NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAHAYA DI BALIK LORONG GELAP

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah jendela, mendarat tepat di kelopak mata Riezky yang masih terlelap di sofa. Ia mengerang pelan, mencoba menghalau rasa silau itu sebelum akhirnya tersadar sepenuhnya. Rumah terasa sepi. Aroma kopi dan ikan goreng masih tertinggal di udara, tapi suara gaduh di dapur sudah hilang.

Dengan langkah gontai, Riezky berjalan keluar. Pemandangan di dermaga kecil depan rumahnya langsung membuatnya terjaga. Di sana, Lyra dan Sabrina sedang bekerja sama menurunkan keranjang-keranjang berisi ikan perak yang berkilauan dari atas perahu.

"Akhirnya, si perawan bangun juga," ejek Sabrina saat melihat Riezky berdiri di ambang pintu dengan rambut berantakan.

Riezky hanya memutar matanya malas, belum punya cukup energi untuk membalas ejekan itu. Ia menghampiri mereka di pinggir dermaga. "Ibu pergi sendiri tadi?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Nggak, Nak. Ibu dibantu Sabrina tadi. Dia ternyata cukup gesit menarik jaring, dapat lumayan banyak kita hari ini," jawab Lyra sambil menyeka keringat di dahinya dengan ekspresi senang.

Riezky terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah Sabrina. Gadis itu sudah siap dengan tatapan menantang, mengira Riezky akan marah karena ia "ikut campur" urusan keluarganya atau mungkin mengejeknya cari perhatian.

Namun, alih-alih meledak, Riezky justru tersenyum tipis. "Terima kasih ya," ucapnya tulus.

Sabrina tertegun. Alisnya terangkat, tampak terheran-heran melihat sisi Riezky yang satu ini. Ia hanya bisa mengangguk pelan sambil membalas senyuman itu dengan kikuk, kehilangan kata-kata untuk membalas kebaikan yang tak terduga itu.

"Oh iya, Bu. Sejam lagi aku harus ke pertambangan. Aku berangkat sekarang saja ya supaya tidak telat di hari pertama," ucap Riezky sambil mulai bersiap.

Lyra mengangguk setuju. "Iya Nak, hati-hati ya. Kalau nanti kamu tidak sengaja nemu emas, kasih Ibu dong, hihi!" gurau Lyra, mencoba mencairkan suasana.

Riezky tertawa kecil, ia mulai berlari menjauh menuju jalan setapak yang mengarah ke kaki gunung. "Siap, Bu!" teriaknya sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.

Langkah Pertama di Gunung Aethel

Perjalanan menuju pertambangan Pak Morris memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Udara pantai yang asin perlahan berganti dengan aroma tanah pegunungan yang lembap dan dingin. Sesampainya di sana, Pak Morris sudah menunggu dengan cerutu kecil di mulutnya.

"Kau tepat waktu, Riezky. Ini," Pak Morris melemparkan sebuah linggis besi tua yang terasa sangat berat. "Lorong nomor empat. Sudah lama tidak ada yang berani masuk ke sana karena tanahnya keras, tapi aku punya firasat kau bisa mengatasinya."

Riezky menatap lorong gelap itu. Lorong nomor empat tidak seperti lorong lainnya; ada hawa dingin yang aneh keluar dari sana, mirip dengan hawa yang ia rasakan semalam di atas menara.

Hari pertama di pertambangan berjalan cukup melelahkan. Lorong nomor satu ternyata penuh dengan debu batu bara yang pekat, membuat napas terasa berat, namun semangat Riezky untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi ibunya menjadi bahan bakar yang jauh lebih kuat dari batu bara mana pun.

Saat senja mulai turun, Riezky pulang dengan langkah santai meski sekujur tubuhnya, dari ujung rambut hingga wajahnya, bercak-bercak hitam akibat debu tambang. Namun, pemandangan di ruang tamu seketika meluluhkan rasa lelahnya. Lyra dan Sabrina sedang duduk berdampingan, tertawa renyah sambil membolak-balik album foto lama yang sampulnya sudah agak usang.

"Seru banget tuh, ngomongin apaan?" tanya Riezky sambil meletakkan tas dan peralatan tambangnya di pojok ruangan.

"Ah, foto-fotomu saat kecil, Nak," jawab Lyra dengan mata yang berbinar, menunjukkan salah satu halaman album itu.

Sabrina langsung menoleh ke arah Riezky dengan tawa yang belum reda. "Oh, jadi ini bocah yang dulu pernah ketampar sama ikan kakap hidup-hidup sampai nangis? Hahaha!"

Riezky hanya bisa mendengus pelan, memori memalukan itu mendadak terputar kembali di kepalanya. "Cih, itu kan karena ikannya lebih besar dari tanganku waktu itu," gumamnya sambil tersenyum tipis dan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan debu hitam yang menempel.

Undangan dari Kerajaan

Setelah merasa segar, Riezky baru saja hendak menyandarkan punggungnya di kursi kayu saat suara derap kaki kuda dan dentingan besi dari perlengkapan perang terdengar mendekat. Suaranya berhenti tepat di depan gubuk mereka. Dengan waspada, Riezky membuka pintu.

Seorang prajurit kerajaan dengan seragam yang gagah berdiri di sana, memegang sebuah gulungan perkamen resmi.

"Ada apa ya?" tanya Riezky, matanya menyapu ke arah prajurit itu.

