Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 37: Penolakan Keluarga Makin Keras
Seminggu setelah mimpi itu.
Arkan rutin ke masjid. Setiap hari. Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Dia nggak pernah bolos. Bahkan kalau lagi meeting penting di kantor, dia sempetin sholat di musholla kantor.
Ustadz Yusuf ngajarin dia gerakan sholat satu per satu. Sabar. Nggak buru-buru.
"Arkan, sholat itu komunikasi langsung sama Allah. Jadi... jadi nggak usah tergesa-gesa. Pelan-pelan aja. Yang penting khusyuk."
Dan Arkan... Arkan mulai ngerasain bedanya.
Dulu waktu dia berdoa di gereja, dia ngerasa... ngerasa jauh. Kayak ngomong sama seseorang yang ada di langit sana. Tinggi. Nggak terjangkau.
Tapi sekarang... sekarang waktu sholat... dia ngerasa deket. Kayak... kayak Allah itu ada. Di samping nya. Dengerin dia. Ngerti dia.
"Ya Allah... ini... ini yang Zahra rasain ya? Ini... ini kenapa dia bisa kuat meskipun hidup nya susah... karena... karena dia punya Kau..."
Arkan juga mulai baca Quran tiap malam. Bukan cuma baca terjemahan. Dia belajar baca huruf Arab meskipun masih terbata-bata.
"Alif... lam... mim... ini... ini susah banget... tapi... tapi aku harus bisa..."
Alisha kadang dateng ke apartemen. Ngeliat perubahan Arkan.
"Arkan... kamu serius ya? Kamu... kamu beneran mau masuk Islam?"
"Aku... aku masih belajar Kak. Masih... masih cari keyakinan. Tapi... tapi aku ngerasa... ngerasa ini jalan yang bener buat aku."
Alisha senyum. "Kakak seneng liat kamu punya tujuan lagi. Meskipun... meskipun Kakak tau Mama bakal marah besar kalau tau."
"Mama belum tau kan?"
"Belum. Tapi... tapi Arkan, kamu nggak bisa sembunyiin selamanya. Cepat atau lambat... Mama bakal tau. Dan waktu itu... waktu itu kamu harus siap."
Arkan napas panjang. "Aku tau Kak. Aku... aku cuma butuh waktu. Butuh... butuh lebih yakin dulu sebelum ngadepin Mama."
---
Tapi ternyata... ternyata waktu itu dateng lebih cepat dari yang Arkan kira.
Sabtu siang. Arkan baru balik dari masjid. Sholat Dzuhur berjamaah. Dia pake baju koko putih. Kopiah hitam. Bawa sajadah.
Pas buka pintu apartemen... dia lihat seseorang duduk di sofa.
Mrs. Angelina.
Arkan membeku.
"M-Mama? Kenapa... kenapa Mama kesini? Gimana Mama bisa masuk?"
Mrs. Angelina berdiri. Wajahnya... wajahnya pucat. Mata merah. Kayak habis nangis.
"Kakak kamu yang kasih kunci cadangan." Suara Mrs. Angelina dingin. "Mama... Mama nggak percaya waktu denger kabar nya. Mama pikir... mama pikir itu cuma gosip. Tapi sekarang... sekarang Mama liat sendiri."
Dia nunjuk baju koko Arkan. Kopiah. Sajadah yang digenggam.
"Kamu... kamu beneran... kamu beneran belajar Islam?!"
Arkan diem. Nggak tau harus jawab apa.
"JAWAB MAMA!" Mrs. Angelina teriak. "Kamu... kamu beneran mau jadi... mau jadi muslim?!"
Arkan taruh sajadah di meja. Napas panjang.
"Iya Ma. Aku... aku belajar Islam. Udah... udah dua minggu terakhir."
PLAK!
Tamparan keras di pipi Arkan.
Mrs. Angelina nampol Arkan. Keras. Sampe pipi Arkan merah.
Arkan nggak gerak. Nggak marah. Cuma... cuma nahan sakit.
"KAMU GILA ARKAN?!" Mrs. Angelina nangis. "KAMU... KAMU MAU NINGGALIN YESUS?! MAU NINGGALIN GEREJA?! MAU NINGGALIN... MAU NINGGALIN KELUARGA?!"
"Aku nggak ninggalin keluarga Ma. Aku cuma... cuma cari jalan yang bener buat aku."
"Jalan yang bener?!" Mrs. Angelina ketawa. Ketawa yang... yang kayak orang putus asa. "Jalan yang bener itu YESUS! Bukan... bukan Muhammad! Bukan... bukan agama itu!"
"Ma, jangan hina Islam. Please. Aku... aku nggak pernah hina agama Mama. Jadi tolong... tolong jangan hina agama yang lagi aku pelajari."
"AKU BEBAS BILANG APA AJA!" Mrs. Angelina teriak makin keras. "INI RUMAH KAU! INI HIDUP KAU! TAPI KAU TETEP ANAK MAMA! DAN MAMA NGGAK BAKAL... NGGAK BAKAL TERIMA KALAU KAU MURTAD!"
