan ayahnya dari bahunya sambil melangkah mundur. "Jangan paksa aku, Pah... aku mohon. Aku tahu hubunganku dan Julian sudah mustahil, aku sudah menerima kenyataan pahit itu. Tapi memaksa aku untuk menikahi pria lain? Itu sama saja dengan membunuhku pelan-pelan."

Liora menyeka air matanya yang jatuh.

" Hatiku bukan sebuah benda yang bisa dipindah-tangankan begitu saja hanya karena keadaan sudah berubah. Jika aku tidak bisa bersama Julian, biarkan aku sendiri. Jangan biarkan aku melibatkan pria lain dalam pernikahan yang dasarnya hanya sebuah pelarian. Aku tidak mungkin menikahi pria lain sementara jiwaku masih tertinggal di masa lalu."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Liora berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu. Langkah kakinya terdengar terburu-buru, membawa pergi seluruh duka yang tersisa.

Di sudut ruangan, Helen, sang ibu, hanya bisa mematung. Tangannya mendekap dada, memandangi punggung putrinya yang perlahan menghilang di balik pintu. Air mata mengalir tanpa suara di pipinya. Hatinya hancur berkeping-keping, terjepit di antara ketegasan suaminya dan penderitaan putrinya yang tak kunjung usai.

" Mas... apa benar-benar tidak ada cara lain untuk mengembalikan senyuman di wajah putri kita? Melihatnya seperti ini membuat napasku terasa sesak."

Suara Helen penuh dengan kepahitan. "Ini semua terjadi karena wanita itu. Dia yang merebut Julian dari tangan Liora dengan cara yang paling hina. Padahal saat itu mereka sudah bertunangan, mereka sudah merencanakan masa depan, mereka hampir menikah! Tapi wanita itu datang dan menghancurkan segalanya hanya dengan kalimat bahwa dia mengandung anak Julian... Anak yang sekarang malah dia telantarkan."

Marco tidak menjawab, dia melemparkan dirinya di atas sofa sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Jika dia boleh menjadi Ayah yang egois dan memikirkan kebahagiaan putrinya-- maka dia akan meminta Liora untuk memperjuangkan cintanya. Namun sebagai konsekuensi-- Liora harus siap di cap sebagai perusak rumah tangga orang.

Sementara itu, Claire—yang memiliki sifat dan sikap yang bertolak belaka dengan Antagonis asli sedang berjalan di Koridor. Saat kakinya melangkah di depan sebuah kamar yang sedikit terbuka, Claire mengintip dari sela - sela yang terlihat. Michel-- bocah menggemaskan itu tampak belum tidur dan masih sibuk dengan boneka nya.

Claire membuka pintu sedikit, bersuara sangat lembut. "Michel? Sayang, belum tidur?"

Michel menoleh dengan wajah bantal, matanya yang bulat terlihat sembab. "Ndak bica tidul, Mommy..." ia meremas boneka beruang nya, suaranya mengecil."Mau di puk-puk cama Mommy... tapi Michel takut Mommy malah lagi kalau Michel manja."

Jantung Claire mencelos mendengar ketakutan putrinya sendiri. Ia tersenyum tulus, senyum yang belum pernah dilihat Michel sebelumnya. "Kemarilah, Sayang. Tidur dengan Mommy malam ini, ya? Mommy akan temani Michel sampai mimpi indah. Sini, Mommy puk-puk."

Mata Michel berbinar ragu namun senang. "Mommy ndak malah?"

Claire menggeleng, lalu duduk di tepi ranjang dan merentangkan tangan. "Tidak, Sayang. Tidak akan pernah lagi. Mommy kan sudah minta maaf dan janji tidak akan marah lagi."

Michel langsung berhambur ke pelukan sang Mommy, merasakan kehangatan yang tidak pernah dia rasakan. Tangan yang dulu sering memukul nya kini terasa hangat saat menepuk kepalanya dengan lembut.

Ceklek.

Pintu kamar Michel terbuka sedikit lebih lebar. Di sana berdiri Mikael, saudara kembarnya. Ia mematung di ambang pintu, menatap pemandangan langka di depannya--- ibunya yang biasanya dingin dan kasar, kini memeluk adiknya dengan penuh kasih.

