Hanan Arsman, Laki-laki baik yang telah menikahiku, membuatku nyaman dan aman, namun hatiku masih mencintai yang lain.
Seorang pria bernama Izqian Abraham.
Ia cinta pertamaku yang telah membuat sejuta kenangan dalam hidupku.
Butuh waktu bertahun-tahun aku melepaskan semua perasaanku padanya, namun gagal. Padahal aku telah terikat dengan sebuah tali pernikahan.
Aku mencintainya dan nyaman bersamamu. Maaf, aku tak bisa menahan hati dari rasa.
Apakah ini yang disebut Karma? Setelah aku berikrar sumpah janji cinta, ujian pernikahanku pun datang...
Bertahun-tahun, Kami berusaha agar memiliki buah hati. Apakah kami akan memilikinya? Ataukah kekandasan pernikahan yang ku dapat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Bainai
Aku kembali meletakkan dompet dan plastik yang aku peluk itu ke dalam lemari. “Datanglah besok Uda, Aku mohon... Aku hanya ingin melihat wajahmu untuk terakhir kalinya, sebelum aku benar-benar resmi menjadi istri orang lain. Memastikan, hanya aku yang masih berharap padamu, memastikan kau baik-baik saja tanpa aku. Dan lihatlah, aku sedang mencoba meninggalkanmu seperti yang kau inginkan.” rintihku dalam hati.
Lelah, tubuh dan hatiku terasa lelah. Ku baringkan tubuh ini di ranjang baruku, hingga aku tertidur lelap. Entah berapa lama aku tertidur, hingga belaian lembut dari tangan Ibu membangunkanku.
“Ros, bangunlah! Sudah mau magrib. Bersiap-siap lah.”
Aku berusaha mengumpulkan nyawaku yang terbang saat aku tertidur tadi. Setelah tersadar sepenuhnya, aku pun mandi, lalu memakai baju kurung yang telah disediakan untukku untuk Malam Bainai ini, dan mencari makan di dapur.
Rumahku sudah sangat ramai seperti orang berjualan ikan di pasar, mulai dari ruang tamu sampai dapur, teras dan di belakang, semuanya ramai dengan kesibukan masing-masing.
Uncu mengambilkan aku sepiring nasi dengan sendok, serta segelas besar teh es kesukaanku. “Makasih, Uncuku Sayang.” ucapku tersenyum manis menerima makanan dan minumanku.
Setelah magrib, rumahku bertambah ramai, para gadis dan bujangan mulai berkumpul. Aku duduk di atas sofa, bak atasan mereka. Mereka merias kaki dan tanganku.
Malam ini disebut dengan Malam Bainai.
Malam Bainai adalah malam terakhir bagi calon pengantin wanita Minang kabau merasakan kebebasan sebagai wanita lajang. Karena besoknya, Ia sudah bukan lagi lajang setelah sang suami di jemput dengan Adat.
Secara harfiah, Bainai artinya memakai Inai atau daun pacar kuku. Dulunya, saat Uncu menikah kami masih menumbuk Inai dengan arang dan tambahan jeruk nipis lalu di tutup dengan daun terong. Namun, sekarang aku sudah memakai inai yang lebih praktis. Orang-orang menyebut namanya dengan Henna.
Dan kenapa sih, harus melakukannya pada malam hari? Aku juga tidak tau alasannya kenapa. Tapi, Nenek dulu pernah bilang, agar Inainya merah harus memakainya pada malam hari dan ditutupi dengan daun terong, lalu tidur.
Entahlah, apakah itu hanya mitos? Pada kenyataannya, jika tangan dikasih Inai, siang ataupun malam tetap saja kuku akan berwarna merah.
Yang jelas, sepertinya Malam Bainai adalah salah satu tradisi turun temurun sejak dulu, para gadis dan bujangan berkumpul saat itu. Mereka berlomba-lomba memakaikan Inai. Dan juga bergotong royong memasang jalo-jalo (Dekorasi yang dipotong-potong dari kertas marmar).
Pada awalnya, Bainai di percaya sebagian orang sebagai cara untuk menghindari malapetaka bagi calon pengantin. Entahlah, apakah itu benar? Intinya, bukankah Bainai itu adalah salah satu dari berias, agar tangan dan kaki pengantin wanita menjadi lebih cantik dan terlihat indah? Entahlah, inilah yang di sebut tradisi turun temurun bukan?
Di malam Bainai ini, Aku harus menyiapkan ketebalan telinga untuk mendengar petuah dan ceramah para tetua, walaupun di selingi dengan canda para gadis-gadis dan bujangan di depanku ini.
Setiap kuku yang di pakaikan Inai, memiliki arti istimewa. Saat di kenakan di jari kelingking, artinya pengantin perempuan di doakan agar dapat melalui hal-hal sulit yang di hadapi bersama suami kelak.
Inai yang diberikan di jari telunjuk melambangkan harapan bagi mempelai perempuan untuk berhati-hati dalam membuat keputusan, sedangkan Inai di jari tengah merupakan harapan agar Ia dapat membagi kasih sayang dengan adil.
Inai pada jari manis melambangkan doa agar pengantin wanita memiliki kehidupan rumah tangga yang ideal dan cinta abadi. Lalu, pada kuku ibu jari melambangkan doa untuk pengantin wanita agar menghormati suaminya kelak.
Begitulah salah satu petuah para tetua yang Aku saring dan cerna dalam otakku
Semua kuku ku sudah penuh dengan Inai sampai ke ruas jari bagian atas. Mereka mengukir bunga mekar di telapak tangan dan punggung tanganku, sebagian juga di pinggir kaki ku.
Malam ini aku menunggu teman kecilku Boy. Sejak beberapa hari yang lalu, aku tidak bisa bertemu dengannya, apakah sekarang juga masih tidak boleh bertemu? Malam ini, kan malam terakhir kita bersama, karena kabar burungnya, setelah menikah aku akan dibawa merantau oleh Suamiku.
Kapan kita akan bersenang-senang dan menghabiskan masa lajangku lagi? Mulai besok, aku sudah jadi istri orang, apakah kebebasanku akan habis seluruhnya?
Dan aku baru tau, itu juga salah satu alasannya, kenapa orangtuaku kemarin begitu sedih, seolah akan kehilanganku. Padahal cuma di ajak merantau kan? Dan kalau rindu, bisa pulang kampung kapanpun.
“Woi, Boy dimana? Apakah Dia tidak akan datang malam ini?” tanyaku pada adik-adik ku yang asik dengan kegiatannya berkumpul di depan itu.
“Aku tak tau, Kak. Jarang lihat dia sekarang.” jawab Adikku.
“Aah, awas bocah itu kalau besok juga gak datang, aku pukuli dia sampai babak belur.” gumam ku.
Waktu terus berlalu, jam sudah mulai menunjukkan tengah malam. Aku diantar ke dalam kamar oleh Uncu, wajahku di cuci hanya dengan handuk basah oleh Uncu, lalu berbaring di atas kasur dengan tangan yang masih berinai.
Tanganku yang berinai sudah dibungkus dengan rapi. Aku tak tau alasannya, kenapa harus di bawa tidur Inainya, seharusnya sudah merahkan, jika aku cuci sekarang? Tapi sudah lah, aku hanya menurut seperti tradisi yang di atur oleh keluargaku.
**
Pagi yang cerah.
Hari ini adalah hari pesta pernikahan ku.
Pagi ini, aku berdebat dengan seisi rumah, Kami sekeluarga di larang mandi, bahkan yang lain juga di larang kalau ingin mandi, harus kerumahnya Nenek. Rumah Nenek hanya di samping rumahnya Boy.
“Kenapa dilarang mandi? Bukankah aku seharian ini akan bersanding? Bagaimana mungkin aku tidak mandi, jika seharian ini akan ada banyak tamu. Mereka akan kebauan mencium aroma tubuhku nanti.”
“Pokoknya, tidak boleh mandi Ros!”
“Tapi kenapa?”
“Mitosnya, jika kita mandi, nanti hari ini bisa hujan. Hari ini tidak boleh hujan. Kalau hujan datang, semuanya jadi susah, orang-orang juga enggan datang ke pesta.”
“Itukan cuma mitos! Sama seperti, Hmm... kucing gak boleh di mandikan, nanti hujan. Aku pernah memandikan kucing beberapakali tidak turun hujan pun.” ucapku.
“Pokoknya, kamu gak boleh Mandi Ros. Cuci-cuci seluruh tubuh aja, ganti baju dan pakai farfum, sudah deh!”
“Aaaahhh!!! Menyebalkan!” pekikku. Aku melempar handuk yang ku pegang kesembarangan arah.
Aku kesal bukan main.
Aku pun memilih mengikuti Adat dan tradisi, karena tidak ingin mendengar ceramah yang tiada henti jika aku membangkang lagi. Aku hanya membasuh tubuh dan mengganti pakaian.
“Ayo, kamu harus makan dulu sekarang. Nanti, mulai jam 10 pagi, tamu sudah mulai datang.” ucap Uncu yang baru saja datang dengan membawa sarapan untukku.
“Tapi aku tidak selera makan di pagi buta ini Uncu.”
“Ya sudah, terserah kau lah. Kau jangan salahkan aku nanti, jika kau kelaparan.” Uncu kembali membawa sarapan itu ke dapur.
pada saat aku menikah, sudah tidak ada Abak disampingku, sanak..., hiks hiks 😰😰😰
mingkem ngomong Minang nyo apo yo sanak, hehehe 🤭🤭
ondee mande... dunia saleba telapak tangan, he-he-he 😆
singgah di sini kitah ❤️
Al-fatihah untuk Amak dan Abak
kampuang nan jauah di mato
salken author 👍🙏