NovelToon NovelToon
Kepentok Deadline Atasan

Kepentok Deadline Atasan

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak / Berondong / Kehidupan di Kantor / CEO
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.

Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.

Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.

Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.

Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.

Cover Ilustrasi by ig rida_graphic

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Sore hari di lantai dasar kantor menjadi tempat persinggahan lelah para karyawan yang ingin sekadar mengobrol ringan dengan rekan kerja. Bukan lagi tumpukan berkas di meja, deadline atasan yang selalu diburu-burukan, atau seseorang yang bolak-balik mengantar dokumen penting ke ruangan lain.

Kini, hanya terdengar suara mesin kopi, sesekali sendok berdenting mengenai cangkir, dan canda tawa melepas penat setelah seharian menjadi budak korporat.

Kafe kantor mulai ramai, tapi tidak begitu ricuh, masih terbilang kondusif. Cahaya matahari yang masuk dari dinding kaca besar jatuh miring, menyapu meja-meja kayu. Jam kerja sudah lewat lima belas menit, tapi Cyan masih duduk di salah satu meja dekat jendela, blazer-nya masih rapi, rambutnya tetap terikat seperti pagi tadi.

Ah, dari sekian banyak karyawan di sini, mungkin hanya Cyan yang tampak mencolok. Bukan karena make-up atau tingginya yang di atas rata-rata perempuan Indonesia, tapi dari segi wibawa dan aura punya ciri khas tersendiri. Ia menatap layar ponselnya tanpa benar-benar membacanya.

Magenta datang beberapa detik kemudian, menjatuhkan tubuhnya ke kursi seberang Cyan.

“Syan, oh, Syan. Sakit banget ini punggung. Rasanya pengen uninstall aja,” ucap Magenta setelah menyandarkan diri di kursi dan meregangkan tubuhnya.

Cyan hanya melirik sekilas, tidak begitu tertarik menatap lebih jauh.

“Drama queen kamu,” celetuknya pendek.

“Enak aja! Itu realistis Syan. Kamu seharusnya lihat posisi aku gimana. Rapat tiga jam, email masuk terus, Pak Hendra juga dari tadi nyuruh sana-sini. Aku mau nyantai bentar ngopi pun susah kayaknya,” pungkas Magenta mengeluh. Ah, lebih tepatnya mengadu jika orang itu adalah Cyan.

Cyan mengangkat sudut bibirnya sedikit. Hampir tak terlihat, tapi Magenta berhasil menangkapnya. Sempurna. Senyum yang sejak tadi ditunggu akhirnya terbit juga.

“Wah, itu dia. Aku bisa nilai dari senyuman manis kamu barusan, itu tandanya mood kamu gak sepenuhnya buruk. Iya gak? Benerkan?” balas Magenta mengangkat sebelah alisnya.

“Jangan sok menganalisis,” kata Cyan enggan menatap Magenta.

Magenta bangkit sebentar, memesan minuman, lalu kembali dengan membawa satu gelas Vanilla Latte untuk Cyan dan satu gelas Americano untuk dirinya. Ia meletakkannya di meja dengan hati-hati, seperti sedang berperan sebagai pramusaji.

“Terima kasih ya,” kata Cyan.

“Sebagai pasangan yang baik, udah seharusnya aku tahu pesanan kamu Syan,” jawab Magenta, lalu duduk lagi.

Kalimat itu sempat menggantung sejenak di udara. Cyan tidak berniat membalas, pun Magenta juga tak ingin melanjutkan.

Cyan meletakkan ponselnya, menyilangkan tangan di atas meja. Ia mendongak, fokus menatap lelaki di depannya.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “ayo kita mulai.”

“Mulai apaan?”

“Apa lagi? Of course latihannya lah.”

“Oh, oke. Aku siap. Mau mulai dari bagian mana? Awal kenal? Atau kisah kita?” Magenta sontak membelalak.

“Jangan berlebihan ya Genta. Kita cuma butuh jawaban yang masuk akal, apa adanya, dan konsisten dari awal sampai akhir. Pokoknya siapa pun yang tanya, jawaban kita berdua harus sama,” pungkas Cyan sempat mendengkus pelan.

“Oke. Silakan pimpin latihannya, Bu Cyantik.”

“Pertanyaan paling dasar. Kalau orang tua aku tanya kita kenal dari mana, kamu jawab apa?” Cyan memulai, Magenta mengambil fokus.

“Mudah. Kenal di kantor kan.” Magenta menjentikkan jari.

“Terus?”

“Terus bilang ... awalnya Syan ini galak, Bu. Suka ngehukum saya karena saya tiap hari banget telat.”

“GENTA.”

“Bercanda, hehehe. Aku ‘kan bawahanmu, kamu atasanku, dan kita sering kerja bareng. Awalnya kita profesional aja selayaknya bos dan karyawan.”

“Terus?” tanya Cyan.

“Terus kita ciuman di Bandung, hehe. Terus-terus mulu, Syan. Nabrak entar,” celetuk Magenta kembali asbun di saat yang kurang tepat.

