NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Membelot

Semburat fajar yang dingin menembus kaca antipeluru di markas komando keamanan Empire Group, namun cahaya itu tidak mampu mengusir kegelapan yang menggantung di sudut ruangan. Arkananta berdiri menghadap monitor raksasa yang kini menampilkan status isolasi total. Ruangan bawah tanah ini beraroma minyak pelumas dan keringat dingin, sebuah tempat yang biasanya menjadi pusat kekuatan, kini terasa seperti bungker bagi seorang pemberontak.

"Tuan, unit medis utama diperintahkan oleh Nyonya Besar untuk menghentikan suplai obat-obatan dan pengisian ulang tangki oksigen di sayap perawatan Nyonya Nayara," lapor Bayu. Suaranya bergetar, bukan karena takut pada otoritas gedung, melainkan karena beban rahasia yang menghimpit batinnya.

Arkan tidak berbalik. Ia sedang menahan pendarahan kecil pada gusinya, sebuah efek samping dari penggunaan energi hampa yang terlalu dipaksakan semalam. "Mereka mulai menggunakan nyawa sebagai alat tawar-menawar. Tipikal Nyonya Besar."

"Mereka juga telah memutus akses komunikasi satelit saya, Tuan. Saat ini, saya hanya bisa menggunakan jaringan internal yang kita enkripsi sendiri," tambah Bayu sembari menunduk.

"Ada yang ingin kau katakan, Bayu? Napasmu tidak teratur sejak tadi subuh," ucap Arkananta. Suaranya rendah, setajam belati yang baru diasah.

Bayu terdiam sejenak. Ia memikirkan adiknya yang berada di perbatasan wilayah Terra, yang kini berada dalam genggaman pihak Erlangga. "Saya... saya hanya merasa tekanan ini makin menyesakkan, Tuan."

"Kebohongan adalah beban yang paling berat untuk dipikul, Bayu. Jika kau ingin pergi untuk menyelamatkan apa yang berharga bagimu, pergilah sekarang. Aku tidak butuh pengkhianat di dalam bentengku, tapi aku tidak melarang seorang kakak untuk berjuang," kata Arkananta sembari memutar badannya.

Langkah kaki yang kaku dan berwibawa terdengar dari pintu besi yang terbuka otomatis. Pengacara Senior Keluarga masuk dengan tas kulit hitam yang tampak berat oleh dokumen-dokumen yang bisa menghancurkan hidup seseorang. Wajahnya sedingin es, tanpa sedikit pun rona kemanusiaan.

"Tuan Arkananta, saya membawa keputusan final dari dewan keluarga dan Nyonya Besar," ucap pengacara itu tanpa basa-basi diplomatik.

"Duduklah. Radius oksigen di ruangan ini masih cukup untuk satu orang yang hanya tahu cara bicara melalui kertas," sahut Arkan sembari menunjuk kursi logam di depan mejanya.

Pengacara itu tidak duduk. Ia justru meletakkan tumpukan berkas di atas meja. "Kondisi Nyonya Nayara saat ini dianggap sebagai liabilitas bagi stabilitas Empire Group. Dewan meminta Anda menandatangani surat pembatalan hak veto dan penyerahan kembali Segel Utama. Sebagai gantinya, bantuan medis akan segera dipulihkan."

"Beban liabilitas?" Arkananta mengulang kata itu dengan nada yang sangat datar. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga pengacara itu harus mendongak. "Kau menyebut wanita yang mempertaruhkan matanya untuk melindungi kehormatan keluarga ini dari serangan ilmu hitam sebagai sebuah beban?"

"Secara administratif, Tuan, seseorang yang buta dan tidak stabil secara mental tidak bisa memegang otoritas pengendali. Itu adalah aturan yang sudah tertulis sejak kakek Anda memimpin," balas pengacara itu tenang.

Arkan menarik napas manual, memaksa paru-parunya yang terasa panas untuk tetap bekerja. "Aturan itu ditulis untuk melindungi martabat, bukan untuk membenarkan tindakan pengecut."

"Jika Anda menolak, Nyonya Besar akan secara resmi menghapus nama Anda dari silsilah pewaris Empire Group malam ini juga. Anda akan kehilangan segalanya—fasilitas, perlindungan hukum, dan identitas Anda di kota ini," ancam sang pengacara sembari menyodorkan pena perak.

