NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Sebuah umpatan pelan lolos dari bibir Arjuna. Ia baru tersadar, si kembar memiliki kecerdasan yang membuat kebohongan mudah terbaca.

“Jawab aja, Om.” desak Serena sambil menatap tajam.

“Jangan ngomong begitu,Kamu nggak boleh berpikir buruk tentang papa.” ucap Arjuna pelan.

“Soalnya nggak mungkin Papa nggak tahu kita sakit,tapi Papa malah pergi dengan alasan sebentar.” Serena menatap Arjuna serius. 

Harga diri Arjuna tercabik pelan. Dua bocah itu terlalu cerdas, dan Serena jauh lebih peka dari yang ia kira. Kini, ia kehabisan cara untuk menyamarkan kenyataan.

"Papa kalian pergi sebentar,sekarang ikut Om. Kita sarapan, lalu berjemur.” kata Arjuna akhirnya.

Aneh tapi nyata, apa pun yang Arjuna perintahkan, si kembar selalu menuruti tanpa bantahan, seolah kepercayaan mereka padanya tak pernah goyah.

Di sisi lain, Romeo mengantar Tania ke kantor agensinya. Wanita itu merajuk, merasa diabaikan karena Romeo tak sempat mendampinginya pagi ini.

“Temenin aku bentar aja, ya. Please.” Tania mendekat, suaranya dibuat sendu.

“Kondisinya nggak memungkinkan,anak-anak butuh aku.” Romeo menarik napas.

"Paling gara-gara anak kamu kebanyakan makan cokelat,nanti aku juga ke rumah kok, jengukin mereka.” kata Tania ringan.

“Aku benar-benar nggak bisa ninggalin mereka,sebagai gantinya, pakai kartu ini. Belanja apa pun yang kamu mau.” Romeo mengeluarkan dompet dan menyodorkan sebuah kartu. 

“Aku cuma mau dihargai,maaf kalau tadi aku egois.” ujar Tania lembut dibuat-buat.

Romeo sebenarnya tidak bodoh. Ia paham betul ke mana arah bujukan Tania sejak awal. Namun demi menjaga perasaan kekasihnya, ia memilih mengalah bahkan sampai menyerahkan kartu kreditnya.

“Aku nggak bisa lama sekarang,tapi nanti aku yang jemput.” ucap Romeo singkat sebelum berbalik pergi.

“Aku nggak mau ngerepotin kamu,aku pulang bareng Olivia.”

Tanpa banyak kata, Romeo menganggukkan kepala sebagai pamit dan segera pergi.

“Kalau dari awal kamu kasih ini, aku nggak bakal drama.” Tania tersenyum puas sambil memainkan kartu itu. 

Tepat ketika gerbang rumah hampir terlihat, ponsel Romeo berbunyi. Sekretarisnya mengabarkan rapat mendesak hari ini. Romeo menekan setir kuat-kuat, sumpah serapah keluar karena rencananya bersama anak-anak kembali gagal.

Tangis si kembar pecah lagi. Arjuna mengepalkan tangan, kecewa pada sahabatnya sendiri yang tak pernah belajar menepati janji. 

"Anaknya sakit, masih aja mikirin kantor. Jangan-jangan malah ke tempat perempuan itu.” umpat Arjuna dalam hati.

“Om, kita mau ke kantor Papa.” Selina menatap Arjuna penuh harap.

“Ke kantor Papa buat apa?” tanya Arjuna pelan, menunduk menyamakan tinggi badan mereka.

“Kami mau ketemu Papa, Om,ada yang perlu kami minta langsung sama Papa. Ini penting.” ujar Serena tegas.

“Coba bilang ke Om,kalau Om bisa, biar Om saja yang kabulkan.” Arjuna tersenyum tipis.

“Belum bisa bilang sekarang,sekarang Om mau nganter apa nggak? Kalau nggak kita bakal nangis terus.”

"Oke, Om turuti.Tapi minum obat dulu, baru jalan.” Arjuna mengalah.

“Siap, Om.” sahut mereka tanpa ragu.

Setelah siap, Arjuna membawa si kembar pergi. Tubuh mereka masih lemah, tetapi langkahnya ringan, seolah rasa lelah kalah oleh keinginan bertemu papanya.