"Aku nggak murtad Ma. Aku... aku cari kebenaran. Dan kebenaran yang aku rasain sekarang... kebenaran yang aku rasain itu... itu di Islam."
Mrs. Angelina mundur selangkah. Kayak ditampar.
"Kamu... kamu udah dicuci otak sama cewek itu kan? Sama... sama Zahra itu kan?! Dia... dia yang ngajarin kamu semua ini?!"
"Bukan!" Arkan naikkin suara. "Zahra udah pergi! Dia... dia nggak ada hubungannya sama keputusan aku sekarang! Ini... ini murni keputusan aku! Aku yang... aku yang pengen belajar! Aku yang ngerasa deket sama Allah!"
"Allah?!" Mrs. Angelina melotot. "Kau bilang Allah?! Bukan Bapa?! Bukan Tuhan kita?!"
"Allah itu Tuhan Ma! Cuma beda bahasa! Kenapa... kenapa Mama nggak ngerti?!"
"KARENA ITU BUKAN TUHAN YANG SAMA!" Mrs. Angelina teriak sampe suara nya serak. "Tuhan kita itu TRITUNGGAL! Bapa, Putra, Roh Kudus! Sementara Allah mereka itu... itu cuma satu! Mereka... mereka nggak percaya Yesus itu Tuhan! Mereka bilang Yesus cuma nabi! ITU PENISTAAN ARKAN! ITU... ITU DOSA BESAR!"
"Atau mungkin... mungkin kita yang salah Ma." Arkan bisik. "Mungkin... mungkin Yesus emang cuma nabi. Bukan Tuhan. Dan selama ini... selama ini kita yang salah paham."
PLAK!
Tamparan kedua. Lebih keras.
Arkan terhuyung. Tapi dia tetep berdiri. Tetep... tetep natap Mama nya.
"Jangan... JANGAN PERNAH BILANG KAYAK GITU LAGI!" Mrs. Angelina nangis histeris. "Yesus itu Tuhan kita! Yesus yang... yang nyelamatin kita! Yang mati di salib buat dosa kita! Dan kau... kau bilang Dia cuma nabi?! KAU... KAU KAFIR ARKAN! KAU MURTAD!"
"Aku belum murtad Ma. Aku... aku masih belajar. Belum... belum ambil keputusan final."
"TAPI KAU UDAH SHOLAT KAN?!" Mrs. Angelina nunjuk sajadah di meja. "Kau udah... udah sujud sama Allah kan?! Itu... itu udah murtad Arkan! Kau... kau udah ninggalin Yesus!"
Arkan diem. Nggak bisa bantah.
Karena... karena itu bener.
Dia udah sholat. Udah sujud. Udah... udah ngerasain kedekatan sama Allah.
Dan itu... itu artinya... artinya dia udah mulai ninggalin Yesus.
Mrs. Angelina jatuh duduk di sofa. Nangis. Nangis sampe tubuhnya gemetaran.
"Mama... mama gagal jadi ibu... mama nggak bisa... nggak bisa jaga kau tetep di jalan yang bener... Tuhan... Tuhan maafin Mama... maafin Mama yang nggak bisa... nggak bisa lindungi anak Mama..."
Arkan berlutut di depan Mama nya. Pegang tangan Mrs. Angelina.
"Ma... Mama nggak gagal. Mama... Mama udah jadi ibu yang baik. Mama udah... udah besarin aku dengan kasih sayang. Ngajarin aku tentang Tuhan. Ngajarin aku... ngajarin aku jadi orang baik. Dan sekarang... sekarang aku cuma lanjutin apa yang Mama ajarkan. Cari Tuhan. Cari kebenaran."
"Tapi kau cari di tempat yang SALAH!" Mrs. Angelina teriak sambil nangis. "Kau... kau ninggalin jalan Yesus! Ninggalin... ninggalin satu-satunya jalan keselamatan!"
"Atau mungkin... mungkin ada banyak jalan Ma. Dan aku... aku nemuin jalan ku di Islam."
Mrs. Angelina lepas pegangan tangan Arkan. Berdiri. Mundur.
"Baiklah." Suara nya dingin. Nggak ada emosi lagi. Cuma... cuma dingin. "Kalau itu keputusan kau... Mama... Mama nggak bisa paksa. Tapi kau harus tau konsekuensi nya."
"Konsekuensi apa Ma?"
Mrs. Angelina natap Arkan. Mata nya... mata nya kosong.
"Mulai hari ini... kau bukan anak Mama lagi. Kau... kau dikeluarkan dari keluarga Wijaya. Warisan kau... dipotong. Nama kau... dihapus dari silsilah keluarga. Dan Mama... Mama nggak mau ketemu kau lagi. Selamanya."
Deg.
Jantung Arkan berhenti.
"M-Mama... Mama nggak serius kan? Mama... Mama cuma ngancam kan?"
"Mama serius Arkan." Mrs. Angelina ambil tas tangan nya. "Mama... Mama udah kehilangan kau. Kehilangan anak yang Mama sayang. Yang Mama besarin. Yang Mama... yang Mama doain tiap malam. Sekarang yang ada... yang ada cuma orang asing yang... yang murtad dari Kristen. Dan orang asing itu... orang itu bukan anak Mama."
