Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Ratu dan pedang
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Serah sudah bangun dari tempat tidurnya bahkan sebelum Cristine mengetuk pintu ruangan kamarnya.
Serah berjalan keluar ruangan dengan sedikit menyelinap kecil sambil sesekali melihat sekeliling, memastikan jalannya aman. Sebenarnya mau kemana dia? Kenapa gelagatnya tampak mencurigakan?
Ah, sepertinya dia pergi menuju ke aula depan halaman istana.
Ternyata Serah ingin melihat kegiatan para knight yang memang rutin dilakukan setiap pagi di aula halaman istana. Mereka pasti akan baris-berbaris di bagian halaman depan yang ditumbuhi oleh tanaman mawar di sekitarnya.
Ia diam-diam memperhatikan dengan penuh rasa penasaran. Para ksatria kerajaan itu berjumlah puluhan yang ikut latihan baris-berbaris di aula, dan kebanyakan dari mereka masih ksatria usia muda.
Salah satu ksatria di sana memiliki wajah yang cukup familiar. Kalau tidak salah, dia adalah Glen. Pemuda itu tampak begitu serius mengikuti kegiatan tersebut, seakan loyalitasnya tertuang dalam kedisiplinan tiap gerak yang ia lakukan.
Kegiatan itu berlangsung sekitar 1 jam lebih hingga matahari naik semakin tinggi dan dari kejauhan tampak ada rombongan lain memasuki istana.
Dilihat dari penampilannya saja Serah tau mereka pasti tamu delegasi lain.
Setelah rombongan itu masuk, para ksatria yang baris-berbaris itu satu-persatu meninggalkan aula dengan cara yang teratur. Serah kemudian bergerak mendekati.
"Ho-hormat kami pada Yang mulia Serah!" Pria dengan pangkat knight tertinggi itu langsung kaget saat melihat keberadaan Serah yang tiba-tiba saja muncul.
Dengan sigap ia segera memberi komando ada yang lain untuk memberikan hormat kepada Serah.
Secara bersamaan mereka membungkuk 90 derajat semua untuk sesaat baru berdiri tegap kembali. Serah hanya tersenyum dan sedikit mengangguk.
"Yang mulia, ada keperluan apa anda di sini?" Tanya pria bernama Comwell itu dengan agak heran. Ini baru pertama kali ada wanita bangsawan apalagi seorang Putri yang mendatangi kegiatan para knight kerajaan. Perempuan biasanya menghindari kegiatan yang berbau kekerasan seperti ini.
"Aku hanya tertarik melihat kalian berlatih dan jujur aku penasaran bagaimana rasanya memegang pedang," ucapnya tanpa ragu. "Apa ada yang bersedia untuk mengajariku?" Tanyanya sambil mengedarkan pandang ke semua para knight yang berdiri tegak di sana.
Para ksatria itu akhirnya saling menoleh, beberapa ada berbisik-bisik bingung. Mereka tampaknya tak terbiasa menghadapi keinginan seorang wanita yang tiba-tiba ingin belajar menggunakan pedang.
"Yang mulia, pedang bukan untuk wanita," ujar Comwell kepada Serah, mencoba memberi nasehat halus. "Pedang hanya digunakan bagi mereka para ksatria dengan keberanian demi membela Kerajaan yang disumpah oleh Raja," lanjutnya kemudian.
"Aku hanya ingin belajar untuk melindungi diriku sendiri, Tuan Comwell," balas Serah yang memiliki pendapat berbeda, "karena meskipun aku seorang Ratu, itu tidak menjamin posisiku akan selalu aman." Kemudian ia menatap ke arah pria itu sambil tetap tersenyum.
"Yang mulia." Seorang pemuda di antara para ksatria maju ke depan. Ia berdiri dengan tegap seolah menunjukkan kesiapan diri lalu kembali berkata, "kalau anda tidak keberatan, saya Glen Leonard siap membantu anda."
Sesuai prediksi Serah, pemuda itu pasti yang bakalan maju duluan menawarkan diri untuk membantu Serah.
"Tuan Comwell?" Serah melirik ke arah pria itu.
"Tentu, Yang mulia, anda bisa mencobanya dengan bantuan Glen," balas Comwell yang seperti setengah hati memberikan ijin, tapi dia tak ada hak melarang meskipun ini beresiko ada keselamatan Serah karena wanita itu sendiri yang menginginkannya.
"Baiklah Tuan Glen, kita akan memulainya sebelum jam makan siang nanti dan bertemu di ruangan pelatihan." Serah kembali menatap Glen dan membuat kesepakatan dengan pemuda itu.
