NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi
Popularitas:26
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Makan Malam di Al-Hakim Mansion

Setelah pertemuan di musholla, Mahira dan Zarvan menghabiskan dua jam berbincang. Bukan tentang kutukan. Bukan tentang masa lalu. Tapi tentang hal-hal sederhana—kopi favorit, buku yang pernah dibaca, tempat yang ingin dikunjungi.

Dan untuk pertama kalinya sejak mimpi buruk itu dimulai, Mahira merasa... normal. Seperti gadis biasa yang sedang berkenalan dengan pria yang menarik perhatiannya.

Tapi dunia tidak membiarkan mereka berlama-lama dalam kenyamanan itu.

Saat Mahira keluar dari yayasan, ponselnya berdering. Pesan dari nomor tidak dikenal—lagi:

*"Kamu pikir cinta akan menyelamatkan kalian? Kamu pikir dengan berpegangan tangan, sejarah tidak akan terulang? Naif. Darah akan tetap tumpah. Dan kali ini, tidak akan ada yang selamat."*

Mahira menghapus pesan itu dengan tangan gemetar. Zarvan yang berjalan di sampingnya menyadari perubahan raut wajahnya.

"Ada apa?"

"Tidak apa-apa," bohongnya. Tapi Tasbih Cahaya di sakunya terasa panas—peringatan bahwa bahaya makin dekat.

***

Malam itu, di rumahnya yang besar dan sepi, Khaerul duduk di ruang kerjanya dengan segelas whisky di tangan. Mimpi buruk telah menghantuinya selama bertahun-tahun. Mimpi di mana ia membunuh. Di mana ia kehilangan segalanya karena cinta yang tidak terbalas.

Dan sekarang, melihat Mahira dan Zarvan mulai dekat, sesuatu dalam dirinya—sesuatu yang gelap dan kuno—mulai bergejolak.

"Ini tidak boleh terjadi," gumamnya. "Tidak lagi."

Ia meraih ponselnya, mengetik pesan. Tapi sebelum mengirim, tangannya berhenti.

Di benaknya, suara lain berbisik. Suara yang bukan miliknya:

*"Bunuh dia. Sebelum terlambat. Sebelum mereka bersatu dan kau kehilangan selamanya."*

Khaerul menggelengkan kepala keras. "Tidak. Aku bukan Khalil. Aku Khaerul. Aku bisa kendalikan ini."

Tapi jemarinya tetap mengetik. Pesan terkirim. Dan ia tidak ingat apa yang baru saja ia tuliskan.

***

Di sisi lain kota, Zarvan berdiri di balkon penthousenya, menatap langit Jakarta yang penuh polusi cahaya. Pikirannya melayang ke Mahira. Ke senyumnya. Ke caranya tertawa—lepas dan tulus.

Tapi juga ke visi masa depan yang mereka lihat bersama.

"Apa itu benar-benar masa depan kita?" bisiknya pada angin malam. "Atau hanya harapan yang akan hancur seperti 300 tahun lalu?"

Ponselnya berdering. Pesan dari asistennya:

*"Mr. Zarvan, dokumen merger sudah siap. Meeting dengan keluarga Qalendra dijadwalkan besok jam 10 pagi. Konfirmasi kehadiran?"*

Zarvan mengetik balasan cepat: *"Konfirmasi. Dan atur juga dinner private di mansion malam ini. Undang Ms. Mahira Qalendra. Alasan: diskusi project pengembangan yayasan."*

Ia butuh waktu lebih banyak dengan Mahira. Butuh memahami perasaan ini—apakah nyata atau hanya gema dari masa lalu yang tidak rela lepas.

Dan mansion-nya—rumah warisan keluarga yang dibangun dengan arsitektur yang terinspirasi istana masa lalu—mungkin akan memberikan jawaban.

Atau justru membuka pintu ke mimpi buruk yang lebih gelap.

---

#

Undangan itu datang pagi-pagi sekali.

Mahira masih dalam perjalanan ke kantor ketika email resmi dari Al-Hakim Corporation masuk. Subject: *Private Dinner Discussion - Yayasan Development Project*.

Formal. Profesional. Tapi ada postscript di bawah—tulisan tangan yang dipindai:

*"Aku tahu ini mendadak. Tapi aku ingin tunjukkan sesuatu padamu. Sesuatu yang mungkin bisa kasih kita jawaban. - Z"*

"Jawaban untuk apa?" gumam Mahira sambil menatap layar ponselnya.

Kiara yang duduk di kursi pengemudi melirik. "Lu ngomong sendiri lagi. Makin parah nih gejala jomblo-nya."

"Aku nggak jomblo—" Mahira berhenti. "Oke, technically aku jomblo. Tapi bukan itu pointnya. Zarvan ngundang aku dinner."

"WHAT?!" Kiara hampir menabrak mobil di depan. "Udah sampe tahap dinner?! Lu baru kenal dia dua hari!"

"Ini dinner bisnis—"

"Dinner bisnis di mansion pribadi jam delapan malam?" Kiara menatapnya dengan alis terangkat. "Mahira, sayang, ini bukan dinner bisnis. Ini... ini udah level date."

Mahira merasakan pipinya memanas. "Tapi kan di email ditulis—"

"Email formal cuma alibi. Liat postscript-nya. Tulisan tangan. Personal. Dia mau tunjukin sesuatu yang penting." Kiara menyeringai. "Lu mau aku anterin? Tapi aku tunggu di luar aja. Nggak mau jadi obat nyamuk."

"Ki!"

"What? Lu harus realistis. Chemistry kalian kemarin di musholla itu kentara banget. Ustadzah Maryam sampe SMS gue, nanya 'Temenmu itu sama Mr. Zarvan ada apa sih? Aura mereka aneh'."