“Ih serius sih,” tegur Cyan lagi, kedua kalinya.

“Lho, bener kan kita ciuman di Bandung?”

“Itu kan nggak sengaja! Aku juga udah minta maaf!”

“Tapi kamu menikmati, Syan. Buktinya kamu ikutan bales. Kalau kamu dorong aku waktu itu, aku nggak bakal lanjut ke sesi berikutnya\~” Ledek Genta sambil memainkan lidahnya diatas bibir.

“Ya… yaudah sih. Itu kan udah lama, bisa jangan dibahas lagi kan?! Atau aku laporin Pak Hendra kalau kamu tadi jelekin dia!”

“Hehe, sorry-sorry. Okay, serius kali ini. Nah, dari interaksi rutin setiap hari itu, pelan-pelan nyaman. Alasannya, ya karena sering diskusi, sering kerja bareng juga. Apa-apa keseringan berdua,” jelas Magenta percaya diri. Melihat sesuatu yang akan dijadikan drama nanti dari pengalaman dunia nyatanya.

“Nah sekarang penjelasan kamu baru mulai masuk akal.” Cyan mengangguk paham.

“Mau masukin detail kita ciuman di Bandung?”

“GAK.USAH!!!”

“Hehe…”

“Oke, lanjut. Kalau ditanya, siapa yang duluan tertarik, kamu jawab apa?” sambung Cyan.

“Waduh, Bu Bos. Ini mah pertanyaan jebakan namanya,” pungkas Magenta sempat ternganga sepersekian detik.

“Jawab.”

“Kalau mau versi aman, ya, aku yang duluan yang tertarik sama kamu.”

“Dih, kenapa harus gitu?”

“Serius Syan? Kamu bisa-bisanya masih nanya gitu setelah hampir nelen aku idup-idup di rapat?”, Magenta tersenyum melanjutkan.

“Ya, secara statistik dan dari pengalaman orang sekitar aja, Syan. Kamu itu intimidating. Orang-orang mana ada yang percaya kalau kamu yang duluan naksir aku,” jelas Magenta memperbaiki dasinya yang sedikit miring.

“Oke, good. Penjelasan kamu boleh juga,” balas Cyan manggut-manggut.

Mereka terdiam sebentar. Hening menyapa sekitar 10 menitan, cukup lama untuk seorang Magenta yang suka mengoceh tidak jelas.

“Coba ulangin kalimatmu tadi, tapi lebih natural. Lebih apa adanya gitu,” pinta Cyan setelah berpikir sejenak.

Magenta menggeser kursinya sedikit mendekat, mengikis jarak seolah fokus dan tidak ingin ada distraksi lain.

“Oke, jadi begini, Bapak dan Ibu orang tua Cyan serta seluruh anggota keluarga. Kami kenal di kantor. Awalnya kami cuma rekan kerja, sering debat, sering berbeda pendapat juga. Tapi dari situ justru jadi sering ngobrol dan lama-lama saya sadar bahwa Cyan itu perhatian. Caranya aja yang aneh.”

“MAGENTA.”

“Maaf. Maksud saya profesional.” Genta tersenyum picik, mudah sekali memancing amarah wanita independen ini.

“Lanjut. Apa lagi?”

“Kalau ditanya siapa yang duluan naksir, tentu saja saya. Siapa, sih yang nggak tertarik sama atasan tinggi, pintar, dan banyak prestasinya? Belum lagi fakta bahwa ternyata dia peduli dan empatik banget meski kelihatannya selalu galak,” jawab Magenta lancar, tidak terbata-bata sama sekali, seakan yang meluncur dari mulutnya itu murni dari hati.

Hal itu sudah cukup membuat Cyan menelan ludah, membeku beberapa saat.

“Bagus. Cukup.”

“Kenapa kamu keliatan tegang, Syan?” tanya Magenta iseng.

“Nggak.”

“Keliatan, Syan.”

“Fokus latihan, Genta.”

“Haha…” Magenta terkekeh pelan, bermaksud mengejek.

“Kalau ditanya kenapa baru sekarang, kamu jawab apa?” sambung Cyan memberi pertanyaan berikutnya.

Magenta berpikir sepersekian detik. Kepalanya mendongak dengan pandangan ke atas, disertai jari yang diketuk-ketuk ke meja.

“That’s simple, Bu. Karena sama-sama fokus kerja dan baru sadar setelah sering bareng.”

“Bagus. Kalimatnya jangan terlalu panjang. Singkat, padat, dan jelas aja kayak aku pas ngasih materi rapat.”

“Kita ini kelihatan kayak lagi bikin skrip wawancara, ya.”

“Memang, karena kita harus kompak. Latihan ini tetap penting, Genta. Geser satu jawaban aja atau salah satu dari kita gak konsisten, semuanya berantakan. Bisa gagal rencana kita,” tegas Cyan serius membuat Magenta mengangguk pelan.

“Tenang. Aku bisa jaga peran.”

“Ingat, bukan cuma soal peran, tapi gimana caranya supaya keluargaku percaya.”