"MA JANGAN!" Arkan teriak. Nangis. "Aku... aku tetep anak Mama! Aku tetep... tetep Arkan! Cuma agama ku yang... yang mungkin bakal berubah! Tapi aku... aku tetep anak Mama!"
"Agama itu segalanya Arkan." Mrs. Angelina jalan ke pintu. "Agama itu... itu identitas. Itu siapa kita. Dan kalau kau ganti agama... berarti kau... kau udah bukan kau yang dulu. Kau... kau udah jadi orang lain."
Dia buka pintu. Berhenti sebentar.
"Mama doain kau sadar Arkan. Doain kau... kau balik ke Yesus sebelum terlambat. Sebelum kau... sebelum kau masuk neraka selamanya."
"MA!"
Tapi Mrs. Angelina udah keluar. Nutup pintu.
BLAM!
Arkan jatuh terduduk. Di tengah apartemen yang sepi.
Nangis.
Nangis sejadi-jadinya.
"Mama... kenapa... kenapa harus kayak gini... kenapa... kenapa Mama nggak bisa terima... nggak bisa... nggak bisa ngerti..."
Dia nangis sampe nggak ada air mata lagi.
Sampe... sampe tubuhnya lemas.
Tapi di tengah kesedihan itu... di tengah kehilangan itu... ada sesuatu yang... yang tetep kuat.
Keyakinan.
Keyakinan bahwa... bahwa jalan yang dia pilih... jalan yang dia pilih ini bener.
Arkan berdiri. Ambil sajadah. Bentangin lagi.
"Ya Allah... aku... aku udah kehilangan Mama. Udah... udah kehilangan keluarga. Tapi... tapi aku nggak nyesel. Karena aku tau... aku tau ini jalan yang Kau tunjukkan. Dan aku... aku percaya sama Kau. Percaya... percaya Kau bakal jaga aku. Bakal... bakal ganti semua yang aku kehilangan dengan sesuatu yang lebih baik."
Dia sholat. Sholat dengan air mata yang mengalir.
Sholat dengan hati yang... yang sakit tapi tetep yakin.
"Ini jalan ku Ma. Meskipun... meskipun Mama nggak terima. Meskipun... meskipun aku harus kehilangan segalanya. Ini... ini jalan ku. Jalan yang... yang Allah tunjukkan."
Dan di sujud terakhir... Arkan bisik pelan.
"Mama... maafin aku. Maafin aku yang... yang nggak bisa jadi anak yang Mama mau. Tapi... tapi aku harus jujur sama diri sendiri. Harus... harus jujur sama Tuhan. Dan kebenaran yang aku rasain... kebenaran yang aku rasain itu... itu di Islam. Dan aku... aku nggak bisa bohongin hati ku lagi."
---
Malem itu Alisha dateng. Dia denger dari Mama.
"Arkan... kamu baik-baik aja?"
Arkan duduk di lantai. Peluk lutut. Mata merah bengkak.
"Aku... aku nggak tau Kak. Aku... aku baru aja diusir Mama. Dihapus dari keluarga. Dan aku... aku nggak tau... nggak tau harus ngerasa apa."
Alisha duduk di samping Arkan. Peluk adiknya.
"Kakak... Kakak tetep di pihak kamu. Apapun yang kamu pilih. Mau kamu jadi Muslim, Kristen, atau apapun... kamu tetep adek Kakak. Kamu tetep... tetep Arkan yang Kakak sayang."
Arkan nangis di pelukan Alisha.
"Makasih Kak... makasih... makasih masih mau terima aku... makasih..."
"Mama... Mama cuma takut Arkan. Takut kehilangan kamu. Takut... takut kamu masuk neraka. Dia... dia sayang kamu dengan cara nya sendiri."
"Tapi cara nya itu... cara nya itu nyakitin Kak. Nyakitin banget."
"Kakak tau. Tapi... tapi suatu hari Mama bakal ngerti. Suatu hari... Mama bakal terima keputusan kamu. Cuma... cuma butuh waktu."
"Atau mungkin... mungkin Mama nggak bakal pernah terima." Arkan bisik. "Mungkin... mungkin aku udah kehilangan Mama selamanya."
"Jangan bilang kayak gitu. Mama itu keras kepala. Tapi... tapi dia tetep Mama kamu. Dia tetep... tetep sayang kamu. Meskipun sekarang dia lagi marah."
Arkan diem. Berharap Alisha bener.
Berharap... berharap suatu hari Mama bisa maafin dia.
Bisa... bisa terima dia.
Meskipun dia muslim.
Tapi entah kenapa... entah kenapa harapan itu... harapan itu terasa jauh.
Terasa... terasa kayak mimpi yang nggak bakal pernah terwujud.
"Ya Allah... tolong... tolong kuatkan hati Mama. Bukain hati Mama buat terima aku. Buat... buat ngerti keputusan aku. Please Ya Allah... jangan... jangan biarkan aku kehilangan Mama selamanya..."
---
**BERSAMBUNG KE BAB 38...**