"Kami menggelar sebuah pertunjukan, hiburan, dan tantangan. Pertarungan antara kesatria dan pemuda-pemuda hebat akan dilaksanakan di Aula Redhenvous Magnificum, atas nama Kerajaan Astranova. Anda bisa datang berdua dengan orang terdekat anda. Jika anda memiliki pemuda yang siap bertarung, kami akan senang hati memasukannya ke dalam arena. Pemenang akan mendapatkan dua puluh ribu koin, dan namanya akan diukir di aula sebagai prajurit atau petarung hebat yang akan diingat dunia dan sejarah."

Riezky menyimak dengan saksama, lalu mengambil kertas undangan itu. "Dalam rangka apaan nih?"

"Ulang tahun Raja Alaric IV yang ke-27. Beliau ingin semua orang menyaksikan keseruan acara ini," jawab prajurit itu tegas.

"Hmm, oke oke..." ujar Riezky sambil mengangguk.

Sabrina dan Lyra pun ikut berdiri di belakang Riezky, ikut membaca baris demi baris undangan tersebut. Setelah memberikan informasi, sang prajurit memacu kudanya menjauh, meninggalkan jejak pasir pantai di belakangnya.

"Woyeeee! Dua puluh ribu?!" seru Sabrina, matanya langsung berbinar membayangkan tumpukan koin emas sebanyak itu.

"Kau akan pergi, Nak?" tanya Lyra, suaranya terdengar bergetar karena rasa khawatir. Ia masih ingat bagaimana Riezky pulang dengan luka-luka setiap kali ia terlibat dalam masalah besar.

Riezky melihat wajah khawatir ibunya, lalu dengan lembut ia mengusap pundak Lyra untuk menenangkannya. "Hmm, aku tertarik pertarungannya sih... Tapi tidak apa-apa, Bu. Masih sebulan lagi kok, masih lama. Lagian ini masih aku pertimbangkan," jawab Riezky tenang.

Meski mulutnya berkata begitu, jauh di dalam hatinya, Riezky merasakan darahnya berdesir. Dua puluh ribu koin bisa mengubah hidup Lyra selamanya, dan Aula Astranova mungkin adalah tempat yang tepat untuk menguji sejauh mana kekuatannya ini telah berkembang.

Malam semakin larut di pesisir Aethelgard. Suara ombak yang beradu dengan pasir pantai terdengar seperti bisikan ritmis yang menemani lamunan Riezky. Ia duduk di teras kecil, memeluk lututnya sambil menatap cakrawala yang gelap, entah apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya—mungkin tentang undangan kerajaan itu, atau mungkin tentang tanggung jawab yang semakin berat di pundaknya.

Tiba-tiba, bayangan seseorang muncul di ambang pintu. Sabrina berdiri di sana, menatap Riezky sejenak sebelum akhirnya bersuara.

"Lagi mikirin apa?" tanya Sabrina pelan.

Riezky menoleh sedikit, menatap gadis itu dengan tatapan bingung yang masih tersisa. "Kamu ini sebenarnya numpang atau gimana sih?" tanya Riezky, benar-benar heran melihat Sabrina yang seolah sudah menjadi bagian dari rumah ini hanya dalam waktu semalam.

Sabrina tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat dan duduk di samping Riezky, memberikan jarak yang cukup sopan di antara mereka. Ia menghela napas panjang, menatap ke arah laut lepas.

"Maaf ya kalau merepotkan. Sebenarnya... aku tidak punya tempat tinggal," ucap Sabrina dengan nada bicara yang jauh lebih serius dari biasanya. "Semenjak aku gagal merampokmu di hutan itu, satu-satunya tempat tinggalku hancur. Entah oleh siapa, mungkin oleh orang-orang yang pernah aku rampok sebelumnya dan akhirnya tahu tempat persembunyianku."

Ia menjeda kalimatnya, memainkan jari-jarinya yang terbiasa memegang busur. "Akhirnya aku keliling tanpa tujuan, sampai nemuin kamu tidur pulas di bawah pohon itu. Tadinya aku mau pergi saja, tapi tiga serigala mengepungmu. Alhasil, aku bunuh mereka dan tinggal di situ sedikit lebih lama buat memastikan kamu aman. Setelah itu... aku ikut ke mana kamu pulang, dan ya, aku menumpang di sini. Nggak apa-apa, kan?"

Pertanyaan terakhir Sabrina terdengar sangat pasrah, seolah ia sudah siap jika detik itu juga Riezky memintanya pergi dan kembali ke jalanan yang dingin.

Riezky tetap diam, mendengarkan cerita itu sambil memperhatikan pantulan bintang yang menari-nari di permukaan air laut yang tenang. Ada keheningan yang cukup lama sebelum Riezky akhirnya bergerak.

"Nggak apa-apa," jawab Riezky singkat. Ia kemudian menatap Sabrina dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. "Asal jangan rampok keluargaku. Dan... jangan jailin aku terus, atau nanti benar-benar kuusir."

Sambil berdiri, Riezky mendaratkan sebuah jitakan halus di kepala Sabrina—bukan sebagai balasan dendam atas jitakan kemarin, tapi lebih sebagai tanda bahwa ia menerima kehadiran gadis itu di rumahnya.

"Ayo tidur, udah malem," ucap Riezky sambil melangkah masuk ke dalam rumah.

Sabrina tertegun sejenak, memegang kepalanya yang baru saja dijitak halus. Sebuah senyum tipis yang tulus muncul di wajahnya—sesuatu yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Ia pun bangkit dan mengikuti langkah Riezky masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat untuk menghalau dinginnya angin laut malam itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!