Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After All, They're Best Friends
Tidak ada kabar apa pun dari Andy sejak tempo hari, dan Sena bersyukur. Pada akhirnya dia beranjak tidur, masih menyimpan kekesalan atas perbuatan Andy, namun perasaannya sedikit mereda karena tak ada lagi hal yang memicu frustrasi setelah diskusi di JCC.
Sejujurnya, Sena masih tidak mau berbicara dengan Andy, tapi dia juga merasa kecewa karena pria itu tidak meminta maaf padanya sama sekali. Dia berpikir Andy akan mengiriminya pesan, meski hanya sesingkat sorry, tapi nyatanya tidak ada. Bukan berarti Sena akan langsung menganggap semuanya selesai hanya karena permintaan maaf, tapi setidaknya itu bisa meredakan kekesalan Sena pada Andy.
Tidak bohong, apa yang Andy katakan hari itu sangat menyakiti hatinya. Andy dengan gampangnya menuduh Sena akan mudah pulang dengan pria asing yang baru ditemuinya di kelab, padahal ia sendiri tahu Sena bukan tipikal orang yang seperti itu. Sena bahkan bukan tipikal yang akan secara agresif mencium orang lain, apalagi di kelab. Semuanya murni karena efek alkohol. Dan meskipun Mia dan Joana tidak menariknya malam itu, Sena masih cukup waras untuk tidak ikut pria asing itu pulang ke rumahnya.
Kesal sekali rasanya, karena Andy bisa bicara seolah-olah Sena begitu bodoh dan gampangan. Lagi pula, siapa Andy untuk mengatakan apa yang harus dan tidak seharusnya Sena lakukan? Sena tidak suka orang lain menentukan apa pun untuknya. Ini adalah hidupnya, kenapa orang lain yang sibuk mengurusi? Tidak peduli seberapa dekat mereka, Sena pikir tidak seharusnya Andy begitu marah hanya karena dia berinteraksi dengan seorang pria. Orang-orang di sekelilingnya, termasuk Andy, tentu saja boleh menasihatinya, Sena akan menerimanya dengan telinga terbuka, tapi sekali lagi keputusannya ada penuh di tangan Sena.
Hana masih ada di rumah orang tuanya dan Sena tidak ingin mengganggu, jadi dia menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan rumah agar tidak terus terpikirkan soal kekesalannya pada Andy. Dia membersihkan perabotan untuk keperluan Mala dan Nan, mencuci pakaian, dan bahkan berniat mengurusi jendela yang sudah tidak disentuhnya selama berbulan-bulan. Dia pergi ke balkon, membiarkan sinar mentari menyentuh permukaan kulitnya dengan kehangatan. Menyadari bahwa pakaiannya terlalu panas, Sena menanggalkan kausnya, menyisakan bra tipis tanpa kawat dan celana longgar.
Sebagai seseorang yang dibesarkan dalam keluarga Korea, Sena tidak segila itu untuk menunjukkan tubuhnya. Tapi, kapan pun ada kesempatan, dia ingin mengenakan sesuatu yang nyaman, yang tidak membuatnya semakin kepanasan di suhu udara musim panas yang gila-gilaan.
Musik R&B terputar menjadi latar belakang. Sena mengelap debu dan kotoran yang menempel di kaca jendela, membersihkannya satu persatu. Dia bergumam mengikuti irama musik dan sesekali menggerakkan tubunya seirama. Sebagian cairan pembersih yang disemprotkannya ke kaca, jatuh mengenai kepala dan bajunya, tapi Sena tidak terlalu ambil pusing karena toh tidak terlalu mengganggu kegiatannya.
Tepat ketika Sena selesai membersihkan jendela terakhir, bel rumahnya berbunyi. Dia cepat-cepat mengusap tangannya di celana, lalu bergegas untuk membukakan pintu. Melalui monitor kecil di sisi pintu, dia mendapati seseorang berdiri di depan pintu, dan itu adalah Andy. Pria itu tampak gelisah memainkan bagian ujung bawah bajunya, mengusap telapak tangannya di celana dan mengembuskan napas pendek.
Apakah dia ke sini untuk minta maaf? Atau justru lanjut berdebat?
Sena memutuskan untuk mencari jawabannya secara langsung, maka ia membuka pintu. Andy mengangkat kepala, dan tampak tidak siap dengan apa yang hendak dikatakan. Lalu, saat melihat penampilan Sena yang hanya mengenakan bra, Andy langsung membuang muka dan menelan ludah susah payah.
"Hai--uhm, bisa kita bicara sebentar?"
"Tentu," balas Sena, dan bergerak mundur supaya Andy bisa lewat.
Andy masuk, melepaskan sepatu dan mengikuti Sena berjalan ke ruang tamu. Dia berdiri canggung di sisi tembok pembatas, sementara Sena sudah berada di sisi sofa, siap duduk. Nan, si anjing yang tidak bisa membaca situasi, melompat girang menyambut kedatangan Andy. Yang disambut tersenyum getir dan mengusap lembut bulu Nan. Tatapannya jelas menghindari Sena--lebih tepatnya, tubuh sang gadis--dan dia melepaskan topinya, menyisir rambut cokelatnya dengan jemari panjang.