Begitu masuk ke area perusahaan, tangan si kembar tak lepas dari Arjuna. Sorot kagum para karyawan yang mencuri pandang justru membuat mereka tersenyum kecil.

"Om jadi pusat perhatian.” Selina tertawa kecil.

“Om memang tampan,wajar kalau pesona Om nggak jauh beda sama Papa kalian.” ujar Arjuna tanpa ragu.

“Tapi Papa sudah nikah, Om belum,berarti Om kalah, dong.” Serena menatap Arjuna serius.

Tatapan Arjuna seolah menegur, tapi senyum tipis di sudut bibirnya membongkar bahwa ia hanya menggoda.

“Duduk manis di sini,om mau bicara sama sekretaris Papa kalian.” Arjuna menunduk sejajar mata mereka.

“Kami tunggu di sini,tapi jangan lama.”

“Pak Romeo ada.” katanya formal.

“Pak Romeo ada rapat dengan klien. Apakah bapak mau menunggu?” jelas Amel sopan.

“Saya datang sama anak-anak Pak Romeo,tolong siapkan camilan sehat. Saya tunggu di dalam.” jawab Arjuna.

Tanpa banyak bicara, Amel langsung menghubungi bagian pantry agar segera menyediakan permintaan Arjuna tadi. 

“Ayo, sini.” panggil Arjuna lembut pada si kembar. 

“Papa nggak pergi lagi, kan?” tanya Selina cepat. 

“Papa ada,cuman Lagi rapat.Kita tunggu sebentar di dalam.” Arjuna mengangguk. 

Sebenarnya si kembar bisa saja langsung masuk ke ruangan Papa mereka tanpa izin. Namun Arjuna sengaja menahan, mengingatkan bahwa tata krama tetap penting bahkan di tempat milik orang tua sendiri.

Keduanya duduk manis di sofa, senyum tak lepas dari wajah mereka. Di sisi lain, Arjuna sedang menerima panggilan penting.

Meeting berakhir dengan senyum puas di wajah Romeo. Usahanya tak sia-sia, tender yang ia kejar selama ini akhirnya berhasil ia menangkan dengan persetujuan instan.

“Kalian kok di sini?” ucapnya heran. 

“Kami punya urusan penting, Papa.”

“Urusan dengan siapa?” Romeo mengerutkan kening.

“Urusannya ya sama Papa.” sahut si kembar kompak.

“Siapa yang nganter kalian ke kantor?” alis Romeo bertaut karena tak melihat orang lain.

“Tadi Om Arjuna yang nganterin, sekarang lagi di toilet,” ujar Serena apa adanya.

Romeo diliputi kekesalan yang tak terbendung. Arjuna benar-benar keterlaluan sudah tahu kedua putrinya sedang sakit, masih saja membawanya ke kantor. Dokter macam apa dia? Julukan dokter gadungan rasanya kini pantas disematkan pada sahabatnya itu.

“Baik,sekarang ceritakan, apa yang ingin kalian sampaikan. Papa minta maaf lebih dulu karena.........” Ucap Romeo terpotong.

“Kita mau ibu, Pa.” kata Selina dan Serena serempak, menatap Romeo penuh tuntutan.

“Hei, tunggu dulu. Maksud kalian ibu itu apa?” tanya Romeo dengan kening berkerut, jelas tak siap mendengar jawaban mereka.

“Ibu yang bisa peluk kami setiap hari,bukan cuma papa.” ujar mereka serempak.

“Kalau itu yang kalian mau,papa akan menikah. Tante Tania akan jadi ibu kalian.”

“Bukan dia!Kami nggak mau dia jadi ibu kami!” teriak keduanya nyaris bersamaan.

“Jaga ucapan kalian!” tegas Romeo, rahangnya mengeras menahan emosi.

Air mata itu jatuh tanpa bisa ditahan. Selama ini, suara keras Papanya tak pernah ada dalam ingatan mereka, hingga hari ini segalanya berubah.

“Kami sudah pilih ibu kami,Kami cuma mau Tante Alya. Kalau nggak, kami tinggal sama Kakek.” teriak keduanya bersamaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!