Mikael berdiri diam, matanya berkaca-kaca. Ada kerinduan yang amat dalam di dadanya untuk mendapatkan pelukan yang sama, namun rasa gengsi dan luka lama membuatnya hanya bisa terdiam, terkunci dalam keheningan yang menyesakkan.

Merasakan kehadiran seseorang, Claire menoleh dan mendapati Mikael berdiri dengan kepala tertunduk. " Kael! Kau juga mau tidur dengan Mommy?"

Seketika Mikael membuang muka, berusaha keras menyembunyikan getaran di suaranya. "Nggak! Aku bukan anak kecil lagi yang harus dikeloni."

Claire terkekeh pelan, ia bangkit dan tanpa ragu menarik lembut tangan Mikael agar mendekat ke ranjang. "Anak besar pun sesekali butuh pelukan Mommy, bukan?"

Mikael tidak menolak. Tubuhnya yang kaku perlahan melunak saat ia ikut merebahkan diri di sisi Claire, meski wajahnya tetap dipalingkan seolah-olah ia terpaksa berada di sana.

Michel mencibir sambil memeluk lengan Claire yang lain."Huuu... ndak mau tapi juga ndak nolak! Itu namanya gengci, Kael! Gengci kok dilebalin.."

Mikael melotot tajam, wajahnya memerah karena tertangkap basah. "Diam kau! Daripada kau, badan yang dilebarin! Makan terus!"

Michel bangkit duduk, berseru tidak terima. "HEH! CEMBALANGAN! Ini namanya peltumbuhan, tau!"

Mikael mendengus sinis, melipat tangan di dada. "Itu bukan pertumbuhan, Michel, tapi penyiksaan. Kau tidak melihat lemakmu yang penuh itu? Kasihanilah tubuhmu, dia keberatan membawa pipimu."

Bibir Michel mulai melengkung ke bawah, matanya berkaca-kaca karena serangan verbal kakaknya. "Hiks..."

Mikael yang melihat itu justru semakin meledek.  "Apa? Apa? Mau nangis? Nangis saja! Ayo, panggil air terjunnya sekarang!

Tangisan Michel meledak seketika dalam tangisan dramatis. "HUWAAAAA.. MOMMY! HIKS HIKS, ABANG NAKAL, NDAK CUKA! BUANG ABANG NA, MACUKAN KEMBALI KE PELUT MOMMY LAGI CAJA! HIKS HIKS! KALO NDAK MUAT, TUKAL TAMBAL CAJA! GANTI YANG BALU!"

Mikael melotot tidak terima. "KAU KIRA AKU BAN SEREP, HA?! Main masuk - keluar saja!"

Claire memijit pangkal hidungnya yang mulai berdenyut, menatap langit-langit kamar dengan pasrah. "Katakan selamat tinggal pada hidupku yang tenang. Menjadi Antagonis ternyata lebih mudah daripada menghadapi dua bocah ini," batinnya lelah.

Sementara itu--- Julian berdiri terpaku di balik pintu yang terbuka. Matanya tidak lepas dari sosok Claire yang kini sedang merengkuh pusing menghadapi kedua anak nya. Namun ada hal yang berbeda--- tidak ada bentakan, tidak ada kata - kata kasar yang keluar. Claire yang dia lihat saat ini-- sangat berbeda.

Julian berbisik pada dirinya sendiri. "Claire... dia benar-benar berubah. Ke mana perginya wanita yang dulu bahkan tidak sudi memeluk mereka?"

Ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Claire yang dikenalnya adalah Antagonis dalam hidupnya sendiri, namun wanita di dalam kamar itu terlihat seperti pusat gravitasi yang penuh kasih.

"Apakah ini hanya sandiwara baru? Tapi... binar matanya tidak bisa berbohong. Claire yang ini... terasa asing."

BERSAMBUNG

1
Murni Dewita
double up lah thor
Sulati Cus
knp g cb tes DNA dg si twins🤔
Murni Dewita
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Murni Dewita
👣
Siti Sa'diah
wah jangan2 clair iniii
Musdalifa Ifa
WOW
Musdalifa Ifa
seru banget, selalu suka sama peran wanita yg kuat, tegas dan punya banyak kelebihan begini👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!