Magenta menangkap perubahan nada itu. Ia tidak bercanda kali ini.

“Aku mengerti.”

Senja mulai tampak, menggeser cahaya matahari jatuh tepat di antara keduanya, membuat bayangan kaki kursi memanjang di lantai. Cyan menyukai suasana seperti ini, ketika bumi seolah istirahat beberapa menit sebelum sibuk kembali.

“Magenta,” panggil Cyan usai menghela napas panjang. Meski suaranya pelan, Magenta masih bisa menangkap panggilan itu karena jarak mereka tidak sejauh sebelumnya. Magenta pun menyadari jarak mereka kini tinggal beberapa senti. Ia harus mendongak sedikit karena perbedaan tinggi mereka, bahkan saat duduk.

“Kalau latihan kayak gini bahaya juga, ya.”

“Kenapa?”

“Karena rasanya kayak gak lagi latihan.”

Cyan menelan ludah lagi, bibirnya ditutup sempurna. Tangannya yang tadi terlipat kini bertumpu di meja, dengan jari yang hampir menyentuh jari Magenta.

Mereka saling menatap terlalu lama. Untuk sesaat, dunia yang mengelilingi seolah bukan kepura-puraan lagi. Tiada status atasan dan karyawan, hanya dua manusia biasa yang mungkin sama-sama saling menaruh perasaan.

“Oke. Latihan selesai.”

“Setuju.”

“Kita lanjut besok?” tanya Magenta.

“Lain kali aja.”

Mereka berjalan keluar dari kafe dengan langkah sejajar, tapi tetap menjaga jarak. Diterangi cahaya lampu jalan di sekitar gedung yang dinyalakan satu per satu, menciptakan bayangan sempurna berbaur suasana senja.

Cyan selalu menatap ke depan, menahan diri untuk tidak menoleh terlalu sering ke arah Magenta. Namun, ia tidak bisa membohongi diri terlalu lama ketika detak jantungnya bertambah cepat tatkala Magenta melakukan gerak-gerik sederhana.

Dan ketika mereka akhirnya berpisah di titik yang sama seperti hari sebelumnya, masing-masing membawa pulang pikirannya sendiri.

“See you, Syan! Selamat istirahat, ya.”

“Okay, kamu juga.”

***

Apartemen Cyan, pukul 19.00.

Malam itu, ketika Cyan sedang menikmati cokelat hangat sambil menatap kota dari jendela, ia duduk di sofa. Sesekali menatap langit yang ditaburi ribuan bintang. Cerah, seperti hatinya saat ini saat mengingat senyum tipis Magenta. Sadar bahwa jantungnya mulai menolak kepura-puraan dan sandiwara itu. Baginya terlalu spesial jika dikatakan palsu.

Sedangkan di sisi lain, Magenta baru tiba di apartemennya. Belum ingin mandi dan membersihkan diri. Ia memilih duduk di kursi dekat jendela, menatap langit yang sama.

“Cantik banget langitnya, Syan. Coba kamu lihat juga dan fotokan ke aku,” gumam Magenta tak sadar.

“Langitnya emang cantik, kayaknya harus aku foto dulu,” ucap Cyan di seberang sana. Ia mengambil ponsel, mengarahkan kamera dan membuka room chat-nya dengan Magenta.

Ketika ia menekan tombol kirim untuk foto itu, di saat yang bersamaan, Magenta juga mengirim pesan.

[Kirimin foto langit di apartemen kamu dong, Syan.]

Dan seketika, keduanya terdiam.

“Kok bisa samaan gini mikirnya jir?”

1
Anisa Saja
malu-malu meong nih
IR Windy
magenta makin seneng gak tuh dibilangin kek gitu
IR Windy
si raka emng peka bgt smpe hal2 kecil
IR Windy
hayoloo.. alya sampe neting gitu
IR Windy
okeee cyan mulai jinak nih kayaknya
IR Windy
kesempatan dlm kesempitan itu mh wkwk
IR Windy
kapan mreka gk brantem wkwk
IR Windy
si genta mah emg nyari kesempetn aja, jd gk cuma bantu
IR Windy
bantet gak tuh wkwk fiks kalo gaada magenta bakal sepi sih hidup cyan
IR Windy
magenta ngeselin poll ya
Anisa Saja
ngeri emang kalau sampai kejadian kayak gitu
Anisa Saja
bener banget itu, Raka.
Anisa Saja
jangan-jangan apa? hayooo
Anisa Saja
memang agak aneh kalau orang yang biasanya banyak omong tiba-tiba diem aja
Anisa Saja
padahal udah sama-sama dewasa.
Anisa Saja
kayaknya si genta ada sesuatu sama cyan nih
Aruna02
kok balas budi sih
Rain (angg_rainy): Awalnya🙈 balas budi aja lama2
total 1 replies
Aruna02
dih pede 🤣
Anisa Saja
air ngamuk nggak tuh? ada-ada aja bahasanya. hihi
Anisa Saja
emangnya kenapa kalau dikasih tahu ke orang lain?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!