Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Aku kira, dia hanya sekedar mengantarkanku saja ke rumah kakakku. Ternyata diluar ekspektasiku, bang Fadli malah menghentikan motornya dan mengajakku makan lebih dulu ketempat yang tidak ku sangka dia malah berhenti dikafe favoritku.
Ckitt!
Motor pun berhenti tepat di parkiran kafe yang menjual mie ayam yang luar biasa enak menurut lidahku. Sudah lama sekali aku tidak makan di tempat itu.
"Turun" titahnya tidak ada lembutnya.
"Biasa aja dong, bro,..kenapa turun disini bang?" tanyaku pada bang Fadli, seraya turun dari motor lalu bang Fadli membukakan helm yang ku pakai.
"Makan dulu, laper." jawabnya simple.
Aku hanya terdiam dan menunduk, "Kenapa, kok diam tadi nyerocos dah kayak kaleng rombeng, sekarang malah diam kayak patung manekin." ucapnya menyebalkan, lalu dia menarik tanganku mengajaknya masuk.
"Seolah tau apa yang ku pikirkan, dia malah sibuk memesan makanan yang belum ku pesan sama sekali. Tapi takjubnya dia malah pesan semua kesukaanku. "Iwaw gitu luar biasah." sahutku dalam batinku yang kegirangan.
"Ayo makan." ucapnya lagi sambil mengaduk mie ayam bakso miliknya. Sementara aku masih sibuk dengan game di hapeku.
Sampai dia kesal sendiri, dan menyingkirkan ponselku, "Bisa tidak makan dulu nanti kalo sudah dingin tidak enak, sini ponselnya aku pegang dulu, fokus makan."
"Biasa aja dong pak enggak usah sewot begitu, ini juga mau makan, "tapi aku kembali menunduk tanpa menatapnya.
Aku seorang kelewat introvert, baru pertama kali malam bareng dengan pria seperti ini. Geroginya bukan main, apalagi saat dia menatapku lekat siapa yang tidak salting kan..
kami berdua pun hanya fokus makan tanpa ada tema pembicaraan sama sekali. Dalam hati aku deg degan, nanti siapa yang bakal bayar ini semua. Mana aku enggak pegang uang sama sekali lagi.
Seperti itulah ketidak tenanganku saat bersama Fadli, Fadli seolah tau apa yang aku pikirkan dia hanya geleng kepala sesekali tersenyum melihatku seperti orang kebingungan. Sungguh malunya bukan main, ingin menghilang rasanya saat itu, ya Tuhan,..
"Enggak usah tegang Zi, santai saja, aku yang ajak, aku yang bayarin." akhirnya dong dia peka juga hehe, tau gitu tadi aku nambah tiga kali wkwkw.
Tapi sayang rasa gengsi selangitku tak bisa ku hempas, tak lama, selepas dari kafe bang Fadli pun mengantarkan ku sampai rumah dengan selamat.
Seza kakakku ternyata sudah sampai dari tadi, justru dia heran kenapa aku baru sampai, padahal aku harusnya lebih cepat sampai karena memakai motor, tidak memakai mobil seperti dia.
"Kok elo baru sampe Zi, kemana aja sih?." tanya Seza.
"Tadi bang Fadli ajak makan dulu, laper katanya."
"Iya Za, soalnya lumayan juga perjalanannya." timpal Fadli.
Seza hanya mengangguk faham, tapi seperti biasa setelahnya pasti ada saja bahan gibah ya g endingnya menggodaku.
"Kalo gitu gue balik duluan ya Ven, Za, Sazi sampein salam saja ke Kak meta dan Bang Verrel." ucapnya berpamitan.
Bang Fadli pun pamit lebih dulu karena ada keperluan katanya, dirumah kak meta seperti biasa rumahnya tidak pernah sepi. Selalu saja banyak anak anak band silih berganti.
Kebetulan bang Verrel memiliki studio musik, jadi semua pada berdatangan untuk sekedar latihan atau take vokal maupun rekaman.
Aku sendiri, langsung ngeloyor masuk dan rebahan kedalam kamar. Pokoknya hari yang melelahkan sekaligus hari bersejarah yang paling memalukan saat itu.
Di tempat lain
"Kita putus."
"Kenapa Fad."
"Ada cewek lain yang kamu suka?."
"Enggak perlu kamu tau, tapi yang jelas aku enggak kayak kamu, kamu yang selingkuh aja udah jadi bukti kalo kamu enggak bisa setia sama aku ay, so sekarang kamu mau nuduh aku tanpa bukti sementara yang jelas jelas selingkuh sampai tidur sama sahabat aku sendiri kamu ay."
Fadli yang marahnya bukan main sekaligus kecewa pada tunangannya, memilih mengakhiri hubungannya dengan Ayu qibtia. Seorang pegawai yang baru bekerja di salah satu perusahaan ternama, tapi langsung naik jabatan secara singkat.
Ia pun pergi begitu saja dengan rasa kecewa, sementara Ayu, berteriak histeris tak ingin putus dengan Fadli.
Ia pun langsung menghubungi sahabat Fadli sekaligus selingkuhannya itu, "Ray, coba kamu cari tau si Fadli selingkuh dari gue enggak, masa gue diputusin enggak terima gue."
"Sudahlah Yu, elo putus dari si Fadli kan masih ada gue, gimana mau ke hotel lagi nggak?,.."
"Tapi gue, enggak mau putus dari dia Ray, elo kan tau dia pewaris Nugraha Group."
"Kalo sampe yang nikah sama dia cewek lain dan bukan gue kan, kapan gue bisa kayanya."