Arkananta menatap pena itu seolah benda itu adalah serangga yang menjijikkan. Tangannya bergerak menuju kerah jasnya sendiri. Jemarinya menyentuh lencana perak berbentuk elang yang melambangkan kekuasaan Empire Group. Dengan sekali sentakan kuat, ia mencopot lencana itu hingga benang-benang jas mahalnya terputus.

"Apa yang Anda lakukan, Tuan?" tanya pengacara itu, matanya membelalak.

"Identitas saya tidak melekat pada sepotong logam ini," ucap Arkananta. Ia melemparkan lencana itu ke lantai, tepat ke dalam genangan air sisa pembersihan pipa yang kusam. Logam itu berdenting, lalu tenggelam dalam air keruh yang berbau besi. "Ambil kembali lencana ini ke Nyonya Besar. Katakan padanya, Arkananta tidak lagi membutuhkan izinnya untuk bernapas atau bertindak."

"Anda gila! Tanpa lencana itu, Anda bukan siapa-siapa di High Tower!" teriak pengacara itu dengan suara yang mulai pecah.

"Di High Tower, saya mungkin bukan siapa-siapa. Tapi bagi mereka yang tertindas di Terra, saya adalah sesuatu yang tidak bisa kalian beli dengan saham," balas Arkananta. Ia kemudian merobek dokumen pembatalan itu menjadi potongan-potongan kecil di depan wajah sang pengacara. "Keluar dari markas komandoku. Sekarang."

Pengacara itu mundur dengan wajah pucat, segera berbalik dan lari meninggalkan ruangan seolah-olah Arkan adalah monster yang baru saja bangun dari tidurnya. Arkan terdiam, tangannya yang kotor oleh debu marmer kini gemetar hebat. Ia merasakan sensasi getir di lidahnya, sebuah resonansi dari penderitaan batin yang ia bagi dengan Nayara.

Ruang Perawatan Nayara

Di sayap yang mulai mendingin karena boikot kelistrikan, Nayara duduk diam di tepi tempat tidur. Meskipun matanya terbalut kasa, pendengarannya menjadi jauh lebih tajam. Ia mendengar suara dengung mesin medis yang makin melemah.

"Arkan... kau melakukannya," bisik Nayara pada keheningan.

Ia meraba dadanya, merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu lebih lambat namun lebih kokoh. Ia bisa merasakan suhu tubuh Arkan mendingin melalui ikatan luka mereka—sebuah tanda bahwa suaminya baru saja melepas beban kepalsuan yang selama ini menghimpitnya.

Bayu masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang ragu. "Nyonya, Tuan Arkan memerintahkan evakuasi melalui jalur rahasia rubanah. Listrik di sini akan segera dipadamkan sepenuhnya oleh pihak pusat."

Nayara menoleh ke arah suara Bayu. "Adikmu, Bayu. Bagaimana keadaannya?"

Bayu tersentak, tidak menyangka Nayara akan menanyakan hal itu di tengah situasi darurat. "Saya... saya tidak tahu, Nyonya. Mereka mengancam akan membawanya jika saya tidak membuka protokol penguncian Sovereign Mode."

"Jangan biarkan ketakutanmu pada mereka mengalahkan cahaya yang pernah kita bagi di Panti, Bayu," ucap Nayara lembut sembari meraba udara, mencoba mencari tangan Bayu. "Arkan tidak akan membiarkanmu berjuang sendiri. Ia sudah membelot, dan itu artinya kita semua sedang berjalan menuju kebebasan yang sesungguhnya."

"Tapi saya telah membahayakan sistem ini, Nyonya! Saya membiarkan mereka mengakses jaringan logistik semalam karena saya takut," ucap Bayu sembari jatuh berlutut di depan Nayara.

"Ketakutan adalah hal yang manusiawi di tempat yang dingin ini, Bayu. Tapi sekarang, Arkan sudah membuang lencananya. Kita tidak lagi bersembunyi di balik nama besar Empire," kata Nayara. Ia mengusap kepala Bayu dengan kelembutan seorang kakak. "Siapkan jalur rubanah itu. Kita akan pulang ke Terra. Bau tanah basah lebih baik daripada aroma ozon yang menyesakkan ini."

Arkananta muncul di ambang pintu, jasnya kini tampak compang-camping tanpa lencana. Ia melihat pemandangan di depannya—istrinya yang buta sedang menenangkan asistennya yang hancur. Sebuah momen kemanusiaan yang sangat kontras dengan kekejaman dewan keluarga di lantai atas.

"Bayu, bangunlah," perintah Arkan. "Adikmu sudah dalam perjalanan menuju Panti Cahaya Sauh. Pasukan bayangan yang aku bentuk di luar Empire sudah menjemputnya sepuluh menit yang lalu."

Bayu mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Tuan... Anda tahu?"

"Aku selalu tahu apa yang mengganggu tulang besiku, Bayu," sahut Arkananta. Ia mendekati Nayara, mengambil sapu tangan Terra dari sakunya dan menyeka keringat dingin di kening istrinya. "Maafkan aku, Nayara. Kita harus pergi sekarang. Gedung ini bukan lagi rumah kita."

"Gedung ini tidak pernah menjadi rumah, Arkan. Ini hanya penjara kaca yang sangat mahal," balas Nayara sembari menggenggam tangan Arkan.

Arkan merasakan denyut nadi Nayara yang tenang, sebuah jangkar emosi yang mencegah energi hampa di dalam dirinya meledak secara liar. Ia membantu Nayara berdiri, memastikan selimut tebal menutupi bahu istrinya yang gemetar karena suhu ruangan yang makin anjlok.

"Tuan, para penjaga keamanan yang masih setia pada Nyonya Besar mulai bergerak menuju lift darurat. Kita hanya punya waktu lima menit sebelum jalur ini terkunci," lapor Bayu sembari segera berdiri dan menyiapkan senjata komunikasinya.

"Aktifkan protokol pengalihan suhu. Buat mereka mengira kita masih di sini dengan memusatkan seluruh sisa energi ke pemanas ruangan ini," perintah Arkananta sembari menggendong Nayara. "Kita akan keluar melalui pipa pembuangan air yang terhubung ke gudang penyimpanan Terra."

Langkah kaki Arkananta bergema di lorong rubanah yang lembap, sebuah jalur evakuasi tua yang tidak pernah tercatat dalam peta digital Empire Group. Di dalam dekapannya, Nayara terasa begitu ringan, namun berat beban martabat yang mereka bawa seolah menekan dinding-dinding beton di sekeliling mereka. Bau lumut dan rembesan air tanah menyengat indra penciuman, memberikan sensasi "Terra" yang kotor namun jujur, sangat berbeda dengan wangi antiseptik steril di lantai atas.

"Arkan, aku bisa mendengar suara air yang mengalir deras. Kita sudah dekat dengan pintu pembuangan?" bisik Nayara. Kepalanya bersandar di dada Arkan, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup seperti genderang perang yang diredam.

"Hanya beberapa meter lagi, Nayara. Tetaplah bernapas dalam-dalam. Tekanan udara di sini tidak stabil," jawab Arkananta. Ia merasakan napas manualnya sendiri mulai memberat. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menarik beban ribuan ton, akibat resonansi dari energi hampa yang berusaha menstabilkan suhu tubuhnya pasca pelepasan lencana keluarga.

Di belakang mereka, Bayu bergerak dengan cekatan, menempelkan peledak magnetik kecil pada setiap katup pengatur tekanan udara yang mereka lewati. "Tuan, sensor tekanan di lantai marmer di atas menunjukkan unit pengejar sudah memasuki kamar perawatan. Mereka akan segera menyadari bahwa suhu panas di sana hanyalah umpan kinetik."

"Berapa lama waktu yang kita punya?" tanya Arkan tanpa memperlambat langkah.

"Kurang dari tiga menit sebelum mereka meretas pintu akses rubanah ini, Tuan," sahut Bayu.

Tiba-tiba, suara dering frekuensi tinggi menusuk telinga mereka. Arkananta berhenti seketika, rahangnya mengunci rapat. Ia merasakan perih yang luar biasa di ulu hatinya—sebuah serangan balik metafisika dari Kyai Hitam yang dikirim melalui jaringan frekuensi gedung yang masih aktif.

"Mereka menggunakan gelombang suara untuk melacak posisi kita," desis Arkan. Ia menurunkan Nayara perlahan, menyandarkannya pada dinding beton yang dingin. "Bayu, matikan seluruh perangkat elektronikmu. Sekarang!"