"Saya mengerti Yang mulia," ujarnya dengan penuh hormat dengan kepala yang mengangguk.
.
.
Para tamu delegasi dari berbagai kerajaan mulai berdatangan ke Mathilda untuk memenuhi pertemuan yang diadakan oleh Louis. Mereka disambut oleh Louis dan para abdi negaranya dengan cukup baik.
Pria itu tidak langsung mengadakan rapat, tapi membawa para tamu itu untuk istirahat terlebih dahulu dan akan menjamu mereka dengan makan siang nanti.
Rombongan itu berjalan melintasi lorong istana yang langsung menjadi pusat perhatian para orang-orang di istana yang menyadari akan ada hal penting terjadi di istana Mathilda.
Usai urusannya selesai dan para tamu sudah berada di ruangan khusus para tamu, Louis pun baru pergi untuk menemui Serah. Ya, pria itu baru akan memberitahukan hal ini kepada Serah.
Dengan langkah tegap dan pandangan lurus ia berjalan dengan didampingi oleh beberapa orang pengawalnya. Namun, sayang dia tak mendapati siapapun ketika memasuki ruangan kamar sang Ratu. Kosong. Hening. Suasana di ruangan tampak begitu sunyi. Louis tampak kesal dengan ketiadaan Serah di tempatnya.
"Kalian, segera cari Putri Serah!" Ujarnya dengan nada tegas kepada para pengawal yang mendampinginya.
"Baik, Yang mulia Louis!" Ujar keempat pengawal itu secara serempak dan bergegas keluar ruangan untuk melaksanakan perintah.
"Kemana wanita itu? Aku harus menemukannya sebelum jamuan makan siang!" Louis pun juga tak tinggal diam. Ia beranjak pergi dari kamar itu.
.
.
Sementara itu Serah terlihat sedang bersama dengan Cristine untuk menemui Glen, sesuai dengan janji dari pemuda itu yang akan mengajarinya tentang cara mengangkat pedang.
Mereka bertemu di lorong asrama khusus para ksatria yang ada di istana. Keberadaan Serah sontak membuat para penghuni di sana terkejut dan langsung memberikan hormat.
"Yang mulia!" Ucap para ksatria istana itu dengan suara lantang.
"Tuan Glen, Bagaimana? Apa anda siap?" Ia melirik ke arah Glen yang berada di barisan depan.
"Dengan senang hati, Yang mulia! Sungguh, ini seperti suatu kehormatan bagi kami anda mau berkunjung kemari langsung!" Balas Glen dalam satu tarikan napas. Pemuda yang masih berusia 20 tahun itu membungkuk sangat dalam dengan perasaan berdebar karena merasa sangat senang.
"Jadi di mana kita akan mencobanya?" Tanya Serah sambil melihat ke sekeliling di area sekitar.
"Mari ikut saya." Glen akhirnya menunjukkan jalan bagi Serah untuk mengikutinya.
Para ksatria lain bergerak mundur ke belakang memberi ruang dan membungkuk dalam. Glen segera berjalan menelusuri barisan ksatria itu dengan Serah dan Cristine yang mengikutinya dari belakang menuju ke suatu ruangan khusus.
"Ini adalah tempat yang biasa kami gunakan untuk berlatih, silahkan masuk Yang mulia."
Glen berhenti di depan suatu ruangan aula yang cukup luas yang di dalamnya terdapat begitu banyak hiasan seperti senjata pedang, perisai, bendera kerajaan juga beberapa kepala hewan terpajang pada bagian dindingnya.
Ruangan itu cukup bersih dan lebih sederhana dari yang Serah bayangkan sebelumnya.
"Ada berapa ruangan latihan kalian?" Tanyanya Serah kemudian setelah mengamati sepertinya ruangan itu masih belum cukup besar bila dibandingkan dengan jumlah prajurit dan ksatria yang saat ini dimiliki oleh kerajaan Mathilda.
"Untuk sementara kami memiliki tiga ruangan latihan yang masing-masing mampu menampung 30 sampai 40 orang di dalam, Yang mulia." Jawab Glen penuh penjelasan dan detail. Serah mengangguk puas mendengarnya.
"Baiklah kalau begitu, apa kita bisa memulainya?"
"Tentu, silahkan masuk, yang mulia."
Serah dan Cristine memasuki ruangan latihan tersebut tanpa ragu dan keduanya berhenti di tengah ruangan bersamaan dengan Glen yang berdiri di tengah-tengah lalu berbalik menghadap Serah dengan wajah seriusnya sekarang.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib