NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Telapak tangan Felysha Anindhita masih gemetar saat ia menarik ritsleting tas selempang cokelatnya yang baru saja ditemukan. Bunyi sret dari logam yang bergesekan terdengar nyaring di gang yang sunyi ini, seolah-olah suara itu memantul di antara dinding bata yang lembap dan kusam. Ia menunduk, membiarkan helaian rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Di bawah cahaya senter ponsel Mahesa yang menyorot miring, Felysha mulai merogoh ke dalam kompartemen utama tasnya.

Jari-jarinya menyentuh lipatan kain syal cadangan, lalu beralih ke wadah kacamata yang untungnya tidak pecah. Ia menarik keluar dompet kulit berwarna krem miliknya. Benda itu terasa dingin dan permukaannya sedikit kasar karena debu jalanan. Felysha membukanya dengan gerakan jempol yang kaku. Ia menahan napas sejenak, matanya menyisir slot-slot kartu. Ia tidak menemukan lembaran Euro yang seharusnya terselip rapi di sana.

Kosong.

Hanya menyisakan satu koin satu Euro yang tersangkut di jahitan paling sudut.

Felysha meraba bagian kantong rahasia di balik tempat foto. Ia menarik napas lega saat merasakan tekstur keras dari kartu mahasiswanya dan paspor hijaunya masih berada di tempatnya. Ia menarik paspor itu keluar, mengusap sampulnya yang sedikit berdebu dengan ujung jari, lalu memastikannya tidak ada robekan. Tangannya berpindah ke kompartemen kecil lainnya. Ia menarik keluar sebuah bingkai foto kayu kecil berukuran paspor yang kacanya tampak sedikit buram.

Foto ayahnya.

Felysha mematung selama beberapa detik sambil memandangi wajah dalam foto itu. Ia mengusap permukaan kaca bingkai tersebut dengan ibu jarinya, mencoba membersihkan jejak jari atau debu yang menempel. Rasa lega yang muncul di dadanya begitu besar hingga membuatnya ingin bersandar pada dinding di belakangnya. Uang bisa dicari, Julian bisa menggantinya—meski itu berarti ia harus mendengar omelan panjang—tapi foto ini tidak ada gantinya.

Mahesa masih berdiri sekitar satu meter darinya. Pria itu mengarahkan cahaya senter ponselnya ke bawah, memastikan area di sekitar kaki Felysha tetap terang. Ia tidak mendekat, seolah sedang memberi ruang bagi Felysha untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Mahesa memasukkan tangan kirinya ke saku jaket denimnya, sementara tangan kanannya yang memegang ponsel tetap stabil.

"Gimana? Semuanya masih di sana?" Mahesa bertanya dengan suara rendah. Nada bicaranya tidak menunjukkan rasa penasaran yang berlebihan, hanya sebuah pertanyaan rutin untuk memastikan situasi.

Felysha mendongak, matanya yang tadi berkaca-kaca kini mulai mengering karena terpaan angin malam. Ia memasukkan kembali paspor dan bingkai foto itu ke dalam tas dengan sangat hati-hati, memastikan ritsletingnya tertutup sempurna. "Uang tunainya hilang. Semuanya. Tapi surat-surat penting dan foto... foto ayah saya masih ada."

"Uang itu barang paling gampang dibuang atau dipakai. Copet di sini nggak mau ambil risiko pegang paspor atau ID orang asing. Terlalu berisiko kalau tertangkap polisi," Mahesa mematikan fitur senter di ponselnya, membuat gang itu seketika menjadi jauh lebih gelap. Ia memasukkan ponselnya ke saku jaket, lalu membetulkan posisi topi baseball-nya.

Felysha merapatkan mantel wolnya. Ia merasakan denyutan perih di lehernya kembali muncul, kali ini diikuti dengan sensasi hangat yang merayap turun ke balik kerah sweternya. Ia menyentuh bagian leher itu dengan saputangan yang diberikan Mahesa tadi. Kain putih itu kini sudah benar-benar berubah warna menjadi merah gelap di beberapa bagian.

"Uangnya banyak?" Mahesa bertanya lagi sambil melangkah pelan keluar dari gang, memberikan isyarat agar Felysha mengikutinya.

Felysha melangkah di samping Mahesa, menjaga jarak sekitar setengah meter. "Cukup banyak untuk hidup seminggu di sini. Tapi saya punya kartu kredit di dompet yang untungnya nggak mereka ambil."

"Mereka tahu kartu kredit nggak ada gunanya kalau nggak tahu PIN-nya. Lagipula, transaksi kartu kredit gampang dilacak. Pencopet di daerah Trocadéro biasanya cuma mau cash cepat buat beli rokok atau makan malam," Mahesa berbicara sambil terus memperhatikan jalanan di depan mereka. Ia tidak menoleh ke arah Felysha, matanya menyapu setiap sudut trotoar dan bayangan pepohonan yang mereka lewati.

Langkah kaki mereka bergema di atas aspal yang mulai mengering dari sisa gerimis tadi sore. Felysha memeluk tas cokelatnya erat-erat di depan dada, seolah takut benda itu akan terbang jika ia sedikit saja lengah. Ia melirik Mahesa dari samping. Pria ini terlihat sangat tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membantu korban kejahatan di tengah malam. Gerakan bahu Mahesa sangat santai, tidak ada tanda-tanda waspada yang berlebihan seperti yang dirasakan Felysha sekarang.

"Kamu mau lapor polisi?" Mahesa tiba-tiba berhenti di dekat sebuah tiang lampu yang cahayanya berkedip-kedip halus.

Felysha ikut berhenti. Ia berpikir sejenak. Jika ia lapor polisi, segalanya akan menjadi rumit. Polisi akan meminta keterangan, mungkin akan ada laporan resmi yang sampai ke kedutaan, dan Julian pasti akan mengetahuinya lebih cepat dari yang ia bayangkan. Julian tidak suka keterlibatan hukum yang tidak perlu, apalagi yang melibatkan kecerobohan Felysha.

"Kayaknya nggak perlu. Barang pentingnya sudah ketemu," jawab Felysha. Ia menatap Mahesa, mencoba membaca ekspresi pria itu di balik bayangan topi. "Lagi pula, saya nggak punya bukti siapa yang ambil. Tadi gelap banget."

Mahesa mengangguk singkat. "Pilihan bagus. Lapor polisi di sini cuma bakal buang-buang waktu berjam-jam di kantor polisi yang bau kopi basi cuma buat bikin laporan yang ujung-ujungnya nggak bakal mereka tindak lanjuti kalau cuma kehilangan uang tunai."

Mereka kembali berjalan. Felysha merasakan kakinya mulai terasa sangat pegal. Otot-ototnya yang tadi menegang karena adrenalin kini mulai mengendur, menyisakan rasa letih yang luar biasa. Ia menelan ludah, merasakan kerongkongannya yang perih. Ia ingin sekali segera sampai di apartemen, mengunci pintu, dan berendam di air panas.

"Kamu tinggal di mana? Biar saya pastikan kamu sampai ke depan gedungmu. Nggak aman buat kamu jalan sendirian dengan luka di leher begitu," ucap Mahesa. Kali ini suaranya terdengar sedikit lebih tegas, hampir seperti sebuah perintah halus.

Felysha menyebutkan nama jalan tempat apartemennya berada. Mahesa tidak menunjukkan reaksi terkejut, ia hanya mengarahkan langkahnya menuju jalur yang lebih terang, menghindari gang-gang sempit yang tadi mereka lalui. Sepanjang jalan, Felysha terus meraba tasnya, memastikan berat paspornya masih ada di sana. Ia merasa malam ini telah merampas banyak energinya, namun kehadiran Mahesa di sampingnya—meski asing—memberikan semacam jangkar agar ia tidak benar-benar hanyut dalam kepanikan.

Di kejauhan, bunyi sirene mobil polisi terdengar membelah kesunyian malam, namun suaranya menjauh menuju arah pusat kota. Felysha merapatkan mantelnya, menundukkan kepala saat angin kencang berhembus melewati celah-celah bangunan. Ia menyadari satu hal; Paris malam ini telah menunjukkan sisi yang tidak pernah ada di dalam brosur wisata miliknya, dan ia baru saja selamat dari salah satu babak paling menakutkan berkat bantuan pria misterius yang bahkan tidak ia ketahui asal-usulnya.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!