"Tapi Tuan, tanpa radar kita akan buta di dalam labirin ini!" seru Bayu.

"Lakukan saja! Aku akan menggunakan integritas tulang besiku untuk merasakan getaran jalurnya," perintah Arkan. Suaranya mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

Arkan memejamkan mata. Dalam kegelapan rubanah, ia membiarkan Void Energy di dalam dirinya merambat ke dinding-dinding lorong. Ia tidak lagi melihat dengan mata, melainkan merasakan getaran setiap inci semen dan besi. Ia bisa merasakan langkah kaki para pengejar di atas sana, dan ia bisa merasakan aliran air di ujung lorong yang memanggilnya.

"Genggam tanganku, Nayara. Kita tidak butuh cahaya untuk keluar dari sini," ucap Arkan sembari meraih jemari istrinya.

Nayara menggenggam tangan Arkan dengan erat. "Aku tidak takut, Arkan. Aku bisa merasakan suhu tubuhmu yang mendingin. Itu adalah tanda kedaulatan batinmu yang sesungguhnya. Kau bukan lagi alat milik Empire."

Mereka berlari kecil menembus kegelapan total. Suara gemuruh air makin keras hingga mereka tiba di sebuah gerbang besi berkarat yang tertutup rantai besar. Arkananta tidak mencari kunci. Ia mencengkeram rantai itu dengan tangan kosong. Tulang-tulang di tangannya berderit, memancarkan panas yang sanggup melelehkan logam tipis. Dengan sekali sentakan yang diiringi erangan rendah, rantai itu putus dan jatuh ke genangan air dengan suara dentuman yang memuaskan.

"Pintu terbuka! Bayu, masuk!" perintah Arkan.

Saat mereka melompat ke dalam jalur pembuangan yang landai, sebuah ledakan kecil di belakang mereka menandakan Bayu telah menghancurkan akses masuk, menutup jalan bagi siapa pun yang mencoba mengikuti. Mereka meluncur di dalam terowongan beton, basah oleh air payau, hingga akhirnya terhempas ke atas tumpukan jerami dan karpet tua di dalam sebuah gudang penyimpanan air yang terletak di pinggiran Astinapura—zona transisi menuju Terra.

Udara di gudang ini terasa berbeda. Ada aroma gandum, debu jalanan, dan sisa pembakaran kayu yang akrab. Arkan segera bangkit dan membantu Nayara. Ia merobek bagian bawah jasnya yang sudah kotor untuk menyeka wajah istrinya yang terkena percikan air kotor.

"Kita sudah di luar, Nayara. Kita berada di perbatasan Terra," ucap Arkan, suaranya sedikit gemetar karena kelegaan.

Nayara menghirup udara dalam-dalam, lalu tersenyum tipis di balik kain kasanya. "Bau tanah basah... dan bau asap tungku. Ini adalah aroma kemerdekaan, Arkan."

Bayu muncul dari kegelapan gudang, pakaiannya basah kuyup namun matanya memancarkan loyalitas yang baru. "Tuan, kendaraan evakuasi dari panti sudah menunggu di balik dinding gudang. Kita harus segera bergerak sebelum fajar benar-benar menyingsing dan patroli kota dimulai."

Arkananta berdiri tegak, menatap ke arah kejauhan di mana High Tower tampak seperti jarum raksasa yang mencoba menusuk langit malam. Ia meraba sakunya, memastikan sapu tangan Terra milik Nayara masih ada di sana. Lencana peraknya sudah tenggelam di limbah gedung, namun martabatnya kini berdiri setinggi gunung.

"Mari kita pulang ke Cahaya Sauh," ucap Arkan. "Perang ini belum berakhir, tapi malam ini, kita telah memenangkan jiwa kita kembali."

Mereka melangkah keluar dari gudang menuju mobil tua yang sudah menunggu di bawah pohon kamboja. Di kejauhan, lampu-lampu High Tower berkedip-kedip gelisah, menandakan kekacauan yang ditinggalkan sang Komandan. Arkananta tahu, mulai besok, ia tidak akan lagi dipanggil sebagai pewaris, melainkan sebagai musuh negara. Dan bagi Arkan, itu adalah gelar paling terhormat yang pernah ia miliki.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!