"Aku ... aku tidak--oke," Dia menghela napas berat. Berhenti sejenak untuk memikirkan kata demi kata, karena dia tidak ingin memperburuk keadaan. "Lara," mulainya lagi, pada akhirnya berani mengangkat kepala untuk berkontak dengan Sena yang kini sudah duduk di lengan sofa. "Aku minta maaf soal tempo hari. Apa yang aku katakan sangat bodoh, dan aku seharusnya tidak mengatakan hal tersebut."
Sena menghela napas panjang. Tadinya masih ada prasangka bahwa Andy datang ke sini untuk bertengkar lagi, untuk mempertahankan argumennya, bahwa dia benar dan Sena salah. Tapi melihat kesungguhan di mata Andy kini, Sena tahu ia benar-benar merasa bersalah.
Selama beberapa saat, Sena menunduk, berkutat dengan pikirannya sebelum menatap Andy lagi. "Perkataanmu benar-benar menyakitiku, Andy," katanya. Bukan maksudnya ingin membuat Andy semakin merasa bersalah, Sena hanya ingin membiarkan Andy tahu apa yang dia rasakan sesungguhnya.
"Aku tahu," cicit Andy. "Maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakitimu. I hate myself for doing that."
"Lalu kenapa kau mengatakannya?"
Andy mendesah pelan, tampak kebingungan bagaimana caranya menjelaskan. "Aku ... aku juga tidak tahu. Aku tidak mengerti kenapa kata-kata itu yang keluar, padahal maksudku tidak begitu. Kedengarannya mungkin seperti aku ini menyebalkan dan sok ikut campur tapi, sungguh aku tidak bermaksud begitu. Seharusnya aku sadar bahwa kehidupanmu, terutama terkait asmara, itu sama sekali bukan urusanku," ujarnya panjang lebar. "Tentu. Kau tentu boleh berkencan dengan siapa pun, Lara. Hanya saja ... aku hanya ingin kau lebih berhati-hati," lanjutnya memohon. "Ada banyak jenis pria di luaran sana, dan kau berhak mendapatkan yang terbaik, Lara."
Sena menunduk dan menghela napas panjang. Kenapa harus melalui perdebatan sengit dulu untuk membuat Andy mengerti? Kenapa mereka harus saling bersitegang, untuk sesuatu yang sebenarnya bisa dibicarakan dengan kepala dingin?
Hei, tapi setidaknya sekarang dia sudah sadar. Satu sisi kepalanya berbisik meyakinkan.
"Aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku. Bukan itu alasanku datang ke sini," kata Andy. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku merasa bersalah. Aku sadar, aku sudah melewati batas."
Kepala Sena terangkat perlahan. Lekat, ia menatap Andy dan menemukan kejujuran di dalam sorot matanya. Ia tampak jauh lebih tenang daripada saat mereka berdebat di grup chat, menunjukkan bahwa ia benar-benar menyadari kesalahannya dan bersungguh-sungguh dalam meminta maaf. Mereka saling tatap untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Sena memutus kontak dan menggigit bibir bawahnya.
"Andy," lirihnya. "Aku tidak ingin kehilangan kau lagi."
Andy menunduk dan menggelengkan kepala. "Aku juga," balasnya.
"Karena itu ... aku tidak ingin hal ini melebar ke mana-mana. Mari kita akhiri di sini. Perkataanmu menyakiti hatiku, tapi aku menerima permintaan maafmu yang tulus," katanya, membuat Andy mengangkat kepala. "Aku tahu, kau hanya khawatir padaku. Aku menghargai itu, tapi kau juga harus tahu kalau aku bisa menjaga diriku sendiri," lanjutnya.
"Aku tahu. Maaf sudah meragukannya."
"Ya, kau seharusnya memang menyesal sudah meragukanku." Sena mengatakannya sambil mengibaskan rambut, bergaya centil dan tangguh di saat yang bersamaan.
Melihatnya, Andy akhirnya luluh juga. Dia akhirnya tersenyum, setelah sepanjang waktu tampak tegang.
Sena menangkap itu sebagai sinyal bahwa mereka sudah baik-baik saja sekarang. Jadi, dia bangkit, menatapnya lekat sebelum memeluknya erat. Andy hendak membalas pelukannya, tapi gerakannya terhenti setelah sadar bahwa ia tidak boleh sembarangan menyentuh kulit telanjang Sena. Maka dia menjaga tangannya melayang di udara, agar tidak menyentuh Sena sama sekali. Ia tidak ambil pusing saat Sena melepaskan pelukan dan menertawakan reaksinya.
"Jadi, Andy, mau minum bir bersama?"
Bersambung....