Mahira tidak bisa membantah. Karena dia sendiri merasakannya. Tarikan itu. Koneksi yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

"Fine," ucapnya akhirnya. "Aku akan datang. Sendirian. Ini memang ada yang harus aku—kita—bicarakan."

***

Al-Hakim Mansion terletak di kawasan elite Menteng—bangunan megah tiga lantai dengan arsitektur perpaduan Timur Tengah dan Jawa klasik. Pagar besi tinggi dengan ukiran kaligrafi. Taman luas dengan air mancur di tengah. Dan pintu utama dari kayu jati ukir yang terlihat berusia ratusan tahun.

Mahira turun dari taksi online jam 7:50 malam. Ia sengaja tidak membawa mobil—tidak ingin ada yang tahu ia ke sini. Terutama Khaerul yang akhir-akhir ini makin sering "kebetulan" muncul di mana pun ia berada.

"Selamat datang, Ms. Qalendra."

Seorang butler tua—pria dengan postur tegap meskipun usianya sudah di atas 60—membukakan pintu untuknya.

"Mr. Zarvan sudah menunggu di ruang makan. Silakan ikut saya."

Mahira melangkah masuk—dan napasnya tertahan.

Interior mansion ini... asing tapi sekaligus familiar. Dinding dengan panel kayu gelap. Lampu gantung kristal besar. Lukisan-lukisan kuno dalam bingkai emas. Dan aroma... aroma kemenyan dan kayu cendana yang membawa ia kembali ke—

"Istana," bisiknya tanpa sadar.

Butler itu menoleh. "Maaf, Anda bilang sesuatu?"

"Tidak. Tidak apa-apa." Mahira menggeleng cepat. Tapi tangannya mencengkeram Tasbih Cahaya di dalam saku blazer-nya.

Mereka melewati koridor panjang dengan karpet merah tua. Mahira merasakan déjà vu yang sangat kuat. Seperti ia pernah berjalan di koridor ini. Pernah menyentuh dinding ini. Pernah—

"Mahira."

Suara Zarvan menghentikan langkahnya. Pria itu berdiri di ujung koridor dengan kemeja putih kasual—tanpa jas, kancing atas terbuka—dan celana hitam. Rambutnya sedikit basah, seperti baru selesai mandi.

Dan untuk sesaat, Mahira tidak melihat Zarvan. Ia melihat Pangeran Dzarwan dengan jubah sutra biru gelap, berdiri di koridor yang sama, tersenyum padanya dengan kelembutan yang sama.

"Kamu datang," kata Zarvan—dan visi itu pecah.

"Iya. Maaf kalau agak telat. Macet di—"

"Kamu nggak telat." Zarvan melangkah mendekat. "Terima kasih sudah mau datang. Aku tahu ini mendadak dan... dan mungkin agak aneh ngundang ke rumah pribadi."

"Selama nggak ada niat jahat, aku fine." Mahira tersenyum tipis—sambil diam-diam memegang tasbihnya lebih erat.

Batu-batu hijau di tasbih itu tetap sejuk. Tidak ada peringatan. Tidak ada bahaya.

Zarvan aman.

"Ayo. Makan malam udah siap." Zarvan menuntunnya ke ruang makan—ruangan luas dengan meja panjang dari kayu mahoni dan delapan kursi empuk. Tapi hanya dua tempat yang ditata—di ujung meja yang berdekatan, bukan berhadapan.

"Aku nggak suka makan berhadapan kalau cuma berdua," jelas Zarvan sambil menarik kursi untuk Mahira. "Terlalu formal. Dan aku... aku mau bisa ngobrol sama kamu tanpa harus teriak dari ujung meja."

Mahira duduk dengan jantung berdebar. "Ini... ini mansion keluargamu?"

"Warisan dari kakek. Dibangun tahun 1950-an ketika keluarga kami pertama kali pindah ke Indonesia." Zarvan duduk di sampingnya. "Tapi desainnya terinspirasi dari istana di masa lalu. Kakek bilang, dia... dia punya mimpi tentang istana itu. Dan dia ingin membangun replika sebagai... cara untuk tidak melupakan akar."

"Akar dari 300 tahun lalu," gumam Mahira.

"Exactly." Zarvan menatapnya dengan serius. "Sejak kecil aku merasa aneh tinggal di sini. Seperti semua sudutnya punya cerita. Punya... memori. Dan sekarang aku tahu kenapa."

Pelayan mulai menghidangkan makanan—masakan Timur Tengah dengan sentuhan Indonesia. Lamb biryani, hummus, kebab, tapi juga sate dan sambal. Perpaduan dua budaya.

"Ini semua halal kan?" tanya Mahira.

"Tentu. Aku nggak akan kasih kamu yang nggak halal." Zarvan tersenyum. "Bismillah."

Mereka makan dengan percakapan ringan—tentang project yayasan, tentang rencana merger, tentang anak-anak asuh yang lucu dan nakal. Normal. Aman.

Tapi Mahira merasakan ada sesuatu. Sesuatu yang Zarvan tahan untuk dikatakan.

"Zarvan," ucapnya setelah dessert—es krim vanilla dengan madu dan kacang. "Kamu bilang mau tunjukin sesuatu. Apa itu?"

Zarvan meletakkan sendoknya. Menghela napas. "Ada ruangan di mansion ini yang... yang aku jarang buka. Ruangan yang penuh dengan barang-barang warisan keluarga. Lukisan. Dokumen. Artefak. Dan kemarin malam, setelah kita ketemu, aku... aku nggak bisa tidur. Jadi aku buka ruangan itu. Dan aku nemuin sesuatu yang... yang bikin aku harus tunjukkin ke kamu."

"Apa itu?"

"Ikut aku."

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!